Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 78 - Pemimpin Berkepribadian Ganda


PPFC 78 - Pemimpin Berkepribadian Ganda


Fei Chen turun dengan kecepatan tinggi dan membuat semua orang yang berada diluar kediaman Mu terkejut.


“Tuan Muda Fei?”


“Hormat kepada Tuan Muda Fei!”


Serentak orang-orang memberi hormat padanya. Fei Chen berjalan dengan tenang menuju kediaman Mu sebelum dirinya dihadang oleh orang-orang yang berkumpul disana.


“Tuan Muda Fei, Nyonya Mu berpesan agar tidak masuk kedalam kediamannya sebelum dia tenang.”


“Benar Tuan Muda Fei, beliau sedang berduka.”


Fei Chen tidak menggubris ucapan penduduk dan justru melepaskan Aura Raja Neraka dalam jumlah besar.


“Minggir! Jangan menghalangiku atau aku akan membunuh kalian semua!”


Fei Chen menatap dingin semua orang yang menghadangnya dan membuat semua orang minggir bahkan bertekuk lutut di hadapannya saking ketakutannya.


Dengan langkah yang tenang Fei Chen berjalan menuju kediaman Mu. Sesampainya di depan pintu tanpa basa-basi dia langsung menendang pintu depan itu hingga hancur berkeping-keping.


““Hakkksss! Jangan dibuka!”


Suara Mu Rong terdengar sampai keluar kediaman bersamaan dengan bunyi pintu yang hancur berkeping-keping.


“Tuan... Muda... Fei?” Tan Hongche memucat wajahnya melihat Fei Chen yang memergoki dirinya.


“Tan Hongche, apa kau sadar dengan tindakanmu ini?” Fei Chen langsung menuju Tan Hongche dan mencekik leher pria itu lalu membuangnya keluar kediaman.


Fei Chen menatap Mu Rong yang menangis histeris mencoba menutupi bagian tubuhnya.


“Aku turut berduka...” Fei Chen langsung pergi menuju Tan Hongche setelah mengatakan itu.


Mu Rong berhenti menangis walaupun hanya sesenggukan. Perkataan Fei Chen membuatnya berpikir tentang kepedulian Fei Chen terhadap dirinya.


Saat berdiri di hadapan Tan Hongche yang terkapar ditanah, Fei Chen membunyikan lehernya dan berkata, “Jadi kau ingin mati bagaimana hah?!”


Sadar nasibnya diujung tanduk terlebih semua orang yang berada diluar kediaman Mu sudah mengetahui tindakannya, Tan Hongche berniat meminta ampun namun saat matanya bertemu dengan mata Fei Chen seketika nyalinya menciut.


Mencoba bersuara tidak bisa, Tan Hongche tidak melakukan banyak perlawanan saat Fei Chen mencekik lehernya dan mengangkat tubuhnya.


“Aku juga sama. Itulah sebabnya aku disini untuk menghancurkanmu karena kau adalah duri dalam dagingku!”


Semua orang menelan ludah ketakutan saat melihat wajah Tan Hongche bonyok terkena hantaman tangan Fei Chen.


Fei Chen melempar tubuh Tan Hongche ketanah lalu menginjak perutnya menggunakan kaki kanannya, kemudian mencekik lehernya menggunakan tangan kiri sebelum melayangkan pukulan menggunakan tangan kanannya tepat diwajah Tan Hongche.


“Tuan Muda... Fei... Kau membunuhnya...”


“Tuan Muda Fei...”


Semua penduduk yang melihat ini bergidik ketakutan. Mereka mengetahui Tan Hongche bersalah dan tidak bisa dimaafkan, tetapi mereka tidak menyangka akan melihat sosok Fei Chen yang seperti ini.


“Cukup Tuan Muda Fei! Hentikan ini! Kau harus menghentikan ini atau kau akan membunuhnya!” Tiba-tiba Mu Rong berteriak sangat keras dan membuat Fei Chen berhenti memukul wajah Tan Hongche.


Bahkan semua orang yang melihat kejadian itu sudah mengetahui nyawa Tan Hongche telah melayang karena wajahnya terlihat hancur dan sudah tidak dikenali.


“Hah? Apa yang kau katakan barusan? Kau ingin aku berhenti memukul orang yang membunuh kakakmu dan hendak memperkosamu?!” Fei Chen berdiri dan menatap dingin Mu Rong.


“Bukan... Bukan itu maksudku, Tuan Muda...” Mu Rong menelan ludah kesulitan berbicara karena Fei Chen terlihat sangat dingin dan menakutkan.


“Dia telah mati.” Fei Chen menoleh kebelakang melihat tubuh Tan Hongche yang tergeletak tak bernyawa.


Kegaduhan itu memancing Liang Cheng dan Tetua Istana Bunga Persik seperti Xi Taohua, Zhang Xue, Ju Ling Shui dan Qiao Ling untuk mengetahui apa yang terjadi.


Apa yang mereka temukan adalah tangan Fei Chen yang berlumuran darah dan tubuh Tan Hongche yang tergeletak tidak bernyawa.


“Chen‘er!” Liang Cheng langsung menenangkan Fei Chen.


Fei Chen tersadar mendengar teriakan Liang Cheng. Namun yang pertama dia lihat adalah tangannya yang berlumuran darah serta tubuh Tan Hongche yang tak bernyawa.


“Kakek Liang, tidak, aku akan mengatakan ini pada kalian semua! Jika ada yang berniat menghalangi jalanku, maka aku akan membunuhnya! Siapapun itu, aku tidak mengizinkan sebuah pengkhianatan!”


Fei Chen mengatakan itu dengan lantang sebelum dirinya merasa nyawa Chu Meilan dalam bahaya.


“Untuk semua orang yang tidak bisa bertarung, beritahu penduduk yang lain agar menjauh dari wilayah selatan dan utara terutama Benteng Naga Selatan dan Lentera Bunga Persik.” Fei Chen berkata dengan ekspresinya yang seperti biasanya.


“Dan untuk pendekar sekalian ikut aku ke Benteng Naga Selatan dan Lentera Bunga Persik.”


Fei Chen menatap Liang Cheng, Xi Taohua, Zhang Xue, Qiao Ling dan Ju Ling Shui.