Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 328 - Rencana Eksekusi Publik


PPFC 328 - Rencana Eksekusi Publik


Setelah kepergian Fei Chen menuju Ladang Yasai, keributan di Kota Hinogawa terjadi. Bukan hanya di Kota Hinogawa saja melainkan di Kota Myoko terjadi hal yang sama yakni pembersihan pasukan pemberontakan.


Rencana yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir gagal dalam sekejap. Kejadian ini membuat Hirataka semakin terpukul setelah mendengar kabar tersebut.


“Suamiku, kenapa? Kenapa kau tidak mau menyentuhku sama sekali!” Ichiba menangis saat Hirataka mengabaikan dirinya.


Hirataka tersenyum kecut, “Semua ini salahku Ichiba. Aku akan pergi membantu pasukan pemberontak dan aku ingin menyampaikan pesanku pada Tuan Chen, tolong bebaskan negeri ini untukku.”


Setelah itu Hirataka berjalan pelan mendekati Ichiba dan memeluknya erat, “Maaf, maaf Ichiba! Aku tidak bisa menjalankan tugasku sebagai suami! Tidak memberimu nafkah dan hanya membuatmu menderita! Maafkan aku!”


Hirataka menangis begitu juga dengan Ichiba. Kedua pasangan suami istri larut dalam kesedihan dan terbuai dalam asmara yang telah lama melanda.


Keesokan harinya Hirataka menulis sebuah surat untuk Ichiba agar diberikan kepada Fei Chen. Setelah menatap dan memperhatikan wajah istrinya yang masih tertidur, Hirataka bergegas pergi untuk membebaskan anggota pasukan pemberontakan yang ditangkap di Kota Hinogawa.


’Maaf Ichiba, istriku. Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi...’ Hirataka membatin pedih lalu pergi meninggalkan Ichiba.


____


Kota Myoko, Negeri Api, Kekaisaran Kai.


Malam itu penangkapan pasukan pemberontakan terjadi dalam sekejap. Orang-orang saling berkhianat, samurai yang berhasil membeberkan keberadaan pengkhianat maka dipastikan akan direkrut menjadi anggota Tiga Perintah Samurai.


Penangkapan itu berakhir dengan pembunuhan yang dilakukan oleh salah satu pemimpin Tiga Perintah Samurai yang bernama Hakkai. Dengan bengis Hakkai memenggal ratusan kepala orang yang berkhianat dan memamerkannya didepan umum.


“Seperti biasa kau melakukan tindakan yang gila, Hakkai. Dengan ini maka pemberontakan akan berakhir. Mereka tidak pernah sadar jika keluarga Kagura sudah berakhir. Sekarang Tetua Kai dan juga Budou sedang menuju Negeri Air. Sisanya kita akan mencari tempat persembunyian Keluarga Fuyumi dan Negeri Es.” Terlihat pria sepuh yang memegang tongkat datang menghampiri pria berbadan kekar dengan tubuh dipenuhi luka yang memegang katana.


“Tetua Kurose, jadi bagaimana dengan kebenarannya tentang beliau yang berhasil menangkap Raja Neraka?” Pria yang dipanggil Hakkai dan menjabat sebagai salah satu dari pemimpin Tiga Perintah Samurai itu bertanya pada pria sepuh yang menyapanya.


“Kabar itu benar. Tuan Sun Yelong ingin Kaisar Ma itu menjadi tangan kanannya.” Pria sepuh bernama Kurose menjawab. Kurose merupakan salah satu Lima Tetua Kai yang dipilih langsung oleh Shogun Raido.


Mendengar itu membuat Hakkai semakin yakin jika penyerangan yang akan dilakukan Sun Yelong ke segala penjuru Benua Tujuh Bintang akan berhasil.


“Kalau begitu sebaiknya aku akan menyusul yang lainnya. Negeri Es adalah tempat yang indah dan eksotis Tetua Kurose. Aku berharap bisa menemukan wanita bermarga Fuyumi.” Hakkai tertawa lalu memberi hormat kepada Kurose sebelum pergi menuju kota yang berbatasan dengan Negeri Air yakni Kota Hamu.


“Kau memang luar biasa Tetua Kurose.” Hakkai melambaikan tangan.


Kejadian di Kota Myoko membuat para penduduk disana ketakutan. Setiap penduduk telah membayar upeti dan bersumpah setia pada Sun Yelong dan Raido, namun tetap kekejaman Sun Yelong ataupun Raido membuat mereka merasa tertekan dan hidup dalam ketidaknyamanannya.


Kurose yang ditunjuk sebagai penguasa Kota Myoko juga melakukan tindakan sewenang-wenang. Membuat setiap pria di Kota Myoko bekerja sebagai nelayan dan harus memberikan jatah yang cukup untuk Kerajaan Binatang Buas, jika tidak maka istri atau anak perempuan mereka yang menjadi bayaran dan berakhir menjadi pemuas Kurose.


Berbeda dengan yang terjadi di Kota Myoko dimana pembantaian anggota pasukan pemberontakan terjadi dalam sekejap. Di Kota Hinogawa justru terjadi pertarungan sengit hingga berakhirnya penangkapan seluruh anggota pasukan pemberontakan.


Helai dan Shin yang merupakan pemimpin Organisasi Sakura Darah berhasil mengalahkan Uzui dan Tenkai. Keduanya memberikan perlawanan sengit dan membuat keributan yang menggegerkan Kota Hinogawa.


“Besok kita akan memenggal kepala mereka semua didepan publik. Kalian semua harus memadamkan tidak ada orang yang berani mendekati penjara Kota ini!” Helai tersenyum lebar menatap tubuh Uzui yang berlumuran darah.


“Senior Budou, kami akan memastikan keamanan. Anda bisa tenang. Setelah ini tidak akan berani yang mencoba menggulingkan kekuasaan Shogun Raido.” Shin yang merupakan salah satu dari empat pemimpin Organisasi Sakura Darah memberi hormat pada pria paruh baya berwajah garang yang baru saja datang.


“Eksekusi publik ya? Ini merupakan cara yang paling efektif.” Pria tersebut mengelus kumisnya dan turun dari kuda. Lalu pria yang disebut sebagai Budou itu menatap seluruh wajah para tahanan.


“Tidak ada masa depan untuk kita. Kalian terlalu keras kepala karena percaya pada ucapan keluarga Kagura.” Budou menatap lama wajah para tahanan sebelum memejamkan mata.


“Diam kau pesuruh sialan!” Saat Budou membalikkan badan, Uzui berteriak lantang menghina.


“Lebih baik mati secara terhormat sebagai pemberontak daripada harus menanggung malu menyiksa rekan sebangsanya sendiri!” Teriakan lantang Uzui membuat Helai melepaskan tendangan kasar pada wajah pria tersebut.


Budou nampak tidak peduli dan berjalan diantar oleh Shin menuju kediamannya. Sementara itu Uzui mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan oleh Helai.


“Jaga bicaramu sampah! Selagi masih bisa memohon lebih memohon agar besok kau bisa mati tanpa rasa sakit!” Helai mencekik leher Uzui hingga pria hampir kehabisan nafas lalu membantunya tubuhnya secara kasar ke tanah.


“Masih saja berpikir untuk membalaskan dendam keluarga Kagura. Seharusnya kalian mencontoh Daimyo Negeri Air dan wanita di Negeri Es. Tunduk dan tidak melawan maka kalian akan selamat.” Helai tertawa mengejek bahkan sebelum pergi menyusul Budou dan Shin, pria itu membuang ludah kearah tahan pasukan pemberontakan yang ditahan.


“Sial!” Uzui kehilangan kesadaran setelah mendapatkan banyak pendarahan.


Sedangkan kondisi Tenkai jauh lebih buruk karena perutnya berlubang terkena tusukan katana Helai dan sampai saat ini pria masih pingsan tidak sadarkan diri.