
PPFC 172 - Itu Jawabanku
Jia Li memperagakan apa yang dia dapat dari Ilmu Dewi Pedang yang muncul didalam kepalanya. Ilmu pedang tingkat tinggi yang diperagakan Jia Li masih kaku dan itu membuat Fei Chen berdecak kagum saat mengetahui Jia Li dapat memperagakan gerakan itu dengan kemampuannya yang masih seorang Pendekar Suci.
“Teknik Hasrat Kematian...” Fei Chen menggumam pelan setelah mengetahui nama teknik yang Jia Li dapat dari ingatan Dewi Pedang.
Teknik Hasrat Kematian memiliki gerakan yang lembut dan gemulai namun juga sangat mematikan. Hanya ada tiga jurus saja dalam Teknik Hasrat Kematian. Walaupun Jia Li berhasil menghafal gerakannya namun gadis itu belum menguasai sepenuhnya.
Jia Li terlihat seperti menari sebelum memperagakan satu demi satu jurus Teknik Hasrat Kematian. Setelah itu Jia Li menatap Fei Chen tajam dan meminta pemuda itu memberikan tanggapan.
“Gerakanmu masih sangat kaku Lili. Namun aku kagum kau dapat memperagakan semua ini mengingat kemampuanmu itu.” Fei Chen berjalan menghampiri Jia Li dan memberitahu setiap kekurangan yang dimiliki gadis itu.
Fei Chen sendiri mengajar sambil belajar banyak. Mengingat Jia Li memiliki kondisi tubuh khusus yakni Tubuh Dewi Pedang, hal itu membuat Fei Chen menanyakan langsung kepada Jia Li tentang bagaimana gadis itu menempa tubuhnya.
“Menempa tubuh? Aku sama sekali tidak melakukan itu. Memangnya ada apa Chenchen?” Jia Li terlihat bingung.
“Hei, kau serius bukan? Jika kau tidak melakukan metode penempaan tubuh maka kau sangat luar biasa bisa memperagakan ilmu tingkat tinggi seperti tadi.”
Fei Chen menghela nafas panjang sebelum menjelaskan kepada Jia Li tentang kondisi tubuh gadis itu. Jika memiliki tubuh istimewa sejak lahir dan tidak ditempa dengan baik, maka itu akan berakibat buruk bagi pemiliknya.
“Kekurangan terbesarmu adalah tubuhmu yang belum sepenuhnya bangkit dan kau kuasai. Kualitas tulang, darah dan ototmu lebih lemah dari kondisi khusus tubuhmu. Kau bisa saja mati jika mengabaikan ini Lili?”
Fei Chen memberitahu hal penting ini kepada Jia Li sambil memperagakan gerakan yang digerakkan Jia Li barusan.
“Chenchen kau curang! Kenapa kau lebih mahir dariku padahal aku sudah berlatih keras?!” Jia Li justru cemberut setelah melihat Fei Chen memperagakan Teknik Hasrat Kematian lebih baik dari dirinya.
“Teknik ini sangat cocok untukmu. Jika kau telah menempa tubuhmu secara sempurna, kau akan lebih mahir dariku menggunakan Teknik Hasrat Kematian.“
“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus berlatih lagi?” Jia Li sendiri tidak mengetahui metode penempaan tubuh khusus yang dimaksud Fei Chen.
“Itu...” Fei Chen menatap Jia Li rumit sebelum akhirnya dia menghela nafas kembali, “Kau bisa menggunakan Kolam Siksa Petir untuk melakukannya. Lepas seluruh pakaianmu dan jangan menggunakan Teknik Hasrat Kematian sebelum tulang-tulangmu ini mencapai Tulang Naga Langit.”
Mendengar itu Jia Li terkejut. Bagaimanapun ini adalah hal yang tidak dia ketahui dan sulit untuk dilakukan.
“Chenchen, bisa kau ajari aku?”
“Lili, aku tidak keberatan tetapi apa kau yakin? Kita bukan lagi seorang bocah, kau harus mengingat ini.” Fei Chen tidak keberatan karena dia sendiri ingin Jia Li menguasai dan mengendalikan Tubuh Dewi Pedang.
Jia Li menggelengkan kepalanya lembut, “Karena kita bukan lagi seorang bocah, aku harus jujur pada diriku karena aku sudah memutuskan sejak dulu jika kau adalah laki-laki yang memiliki hak untuk melihat tubuhku.”
“Chenchen...” Jia Li merasa sedih karena setelah dirinya tumbuh menjadi gadis cantik dan idaman pria sekalipun, Fei Chen terlihat tidak tertarik padanya.
“Ya...”
“Aku mencintaimu...”
Jia Li sengaja mengatakan itu dan berharap Fei Chen membalas perasaannya, “Aku akan mengatakannya beberapa kalipun itu. Aku-”
Jia Li tidak menyelesaikan perkataannya saat tubuhnya dipeluk dari belakang.
“Lili, maafkan aku. Aku membuatmu menunggu...” Tubuh Jia Li seperti tersengat aliran listrik.
“Aku ingin mengucapkan banyak kata terimakasih padamu. Aku ingin mengungkapkan semua perasaanku, tetapi aku takut semua yang kulakukan akan membuat hubungan kita ini menjadi jauh. Aku takut Lili...” Fei Chen membalikkan badan Jia Li dan menatap wajah cantik Jia Li penuh makna sayang.
“Sejak dulu aku menyukaimu...”
Jia Li memejamkan matanya saat Fei Chen mengecup bibirnya. Air mata kebahagiaan Jia Li menetes karena pada akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
“Aku juga Chenchen. Perasaanku padamu tidak pernah berubah.”
Jia Li memeluk tubuh Fei Chen setelah pemuda itu melepaskan kecupannya.
“Terimakasih telah mencintai lelaki sepertiku...”
Fei Chen mencium rambut Jia Li dan memeluk tubuhnya erat. Tidak pernah Fei Chen sangka akhirnya dia mengutarakan perasaannya pada Jia Li.
“Tetapi Lili kau mengetahui kondisiku bukan?”
Melihat ekspresi bersalah Fei Chen membuat Jia Li berinisiatif untuk berjinjit dan mencium bibir Fei Chen. Gadis itu melepasnya dan merangkul leher Fei Chen sambil berbisik mesra.
“Itu jawabanku...”
___
Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?