Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 306 - Delapan Belas Tahun


PPFC 306 - Delapan Belas Tahun


Fei Chen menghampiri Xhin Li Wei dan berusaha menghiburnya namun usahanya gagal. Xhin Li Wei enggan berbicara dan hanya suara isakan tangis sesenggukan yang terdengar.


“Bibi Xhin, jika aku tidak menjadi Kaisar Ma mungkin semuanya tidak seperti ini. Aku terlalu percaya diri, aku mengira telah memiliki pasukan yang kuat namun pasukan musuh lebih kuat. Terlebih aku tidak ada disana saat pembantaian terjadi. Kau bisa menyalahkan diriku atas kejadian ini...” Fei Chen berkata dengan nada lirih dan berharap Xhin Li Wei mau berbicara padanya.


Xhin Li Wei menyeka air matanya dan berhenti menangis setelah mendengar perkataan Fei Chen. Wanita paruh baya itu menatap Fei Chen dan menampar pipinya keras.


“Jangan katakan itu lagi Chen‘er!” Xhin Li Wei berteriak dan memarahi Fei Chen.


“Kau kuat, aku mengetahui itu. Tetapi kau lemah terhadap wanita dan satu hal lagi kau tidak bergantung pada orang disekitarmu. Itu kelemahan terbesarmu. Aku sudah mendengarnya dari Ningning- maksudku Nyonya Ning.” Xhin Li Wei menghela nafas dan mengumpulkan keberaniannya untuk membuang ketakutannya.


“Kau juga mengalami tekanan yang hebat bukan Chen‘er? Maaf, aku seharusnya tidak bersikap seperti ini-”


Fei Chen memeluk tubuh Xhin Li Wei sebelum wanita paruh baya itu menyelesaikan perkataannya. Xhin Li Wei terkejut dan berusaha mendorong tubuh Fei Chen, namun dekapan pemuda itu erat tidak mau melepaskan pelukannya.


“Bibi Xhin, maaf... Aku hanya ingin memelukmu. Kau berpura-pura seperti ini, tetapi aku takut jika kau melakukan hal bodoh seperti bunuh diri... Tolong jangan lakukan itu...” Fei Chen memeluk Xhin Li Wei lebih erat dan ucapannya yang gemetar itu membuat Xhin Li Wei kembali menangis.


Xhin Li Wei sudah putus asa saat mengingat raut wajah para penduduk Xuangang. Tentu saja pikiran untuk mengakhiri hidupnya terlintas berulang kali dibenaknya namun dia tidak menyangka Fei Chen mengetahuinya.


“Chen‘er...” Lirih Xhin Li Wei bersuara dan membalas pelukan Fei Chen.


Xhin Li Wei tidak menyangka berada di dekat Fei Chen akan senyaman ini. Dia menganggap Fei Chen adalah pemuda arogan dan gemar bermain wanita, namun perasaannya pada Fei Chen tidak bisa dipungkiri setelah beberapa kali Fei Chen ada untuknya saat dirinya rapuh.


“Bibi Xhin, bisa berjanji untuk ku untuk membuang pikiran itu jauh-jauh?” Fei Chen berbisik lirih dan memeluk erat Xhin Li Wei.


Xhin Li Wei pun menganggukkan kepalanya dan bertanya, “Aku berjanji Chen‘er... Untuk apa kau memintaku berjanji melakukan hal yang ingin kulakukan? Kau bukanlah siapa-siapa selain seorang Kaisar Ma yang merupakan penguasa tertinggi dinegeriku.”


Fei Chen pun melepaskan pelukannya dan memegang pundak Xhin Li Wei lalu mendekatkan wajahnya dengan cepat ke wajah Xhin Li Wei. Kecupan singkat dibibir Xhin Li Wei membuat wanita itu melebar matanya.


“A-apa yang kau lakukan barusan Chen‘er?! Ini tidak sopan! Walau kau seorang Kaisar sekalipun kau tidak boleh melakukan ini!” Xhin Li Wei menjaga jarak namun Fei Chen kembali memeluknya.


“Apa perlu aku mengatakannya padamu Bibi Xhin...” Fei Chen berbisik mesra dan membuat tubuh Xhin Li Wei berdesir.


“Itu adalah ungkapan perasaanku. Saat ini aku tidak ingin mengatakan apapun...” Fei Chen kembali berbisik dan membuat tubuh Xhin Li Wei kembali berdesir.


“Chen‘er... Tetapi tidak seperti ini...”


Xhin Li Wei tersipu malu atas pengakuan Fei Chen. Jantungnya berdetak kencang dan bisa dirinya bisa merasakan detak jantung Fei Chen juga. Beberapa kali Xhin Li Wei mendorong tubuh Fei Chen karena dada Fei Chen menempel dengan dadanya. Namun usaha Xhin Li Wei sia-sia saja karena pelukan Fei Chen erat dan hangat.


“Bibi Xhin, aku ingin jawaban darimu. Peluk aku jika kau menerimanya...” Fei Chen kembali bersuara dan membuat Xhin Li Wei hampir meneteskan air mata.


“Chen‘er... Apa kau serius akan perasaanmu itu? Kau tidak memanfaatkan kerapuhanku agar mendapatkan hati dan tubuhku bukan? Kau tidak seperti pria lainnya bukan? Aku takut karena kau memiliki begitu banyak wanita dan seolah-olah kau memanipulasi mereka dengan sesuatu...” Xhin Li Wei membutuhkan kepastian karena umur Fei Chen yang lebih pantas menjadi anaknya.


“Aku serius Bibi Xhin...” Fei Chen menjawab singkat dan suaranya terdengar malu.


Xhin Li Wei pun percaya karena sifat dingin dan ketenangan Fei Chen dalam berbicara menandakan bahwa sekarang pemuda yang memeluk tubuh mengungkapkan perasaan padanya sedang menahan rasa malu dan membutuhkan keberanian besar untuk mengatakan semua ini.


Sebagai seorang perempuan Xhin Li Wei menjawabnya. Pelukan erat ke tubuh Fei Chen terjadi. Terlihat kedua insan manusia yang lebih pantas menjadi ibu dan anak saling memeluk tubuh satu sama lain dengan erat.


“Chen‘er, aku bukanlah wanita yang suci bahkan lebih pantas menjadi Ibumu...” Xhin Li Wei ingin mengetahui perasaan Fei Chen lebih jauh.


“Aku kotor dan ternoda. Terlebih aku seorang janda yang menyedihkan. Apa kau masih bersedia menjadikan wanita kotor ini sebagai salah satu dari puluhan istrimu?” Xhin Li Wei mendorong tubuh Fei Chen dan melihat wajah pemuda itu tersipu malu.


“Bibi Xhin... Manusia tidak ada yang sempurna. Andai saja saat itu kita bertemu lebih awal, mungkin kau tidak perlu menderita. Tetapi aku akan mengatakannya dengan jelas...” Fei Chen tersenyum dan menatap hangat Xhin Li Wei.


“Kau tidak perlu lagi terjebak dalam masa lalu. Aku ingin kau membuka lembaran baru denganku Bibi Xhin...” Mendengar itu Xhin Li Wei mencubit perut Fei Chen dengan sangat keras.


“Jadi dengan cara ini kamu merayu wanita dewasa? Kau sungguh mengerikan Chen‘er!” Setelah berkata demikian Xhin Li Wei mengangkat tangan dan memberi tanda agar Fei Chen jangan memeluknya.


“Dengar Chen‘er, aku memang bersedia tetapi aku tidak akan memberikan tubuhku dipeluk apalagi kau permainkan. Aku ingin melihat keseriusanmu.” Lalu Xhin Li Wei tersenyum manis kearah Fei Chen dan berjalan pergi.


Fei Chen pun tersenyum dan mengusap wajahnya karena merasakan bebannya menghilang.


Reaksi istri Fei Chen tercengang saat mendengar suami mereka akan menikahi Hua Ying, Luo Rou, Qie Shie, Guan Ai, Song Na, Ji Xiuha, Min Yi, Lu Shin Rui, Ju Ling Shui, Yang Xiaomi, Qiao Ling, Gu Shi, Liang Su, Xi Taohua, Zhang Xue, Hua Ruyun, Shin Riu, Bai Shinhwa Xiu Ziwei dan Xhin Li Wei.


“Hei suami buaya! Kau sedang tidak bercanda denganku bukan?” Liu Xianlin yang pertama kali angkat bicara setelah mendengar ini.


“Saat kau membuat perutku membesar, kau membuat ulah yang sangat mengerikan! Dua puluh wanita dalam setahun?!” Liu Xianlin nampak marah bahkan sampai melemparkan camgkir teh panas pada Fei Chen.


“Adik Liu, tenanglah...” Ning Guang menenangkan Liu Xianlin dan memegang tangan wanita itu.


“Kita harus siap menerima hal ini saat Xiuxiu memberitahu keinginan bocah ini bukan? Jumlah istrinya akan terus bertambah seiring perjalanannya. Bukankah malam ini kita bersembilan akan memberikan hadiah ulang tahun padanya?” Ning Guang mengatakan hal itu dengan lembut namun wajahnya kesal.


“Dua puluh istri baru? Jangan bercanda!” Tiba-tiba Ning Guang ikut marah.


“Kenapa Kakak Ningning juga ikut marah setelah memenangkanku?” Liu Xianlin heran.


‘Aku sudah mempersiapkan diri akan hal ini.’ Su Xiulan menghela nafas panjang saat melihat Fei Chen dimarahi Ning Guang dan Liu Xianlin.


“Hehehe... Dua puluh istri baru Xiaxia... Apa kita tidak bisa membuatnya puas?” Jia Li ikut angkat bicara setelah meminum arak terbaik yang ada di Istana Ma.


“Chenchen sialan! Seharusnya kau hanya menjadi milikku!” Jia Li membanting guci arak yang ada di sebelahnya.


“Lili, kau mabuk?” Yin Jinxia hanya pasrah saat mendengar niat Fei Chen. Lagipula Yin Jinxia sudah mempersiapkan akan hal ini namun tetap saja semuanya sangat mengejutkan.


“Inilah suami kita semua. Apa disini tidak ada yang mendengar julukannya diluar? Dia dijuluki Kaisar Penakluk Wanita.” Su Xiulan memegang pundak Fei Chen dan memisahkan suaminya itu dari amukan Ning Guang dan Liu Xianlin.


“Aku tidak menyangka akan menjadi selirnya bocah sialan dimasa lalu...” Murong Liuyu membatin dan menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana bisa aku mencintai bocah ini?” Murong Liuyu berkata dan memijat keningnya.


Long Xiaoya dan Ling Ye yang mendengarnya tertawa lirih.


“Kakak Liuyu, kau selalu membicarakan Gege bahkan sampai menyiapkan pakaian seksi dibalik gaunmu untuk malam ini.” Long Xiaoya mengeledek Murong Liuyu dan membuat wajah gadis itu memerah.


“Yaya apa kau tidak cemburu?” Murong Liuyu bertanya.


“Cemburu pernah. Tetapi aku merasa bahagia karena kita bisa berkumpul disini sebagai istrinya Gege.”


Jawaban Long Xiaoya membuat Murong Liuyu memijat keningnya lebih keras.


“Dasar suami nakal. Aku sampai bingung mau mengatakan apa...” Ling Ye hanya mengelus perutnya dan menghela nafas.


Ling Ye merasa bahagia setelah mengetahui dirinya tengah mengandung anak Fei Chen. Bukan hanya Ling Ye saja, Qiao Mi juga demikian.


“Suami kita akan menikahi para saudariku. Sepertinya akan ramai jika kita semua berkumpul.” Qiao Mi angkat bicara dan membuat Ning Guang dan Liu Xianlin duduk kembali dikursi.


‘Reaksi mereka berbeda-beda... Tetapi mereka menerima niatku...’ Fei Chen menanggapi santai bahkan saat Ning Guang dan Liu Xianlin memarahinya, pemuda itu hanya pasrah karena bagaimanapun dirinya yang telah membuat perut kedua wanita dewasa itu membesar.


Lagipula cepat atau lambat Fei Chen akan mendapatkan buah hati dari Ning Guang dan Liu Xianlin.


“Suami...” Su Xiulan memegang pundak Fei Chen dan menatap Liu Xianlin, Ning Guang, Jia Li, Yin Jinxia, Ling Ye, Qiao Mi, Murong Liuyu dan Long Xiaoya.


“Selamat atas bertambahnya umurmu. Semoga kau panjang umur dan menjadi Kaisar Ma yang agung dan perkasa. Lalu... Apalagi ya? Banyak yang ingin aku katakan, tetapi malam ini kami akan memberikan hadiah terbaik untukmu...” Su Xiulan dan delapan istri Fei Chen yang lain beramai-ramai memegang tubuh Fei Chen lalu menarik pemuda itu menuju kamar yang besar dan baru dibuat Ning Guang beberapa bulan lalu.


Fei Chen tersenyum karena mengetahui hadiah yang diberikan sembilan istri sahnya ini.


‘Istirahat sejenak dan maju...’ Fei Chen langsung mengunci pintu kamar dan bergerak maju menerima hadian yang diberikan kesembilan istrinya.


____


Hadiahnya apa hayo?