Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 277 - Senior Ju Ling Shui


PPFC 277 - Senior Ju Ling Shui


Malam itu Fei Chen berhasil menyusup kedalam Istana Yang. Ditengah kekacauan yang dilakukan Deshe, Fei Chen menemukan keberadaan Ju Ling Shui yang ditahan oleh Kang Feihu dan Yang Ergou.


Kang Feihu yang merupakan salah satu anggota Tujuh Bunga Iblis dan memiliki julukan Iblis Bunga Melati melakukan negosiasi dengan Yang Ergou.


“Jadi kakakku masih hidup dan dia menyamar sebagai pemilik penginapan? Menghapus nama marganya dan hanya menggunakan Xiaomi sebagai namanya. Kang Feihu, lakukan sesukamu dan aku akan menerima hadiah pemberianmu ini.” Yang Ergou tersenyum lebar menatap Ju Ling Shui yang tergeletak diatas ranjang.


“Ya, dia sudah berada dibawah racunku. Racun Melati Iblis yang membuatnya dalam pengaruh obat perangsang selama belasan hari.” Kang Feihu membalas dengan senyuman lebih lebar.


“Tetapi malam ini ular yang pernah membuat sarang di Istana Yang kembali menampakkan wujudnya. Ular ini berukuran besar dan hanya menyerang pendekar dan penjaga. Bukankah ini aneh, Yang Mulia?” Kang Feihu tidak tersenyum lama karena sudah mendengar kabar tentang kekacauan di Kota Yangping.


Yang Ergou tidak ambil pusing karena merasa ular tersebut merupakan Binatang Iblis. Setelah berbincang singkat dan menyuruh Kang Feihu untuk melakukan penangkapan terhadap Xiaomi, Yang Ergou masuk kedalam kamar yang telah disiapkan oleh para pelayan.


“Malam ini merupakan malam yang indah. Ini hadiah terbaik, Kang Feihu. Aku sangat berterimakasih padamu...” Setelah masuk kedalam kamar Yang Ergou mengunci pintu dengan rapat.


Seketika ruangan kamar tersebut terasa menjadi sunyi bahkan yang lebih mengejutkan tubuh Yang Ergou berhenti bergerak.


“Apa yang terjadi?” gumam Yang Ergou saat mengetahui tubuhnya tidak dapat digerakkan.


“Ilusi Naga Giok...”


Fei Chen muncul di hadapan Yang Ergou dan memegang pundak pria paruh baya tersebut.


“Sepertinya malam ini kau hanya menyaksikannya saja...” ucap Fei Chen sinis sebelum menjentikkan jarinya.


Ju Ling Shui hanya melihat Fei Chen dan tidak dapat melihat Yang Ergou. Wanita tersebut menatap Fei Chen yang berjalan mendekatinya.


“Patriark Fei... Apa kau datang untuk menyelamatkanku?” tanya Ju Ling Shui yang melihat Yang Ergou membuka pintu namun tak lama bayangan pria itu menghilang.


“Senior, apa kau sudah mengetahui kondisi tubuhmu?” Fei Chen balik bertanya dan Ju Ling Shui menganggukkan kepalanya.


“Lebih baik aku mati daripada harus ternoda oleh seorang pria. Tetapi Patriark Fei, jika pria itu adalah dirimu aku tidak keberatan. Kau sudah berjanji bukan? Tepati janjimu dan buat wanita ini percaya padamu.” Ju Ling Shui sendiri sudah merasakan panas tubuhnya tidak terkendali.


Fei Chen mendekat dan menatap Ju Ling Shui tajam, “Senior, kau akan menyesal jika melakukannya dibawah pengaruh-”


“Tidak, aku tidak akan menyesal! Kau adalah satu-satunya pria yang memikat hati Matriark dan melihat tubuh ini. Sejak saat itu aku sudah memutuskan untuk memberikan hartaku padamu...” Ju Ling Shui berdiri dan memeluk tubuh Fei Chen.


Yang Ergou yang melihat kejadian ini mengumpat dan melepaskan aura pembunuh namun tindakannya itu justru membuat seluruh tubuhnya lemas.


Fei Chen yang menyadari hal ini mengelus kepala Ju Ling Shui dan membalas pelukan wanita tersebut.


“Senior, apa kau yakin?” Fei Chen bertanya dan Ju Ling Shui menatap wajah Fei Chen penuh makna sebelum mengecup bibir pemuda tersebut.


Ciuman pertama Ju Ling Shui jatuh kepada Fei Chen. Ju Ling Shui sama sekali tidak mahir dan membuat Fei Chen melepaskan ciumannya sambil memegang bahu wanita tersebut.


“Itu adalah ciuman pertamaku, Patriark Fei...” ucap Ju Ling Shui malu dengan tatapan mata yang manja.


Fei Chen membuka Portal Teleportasi dan membawa tubuh Ju Ling Shui ke Gunung Menangis atau lebih tepatnya Rumah Yin Yang. Disana Fei Chen akan menuntaskan semuanya dengan Ju Ling Shui.


Fei Chen membawa tubuh Ju Ling Shui menuju kamarnya dan merebahkan tubuh wanita tersebut diatas ranjang. Penuh kelembutan Fei Chen menindih dan mencium lembut bibir tipis yang menggoda itu.


Ju Ling Shui menerima Fei Chen dengan terbuka membiarkan pemuda tersebut menghisap manis mulutnya. Ju Ling Shui merasakan geli dan basah dalam mulutnya namun dia menikmatinya.


Sadar dirinya telah kehilangan kesempatan menjadi seorang pendekar setelah titik meridiannya kembali dilumpuhkan, bahkan yang lebih mengenaskan dirinya terkena Racun Melati Iblis membuat Ju Ling Shui menyerahkan segalanya kepada Fei Chen.


Bukan tanpa alasan Ju Ling Shui melakukan ini karena bagi dirinya sosok Fei Chen adalah pria yang merenggut hatinya dan membuatnya merasakan jatuh cinta.


“Mmmmm...” Ju Ling Shui kehabisan nafas dan Fei Chen melepaskan pagutannya.


“Patriark Fei... Bimbing aku...” Lembut suara Ju Ling Shui dan membuat Fei Chen semakin tergoda.


“Senior...” Fei Chen menggigit leher mulus Ju Ling Shui dan menghisapnya. Mulut Ju Ling Shui terbuka dan bersuara indah.


“Ah.”


Bekas gigitan Fei Chen terlihat disana dan pemuda itu mulai meraba satu gundukan kenyal yang belum pernah dijamah. Penuh kelembutan Fei Chen meremasnya dan memilin ujungnya.


“Aaaah... Patriark...”


“Keluarkan suaramu sayang...”


Fei Chen mengecup singkat bibir Ju Ling Shui sebelum melepaskan satu gunung kembarnya hingga mencuat didepan wajahnya. Penuh gairah Fei Chen melahapnya membuat Ju Ling Shui menggelengkan kepalanya.


“Patriark... Ouuhhh... Aaaahhh...” jerit Ju Ling Shui yang baru merasakan kenikmatan dunia.


Fei Chen tersenyum tipis dan melucuti seluruh pakaian Ju Ling Shui. Kemudian dengan tatapan teduh Fei Chen memandang keindahan tubuh Ju Ling Shui.


“Patriark... Mmmm...” Ju Ling Shui terlihat malu saat mata Fei Chen menatapnya mulai dari wajah hingga celah paha yang terlihat sempit.


Ju Ling Shui memejamkan matanya untuk sesaat dan merasakan Fei Chen sudah merangkak dikedua pahanya. Alangkah terkejutnya Ju Ling Shui saat merasakan sentuhan lidah yang basah dibawah sana.


“Aaaahhh... Aduh Patriark... Geli...” Tangan Ju Ling Shui gemetar memegang kepala Fei Chen.


Ju Ling Shui berusaha mendorong kepala Fei Chen namun kenikmatan yang diberikan pemuda itu membuat Ju Ling Shui mengerang hebat tidak kakarian.


“Aaaah! Patriark!” Ju Ling Shui menjerit dan mengapit kepala Fei Chen menggunakan kedua paha jenjangnya.


Fei Chen menghisap kuat dan tersenyum tipis saat melihat tubuh Ju Ling Shui mengejan tidak karuan.


Ju Ling Shui sendiri merasakan tulang-tulang dalam tubuhnya seperti terlepas dan badannya terasa lemas.


“Patriark...” ucap Ju Ling Shui lemas saat melihat Fei Chen bangun dan melepaskan pakaiannya.


Ju Ling Shui menatap Fei Chen yang mulanya melepaskan pakaian atasnya memperlihatkan bentuk badannya, lalu melepaskan pakaian bawahnya memperlihatkan keperkasaannya.


Mata Ju Ling Shui menatap kagum tubuh Fei Chen namun saat pandangan matanya jatuh di benda berurat dengan keperkasaan diatas normal seketika wajahnya pucat.


Ju Ling Shui merasakan aliran darah dalam tubuhnya berhenti mengalir saat Fei Chen mulai menindih tubuhnya.


“Patriark...”


Melihat ekspresi Ju Ling Shui membuat Fei Chen tersenyum sendiri. Ju Ling Shui pasrah saat Fei Chen menggosok inti mereka.


Dengan debaran jantungnya saat melihat ujungnya bersentuhan dengan intinya, Ju Ling Shui menggelengkan kepalanya dan menatap Fei Chen sayu.


“Awalnya akan sakit, Senior... Namun selebihnya nikmat...” Fei Chen menekan tubuhnya dan menggesekkannya.


Setelah melihat lembah suci Ju Ling Shui yang merekah basah, Fei Chen menekan tubuhnya dan membuat mata Ju Ling Shui terbelalak.


“Aduh!” Ju Ling Shui melenguh.


Fei Chen memeluk tubuh Ju Ling Shui dan berbisik mesra, “Tahan sebentar Senior...” Sambil menekan tubuhnya Fei Chen mengecup bibir Ju Ling Shui agar wanita itu tenang.


Setelah keduanya melakukan penyatuan, Ju Ling Shui menjerit hebat saat darah segar melapisi inti Fei Chen. Cukup lama Fei Chen mendiamkan miliknya disana tanpa menggerakkan tubuhnya.


“Maaf Senior... Apa aku menyakitimu? Maaf...” Fei Chen mengelus kepala Ju Ling Shui dan mengusap wajahnya. Sesekali dia mencium lembut mata dan bibirnya sambil melakukan gerakan pelan.


“Ah...” Ju Ling Shui mulai menikmati permainan Fei Chen.


Tekanan inti Fei Chen membuat inti Ju Ling Shui mengembang. Fei Chen melahap gunung kembar yang menganggur dan menghisap ujungnya lalu menggerakkan tubuhnya dengan pelan.


“Ssssshhhh... Patriark... Aaah...”


Fei Chen melihat Ju Ling Shui mulai menikmati dan mempercepat tempo hentakannya. Gerakan Fei Chen dalam hingga membuat Ju Ling Shui merasakan penuh.


“Bagaimana sayang? Enak?” Fei Chen mengukung tubuh Ju Ling Shui dan menghentak lebih dalam.


Ju Ling Shui memeluk tubuh Fei Chen dan mengerang, “Enak... Patriark... Aaaaahhh... Aku... Ngghhh...”


Fei Chen tersenyum dan menggerakkan pinggulnya naik turun. Tubuh Ju Ling Shui terhentak-hentak diiringi suara deritan ranjang. Nafas keduanya memburu dan tidak beraturan bahkan Fei Chen menggebu-gebu menghujamkam tubuhnya.


“Patriark.... Aaaahhhh!” jerit Ju Ling Shui.


Fei Chen menghisap leher Ju Ling Shui dan melakukan pelepasan didalam. Lalu keduanya terdiam lama menikmati sepenggal nafas dan sisa-sisa kenikmatan.


“Terimakasih Senior...” Fei Chen melepaskan penyatuan dan memperlihatkan keperkasaannya pada Ju Ling Shui.


"Patriark itu memalukan...” Ju Ling Shui lemas dan bersuara lirih menatap keperkasaan Fei Chen yang ujungnya di penuhi buih cintanya dan darah sucinya.


Fei Chen berbaring disamping Ju Ling Shui dan kembali melakukan penyatuan dari samping. Malam itu Fei Chen mengarungi indahnya malam bersama Ju Ling Shui hingga wanita ini lemas dan tidak berdaya.


Dengan nafas yang tersengal-sengal Ju Ling Shui bergerak diatas tubuh Fei Chen sebelum akhirnya dia mengejan beberapa kali lalu ambruk menimpa tubuh Fei Chen.


“Patriark... Aku lelah...”


Fei Chen meremas bokong Ju Ling Shui dan tersenyum, “Istirahatlah Senior...”


Ju Ling Shui ingin istirahat namun dia mengetahui bahwa keperkasaan Fei Chen masih keras didalam sana.


“Tetapi milikmu masih berdiri...” Ju Ling Shui mencoba duduk dan melepaskan penyatuan mereka.


"Apa yang harus aku lakukan?” tanya Ju Ling Shui.


“Itu...” Fei Chen meminta Ju Ling Shui untuk menggenggam. Ju Ling Shui menurut dan memanjakan inti Fei Chen menggunakan tangan sebelum akhirnya semburan cinta Fei Chen mengenai wajah wanita tersebut.


“Pipiku jadi basah...” Ju Ling Shui terkejut dan membuat Fei Chen memeluknya.


“Kau sangat cantik, Ju Ling Shui. Aku akan bertanggung jawab sayang...” Fei Chen mendekap tubuh Ju Ling Shui dan tersenyum hangat.


“Tidurlah...”


Ju Ling Shui mengangguk dan menikmati sisa-sisa keindahan yang baru saja dia gapai bersama Fei Chen.