Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 85 - Gema Musim Panas


PPFC 85 - Gema Musim Panas


“Siapa kau?! Cara bicaramu seolah-olah kau adalah orang yang hebat!” Gung Taiji tidak menaikan kewaspadaannya saat Fei Chen berjalan memasuki gerbang depan Lentera Bunga Persik.


“Tetua Gung, jangan gegabah! Menurut dua orang itu sosok pemimpin sekte kecil ini adalah lelaki tampan. Walaupun aku benci mengakuinya, tetapi parasnya itu benar-benar membuat setiap lelaki iri.” Hu Baohen menatap tajam Fei Chen karena tidak dapat mengukur kemampuan pemuda tersebut.


‘Pemuda ini berbahaya!’ Hu Baohen menelan ludah karena ekspresi Fei Chen tidak menunjukkan ketakutan.


“Chen‘er...” Liang Cheng menatap Fei Chen yang terlihat tidak merasakan intimidasi dari Hu Baohen ataupun Gung Taiji.


“Kakek Liang.” Fei Chen berhenti disamping Liang Cheng sebelum melepaskan Aura Raja Neraka berjumlah besar, “Kau dan mereka semua urus para penyusup. Bunuh semuanya jangan beri ampun untuk orang yang mengusikku. Aku akan mengurus dua orang ini.”


Liang Cheng hanya diam lalu menoleh kebelakang melihat pendekar dari Benteng Harimau Api berdatangan bersama pendekar Benteng Sungai Kuning.


“Saudara Shu?” Liang Cheng merasa tenang karena Shu En tidak berkhianat.


“Aku sudah mendengarnya. Sebaiknya kita selesaikan masalah kita disini.” Shu En langsung bergerak menuju kedalam Istana Bunga Persik menyerang pasukan bersenjata Kekaisaran Yang dan pendekar Tujuh Bunga Iblis.


Liang Cheng mengikuti Shu En disusul pendekar dari Benteng Harimau Api dan Benteng Sungai Kuning.


Melihat pertarungan mendekati akhir, tentu saja membuat Hu Baohen dan Gung Taiji sadar jika hanya dengan membunuh Fei Chen adalah cara satu-satunya membuat semangat bertarung pendekar dari Istana Naga Neraka Terdalam.


“Kita sudah sejauh ini. Waktu yang tepat untuk mengakhirinya.” Gung Taiji tersenyum lebar dan kembali memegang serulingnya.


Sementara itu Hu Baohen melepaskan energi pedang dari sebelumnya, “Kau memiliki kekuatan yang setara dengan kami!”


Fei Chen menatap dingin keduanya saat Hu Baohen mulai melepaskan serangan pada dirinya, sedangkan Gung Taiji mulai memainkan serulingnya.


“Alunan Melodi Kesunyian...”


Permainan seruling Gung Taiji memainkan melodi yang sunyi dan sedih, sedangkan Hu Baohen melepaskan satu serangan yang dipenuhi energi pedang berjumlah besar.


“Tarian Mawar Iblis Berdarah!”


Fei Chen mengerutkan keningnya sambil mengalirkan tenaga dalam pada bilah pedangnya lalu menyambut tebasan pedang tersebut.


“Naga Petir Mengarungi Langit!”


Dua benturan pedang yang dahsyat itu membelah tanah dan menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan bangunan didalam Istana Bunga Persik.


Selepas melakukan pertukaran serangan, Fei Chen terus melancarkan serangan pada Hu Baohen dengan permainan pedangnya yang tajam dan mematikan.


Hu Baohen yang awalnya terlihat percaya diri sekarang mulai menyadari perbedaan besar diantara keduanya. Jurus demi jurus telah dikeluarkan Hu Baohen namun Fei Chen berhasil menghalau nya dan itu membuat Hu Baohen menoleh ke arah Gung Taiji.


“Saudara Gung! Permainan serulingmu mana? Kenapa dia tidak terkena efeknya?!” Teriakan Hu Baohen membuat Gung Taiji menaikan alisnya.


“Aku sendiri tidak mengetahuinya! Mengapa permainan serulingku tidak berdampak padanya!”


Ditengah kebingungan Hu Baohen dan Gung Taiji, Fei Chen terus mendominasi serangan dan tidak memberikan ampun kepada kedua lawannya tersebut.


“Kalian berdua berpikir setara dengan diriku? Sepertinya kalian harus kuberi peringatan.” Mata Fei Chen melebar sebelum energi pedang yang bercampur Aura Raja Neraka terlepas dari pedangnya.


Hu Baohen sudah berupaya menahannya, “Murka Mawar Petir Gemuruh Berduri!”


Tebasan pedang Hu Baohen itu justru tidak berdampak pada Fei Chen membuat Hu Baohen ataupun Gung Taiji tercengang.


‘Gerakan macam apa itu? Cepat sekali, aku tidak bisa mengimbanginya!’ Hu Baohen sudah dipenuhi luka di sekujur tubuhnya karena berupaya menahan serangan Fei Chen.


‘Kenapa dia tidak terkena dampak permainan serulingku?’ Gung Taiji segera membantu Hu Baohen karena rekannya itu sudah terdesak.


“Tapak Iblis Tulip!”


Fei Chen berhenti bergerak dan menatap tajam Gung Taiji yang berdiri dihadapannya, “Akhirnya kau berhenti memainkan seruling bodohmu itu. Itu membuatku lega, karena jujur saja telingaku mulai sakit akibat permainan bodohmu itu.”


Mata Gung Taiji mendelik tajam, “Keparat! Akan kupastikan mulutmu itu kuhancurkan!”


“Jaga bicaramu bocah! Kau terlalu tinggi memandang dirimu!” Hu Baohen terus melayangkan tebasan yang dipenuhi tenaga dalam disusul Gung Taiji yang melancarkan tapak demi tapak yang dipenuhi tenaga dalam.


“Kita bunuh dia dengan cara yang paling mengerikan, Saudara Hu!”


Melihat kedua lawannya merasa berada diatas angin membuat Fei Chen menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia menajamkan konsentrasinya karena merasa aura kedua lawannya itu berubah.


“Suara Cengkeraman Maut!”


Tapak Gung Taiji memancarkan aura berwarna merah darah kehitaman dan mengarah dengan kecepatan tinggi kearah Fei Chen disusul oleh tebasan pedang tajam Hu Baohen.


“Membelah Kenikmatan Bulan Darah!”


“Tidak buruk juga...” Fei Chen mengeluarkan Jurus Kedua Teknik Pedang Matahari yang dia pelajari di Lembah Pedang.


“Panas Sunyi!”


Setelah menghalau dua serangan itu, Fei Chen kembali mengeluarkan Jurus Ketiga Teknik Pedang Matahari.


“Gema Musim Panas!”


Suara dentuman keras disertai hawa panas muncul dari pedang Fei Chen.


“Tidak mungkin! Kami berdua tidka terkalahkan!” Hu Baohen frustasi mengetahui Fei Chen belum menggunakan kekuatan penuhnya.


“Bagaimana mungkin?!” Gung Taiji merapatkan giginya saat jarak antara Fei Chen dengan dirinya begitu singkat.


“Sejauh ini kalian telah berani mencari masalah denganku! Kematian singkat tidak akan cukup untuk kalian!”


Fei Chen mengayunkan pedangnya yang membara itu dan memotong tangan kanan Gung Taiji yang memegang seruling.


Sedetik kemudian Fei Chen kembali mengayunkan pedangnya memotong perut Gung Taiji.


“Kau!” Hu Baohen memucat wajahnya melihat Gung Taiji mati di tangan Fei Chen.


“Kau yang telah membuat lumpuh orang-orangku akan berakhir menyedihkan...” Setelah berkata demikian mulut Fei Chen mendesis.


“Jurus Kedua Pedang Raja Neraka...”


“Penakluk Malam!”


Tubuh Hu Baohen tercerai-berai layaknya tahu dipotong Fei Chen. Pemandangan berakhirnya Hu Baohen dan Gung Taiji membuat pertempuran ini berakhir dengan cepat.


Fei Chen menatap Qiao Mi yang kacau balau, “Kau terlihat sangat menyedihkan Senior Qiao...”


“Kakak Mimi!”


Fei Chen menoleh kebelakang mendengar teriakan Qiao Li yang datang bersama Ju Ling Shui dan Chu Meilan.


“Patriark Fei...” Ju Ling Shui hendak menyapa Fei Chen, namun pemuda itu berjalan mendekati Chu Meilan.


“Lebih baik kau urus teman-temanmu itu.” Fei Chen berkata pada Ju Ling Shui.


“Meilan‘er, apa yang telah mereka lakukan padamu?” Fei Chen bertanya.


Chu Meilan terlihat dipenuhi luka lebam namun gadis kecil itu masih bisa tersenyum, “Mereka bertanya tentang Pedang Sembilan Petir dan hendak memperkosaku karena mengira pedang itu akan muncul dalam bentuk roh didalam tubuhku...”


Mata Fei Chen melebar setelah mendengar pengakuan Chu Meilan.


“Aku telah memberi pelajaran pada mereka yang telah membuatmu seperti ini...” Fei Chen mengelus kepala Chu Meilan lalu menoleh kearah Qiao Mi.


‘Masalah Pedang Sembilan Petir ini sangat rumit. Pantas saja dia dipenuhi perasaan bersalah.’