Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 71 - Rencana Membangun Sekte


PPFC 71 - Rencana Membangun Sekte


Kondisi Kekaisaran Chu sangat memprihatinkan. Sebuah negeri yang termasuk dalam tiga Kekaisaran yang ada di Benua Sembilan ini benar-benar telah hancur.


Kabar mengenai pembantaian massal di Kekaisaran Chu tersebar luas ke dua Kekaisaran terdekat yakni Kekaisaran Jia dan Kekaisaran Yang.


Kondisi ini membuat Kekaisaran Jia dan Kekaisaran Yang bergerak karena keduanya memiliki tujuan yang sama yakni memperluas wilayah kekuasaan mereka.


Yang lebih mmemperhatikan lagi penduduk Kekaisaran Chu yang bertahan hidup mulai dari rakyat biasa sampai pendekar jumlahnya tidak mendapai dua ribu.


Setelah kembali dari Lembah Binatang Buas, berita sepak terjang Fei Chen menjadi perbincangan hangat.


“Kakek Liang, apa benar wilayah perbatasan telah di kuasai Kekaisaran Jia dan Kekaisaran Yang?” Fei Chen bertanya sambil memperhatikan penduduk perbatasan yang diselamatkan Liang Cheng.


“Benar, Chen‘er. Sekarang negeri ni lebih pantas disebut sebuah sekte dibandingkan Kekaisaran...” Liang Cheng menjawab lalu tertawa untuk menyembunyikan penyesalannya.


“Sekte?” Fei Chen menaikan alisnya lalu tatapannya menyisir seluruh orang yang berada di Ibukota Chudian.


Pandangan mata Fei Chen berakhir bertemu dengan kedua mata Qiao Mi yang memperhatikan dirinya.


“Apa yang sedang kau pikiran Junior Fei?” Qiao Mi sudah memperhatikan Fei Chen selama beberapa hari. Saat pemuda itu menaikan alisnya atau mengerutkan alisnya, sudah pasti Fei Chen sedang memikirkan sesuatu.


‘Saat mendengar nama sekte aku berpikir untuk membentuk sebuah sekte dengan semua orang yang ada disini sebagai anggotanya...’ Fei Chen menghela nafas panjang dan tersenyum tipis, ‘Untuk apa aku bertindak sejauh itu? Lagipula aku memiliki masalahku sendiri.’


Melihat senyuman tipis Fei Chen membuat jantung Qiao Mi berdetak kencang, ‘Ada yang salah dengan diriku... Kenapa aku ingin selalu memperhatikannya?’


Liang Cheng mengamati Fei Chen dan berniat meminta tolong pada pemuda itu agar mau membantu mereka semua, tetapi dia mengurungkan niatnya.


Akhirnya Chu Meilan mendekati Fei Chen dan memberi hormat, “Pendekar Fei, tolong angkat aku sebagai muridmu!”


Semua orang terkejut mendengarnya. Bagaimanapun Chu Meilan satu-satunya garis keturunan terakhir Kaisar Chu yang telah tiada dan sekarang gadis kecil itu mengatakan hal yang membuat semua orang tercengang.


“Murid? Maaf, aku tidak bisa-”


“Pendekar Fei tolonglah! Aku ingin menjadi kuat dan membalaskan dendam ku ini!” Chu Meilan bersujud dan berteriak lantang hingga suaranya terdengar melengking.


Fei Chen untuk sesaat terdiam dengan kedua mata melebar. Tidak pernah dia sangka akan mendengar perkataan yang sama seperti yang pernah dia ucapkan dari orang lain.


“Aku bukanlah orang baik, tanganku penuh dosa dan berlumuran darah. Apa kau tetap bersedia menjadi muridku setelah mengetahui semua itu?” Fei Chen jongkok dan menyuruh Chu Meilan berdiri.


“Aku tidak keberatan. Pendekar Fei adalah orang yang baik karena telah menolong orang-orang disini.” Chu Meilan tersenyum dan menatap wajah Fei Chen.


“Namamu Chu Meilan bukan?” tanya Fei Chen.


“Hmm iya, namaku Chu Meilan. Guru bisa memanggilku Meilan‘er.”


Fei Chen mengelus kepala Chu Meilan dan berkata, “Meilan‘er... nama yang bagus.”


“Meilan‘er, apa kau memiliki tekad untuk membunuh orang?” Fei Chen bertanya dengan tatapan dinginnya.


Chu Meilan menelan ludah, “Aku... A-aku...”


“Aku tidak akan mengangkatmu menjadi murid. Kau tidak memiliki tekad untuk membunuh orang.” Fei Chen berdiri dan berjalan meninggalkan Chu Meilan. Dia mengatakan itu semua demi kebaikan Chu Meilan.


Semua orang dewasa menyadari tindakan Fei Chen, namun tidak dengan Chu Meilan.


“Guru, aku tidak akan menyerah!”


Fei Chen berhenti berjalan dan menoleh kebelakang, “Hah? Apa yang kau katakan barusan? Apa kau tadi tidak mendengar ucapanku”


“Jika Guru tidak ingin diriku membunuh orang, maka ajarkan aku cara untuk bertahan hidup dengan membela diri!”


Fei Chen mendecakkan lidahnya, “Cih, kau sangat menyebalkan Meilan‘er”


Fei Chen tidak menggubris perkataan Chu Meilan dan mendekati Liang Cheng lalu bertanya.


“Kakek Liang, berapa jumlah semua orang yang tersisa di Kekaisaran Chu?” Fei Chen bertanya.


Liang Cheng mengerutkan keningnya sebelum menjawab, “Sekitar seribu lima ratus orang, Chen‘er.”


“Bagaiamana jika aku membangun sebuah sekte di tanah ini Kakek Liang?” Fei Chen melirik Chu Meilan setelah mengatakan itu.


Mungkin karena semua orang yang ada disini mengalami nasib yang hampir sama seperti dirinya, Fei Chen berniat membantu mereka tetapi tujuan Fei Chen bukanlah itu karena dia sedikit tergugah akan perkataan Chu Meilan yang mengingatkan dirinya akan masa lalunya.


“Chen‘er, kau sudah membantu kami terlalu banyak. Sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu mengenai hal ini, tetapi aku tidak menyangka kau akan mengutarakan niatmu terlebih dahulu.” Liang Cheng tersenyum lebar sebelum menambahkan.


“Aku menyambut hangat keinginanmu, Chen‘er. Tetapi aku khawatir dengan kondisi di perbatasan. Aku rasa pasukan dari Kekaisaran Jia dan Kekaisaran Yang akan tiba di tempat ini beberapa hari lagi.”


Penjelasan Liang Cheng membuat Fei Chen tersenyum tipis.


“Untuk masalah itu aku akan mengurusnya. Sekarang aku ingin mendengar pendapat yang lainnya.” Fei Chen mengalihkan pandangannya kearah Qiao Mi dan seluruh pendekar serta penduduk biasa dan bangsawan yang berkumpul di Ibukota Chudian.