Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 149 - Terbenamnya Pertempuran


PPFC 149 - Terbenamnya Pertempuran


Saat matahari terbenam menandakan pertempuran panjang ini telah berakhir, Fei Chen membakar mayat pendekar Sekte Seribu Pedang yang menggunung dihadapan pendekar Lembah Naga dan Lembah Persik yang tersisa.


Tidak ada yang berani mendekati Fei Chen kecuali Yin Jinxia. Bahkan Yin Jinxia sendiri menjaga jarak bukan karena takut terhadap Fei Chen namun gadis itu merasa mual saat mencium bau amis yang sangat menyengat.


Yin Jinxia telah mengalami banyak pertempuran namun tidak ada yang seperti sekarang ini. Terlebih gadis itu sama sekali tidak pernah menyangka Fei Chen akan sekuat ini.


“Kenapa kau menjauh Tuan Putri?” Fei Chen menoleh kebelakang selesai membakar tubuh Qie Xuexuan dan Yin Duan.


Pemuda itu sekarang membungkus bagian tubuh Tian Zhou dengan sebuah kain putih dan menunjukkan ekspresi teduh yang sangat jarang terlihat.


“Saudara Fei, aku tidak bermaksud menyinggung, tetapi aku tidak kuat dengan bau amis ini.” Yin Jinxia mengatakan yang sejujurnya sambil meratapi kematian Tian Zhou.


“Aku tidak menyangka Saudara Tian mendatangi Sekte Seribu Pedang sendirian. Seharusnya aku melarangnya...” Yin Jinxia merasa bersalah dan itu membuat Fei Chen tersenyum.


“Bagiku dia adalah teman pertamaku bersama Lili. Banyak hal yang ingin ku bicarakan dengannya dan aku melihat orang yang mirip seperti dia di Kekaisaran Jia dan orang itu mati...” Senyuman Fei Chen memudar bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa tubuhnya membawa aroma darah yang menyengat di hidung menjauh.


“Aku tidak menyelamatkan siapapun...”


Saat Fei Chen merasa sedih, Su Xiulan dan San Zhu sudah berdiri disamping pemuda itu. Keduanya membuat Fei Chen memudarkan ekspresi sedihnya.


“Suamiku, inilah kehidupan yang kejam. Terkadang kita harus memilih salah satu diantara dua pilihan.” Su Xiulan tersenyum hangat pada Fei Chen dan membuat pemuda itu mengelus kepalanya.


“Ehem!” San Zhu batuk untuk menyadarkan Su Xiulan bahwa ada beberapa pasang mata yang menatap tajam dirinya.


Suasana di Lembah Naga menjadi haru saat Dao Tao dan Long Jirou sepakat untuk mengakhiri perang panjang ini. Berawal dari kesalahpahaman dan adu domba, kedua sekte ini tidak sadar jika pertempuran yang mereka jalani telah membuat banyak kerugian.


Fang Huo masih tidak percaya jika pemuda yang membinasakan adalah Fei Chen sehingga dia bertanya untuk memastikan.


“Maaf Pendekar Muda mengganggu acara reuni kalian. Apa benar dirimu ini adalah Chen‘er?“


Segera Fei Chen menoleh menatap Fang Huo dan langsung memberi hormat pada kakek sepuh itu.


“Senior Fang, lama tidak berjumpa. Iya benar, aku adalah Fei Chen. Bagaimana kabar Senior Fang dan Senior Murong?”


Mata Fang Huo berair tidak percaya jika pemuda itu benar-benar adalah Fei Chen. Kakek sepuh itu memegang pundak Fei Chen dan membisikan sesuatu pada Fei Chen tentang hal yang menimpa Feng Lao.


Fei Chen sudah mengetahuinya dan dia berniat mendatangi Lembah Pedang sambil membawa kembali Jia Li.


Melihat Fang Huo bersikap biasa saja pada Fei Chen membuat Dao Tao dan Long Jirou mendekati pemuda itu.


“Lama tidak bertemu, Kakek Dao, Kakek Long.” Fei Chen memberi hormat kepada keduanya.


“Chen‘er, aku tidak pernah menyangka jika kau masih hidup. Sepertinya kau benar-benar telah tumbuh menjadi pemuda yang hebat.” Dao Tao memandang Fei Chen dari atas kebawah dan merasa kagum akan perkembangan bocah yang dulu dia kenal ini.


“Chen‘er, terimakasih karena telah kembali. Jika bukan karena dirimu, mungkin kami masih saling membunuh tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh menyedihkan mengingat semua itu.” Long Jirou di penuhi penyesalan mengingat peperangan beberapa tahun kebelakang ini.


“Chen‘er, jika terjadi sesuatu padaku... Aku ingin kau menjaga Yaya untukku. Sejak itu aku sudah memutuskan untuk menjodohkannya denganmu...” Long Jirou tersenyum saat mengatakan itu sebelum pandangannya buram.


Menanggapi itu Dao Tao langsung membalas, “Saudara Long! Aku sudah pernah mengatakan padamu bukan? Chen‘er telah bertunangan dengan Lian‘er- Uhuk!”


Dao Tao memegang perutnya yang bersimbah darah sebelum tubuhnya ambruk ke tanah bersamaan dengan Long Jirou.


Semua orang tidak pernah berhenti dibuat Fei Chen berdecak kagum. Saat pemuda itu mengeluarkan beberapa pil berharga seperti Pil Awan Merah, Pil Daun Hijau dan Pil Embun Bening.


Bukan itu saja sejumlah Permata Iblis dan buah-buahan yang membantu memulihkan tenaga dalam Fei Chen keluarkan secara cuma-cuma untuk membantu yang terluka.


Selesai membantu Yin Jinxia dan Su Xiulan, Fei Chen pergi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Tian Zhou bersama San Zhu yang menemaninya.


“Bocah Fei, apa dia adalah temanmu?” San Zhu bertanya.


“Ya, dia adalah temanku.”


“Hmmm...” San Zhu bisa melihat penyesalan dimata Fei Chen.


“Jangan terlalu menyalahkan dirimu, Bocah Fei.” San Zhu menepuk pundak Fei Chen saat menyadari kedatangan Murong Liuyu.


Segera San Zhu memberi ruang pada Murong Liuyu untuk berbicara dengan Fei Chen. Dibelakang Murong Liuyu terlihat Yin Jinxia bersama Yue Lian dan Long Xiaoya sedang memeberikan pertolongan pada Dao Tao, Fang Huo dan Long Jirou.


“Ada apa Senior Murong?” Fei Chen berkata tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.


“Kau masih mengingatku?” Murong Liuyu menatap punggung lebar Fei Chen.


“Tentu saja aku masih mengingatmu.” Fei Chen menoleh kebelakang dan memberi hormat kepada Murong Liuyu. Tidak mungkin Fei Chen melupakan sosok Murong Liuyu karena gadis itu adalah perempuan pertama yang dia temui setelah berada di Gunung Menangis selama tujuh tahun.


“Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu karena telah menghentikan perang ini dan...” Murong Liuyu memegang lengannya dengan erat, “Terimakasih karena telah membunuh pembunuh Ayahku...”


Mata Fei Chen melebar saat dia mengingat janji yang dia buat bersama Murong Liuyu.


“Oh...” Fei Chen ingin mengatakan sesuatu namun dia kebingungan mengatakan saat melihat ekspresi Murong Liuyu yang berbeda dari yang dia ingat.


Gadis yang keras kepala, galak dan dahulu membenci dirinya ini terlihat tersipu malu.


“Apa kau ingat saat dirimu mengatakan agar aku mengakui dirimu jika membunuh salah satu dari mereka?” Murong Liuyu tertawa lirih sambil menyeka air matanya, “Aku tidak menyangka bocah tengik yang kurang ajar dan tidak tahu sopan santun telah berubah drastis seperti ini...”


“Hah?” Fei Chen mengangkat alisnya saat ekspresi tersipu malu Murong Liuyu menghilang.


Mendengar ucapan Murong Liuyu dan ekspresi Fei Chen membuat San Zhu menahan tawa. Tak lama Su Xiulan datang dan memeluk tubuh Fei Chen dari belakang.


“Suamiku, apakah kau masih sanggup membuat beberapa Pil Embun Bening? Aku tidak akan memaksamu, tetapi aku akan mengajarimu cara membuat pil lain yang jauh lebih hebat dari pil yang pernah kau buat.”


Murong Liuyu terdiam saat melihat Fei Chen dipeluk Su Xiulan. Terlebih Fei Chen terlihat tidak terganggu saat wanita itu memanggilnya suami.


‘Suami? Aku tidak salah dengar bukan?’ Murong Liuyu menggelengkan kepalanya pelan.


“Xiu‘er, lepaskan pelukanmu terlebih dahulu setelah itu kita akan membuat pil.”


Kembali Murong Liuyu terkejut mendengar Fei Chen menyebut nama wanita berambut putih penuh makna sayang.


‘Xiu‘er?’


Sementara itu Fei Chen dan Su Xiulan sudah mengobrol berdua dan memulai membuat beberapa pil.