
PPFC 267 - Belum Dimaafkan
“Bibi Guan, aku tidak meremehkanmu tetapi hanya ingin memastikan saja bahwa malam dirimu dalam kondisi yang sempurna...” ucap Fei Chen lirih.
“Nikmati saja bocah nakal. Aku menginginkanmu.” Guan Ai tidak peduli dan menekan tubuhnya kebawah agar merasakan lebih jelas bagaimana keperkasaan Fei Chen.
“Baiklah, aku akan menikmatinya sampai puas.” Fei Chen lemas menjawab dan memeluk tubuh Guan Ai.
Guan Ai tersenyum menantang dan membuat Fei Chen mencium bibirnya. Guan Ai membalasnya dengan penuh gairah dan membusungkan dadanya kedepan menantang Fei Chen lebih jauh lagi.
Mendapat tantangan itu tangan Fei Chen meraba lembah surgawi Guan Ai, sedangkan yang satunya meremas kuat salah satu dari kedua bukit kembar Guan Ai.
“Ah.” Guan Ai menggeliat merasakan sentuhan telapak tangan dicelah pahanya. Jari jemari yang pernah menjamah dan mempermainkan tubuh serta perasaannya ini sangat lihai.
Guan Ai semakin melayang saat jari Fei Chen memilin dan sesekali memijat ujung gundukan kenyalnya secara bergantian. Semacam sengata listrik dan rasa geli membakar tubuhnya.
“Chen‘er... Aaah... Sayang jangan...” Guan Ai mendesis hebat saat Fei Chen menghisap lehernya hingga memiliki tanda kemerahan.
Fei Chen tersenyum dan terus mempermainkan tubuh Guan Ai dengan penuh gairah. Guan Ai dibuat lemas dengan pakaian yang tidak beraturan.
Fei Chen berniat melepaskan namun Guan Ai menahan tangannya. Wanita paruh baya itu hanya melucuti pakaian dalamnya saja lalu duduk kembali diatas pangkuan Fei Chen.
“Kita lakukan seperti ini...”
Fei Chen menelan ludah dan kembali menggerayangi tubuh Guan Ai.
“Bibi Guan, kau sangat nakal sayang...” lirih Fei Chen menikmati kehangatan dan keindahan tubuh Guan Ai yang masih terbalut pakaian.
Guan Ai tersenyum bangga, “Kenakalanku ini hanya mlikmu Chen‘er sayang...”
Tangan Guan Ai mulai merogoh pakaian bawah Fei Chen dan terkejut saat melihat sendiri bagaimana kebesaran sang perkasa. Matanya menatap kagum bahkan tidak berkedip saat melihatnya bergoyang kekiri kekanan seolah-olah sedang melambai kearahnya.
“Chen‘er ini sangat keras dan besar... Sepertinya ini akan sulit sayang...” Gemae tangan Guan Ai meremas dan membelai nya.
“Bibi Guan, apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?” Fei Chen bertanya karena tangan Guan Ai mengurut tubuhnya dengan mahir.
Guan Ai menggelengkan kepalanya, “Belum Chen‘er. Ini pertama kali aku melakukannya. Aku menyukai ekspresi puasmu itu. Katakan bagaimana agar aku bisa memberikan pelayanan yang membuatmu puas?”
Fei Chen membisikkan sesuatu ditelinga Guan Ai dan membuat wanita paruh baya itu berjongkok di bawah kursi singgasana. Fei Chen dengan gagah duduk dan mengelus kepala Guan Ai.
Pelayanan Guan Ai memuaskan rasa penasaran Fei Chen karena Ji Xiuha tidak melakukannya semahir Guan Ai. Fei Chen tidak membedakan karena keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
“Oooh... Bibi Guan!” Fei Chen mengerang hebat dan melihat Guan Ai menghisap kuat lalu tersedak.
“Uhuk! Uhuk! Ehmmm...”
Guan Ai mencoba menelan walaupun itu mustahil tetapi dia berusaha karena melihat Fei Chen merasa kenikmatan.
‘Malam itu dia sangat mahir memanjakan tubuhku. Sekarang giliranku...’ Guan Ai membatin bangga dan membuat Fei Chen mendesis hebat.
Hingga akhirnya Fei Chen menekan kepala Guan Ai membuat wanita paruh baya itu tersedak. Guan Ai meneteskan air mata singkat karena kesulitan bernafas dan memperlihatkan isi mulutnya lalu menelannya dengan pelan-pelan.
“Glek...”
Senyuman manis dan manja Guan Ai membuat Fei Chen menekan kembali kepala wanita paruh baya itu. Bukannya menolak Guan Ai justru membersihkan sisa ****** ***** Fei Chen.
“Chen‘er, sekarang giliranku duduk diatas pangkuanmu sayang...” ucap Guan Ai sambil memposisikan intinya dengan inti Fei Chen.
Fei Chen mengangguk dan memegang pinggang Guan Ai sambil menghirup wangi punggung wanita paruh baya yang duduk membelakanginya.
“Ini sulit Chen‘er... Akh! Punyamu terlalu besar!” Guan Ai berusaha menurunkan kembali pinggulnya dan terkejut saat merasa keras dan tebalnya keperkasaan Fei Chen.
Fei Chen menyaksikan bagaimana miliknya menyatu. Pekikan Guan Ai diredam ciumannya saat dirinya merasakan kenikmatan inti Guan Ai yang mencengkram intinya dengan sangat kuat.
“Ouhhhhh...” Guan Ai melenguh panjang saat Fei Chen melepaskan ciumannya.
“Ini terlalu besar sayang...” lemas Guan Ai saat mengetahui dirinya benar-benar penuh.
“Maaf, Bibi.” Fei Chen hanya tersenyum sambil meremas gundukan kembar Guan Ai.
Guan Ai mengangkat pinggulnya lalu menurunkannya kembali. Mulutnya meracau tidak jelas setiap wanita paruh baya itu melakukan gerakan tersebut berulang kali.
Awalnya Guan Ai bergerak pelan diatas pangkuan Fei Chen namun beberapa saat wanita dewasa itu bergerak cepat. Suara benturan tubuh keduanya terdengar jelas diiringi pekikan Guan Ai.
“Aahhhss...” Guan Ai sangat menikmati kenikmatan yang baru dia dapatkan pertama kali dalam hidupnya.
Walaupun ini bukan yang pertama untuknya, tetapi keperkasaan Fei Chen membawanya kembali ke masa gadis.
“Haaakk! Chen‘er!” Saat Guan Ai bergerak lembut tiba-tiba Fei Chen membantunya dan membuatnya memekik tanpa sadar.
Fei Chen sendiri merasakan kenikmatan yang membuatnya terus memacu tubuh Guan Ai dengan cepat dan dalam.
“Aaaahhh... Chen‘er... Aaaah-”
“Yang Mulia! Yang Mulia! Apa anda baik-baik saja?!”
Fei Chen berhenti bergerak begitu juga dengan Guan Ai. Keduanya saling menatap satu sama lain dan terlihat panik.
“Sial!” umpat Fei Chen dan tetap menahan tubuh Guan Ai untuk duduk di pangkuannya.
"Chen‘er... Gawat... Itu suara pelayan.” Guan Ai malu tetapi dia tidak memungkiri jika dirinya semakin tertantang untuk melanjutkan.
Fei Chen yang sedang bingung tiba-tiba merasakan cengkeraman yang semakin kuat dan membuatnya tersenyum.
“Aku sedang sibuk, jadi jangan mencoba untuk membuka ruangan ku ini.” Fei Chen berkata dengan suara bergetar.
Pelayan istana diseberang pintu menjawab, “Baik, Yang Mulia. Hamba hanya membawa pesan dari Ratu Su jika Tuan Putri Yuechan kesulitan tidur.”
Fei Chen memucat wajahnya, ‘Xiu‘er... Pasti dia mengetahui semua ini tetapi memilih diam...’
“Aku akan kesana setelah menyelesaikan ini. Tinggal sebentar lagi.” Fei Chen merapatkan giginya karena Guan Ai bergerak diatas tubuhnya.
“Kita belum selesai sayang... Aku ingin lagi...” lirih Guan Ai mendesis saat dirinya mencapai pelepasan.
Fei Chen memeluk tubuh Guan Ai dan mendiamkan miliknya disana sebelum membisikkan sesuatu ditelinga wanita paruh baya tersebut.
“Apa kau sudah memaafkanku Bibi Guan?”
Guan Ai berdiri dan merapikan pakaiannya sambil menggelengkan kepalanya.
“Belum. Bibi belum memaafkanmu Chen‘er. Besok kau harus minta maaf dengan benar.” Guan Ai tersenyum tipis dan meremas inti Fei Chen sangat kuat.
“Lihat, dia masih tegak berdiri.”
Fei Chen tersenyum lemas, “Besok, aku akan membuatmu tidur diranjang seharian.”
Setelah berkata demikian Fei Chen merapikan pakaiannya dan keluar ruangan pribadinya bersama Guan Ai.