
PPFC 59 - Kematian
Ratusan tubuh tak bernyawa bergelimpangan disepanjang jalan. Sebuah desa yang terlihat mati ini dipenuhi bau amis menyengat diiringi kegelapan malam yang disertai hujan.
Suara petir menyambar dengan keras seolah-olah langit begitu marah dengan kekejian ini.
“Ini sangat kejam...” Gadis manis yang memucat wajahnya bergetar hatinya melihat pemandangan memilukan ini.
“Zhou‘er, Chen‘er, Li‘er, tetap waspada. Desa ini berakhir seperti ini karena satu hal...” Pria berumur tiga puluhan tahun menahan nafas melihat bayi sampai anak remaja berakhir mengenaskan, “Aku pernah melihat ini sebelumnya. Mereka dijadikan tumbal.”
“Tumbal? Kejadian ini sama seperti saat aku bertemu dengan Lili...” Bocah berusia tiga belas tahun yang tidak lain adalah Fei Chen bergumam.
“Ini sangat mengerikan. Mereka benar-benar membunuh tanpa pandang bulu.” Pemuda lain yang bernama Tian Zhou angkat bicara.
“Sebaiknya kita menguburkan mereka semua-” Saat pria berumur tiga puluhan tahun tidak lain adalah Tian Hu mengajak Fei Chen, Tian Zhou dan Jia Li untuk menguburkan jenazah penduduk desa, sebuah aura berwarna hitam pekat menyebar ke seisi desa membuat tubuh keempatnya bergidik.
‘Chen! Aura ini sama seperti milik Raia Neraka!’ Kucing Manis yang biasanya terlihat tenang langsung panik.
‘Dewa Iblis? Aku merasakan firasat buruk tentang hal ini...’ Pedang Gila menanggapi.
Fei Chen terkejut mendengar pembicaraan Kucing Manis dan Pedang Gila. Belum sempat dirinya bertanya, sebuah suara menggema dan seketika dirinya dikelilingi ratusan pendekar yang memiliki kemampuan Pendekar Agung Tahap Puncak.
“Kalian! Mengapa para Tetua Sekte Seribu Pedang ada disini?” Mata Tian Hu melebar melihat seratus pendekar yang mengelilingi mereka semua.
“Jangan bilang...” Surat Tian Hu tercekat saat suara tepuk tangan menggema.
“Saudara Tian, kau menyadarinya bukan? Alasan kami berada di desa ini karena saat hal...” Sosok pria paruh baya yang tidak adalah Qie Xuexuan muncul, “Kami disini karena akan membunuh kalian.”
“Kakak Xuexuan, bunuh mereka bertiga tetapi jangan bunuh Jia Li, dia masih berguna untuk kita.” Pria yang tidak asing dimata muncul disamping Qie Xuexuan. Dia adalah Qie Xumao yang datang bersama Qie Yang dan Qie Laoji.
“Apa tujuan Sekte Seribu Pedang yang sebenarnya sampai menghabisi nyawa tak bersalah?” Tian Hu memegang sarung pedangnya saat merasakan aura pembunuh dari seratus Tetua Sekte Seribu Pedang.
“Oh, hanya untuk bersenang-senang. Lagipula aku mendapatkan perintah ini dari Tuan Hung. Jika aku membunuh seratus nyawa tak bersalah, maka dia akan memberikan aku Pil Darah Kebuasan.”
Qie Xuexuan mengeluarkan tiga pil dari jubahnya. Tiga pil berwarna hitam kemerahan itu dia telah secara bersamaan.
“Bagaimana Tuan Hung?” Qie Xuexuan menoleh keatas.
Saat Tian Hu, Fei Chen, Tian Zhou dan Jia Li menoleh keatas, sosok pria berambut putih turun dengan kecepatan tinggi dan langsung mengibaskan tangannya hendak memotong tangan Fei Chen.
Namun Tian Hu bergerak cepat menyadari, “Chen‘er!” Kedua mata Tian Hu melebar saat tangan kirinya putus terkena ayunan tangan kanan pria tersebut.
“Tetua Hu!”
“Ayah!”
Fei Chen terkejut begitu juga dengan Tian Zhou dan Jia Li. Segera Tian Hu menghentikan pendarahan tangan kirinya.
Pria berambut putih memusatkan tenaga dalam pada kelima jarinya sebelum menotok tubuh Tian Hu secepat kilat dan membuat pria memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.
Tian Hu tidak dapat mengimbangi kecepatan pria tersebut dan menyadari titik-titik meridian dalam tubuhnya dilumpuhkan.
‘Sial! Kenapa jadi seperti ini?!’ Fei Chen menatap tajam pria berambut putih yang menatapnya rendah.
Fei Chen menyadari pria berambut putih yang merupakan anggota Tiga Gelap Buas itu memiliki kemampuan yang lebih kuat darinya bahkan orang yang selama ini dia temui.
“Ah, ini mengecewakan. Kami bertiga sedang memiliki urusan penting menghadapi Ketua Pelangi Iblis. Aku mengira kemampuan mereka sama sepertiku, tetapi ini sangat disayangkan...” Pria yang dikenal sebagai Hung Shinji ini menatap Fei Chen tajam sebelum menoleh kebelakang.
“Kalian semua berikan hiburan yang menarik atau aku akan membunuh kalian semua!” Lanjut Hung Shinji.
Seketika Qie Xuexuan berkeringat dingin karena tidak menyangka Hung Shinji memiliki kemampuan Pendekar Langit Tahap Awal.
Selama ini Qie Xuexuan mengira Hung Shinji memiliki kemampuan setingkat diatasnya, ‘Jadi selama ini dia menyembunyikan kemampuan aslinya? Aku hampir mati karena kesalahpahamanku.’
“Pendekar di Kekaisaran Yin tidak ada yang mencapai tingkat seperti kami bertiga. Aku berharap bocah itu memiliki kemampuan yang sama denganku bahkan lebih, tetapi dia sama seperti sampah lainnya.” Hung Shinji melepaskan aura pembunuh yang sangat pekat.
“Tebus kesalahanmu dengan membunuh mereka berempat!” lanjut Hung Shinji.
Qie Xuexuan tidak berpikir dua kali dan langsung memberikan perintah pada seratus tetua Sekte Seribu Pedang untuk mengeroyok Tian Hu, Fei Chen, Tian Zhou dan Jia Li.
‘Chen! Berpikir tenang dan jangan biarkan emosi mengambil alih dirimu!’ Kucing Manis memberi peringatan karena melihat Fei Chen melepaskan Aura Raja Neraka dalam jumlah besar.
‘Semua ini salahku?’ Fei Chen menatap tangan kiri Tian Hu yang putus karena menyelamatkan dirinya.
“Seni Nafas Naga!” Fei Chen menarik pedangnya dan menyambut serangan yang mengarah padanya.
Secepat mungkin dia mengayunkan pedangnya menciptakan dinding api yang membara dengan tenaga dalam yang besar.
Tian Hu, Tian Zhou dan Jia Li terkejut karena Fei Chen terlihat berniat melindungi ketiganya.
‘Apa yang dipikirkan bocah itu?’ Tian Hu tentu saja tidak membiarkan hal itu, namun dinding api tersebut ditembus oleh Qie Xuexuan dan Qie Xumao yang langsung menyerangnya.
Tanpa diberikan waktu untuk berpikir, Tian Hu susah payah menahan serangan keduanya menggunakan satu tangan.
‘Chen-’
“Diam! Kenapa aku bisa selemah ini?!” Fei Chen mengumpat saat merasakan aura pembunuh Hung Shinji lebih mengerikan dari Aura Raja Neraka miliknya.
“Bocah ini...” Hung Shinji menajamkan matanya dan terkejut saat mengetahui aura yang dilepaskan Fei Chen sangat berbeda dari aura pembunuh.
“Aura ini hampir sama seperti milik beliau...” Seringai senyuman tajam terpampang diwajah Hung Shinji.
Dengan kedua mata yang melihat Tian Zhou dan Jia Li, Hung Shinji bergerak cepat dan mengayunkan kedua tangannya menciptakan angin tajam layaknya pedang yang mengarah langsung pada Tian Zhou dan Jia Li.
Fei Chen yang menyadari hal itu bergerak cepat mendorong tubuh Tian Zhou sambil menangkis puluhan angin tajam tersebut, namun dia gagal melindungi tangan kirinya.
“Saudara Fei!” Tian Zhou panik melihat tangan kiri Fei Chen tergeletak didepan matanya.
“Chenchen!” Jia Li yang paling terkejut saat mengetahui Fei Chen tidak berdaya.
Hung Shinji terkekeh dan telah berdiri dihadapan Jia Li.
“Berhenti merengek sampah!” Tangan kanan Hung Shinji mengepal dan sebuah aura berwarna hitam pekat memenuhi tangannya.
“Lili! Jangan sentuh dia!”
Fei Chen sulit berpikir jernih dan langsung menahan serangan tersebut menggunakan tubuhnya membuat perutnya berlubang.
“Chenchen...”
Jia Li melihat jelas bagaimana perut Fei Chen yang berlubang karena hantaman tangan Hung Shinji.
Tian Hu yang melihat kejadian itu sesegera mungkin menuju ketempat Fei Chen berada.
Mulut Fei Chen mengeluarkan banyak darah.
‘Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku begitu lemah?’ Fei Chen dengan mata sayu menatap Hung Shinji yang tersenyum lebar.
‘Kucing Manis, Pedang Gila, sepertinya aku tidak bisa memenuhi janji kalian. Aku tidak bisa... memenuhi ambisiku. Aku benar-benar... menyedihkan...’ Nafas Fei Chen tidak teratur saat Hung Shinji mencabut tangannya dari perut Fei Chen.
Fei Chen melepaskan tenaga dalamnya yang tersisa beserta aura tubuhnya.
‘Chen! Apa kau serius ingin mengakhiri hidupmu disini?’ Kucing Manis bertanya.
Situasi ini diluar perkiraannya, tetapi Kucing Manis mengetahui tidak ada jalan keluar dari situasi ini.
‘Ya, aku akan mengorbankan nyawaku...’ Fei Chen menoleh kebelakang menatap Tian Hu, Tian Zhou dan Jia Li.
‘Bocah manusia, walaupun singkat tetapi perjalanan kita sangat menyenangkan.’ Pedang Gila terdengar tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Fei Chen.
“Terimakasih karena kalian berdua telah mengajarkan hal yang tidak pernah diajarkan orang tua padaku.” Fei Chen kembali menciptakan dinding api, namun kali ini dinding apinya berwarna hitam.
Dinding api itu mengelilingi dirinya dan orang-orang dari Sekte Seribu Pedang termasuk Hung Shinji.
“Chen‘er-”
“Tetua Hu, tolong bawa Lili dan Saudara Zhou darisini. Aku ingin kalian bertiga tetap hidup.” Fei Chen menoleh kebelakang dan tersenyum, “Tolong...”
“Chenchen, tidak! Kau harus pergi bersama kami!” Jia Li menangis histeris saat menyadari nyawa Fei Chen diujung tanduk.
“Lili...” Fei Chen menatap Jia Li yang menangis histeris, “Aku tidak bisa berteriak supaya Kakak Xianlin dan Bibi Luo mendengar...”
“Bisakah kau sampaikan... salamku pada mereka...” Fei Chen tersenyum walaupun terasa menyakitkan.
Tian Hu menggigit bibir bawahnya, “Aku akan menebus dosaku ini...” Tian Hu memukul leher Jia Li lalu menatap Fei Chen yang berdiri dengan gagahnya menghadang Hung Shinji dan pendekar dari Sekte Seribu Pedang.
“Tetua Hu, sampaikan salamku pada Guru...” Fei Chen dengan nafasnya yang lemah berkata, “Terimakasih karena telah memberikan tempat untuk orang sepertiku. Tolong jaga dirimu baik-baik, aku bahagia memiliki seorang Guru sepertimu.”
“Chen‘er...”
“Cepat pergi!” Fei Chen berteriak keras, dia menyadari luka di perutnya sangat fatal dan tidak terselamatkan, “Aku sudah mencapai batasku...”
Tian Hu pergi secepat mungkin membawa Jia Li disusul Tian Zhou yang berlari sambil meneteskan air mata.
Fei Chen tersenyum lebar melihat ketiganya pergi dan itu membuat Hung Shinji bertanya pada dirinya.
“Untuk apa kau melakukan semua ini? Kupikir kau lebih baik dari mereka.”
Fei Chen menarik nafas sebisanya dan menjawab, “Mereka sangat berharga untukku...”
Jawaban itu membuat Hung Shinji tertawa, “Baiklah, aku akan memberikan kematian yang meriah untukmu.”
“Kalian semua... bunuh bocah ini hingga tubuhnya tercerai-berai.”