Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 356 - Futaba


PPFC 356 - Futaba


Sore di Kota Hamu terlihat indah saat sinar matahari menerangi kota yang sebagian besar memiliki jembatan penyeberangan mengingat beberapa anak sungai yang ada di kota.


Fei Chen tersenyum hangat saat tubuhnya diterpa sinar matahari terbenam. Tujuan Fei Chen ke Kota Hamu adalah untuk memastikan keberadaan seluruh anggota samurai Gagak Hitam.


Fei Chen menyusuri Kota Hamu dan beberapa kali bertemu dengan samurai yang sedang meminta upah atau pajak kepada penduduk. Sebagian besar penduduk mampu membayar, namun para samurai yang merasa dapat memegang kendali memanfaatkan situasi mereka sebagai anggota Gagak Hitam.


Melecehkan atau melampiaskan kebuasan mereka pada wanita sudah menjadi hal yang biasa bahkan beberapa ada yang sengaja melebihi pembayaran pajak karena uangnya digunakan untuk kepentingan pribadi.


Fei Chen bertemu dengan semua samurai yang seperti itu hingga akhirnya dia sampai di sebuah sebuah sungai yang disekitarnya terdapat bangunan sederhana. Disana pendudukan sedikit dan lebih sepi dan terlihat ikan-ikan sedang dijemur dibawah sinar matahari yang akan tenggelam.


‘Ikan asin?’ Batin Fei Chen saat mencoba mencicipi ikan yang sedang dijemur. Tak lama dia mendengar suara teriakan histeris dari rumah yang dekat dengan dirinya berdiri.


“Jangan! Aku mohon! Bukankah uangnya sudah pas! Minggu lalu kalian memintaku membayar pajak seharga 20 keping emas! Aku sudah melunasinya!” Suara wanita yang menjerit histeris terdengar.


Fei Chen menajamkan indera penglihatannya dan segera memakai topeng menggunakan identitasnya sebagai Onigari. Setelah itu Fei Chen mendengarkan dengan jelas apa yang sedang terjadi didalam rumah.


"Diam! Kenapa pajakmu belum lunas bukankah sudah jelas itu karena kami butuh uang lebih! Lebih baik bayar dan jika tidak mampu kau harus melayani kami berlima!” Bentak seorang pria didalam sana.


“Lepaskan! Tolong-” Suara wanita itu lenyap bak ditelan bumi dan hanya suara pria yang terdengar.


“Tubuhmu itu indah Futaba! Jika tidak salah kau juga mantan selir Gara bukan? Kami sudah menyelusuri identitasmu dan ini alasan mengapa kami sengaja melakukan ini! Aku merasa tidak enak pada Tuan Kuroma tetapi aku ingin menikmati dirimu sebelum dirinya!


“Sepertinya malam ini akan panjang!”


“Benar, suasana disini juga sepi jadi jangan malu berteriak manja Futaba!”


Suara tawa kelima pria itu menggema dan saat Fei Chen membuka pintu. Kelima pria itu berhenti menggerayangi tubuh Futaba dan terlihat salah satu dari mereka menyumpal mulut Futaba dengan kain lap dan kedua tangannya diikat dengan tali.


“Hei, kau siapa-” Salah satu samurai bergerak maju mendekati Fei Chen penuh amarah namun ditahan samurai yang lainnya.


“Tunggu! Topeng itu! Bukankah topeng itu sama dengan Onigari?!? ” Samurai itu berkata sambil menunjuk Fei Chen.


Futaba meronta meminta pertolongan pada Fei Chen. Sekarang kondisi Futaba sudah sangat menggoda dimana pakaian atasnya sudah terbuka dan memperlihatkan keindahannya, sedangkan yang bawah memperlihatkan bagian dalam pakaian tipisnnya.


“Apa maumu?! Apa kau tertarik pada wanita ini?!” Salah satu samurai menyeringai lebar dan mendekati Fei Chen.


“Gaya bicaramu itu...” Fei Chen mendekati pria itu dan memukul wajahnya hingga hancur, “Aku tidak menyukainya!”


Tindakan Fei Chen ini membuat empat samurai yang lainnya menjaga jarak dan salah satu dari mereka langsung menjadikan Futaba sebagai sandera.


“Jangan mendekat atau aku akan membunuh wanita ini!” Samurai itu menyentuhkan ujung katana miliknya ke dada mulus Futaba.


Fei Chen tidak menggubris dan tetap berjalan, “Apa kau berpikir ancaman seperti itu berpengaruh padaku?!”


“Kubilang jangan mendekat!” Samurai itu kembali berteriak dan membuat Futaba menggelengkan kepalanya agar Fei Chen jangan mendekat.


Fei Chen mengolah pernafasan lalu menghilang dari pandangan semua orang. Dua detik kemudian Futaba menjerit tidak jelas dengan mulut yang masih tersumpal kain karena melihat tangan dan kepala samurai yang menyandera dirinya tergeletak dilantai.


Reflek Futaba memepetkan tubuhnya pada Fei Chen seperti berusaha memeluknya. Kondisi tangannya yang terikat tali dan mulutnya yang disumpal kain membuat Futaba kesulitan memeluk Fei Chen untuk mengurangi rasa takutnya.


Fei Chen yang mendapatkan peluang hangat Futaba diam untuk beberapa saat. Akhirnya dia merasa risih karena kondisi pakaian Futaba yang sudah hampir terlepas sepenuhnya itu.


‘Aku juga pria normal...’ Fei Chen menatap Futaba dan menelan ludah. Lalu berkata dengan lembut dan pelan sambil melepaskan kain yang menyumpal mulut Futaba.


“Nyonya, tenangkan dirimu dan rapikan pakaianmu. Semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu,” bisik Fei Chen lembut.


“Huuu... Hikss... Hikss...” Futaba menangis sejadi-jadinya setelah kain yang menyumpal mulutnya terlepas.


Fei Chen dengan penuh perhatian melepaskan tali yang mengikat tangan Futaba. Kemudian Fei Chen membalikkan badan menatap tiga samurai yang tersisa.


“Dasar pria yang mencari kesempatan dalam kesempitan! Aku harus merasakan tubuh itu walau harus mati!” Salah satu samurai yang sudah tidak tahan menahan salivanya menyerang Fei Chen.


Fei Chen mendorong tubuh Futaba pelan dan mengarahkan pukulannya yang dilapisi Qi pada katana tajam yang mengincar dirinya. Samurai tersebut terkejut saat katana miliknya patah terlebih sekarang dia melihat pukulan Fei Chen mengarah ke arah lehernya.


BUK!!!


Suara keras pukulan Fei Chen membuat nyawa samurai itu melayang. Fei Chen tersenyum dingin dari balik topengnya saat kedua samurai yang tersisa melarikan diri. Sengaja Fei Chen membiarkan mereka melarikan diri karena semua itu akan membuat Kuroma tidak bertindak sembarangan di Kota Hamu.


“Mencari kesempatan dalam kesempitan? Aku tidak mengenal istilah seperti itu. Dan kau sudah mati jadi tidak bisa merasakannya. Sungguh sangat disayangkan...” Fei Chen menatap samurai yang dia bunuh, kemudian menoleh melihat Futaba.


Cepat atau lambat Fei Chen akan bergegas menuju kediaman Kuroma yang sekarang menjadi markas Gagak Hitam.


Melihat Fei Chen menyelamatkan dirinya, Futaba membungkukkan badannya dan mengucapkan terimakasih.


“Terimakasih Tuan karena telah menyelamatkanku,” ucap Futaba tulus.


Fei Chen memalingkan wajahnya dan menelan ludah karena Futaba belum merapikan pakaiannya. Jelas Fei Chen melihat dua bukit putih yang mulus, sehingga itu menimbulkan darah sang Raja Neraka bergejolak.


“Kenapa memalingkan wajah Tuan?” Futaba bertanya.


Fei Chen menghela nafas dan menatap Futaba serius. Fei Chen menebak jika Futaba berumur tiga puluh lima tahun. Wajah keibuan dan rapuhnya itu sangatlah lugu dimata Fei Chen.


“Nyonya, beruntung aku pria yang tidak seperti mereka. Cepat rapikan pakaianmu itu. Dan setelah ini pergilah dari tempat ini.” Fei Chen membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya.


‘Kenapa aku bisa lupa... Ah ini memalukan!’ Futaba malu setengah mati saat menutupi dadanya dan merapikan pakaiannya.


Setelah membenarkan pakaiannya, Futaba bertanya kepada Fei Chen yang melangkah mendekati pintu keluar.


“Tuan mau kemana?” tanya Ichiba.


"Tentu saja aku akan pergi. Aku tidak memiliki alasan untuk berlama-lama disini.” Fei Chen menjawab dan kembali melangkahkan kakinya namun dia dicegat Ichiba.


"Tuan, tolong bawa aku bersamamu. Aku akan membayarmu! Dua puluh keping emas ini untukmu.” Futaba menyodorkan dua puluh keping emas kepada Fei Chen yang dia ambil dari para samurai yang dibunuh Fei Chen.


Fei Chen menghela nafas dan memperlihatkan isi ruangan dalam Ruang Raja yang menyimpan banyak harta. Seketika Futaba tersedak dan terbatuk-batuk.


“Tuan... Anda siapa sebenarnya?” Futaba bertanya serius.


“Apa kau mendengar nama Onigari?” Fei Chen balik bertanya dan Ichiba menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia pernah mendengar nama Onigari.


“Ya, itu adalah aku.”


Futaba terkejut dan langsung menjaga jarak.


“Tenang saja Nyonya. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Jika aku ingin, aku bisa melakukannya sekarang. Terlebih malam ini matahari nampak sangat cerah, aku sedang memiliki misi lain.” Fei Chen berkata sambil menatap bulan.


“Apa ada yang bisa kubantu?”


Mendengar Fei Chen yang bertanya membuat Futaba ingin meminta Fei Chen mengantar diirnya ke rumah temannya yang berada di luar kota tepatnya di permukiman para nelayan.


Fei Chen pun mengantar Futaba kesana namun disana tidak ada sosok temannya tersebut. Terlebih bau amis yang menyengat sangat terasa di permukiman ini.


"Nyonya, tempat ini baru saja terjadi pembantaian. Mungkin sekitar lima jam yang lalu.” Fei Chen menjelaskan dan seketika Futaba terlihat sangat syok dan pingsan.


Sebelum pingsan Futaba menyebut nama temannya itu, “Sayuri...”


Fei Chen menahan tubuh Futaba dan membawa tubuh wanita itu ke rumahnya. Fei Chen membersihkan mayat para samurai menggunakan api hitam lalu menemani Futaba selama beberapa menit sebelum bergegas menuju kediaman Kuroma.


“Hukong, keluarlah!” Fei Chen memanggil Hukong dan memerintahkan Kera Langit tersebut untuk memakamkan jenazah orang-orang di permukiman nelayan Kota Hamu.