
PPFC 294 - Akhirnya Bisa Bergerak
[Liang Su, Umur 35 Tahun] [Sumber : Pinterest]
Tangan Liang Su langsung meraba benda Fei Chen yang mulai membengkak, sedangkan telapak tangan lembut Xi Taohua melepaskan pakaian Fei Chen dan meraba perutnya.
‘Besarnya... Ini sangat keras...’ Liang Su menelan ludah saat menggenggam benda keras Fei Chen. Walaupun sudah menikah, tetapi Liang Su masihlah seorang perawan.
Liang Su sudah pernah melihat milik Yang Ergou, tetapi dibandingkan dengan milik Fei Chen, nampak perbedaan yang sangat signifikan diantara keduanya. Liang Su melepaskan pakaian bawah Fei Chen dan terbelalak menatap benda yang mengacung tegak menantang langit.
“Waw...” Kaget Liang Su melihat keperkasaan Fei Chen yang besar, panjang dan berurat.
Xi Taohua segera melirik dan tercengang, “Kenapa bentuk berbeda?” Wanita paruh baya itu menelan ludah dan menatap kagum benda Fei Chen yang mengeras.
“Bibi Xi, aku akan membuatmu menelan kata-katamu... Bagaimana milikku ini?” Fei Chen ingin menggerakkan tubuhnya dan meraba tubuh indah Xi Taohua.
Mengingat dia tidak bisa menggerakkan tubuhku, kelakian Fei Chen memberontak hingga benda miliknya mengeras secara sempurna dan membuat kedua wanita dewasa itu terkagum-kagum.
“Chen‘er, bukankah ini terlalu besar?” Xi Taohua ikut memegang benda Fei Chen.
Liang Su tersenyum dan menatap Xi Taohua, keduanya menggerakkan telapak tangan mereka yang lembut untuk memanjakan benda Fei Chen.
Fei Chen merasakan kenikmatan dan melihat bagaimana Liang Su dengan jemari lentiknya mencoba menggenggam bendanya yang mengeras. Namun sekeras apapun usaha Liang Su, ujung jemari lentiknya tidak dapat saling bersentuhan.
Jemari lentik bergerak naik turun begitu juga dengan jemari lentik Xi Taohua. Keduanya menatap benda Fei Chen penuh kekaguman. Tak lama Fei Chen menyuruh Xi Taohua merangkak diatas tubuhnya.
“Tetapi Chen‘er ini memalukan...” Xi Taohua menolak dan Fei Chen memaksa.
“Bibi Xi, aku ingin melihat milikmu sayang...” Akhirnya Xi Taohua merangkak diatas tubuh Fei Chen dengan bokong indahnya yang berada tepat dikepala Fei Chen sedangkan kepalanya berada dicelah paha Fei Chen.
Liang Su tersenyum melihat Xi Taohua yang malu-malu, kemudian mengecup ujung inti Fei Chen sebelum membuka mulutnya dan mulai memanjakannya. Mata Xi Taohua terbuka lebar saat merasakan miliknya disentuh lidah Fei Chen.
“Ah.” Xi Taohua mengeluarkan suara lembut.
Fei Chen ingin meremas bokong Xi Taohua dan memainkan celah sempit diatasnya itu, tetapi dia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Akhirnya Fei Chen menggunakan lidahnya yang menari-nari dicelah sempit itu hingga membuat Xi Taohua mengeluarkan suara merdu dan menggoda.
“Ooouuuggghh... Chen‘er!” Xi Taohua merasakan kenikmatan tiada tara dan membuatnya menggenggam benda keras Fei Chen.
Liang Su tersenyum dan menatap Xi Taohua. Tak lama Xi Taohua yang gantian memanjakan inti Fei Chen. Hal ini membuat Fei Chen mendesis berulang kali, kenikmatan berbeda dari Liang Su dan Xi Taohua membuatnya mengerang kenikmatan.
Setelah Xi Taohua mencapai pelepasan kini giliran Liang Su yang menggantikan posisi Xi Taohua. Sama halnya dengan Xi Taohua, Fei Chen dengan penuh semangat menyerbu celah sempit Liang Su menggunakan lidah.
“Oooohhh.... Tuan... Ennnggg...” Liang Su melenguh panjang merasakan kenikmatan dahsyat yang menerpa tubuhnya.
Xi Taohua yang menggerakkan tangannya yang lembut naik turun masih kagum dengan keperkasaan Fei Chen. Benda keras itu belum menyemburkan lahar panasnya bahkan setelah berada dalam dua mulut yang berbeda.
Hingga akhirnya Xi Taohua dan Liang Su bekerjasama memanjakan inti Fei Chen. Hal ini membuat kenikmatan tak terbendung yang Fei Chen tumpah membasahi wajah dan bibir kedua wanita dewasa itu.
Inti Fei Chen berkedut dan menyemburkan lahar panasnya selama beberapa kali. Liang Su dan Xi Taohua tersenyum malu menatap wajah masing-masing yang basah.
“Sangat perkasa... Sepertinya ini akan sulit...” Liang Su mengambil inisiatif untuk melakukan pergulatan perdana dengan Fei Chen.
Sedangkan Xi Taohua duduk disebelah keduanya menatap tubuh Liang Su yang berjongkok diatas tubuh Fei Chen.
Tubuh Liang Su merayap diatas tubuh Fei Chen. Dipegangnya dengan tangan yang gemetar benda keras yang menyentuh celah sempit miliknya.
“Tuan Muda Fei... Aku masih perawan...” Liang Su menatap sayu Fei Chen dan kesulitan untuk menurunkan pinggulnya.
Fei Chen menatap tubuh Liang Su yang indah dan menggoda lalu menelan ludah sebelum memberikan jawaban.
“Su‘er, aku akan bertanggung jawab. Mulai saat ini kau adalah milikku...” Fei Chen mengatakan itu dengan tenangnya dan membuat Liang Su mengangguk.
Liang Su tidak peduli jika umur keduanya terpaut jauh. Liang Su yang berumur tiga puluh lima tahun akan melepaskan kesuciannya pada pemuda yang akan berumur delapan belas tahun. Umur keduanya terpaut jauh dan pemandangan ini sangat erotis saat Liang Su mulai menurunkan pinggulnya.
Wajah Liang Su bersemu merah dan mulutnya terkatup rapat. Namun setelah ujung benda Fei Chen membelah celah sempitnya, mulut Liang Su terbuka lebar dan merintih hebat.
“Ahk!”
Xi Taohua yang melihat ini menelan ludah. Bagaimana tidak karena dia melihat dengan jelas benda besar Fei Chen ditelan celah sempit Liang Su secara perlahan.
“Emmmssss...” Tubuh Liang Su lemas saat benda Fei Chen mulai masuk lebih dalam ke celah sempitnya.
“Aduh! Sakit!” Liang Su meringis saat mengetahui benda Fei Chen merenggut kesuciannya.
Tubuhnya lemas dan langsung ambruk menimpa tubuh Fei Chen. Nafas Liang Su tersengal-sengal merasakan besarnya benda Fei Chen didalam miliknya.
“Gege... Punyamu terlalu... Besar...” Liang Su terbata-bata berkata saat merasakan benda Fei Chen memenuhi setiap rongga celah sempitnya.
“Milikmu sangat sempit Su‘er... Terimakasih karena telah menerimaku dan memberikan mahkotamu padaku. Aku akan bertanggung jawab sayang...” Fei Chen dan Liang Su saling memandang satu sama lain sebelum bibir keduanya menyatu.
Xi Taohua melihat bagaimana bibir Fei Chen dan Liang Su saling mengecup mesra dan mulai memanas. Nampak Liang Su meremas rambut Fei Chen dan menempelkan gunung kembarnya pada dada Fei Chen.
“Emsssss...” Suara kedua mulut yang beradu terdengar.
Fei Chen segera menggunakan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dan dia merasakan energi dalam tubuhnya mulai bersinkronisasi. Kehangatan dan kenikmatan menjalar di setiap pembuluh darahnya.
Fei Chen tersenyum saat mencoba menggerakkan kedua tangannya. Dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya dan menepuk lembut bokong padat Liang Su.
“Aah...” Suara lembut Liang Su terdengar. Fei Chen meremas bokong wanita yang usianya dua belas tahun lebih tua darinya itu dan berbisik mesra.
Liang Su memerah wajahnya saat merasakan sentuhan tangan Fei Chen di bokongnya. Tak lama pemuda itu menghisap lehernya. Tubuh Fei Chen yang lemas tak berdaya kini siap menggempur.
“Gege... Jangan-” Liang Su tidak diberikan kesempatan untuk menolak dan hanya pasrah saat lehernya penuh dengan gigitan dan bekas mulut Fei Chen.
Fei Chen mengangkat pinggul Liang Su dan menggigit daun telinganya lalu berbisik lirih, “Bergeraklah Su‘er...”
Liang Su menganggukkan kepalanya lembut dan mulai menaikan pengggunaan lalu menurunkan tubuhnya dengan lembut. Gerakan naik turun itu sangat lembut dan Fei Chen hanya berbaring memandang tubuh indah Liang Su yang bergerak diatas tubuhnya.
Melihat gunung kembar yang berguncang membuat kedua tangan Fei Chen merabanya dan meremas kekenyalan indah itu. Mulut Liang Su merintih saat merasakan tebalnya benda Fei Chen didalam rongga sempitnya.
“Oooougghhhh... Emmm... Gege!”
Liang Su bergerak naik turun secara teratur. Bunyi benturan kedua daging terdengar diiringi desisan Liang Su. Fei Chen terlihat sibuk menikmati gunung kembar Liang Su yang tengah mengayunkan bokongnya naik turun.
Fei Chen menggigit ujungnya dan menghisapnya penuh semangat. Hal itu membuat Liang Su nengerang hebat dan terlihat ujung gunung kembarnya yang mengeras.
“Tubuhmu sangat indah dan menggoda Su‘er...” Fei Chen memeluk punggung mulus Liang Su hingga wanita dewasa itu merangkak diatas tubuhnya.
Setelah itu Fei Chen menghentakkan pinggulnya keatas membuat mulut Liang Su merintih berkepanjangan.
Melihat Liang Su yang terus mengayunkan bokongnya membuat Fei Chen menikmati gunung kembarnya yang berlompatan kesana kemari setiap pinggul Liang Su bergerak naik turun.
“Aaaahhhh... Gege.... Sssshhh...” Liang Su meracau tidak jelas dan merasakan kenikmatan yang menerpa tubuhnya.
“A-aku... Pelan! Jangan digigit akh!” Tubuh Liang Su melengking saat mencapai pelepasan dengan mulut Fei Chen yang bermain di gunung kembarnya.
Perlahan tubuh Liang Su ambruk menimpa tubuhnya. Fei Chen memeluk erat tubuh wanita dewasa itu dan membelai punggung mulusnya.
Nafas Liang Su terengah-engah dan membiarkan tubuhnya dipeluk dan diraba Fei Chen sesuka hati.
“Su‘er... Istirahat sebentar sayang...” Fei Chen membelai rambut Liang Su dan membaringkan tubuh wanita tersebut.
Terlihat celah sempit Liang Su mengkilap basah dan ada sedikit noda darah. Fei Chen mengecup bibir Liang Su dan meremas gunung kembarnya sebelum bangkit berdiri dan menatap Xi Taohua.
“Bibi Xi, sekarang giliranmu...” Fei Chen sudah menahan diri dan sekarang dia akan mengarungi tubuh indah Xi Taohua tanpa perlu menahan diri.
Xi Taohua terkejut dan memalingkan wajahnya, “Chen‘er, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau seperti ingin menerkamku...”
Fei Chen tersenyum. Tentu saja dirinya sekarang ingin menerkam tubuh Xi Taohua mengingat tubuh indah menggoda yang belum pernah terjamah itu sangat montok dan seksi. Terlebih wajah keibuan yang cantik itu membuat Fei Chen langsung mengambil posisi untuk mengukung tubuh Xi Taohua.
“Bibi Xi, kau sangat cantik sayang...” puji Fei Chen sambil membelai gunung kembar Xi Taohua dan mulai menindih tubuh wanita dewasa itu.
Tubuh putih yang montok itu sekarang berada dibawahnya, Fei Chen membenamkan kepalanya digunung kembar Xi Taohua dan meremas sebelah kanan lalu mencium sebelah kiri.
“Emmmsssm, tunggu sebentar... Aaah... Chen‘er...” Xi Taohua menahan kepala Fei Chen namun usahanya tidak membuahkan hasil karena tekanan tubuh Fei Chen yang mengukung tubuhnya.
“Bibi Xi... Milikmu sangat indah sayang...” Fei Chen tidak berhenti memuji keindahan gunung kembar Xi Taohua.
Xi Taohua hanya bisa melenguh panjang saat kedua gunung kembarnya diremas Fei Chen dari berbagai arah. Tubuh montoknya nampak pasrah diarungi Fei Chen yang sudah bisa menggerakkan tubuhnya.
Fei Chen menciumi gunung kembar Xi Taohua dengan buas lalu naik keleher dan pipinya. Keduanya menatap penuh makna satu sama lain sebelum melakukan ciuman intens. Fei Chen terlihat menikmati manis mulut Xi Taohua yang menawan.
“Emmsssss.... Chen‘er... Ah...”
Lalu ketiak Xi Taohua menjadi incaran mulutnya. Beberapa menit kemudian Fei Chen memposisikan benda kerasnya yang besar didepan celah mungil Xi Taohua. Badan Xi Taohua menegang dan wajahnya panik penuh kekhawatiran.
“Tunggu, Chen‘er!”
“Bibi Xi, kau sangat cantik dan menggoda. Aku beruntung bisa mendapatkan tubuhmu ini. Boleh aku memasukkannya sayang?” Fei Chen mencium lembut bibir Xi Taohua sambil berkata mesra.
“Chen‘er, apa muat? Punyamu besar...” Xi Taohua khawatir celah mungilnya yang suci tidak muat menampung keperkasaan Fei Chen.
“Bibi Xi, lemaskan badanmu jangan terlalu tetang. Awalnya akan sakit, tapi selebihnya nikmat sayang...” Fei Chen mencium pipi Xi Taohua dan langsung mengukung tubuh wanita dewasa dengan tubuh menggoda itu.
“Muat atau tidak... Kenapa kita tidak mencoba menyatukan sayang?”
Fei Chen menggesekkan intinya pada ujung celah mungil Xi Taohua yang merekah berwarna merah. Celah sempit dan mungil Xi Taohua menganga merah saat Fei Chen terus menggesekkan inti mereka.
“Aaahhhh... Chen‘er...” Xi Taohua menggelengkan kepalanya penuh kekhawatiran melihat kebawah sana.
Fei Chen menciumi pipi Xi Taohua dan mengatakan bisikan mesra. Fei Chen menarik tubuhnya tinggi lalu dengan lembut mulai menerobos masuk celah sempit dan mungil Xi Taohua.
“Akh! Pelan-pelan Chen‘er... Ssssh...” Xi Taohua terpekik. Badannya menggeliat dan matanya terbeliak.
“Sakit ya Bibi? Tahan sebentar ya sayang... Aku akan memasukkannya lagi...” Fei Chen tidak berniat berhenti. Dia mulai memasukkannya intinya lebih dalam pada tubuh montok Xi Taohua.
Fei Chen menahan tubuh Xi Taohua dan mencium lembut bibir wanita dewasa dengan lekuk tubuh menggoda itu. Fei Chen menerobos semakin dalam dan membuat Xi Taohua menggelengkan kepalanya sambil mengatupkan bibirnya erat.
“Haaaak! Aduh! Chen‘er!” Xi Taohua akhirnya terpekik merasakan sakit saat Fei Chen merenggut kesuciannya.
Untuk sesaat Fei Chen mendiamkan miliknya didalam sana menikmati cengkeraman kuat inti Xi Taohua. Celah mungil Xi Taohua berdenyut-denyut menjepit intinya.
“Bibi Xi, terimakasih sayang telah memberikan mahkotamu padaku... Aku akan bertanggung jawab...” Fei Chen mencium mata dan pipi Xi Taohua yang basah oleh air mata.
“Hikss... Hikss...” Xi Taohua merasakan perih dan ngilu dicelah pahanya karena besarnya inti Fei Chen.
Liang Su yang melihat tubuh Fei Chen mengukung montoknya tubuh Xi Taohua menjadi terbakar api. Terlebih kedua pasangan itu lebih cocok menjadi ibu dan anak dibandingkan seorang kekasih.
Tak lama Liang Su melihat Fei Chen yang sangat mahir menenangkan Xi Taohua dan mulai melakukan gerakan secara alamiah naik turun diatas tubuh montok Xi Taohua.