
Karya terbaru gua masih dalam proses review guys, untuk mencarinya kalian bisa cek aja diprofilku dengan judul Leo Avalon. Untuk Penguasa Benua Tujuh Bintang nyusul nanti infonya guys.
Kalau gak hari ini, kemungkinan besok udah lolos reviewnyw guys kuy pantengin terus.
Nih gue kasih cuplikan chapter awalnya.
____
Suara peluru menggema dan mendengung keras ditelinga. Perselisihan dua geng terkuat mendekati babak akhir saat pemimpin kelompok Naga Hitam yang bernama Leo dikepung polisi.
“Leo, Mugen sudah mati begitu juga Naga Hitam. Aku sarankan kau menyerah jika ingin tetap hidup,” ujar pria berambut merah bernama Kazan.
“Menyerah katamu? Aku sudah menyeret mereka semua mengikutiku. Aku tidak akan mati sebelum membunuh pengkhianat sepertimu Kazan!” Pria bernama Leo menatap dingin Kazan sebelum bergerak cepat menuju Kazan.
“Bodoh!” Kazan tersenyum lebar lalu berteriak, “Tembak dia!”
Polisi yang mengepung Leo pun mengarahkan pistol mereka ke arah pria tersebut. Suara tembakan menggema bersamaan dengan Leo yang sudah berada dihadapan Kazan.
Namun sebelum Leo membunuh Kazan, peluru merenggut hidupnya. Tubuhnya berlumuran darah dan dipenuhi lubang disekitar perut dan tangan. Kazan pun tertawa melihat kematian Leo yang tragis.
“Era Naga Hitam telah berakhir. Kau tahu Leo, Ayahku merupakan orang yang berpangkat tinggi di kepolisian. Saat aku menjadi Iblis sekalipun, Malaikat tidak akan dapat menghukumku,” ucap Kazan sambil menjambak rambut Leo.
“Oh iya, jika diingat hari ini adalah hari kematian Lea. Bukankah ini sangat mengharukan Leo?” Kazan tersenyum mengejek lalu menekan kepala Leo ke aspal.
“Pastikan tangkap semua orang yang berhubungan dengan Naga Hitam! Jika perlu bunuh mereka semua!” Kazan memberikan perintah pada polisi yang menjadi bawahan Ayahnya.
Hari itu nama Naga Hitam lenyap. Teror dan kebencian penduduk terhadap kelompok ini sirna.
_______
Hawa dingin memenuhi seluruh tubuhnya. Leo merasa dirinya tenggelam ke dasar lautan dan ditelan kegelapan. Tidak dapat berteriak atau menggerakkan tubuhnya. Yang Leo rasakan hanya kedinginan yang berbisik disela tulangnya.
Ditengah semua itu, memori kehidupannya bermunculan. Leo meratapi nasibnya yang kurang beruntung sehingga dia terjatuh kedalam kegelapan tak berujung sebelum kematiannya.
Menjadi korban perceraian orang tuanya, Leo hidup sebatang kara bersama adik dan kakeknya. Hak asuh Leo jatuh ke tangan Ayahnya, sedangkan adiknya yang bernama Lea jatuh ke tangan Ibunya.
Ibu Leo diduga melakukan bunuh diri dan meninggalkan Lea sendirian tepat beberapa hari setelah perceraian mereka, sedangkan Ayah Leo menelantarkan Leo. Akibat perceraian orang tuanya tersebut, Leo mulai kehilangan emosinya, terlebih setelah kematian Ibunya dan ditambah dengan Lea yang depresi.
Leo melampiaskan segala bentuk penderitaannya pada obat-obatan terlarang dan minuman keras. Semua itu dia lakukan saat berumur dua belas hingga delapan belas tahun. Godaan untuk menghancurkan dirinya sendiri selalu datang mengingat luka dalam hatinya semakin menganga lebar.
Tepat setelah berusia dua puluh tahun Leo berhenti mengonsumsi semua obat-obatan terlarang. Dalam kurun dua tahun Leo memiliki beberapa orang kepercayaan yang dia sebut sebagai teman. Saat Leo menemukan secercah harapan kehidupan normal, kembali lagi tekanan menghampirinya dan tidak memberikan pengampunan.
Suatu hari adik kesayangannya yakni Lea mengalami kecelakaan tabrak lari dan membuatnya dalam kondisi Vegetatif. Gangguan fungsi otak kronis ini membuat Lea tidak sadarkan diri dan membuat Leo semakin jatuh kedalam lingkaran depresi.
Gimana penasaran gak? Kuy besok baca Leo Avalon.