
PPFC 111 - Dilema Besar
Saat Fei Chen berhasil membunuh Jia Gunglai dan Feng Xuanzhang, Qiu Niu juga telah memberikan serangan fatal pada Gu Fang dan Xiang Kuan. Sejumlah jarum yang dilepaskan Qiu Niu berhasil mendarat di tubuh Gu Fang dan Xiang Kuan.
Mengingat apa yang telah dialaminya, Qiu Niu membunuh keduanya penuh emosi. Keberhasilannya membunuh Gu Fang dan Xiang Kuan membuat Qiu Niu menajamkan matanya saat Fei Chen membuat dinding api menghilang.
Qiu Niu melihat keberadaan Zhou Bian segera dia mendekati pemuda itu dan langsung membunuhnya. Qiu Nue bisa melihat emosi yang terpancar jelas diwajah wanita paruh baya itu.
Sedangkan Fei Chen yang sedang menatap kearah langit berseru lantang kepada pendekar Gunung Golok Kembar yang tidak ingin melanjutkan pertempuran begitu juga dengan pasukan militer Kekaisaran.
Pada dasarnya mereka semua bertindak demikian karena terpaksa dan mereka tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti setiap perintah Jia Gunglai ataupun Feng Xuanzhang.
“Jika kalian berniat melanjutkan pertempuran ini, majulah! Aku akan menghadapi kalian semua!”
Fei Chen memastikan jika mereka tidak akan melakukan tindakan pengkhianatan setelah dirinya lepaskan.
“Jika tidak bantu Senior Shan mengevakuasi para penduduk!” Fei Chen menambahkan.
Setelah itu terlihat Qiu Niu dan Qiu Nue datang menghampiri Fei Chen. Keduanya bisa merasakan jika Fei Chen sedang memikirkan sesuatu.
“Ibu, kemenangan kita sudah dipastikan. Tetapi aku merasa pertanda buruk...” Qiu Nue angkat bicara dan membuat Qiu Niu bertanya.
“Apa maksudmu Nue‘er? Kita sudah menang dan berhasil membalaskan dendam kita.” Qiu Niu sendiri tidak menyadari hawa keberadaan dua orang yang dirasakan Fei Chen.
“Sepuluh persen...” Qiu Nue menatap Fei Chen yang menatap kearah langit.
“Siapa yang kau prediksi Nue‘er?” Qiu Niu bertanya. Wanita paruh baya ini merasa khawatir jika anak angkatnya itu memprediksi Fei Chen.
“Dia...“ Qiu Nue menatap Fei Chen dan menambahkan, “Kemungkinan orang ini bertahan hidup hingga esok hari adalah sepuluh persen.”
Mata Qiu Niu melebar, “Kau tidak sedang bercanda bukan Nue‘er?”
“Sejak kapan aku bercanda dalam memprediksi Ibu?”
“Apa yang kalian bicarakan? Sebaiknya kalian membantu mereka semua mengevakuasi penduduk. Sesuatu yang merepotkan akan terjadi.” Fei Chen menghela nafas ringan dan berniat terbang keatas namun langkahnya berhenti saat wanita berumur tiga puluhan tahun menangis dan memeluk tubuh Feng Xuanzhang.
“Suamiku? Suamiku bangunlah! Kenapa kau bisa mati?!”
Hati Fei Chen tersentuh melihat ini. Dilema besar menghampiri dirinya. Memang dia telah membulatkan tekadnya namun ini pertama kalinya dia melihat seseorang menangis akibat perbuatan dirinya membunuh manusia.
‘Sampai saat ini... dendam membuatku tidak merasakan apapun saat membunuh...’ Mata Fei Chen melebar untuk sesaat sebelum satu secara perlahan, ‘Ya, selama ini aku hanya memikirkan dendam... Tetapi setelah melihat ini... Aku-’
Fei Chen membatin penuh dilema dan saat itu juga tangannya digenggaman Qiu Niu erat. Wanita paruh baya itu menyadari perasaan Fei Chen.
“Dia adalah Feng Zhui, istri Feng Xuanzhang...” Qiu Niu memberitahu identitas wanita yang seumuran dengannya.
“Bibi Niu?” Fei Chen terkejut karena Qiu Niu menggenggam tangannya erat seolah-olah mencoba menenangkan kebimbangan hatinya.
“Kau terlihat sedih, Chen‘er.” Qiu Niu tersenyum dan itu membuat Qiu Nue terkejut.
‘Ini aneh, Ibu terlihat seperti seorang gadis yang jatuh cinta pada pemuda ini... Selain itu dia seumuran denganku...’ Qiu Nue menatap rumit Fei Chen dan Qiu Niu.
Qiu Nue sendiri mengetahui jika dirinya bukanlah anak kandung Qiu Niu, namun dia menganggap Qiu Niu sebagai Ibu yang harus dia jaga karena telah menolongnya saat dia kecil.
“Apa aku terlihat begitu?” Fei Chen menghela nafas panjang lalu menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya.
“Terimakasih Bibi Niu...”
Fei Chen membalas pegangan erat tangan Qiu Niu dan membuat jantung wanita itu berdetak kencang. Setelah itu Fei Chen melompat keatas dan terbang dengan kecepatan tinggi menembus awan demi awan hingga akhirnya dia menemukan keberadaan dua orang yang sedang melayang di udara memperhatikan apa yang terjadi di Ibukota Jiayang.
“Seorang Pendekar Langit Tahap Puncak yang memiliki kemampuan luar biasa telah membunuh bidak Tuan Mao. Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang Saudara Wu?”
Fei Chen menatap pria paruh baya berpakaian jubah berwarna hitam dengan gambar tengkorak. Kemudian Fei Chen menatap kearah pria paruh baya lainnya yang berpakaian sama dan terlihat tenang.
“Dia memang telah mencapai Pendekar Langit Tahap Puncak, tetapi pada akhirnya dia belum bisa menggunakan qi. Kita perlihatkan perbedaan besar seorang Pendekar Langit Tahap Puncak dari Benua Langit dan Benua Sembilan Petir...”