Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 162 - Perdana


PPFC 162 - Perdana


Semenjak meluasnya pengaruh Istana Naga Neraka Terdalam di Kekaisaran Yin, kabar baik ini terus terdengar hingga menjadi perbincangan hangat. Dalam kurun waktu tujuh hari Fei Chen berkunjung ke Lembah Naga, Sekte Seribu Pedang dan Ibukota Huayin.


Dengan segala kesibukannya itu akhirnya Fei Chen berniat melepaskan penatnya dengan kembali ke Kekaisaran Ma.


Fei Chen mengingat dirinya telah membuat portal teleportasi di banyak tempat. Saat melihat semua orang di Lembah Pedang sedang mendengarkan penjelasan Jia Li mengenai ilmu pedang, Fei Chen berjalan menghampiri Su Xiulan yang sedang duduk di teras Aula Pedang Bunga sendirian.


Saat itu matahari hampir terbenam dan Fei Chen tersenyum hangat kepada wanita berambut putih yang terlihat menikmati secangkir teh hangat.


“Suamiku, kemarilah kenapa kau berdiri saja?” Su Xiulan menatap Fei Chen yang berjalan mendekatinya sebelum menarik lembut tangannya dan tiba-tiba membawa tubuhnya menghilang.


Fei Chen menggunakan portal teleportasi menuju Gunung Menangis. Dengan kemampuan dirinya yang sekarang ini Fei Chen mampu menggunakan portal teleportasi sebanyak empat kali dalam sehari.


Aula Naga di Kekaisaran Chu, Istana Jia dan ruangan Ling Ye di Kekaisaran Jia, Istana Ma dan Kota Xuangang, Istana Yin, Istana Mawar Biru, Benteng Seribu Pedang, Benteng Lembah Naga, Aula Pedang Bunga dan Benteng Lembah Pedang. Itulah sejumlah tempat yang telah Fei Chen tandai dengan portal teleportasi.


“Ini dimana Suamiku?” Su Xiulan berlari sambil memperhatikan sekelilingnya, “Apa ini Gunung Menangis yang kau ceritakan?”


Fei Chen mengangguk dan tersenyum, “Ya, ini adalah tempat yang aku maksud. Indah bukan?”


Sambil memeluk tubuh Su Xiulan dari belakang, Fei Chen membisikkan sesuatu ditelinga Su Xiulan yang mana membuat wanita itu langsung memerah wajahnya.


Belum sempat Su Xiulan memberikan jawaban, Fei Chen sudah membawa tubuhnya menuju sebuah rumah kecil yang dia buat.


Fei Chen menaruh tubuh Su Xiulan diatas ranjang yang hanya bisa digunakan untuk dua orang itu.


“Suami...” Su Xiulan menatap wajah tampan Fei Chen yang mendekat ke wajahnya. Matanya terpejam saat pemuda itu mengecup bibirnya.


“Xiu‘er, boleh aku memintanya sekarang?” Fei Chen melepaskan kecupannya dan meminta izin.


Deg...


Deg...


Deg...


Su Xiulan tidak dapat menahan debaran jantungnya saat telapak tangan Fei Chen menyentuh tubuhnya.


“Xiu‘er, terimakasih karena telah ada untukku. Aku mencintaimu sayang...”


Keduanya saling menatap satu sama lain sebelum Su Xiulan mengalungkan kedua tangannya pada Fei Chen membiarkan pemuda berumur tujuh belas tahun itu menjamah tubuhnya.


Baik Fei Chen ataupun Su Xiulan sama-sama baru melakukan hal semacam ini secara perdana. Fei Chen menikmati setiap momen indah itu dan perlahan melepaskan gaun yang dikenakan Su Xiulan.


Tubuh indah yang dijaga dan terawat terpampang jelas dibawah tubuhnya. Lekuk tubuh menggoda dengan kulit putih sehalus susu itu membuat Fei Chen menelan ludah. Tatapan Su Xiulan sangat menggoda dengan rambut putihnya yang terurai itu membuat darah kelakiannya memberontak.


Su Xiulan merasa begitu malu namun dia ingin menikmati malam pertamanya ini. Tubuhnya berdesir merasakan setiap sentuhan telapak tangan Fei Chen dan suara merdu dari desahannya tidak dapat dia bendung.


Su Xiulan menggeliat saat telapak tangan Fei Chen meremas bukit kembar indahnya yang belum pernah disentuh siapapun itu. Kedua aset berharga ini Fei Chen nikmati dari segala arah.


“Xiu‘er... Kau basah dibawah sana...”


Segera Su Xiulan mencubit pipi Fei Chen karena malu, “Hentikan... Aaahh!” Karena bingung, tangan Su Xiulan mencoba meremas sesuatu untuk menahan kenikmatan yang menerpa tubuhnya.


Bukannya memegang pinggiran ranjang, Su Xiulan justru memegang sesuatu yang besar, berurat dan panjang.


“Suami... Ini sangat besar...”


Su Xiulan gemetar saat telapak tangannya menyentuh sesuatu yang tidak dapat dia genggam. Dia tidak pernah menduga Fei Chen sangat perkasa dan tangguh. Wajahnya merah padam sempurna saat Fei Chen melepaskan pakaiannya.


“Tunggu, apakah ini bisa masuk?”


“Siapa yang tahu? Bukankah lebih baik kita mencoba mencari tahunya sendiri sayang...”


Kehangatan dari Fei Chen membuat Su Xiulan membuka kedua pahanya lebar. Keduanya saling menatap penuh kehangatan satu sama lain sebelum akhirnya Su Xiulan menganggukkan kepalanya saat ditatap hangat Fei Chen.


“Haaak! Sakit!”


“Maaf, Xiu‘er...”


Fei Chen berhenti sejenak dan menikmati sensasi cengkeraman erat di bagian pribadinya. Tidak henti-hentinya Fei Chen mencium kening, mata, pipi dan bibir Su Xiulan. Kenikmatan yang dirasakan olehnya ini sulit digambarkan oleh kata-kata, ekspresi sakit, takjub dan tidak percaya Su Xiulan menjadi kenikmatan tersendiri bagi Fei Chen.


“Pelan, Chen‘gege...”


Su Xiulan memeluk punggung kekar Fei Chen yang diatas tubuhnya. Fei Chen mulai menggerakkan tubuhnya dan tak lama suara erangan kesakitan perlahan-lahan berubah menjadi suara merdu yang membuat tubuh semakin semangat dan menggila.


“Aaahh! Aaahh!”


Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Sinar rembulan di Gunung Menangis menjadi saksi bisu cinta keduanya. Fei Chen dan Su Xiulan menikmati malam yang panjang dan baru berhenti saat hari menjelang pagi.


Su Xiulan tersenyum puas sambil memeluk tubuh Fei Chen, “Aaahhh... Kau sungguh hebat muridku... Aku benar-benar kewalahan...”


“Hentikan, Xiu‘er... Kau sudah kelelahan. Aku tidak menyangka akan senikmat ini...” Disisi lain Fei Chen belum sepenuhnya puas, namun melihat kondisi Su Xiulan akhirnya Fei Chen memutuskan untuk beristirahat.


“Terimakasih telah memberikan mahkotamu padaku...” Fei Chen mengecup kening Su Xiulan sambil memandang bagian pribadinya yang basah bercampur noda darah.


Wajah Su Xiulan memerah, “Kau merenggutnya dengan sempurna, Chen‘gege...”


Mungkin karena Fei Chen tumbuh di Gunung Menangis yang memiliki sumber daya melimpah dengan segala Permata Iblis yang pernah dia serap sejak kecil membuat tubuhnya tangguh dan perkasa seperti sekarang ini.


Bahkan Su Xiulan yang merupakan seorang Pendekar Dewa Tahap Menengah dibuat kewalahan olehnya.