
PPFC 355 - Kedekatan Chen‘er Dan Kakak Zhu
Pagi hari selanjutnya Fei Chen menemukan dirinya terlelap diatas ranjang bersama San Zhu. Fei Chen menatap keluar jendela dan menemukan bahwa hari sudah siang hari. Akhirnya Fei Chen pun memutuskan untuk mandi.
Sembari bangkit berdiri, Fei Chen menatap San Zhu yang masih tertidur dan terbaring lemas. Rambut San Zhu acak-acakan dan beberapa bagian tubuhnya dipenuhi tanda kepemilikan. Melihat semua itu membuat Fei Chen menelan ludahnya mengingat betapa indahnya tubuh San Zhu.
Fei Chen sendiri merasakan sensasi lain saat melakukan kegiatan perdana menyelusuri gua sempit yang bersebelahan dengan lembah suci merekah.
Setelah mandi Fei Chen menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk dirinya dan San Zhu. Dulu dia selalu dijahili San Zhu namun semalam dirinya benar-benar berhasil membuat San Zhu kacau balau dan menangis bahkan menjerit.
Merasakan aroma daging bakar yang terhirup dihidungnya, San Zhu pun bangun dan membuka matanya secara perlahan. San Zhu menemukan dirinya berada di ruangan yang semalam menjadi saksi bisu dirinya dan Fei Chen melewati malam indah bersama.
San Zhu merasakan celah pahanya sakit terlebih pinggang dan bagian bokongnya terasa sangat sakit dan ngilu. San Zhu cemberut dan merengek kepada Fei Chen yang membuatnya seperti ini.
“Hikss... Hikss.. Chen‘er! Kau jahat!” San Zhu yang ingin merengek justru malah menangis.
Fei Chen pun langsung menuju kamar dan memenangkan San Zhu. Dengan pelukan sama hangat dan elusan lembut di kepalanya, Fei Chen mencoba menenangkan wanitanya.
“Kakak Zhu, bukankah aku sudah meminta izin sebelumya? Kau hanya diam dan pasrah, bagiku itu tanda kau menyetujuinya. Sepertinya aku memang berlebihan, tetapi aku tidak merenggut mahkotamu bukan?” Fei Chen mengecup kening San Zhu setelah berkata demikian.
San Zhu yang kesal berhenti menangis dan meremas kebanggaan Fei Chen yang sudah memaksa menjelajahi gua sempit miliknya.
“Kau tidak merenggut mahkotaku tetapi kau merenggut mahkotaku yang lain! Buaya sialan rasakan ini!” San Zhu berteriak kencang penuh kekesalan.
“Argh! Kau! Tidak! Jangan diremas atau itu akan pecah!” Fei Chen tersentak kaget dan untuk pertama kalinya dia memasang ekspresi syok lalu meringis kesakitan saat San Zhu melepaskan cengkeraman erat tangannya.
“Hihihi... Itu balasan untukmu! Dasar buaya sialan! Kau benar-benar pandai merayu wanita dan menaklukkannya! Apa dengan cara seperti ini kau membuat para wanita berumur diluar sana menjadi istrimu?!” San Zhu memencet hidung Fei Chen sebal dan memasang ekspresi kesal.
“Kakak Zhu, maafkan aku. Sepertinya kau sangat marah padaku...” Fei Chen mengangkat kedua tangannya sebagai tanda dia merasa bersalah dan tidak ingin berdebat dengan San Zhu.
“Bagus jika kau merasa bersalah. Sekarang pergi karena aku mau mandi.” San Zhu menyentil dahi Fei Chen dan mencoba berjalan.
“Aduh... Aduh... Sakit sekali...” San Zhu menggerutu tepat setelah mencoba berjalan.
San Zhu akhirnya menggunakan Qi untuk melapisi beberapa bagian tubuhnya dan kembali berjalan. Namun tetap saja San Zhu kesusahan berjalan dan cara jalannya seperti orang yang mengangkang.
‘Kakak Zhu...’ Fei Chen menelan ludah melihat San Zhu berjalan kesusahan. Karena merasa bersalah, Fei Chen bertanggungjawab dan mengambil inisiatif.
Tanpa persetujuan San Zhu, dengan cepat Fei Chen membopong San Zhu menuju kolam air panas.
“Lepaskan Chen‘er! Jangan lagi! Aku tidak mau!” San Zhu memberontak bahkan sampai menjambak rambut Fei Chen.
“Tidak perlu memberontak. Aku hanya ingin memandikanmu.”
Selesai memandikan San Zhu, nampak Fei Chen tersenyum puas sedangkan San Zhu terlihat lega karena mengira Fei Chen akan meminta jatah namun nyatanya pemuda itu tidak mengulangi hal yang sama semalam.
Fei Chen melihat San Zhu masih kesulitan berjalan dan itu membuktikan bahwa keperkasaan dirinya yang luar biasa. Fei Chen tidak ingin San Zhu merasa tidak nyaman, sehingga dia menuntun wanita itu untuk duduk bersamanya.
“Mari makan Kakak Zhu...” Fei Chen tersenyum hangat menatap San Zhu yang terlihat kelelahan, “Aku ingin kau mencicipi daging bakar buatanku.”
San Zhu mengangguk dan memegang daging bakar buatan Fei Chen, “Kau tidak meracuni daging bakar ini bukan?”
Fei Chen terkejut dengan pertanyaan San Zhu, “Tentu saja tidak. Untuk apa aku meracuni kekasihku?”
“Siapa yang tahu. Setelah aku memakan ini tiba-tiba aku merasa tubuhku panas dan kau memanfaatkan kesempatan itu,” ujar San Zhu.
“Maksudmu aku menaruh obat perangsang? Aku tidak melakukannya Kakak Zhu!” Fei Chen membela diri.
“Chen‘er, Kakak Zhu harus waspada padamu.” San Zhu mengangkat daging bakar Fei Chen dan mengibaskan sebelum melahapnya.
Fei Chen menghela nafas, kemudian mereka berdua menikmati daging bakar dengan lahap untuk mengisi stamina mereka akibat pergulatan semalam.
Selepas makan, San Zhu merasakan bokongnya masih ngilu, bahkan paha dan pinggangnya juga masih sakit.
“Chen‘er, Kakak Zhu ingin istirahat hari ini. Tubuhku terasa remuk dan begitu ringan...” San Zhu bangkit berdiri dan menatap Fei Chen lalu berjalan menuju kamar, “Semalam benar-benar melelahkan...”
Fei Chen tersenyum mendengarnya dan mencoba menawarkan diri, “Kakka Zhu apa perlu kutemani?”
San Zhu berhenti berjalan dan menoleh menatap Fei Chen tajam, “Tidak perlu. Yang ada bukannya tidur!”
“Kau pasti merengek dan memaksa! Dasar bocah!” San Zhu menggerutu kesal dan masuk kedalam kamar.
Setelah menutup pintu San Zhu bersuara cukup lantang, “Lebih baik kau ke Kota Hamu. Kota itu dikuasai pria bernama Kurose dan anggota Gagak Hitam.”
Mendengar ucapan San Zhu akhirnya Fei Chen bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Hamu yang memang sudah dekat.
“Kakak Zhu, nanti malam aku akan menjemputmu.” Setelah berkata demikian Fei Chen kembali ke tempat lokasi dirinya menandai segel teleportasi yang dekat dengan Kota Hamu.
Sedangkan San Zhu tersenyum mengingat bagaimana kehangatan yang Fei Chen berikan dan bagaimana Fei Chen memperlakukan dirinya lembut saat menangis.
“Chen‘er...” gumam San Zhu dan tak lama wanita ini tertidur pulas bermimpi indah tentang Fei Chen.