
PPFC 112 - Qi
Pria paruh baya bernama Wu Zhuge bergerak cepat kearah Fei Chen dan melepaskan satu pukulan yang dipenuhi Qi.
Fei Chen menyambut pukulan tersebut namun yang dia dapatkan adalah suara tulang yang retak dari tangan kanannya.
Qi adalah bentuk murni tenaga dalam. Menyadari perbedaan ini Fei Chen memilih untuk mundur dan menjaga jarak dan tentu saja Wu Zhuge tidak membiarkannya.
“Kemampuan kita jauh berbeda!” Kembali Wu Zhuge bersuara lantang dan suaranya itu seperti auman yang membuat gendang telinga pecah.
Fei Chen mengumpat, ‘Qi? Apa ini yang dimaksud oleh Kucing Manis dan Pedang Gila...’
Fei Chen menjauh dari jangkauan auman Wu Zhuge sebelum melepaskan Aura Raja Naga berjumlah besar. Kali ini dia tidak akan melawan Wu Zhuge menggunakan tenaga dalam melainkan menggunakan aura yang lebih murni dari aura tubuh.
Saat Wu Zhuge kembali melayangkan sejumlah pukulan, Fei Chen menghindar dan menyambutnya dengan tangan kiri.
Ekspresi Wu Zhuge berubah serius, “Kau mampu menahan seranganku?!”
“Siapa yang tahu akan hal itu? Lebih baik kita mencobanya lagi bukan?”
Fei Chen tersenyum tipis saat mengetahui pertarungan ini tidak diketahui apakah dia akan memenangkannya atau tidak. Saat Wu Zhuge terdiam, Fei Chen mengeluarkan Pil Embun Bening dan segera menelannya.
Fei Chen menggunakan Pil Embun Bening untuk menetralisir rasa sakit ditangan kanannya.
“Aura tubuhmu itu sangat berbeda dari yang lain. Aku merasakan aura ini saat berbicara dengan Tuan Mao. Siapa sebenarnya dirimu?” Wu Zhuge menatap tajam Fei Chen dan melemparkan pertanyaan.
“Aku? Namaku... Fei Chen...”
Saat Fei Chen menjawab, pria paruh baya lainnya yang bernama Kang Situ menyerangnya menggunakan sebuah pedang.
“Kau lengah!”
Fei Chen secepat mungkin menarik Pedang Raja Neraka dan menyambutnya. Kali ini Qi dan Aura Raja Neraka saling berbenturan. Fei Chen kembali terpental kebelakang karena dalam posisi yang tidak menguntungkan.
“Saudara Wu, jika kita meremehkannya. Bisa jadi kita yang akan mati.” Kang Situ melepaskan energi pedang berjumlah besar, lalu kembali bergerak menuju Fei Chen.
Fei Chen sangat menyadari kondisi tubuhnya jika tenaga dalamnya sudah sangat menipis untuk terus terbang dan bergerak cepat. Kondisi aura tubuhnya juga tidak jauh berbeda sehingga Fei Chen mencari celah untuk memenangkan pertarungan ini.
Saat Fei Chen dan Kang Situ melakukan pertukaran serangan, Wu Zhuge melepaskan Qi lebih besar dari sebelumnya dan menciptakan sebuah bola api raksasa.
Dengan menggunakan Qi berjumlah besar ini Wu Zhuge berniat menghancurkan setengah wilayah Ibukota Jiayang.
“Cobalah untuk menahan seranganku ini!”
Wu Zhuge mengarahkan bola api besar seperti matahari kecil buatan itu kearah Ibukota Jiayang. Fei Chen yang menyadari itu menurunkan tempo permainan pedangnya.
“Cih!”
Sadar hal yang dilakukan Wu Zhuge membuatnya repot, Fei Chen melayangkan dua tebasan beruntun pada Kang Situ yang dipenuhi Aura Raja Neraka.
“Tarian Api Neraka!”
“Penakluk Malam!”
Melihat Fei Chen melayangkan dua tebasan beruntun membuat Kang Situ tertawa karena Fei Chen bukanlah amatir dalam pertarungan. Pemuda itu benar-benar bergerak secara naluri dan bertindak alami dengan nafsu membunuh dalam ketenangannya.
“Percuma saja, kau tidak akan bisa menghentikan serangan Saudara Wu. Orang yang bisa menghentikan itu bisa dihitung oleh jari. Ya, sembilan... aku bisa menebak jika hanya sembilan orang yang bisa menghentikan matahari kecil itu.” Kang Situ mengalirkan Qi pada bilah pedangnya dan menyambut tebasan pedang Fei Chen yang mengarah padanya.
“Tebasan Beruntun Gemuruh Kilat Halilintar!”
Ledakan dahsyat tercipta dilangit saat api dan petir menyatu. Kang Situ mengumpat saat daya ledak dari jurus pedangnya dan pedang Fei Chen menciptakan daya ledak yang tidak pernah dia perkirakan sebelumnya.
“Sialan! Ini bukan main-main!” Dengan melapisi tubuhnya menggunakan Qi, Kang Situ tidak menyangka tubuhnya terpental sejauh dua ratus meter. Walaupun masih dalam keadaan terbang tetapi sekarang dia benar-benar menjauh dari tempat pertempuran Fei Chen dan Wu Zhuge.
Disisi lain Wu Zhuge menatap Fei Chen yang terbang rendah dibawahnya seperti sedang mencoba menahan serangannya.
“Berhenti melakukan perlawanan yang sia-sia! Seranganku ini hanya bisa ditahan oleh Tuan Mao dan orang-orang yang memiliki kekuatan Sembilan Kekacauan Surgawi!”
“Aku tidak peduli akan hal itu!”
Fei Chen melepaskan Aura Raja Neraka lebih besar dari sebelumnya dan itu membuat kondisinya semakin tidak menguntungkan.
Bola api besar itu terjun dengan kecepatan tinggi dan Fei Chen berdiri dengan tenang sambil mengulurkan telapak tangannya yang terbuka.
“Apa yang dilakukan bocah itu?” Wu Zhuge mengangkat alisnya dan memperhatikan Fei Chen baik-baik.
Sebuah api hitam keluar dari telapak tangan Fei Chen dan menyebar disekitar tubuhnya dan secara perlahan aura itu seperti membentuk sebuah zirah.
“Aura Zirah Neraka...”
Fei Chen menghisap bola api besar itu menggunakan telapak tangannya, “Kerakusan Yang Terdalam!”
Pemandangan ini membuat mata Wu Zhuge melebar sepenuhnya. Dia tidak menyangka akan melihat hal yang sama seperti yang dilakukan Mao Gang saat dirinya bertemu dengan orang yang dikenal sebagai Raja Iblis tersebut.
“Tidak ada api yang bisa aku lahap.” Fei Chen tidak melewatkan kesempatan ini untuk memberikan serangan mematikan pada Wu Zhuge.
Saat Wu Zhuge terkejut sebuah serangan dari Fei Chen mengenai badannya dengan telak disusul dengan Fei Chen yang tengah mempersingkat jarak.
“Tarian Api Neraka!”
Wu Zhuge segera bergerak dan berniat mengorbankan tangan kanannya daripada kehilangan nyawanya namun hal itu tidak perlu dia lakukan karena Kang Situ datang dengan kecepatan tinggi menuju dirinya.
“Tebasan Beruntun Gemuruh Kilat Halilintar!”
Kang Situ sendiri tidak menyangka melihat Fei Chen menyerap serangan terkuat yang dimiliki Wu Zhuge.
“Siapa kau sebenarnya?”
Kang Situ menelan ludah saat melihat tatapan dingin Fei Chen.
“Bukankah aku sudah mengatakan pada kalian berdua...” Aura Raja Neraka keluar dari tubuh Fei Chen lebih besar dari sebelumnya, “Aku... adalah Fei Chen...”