Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 40 - Paviliun Pedang Matahari


PPFC 40 - Paviliun Pedang Matahari


Terlihat diteras kediaman Tetua Tian Hu sosok Jia Li yang sedang menikmati sup kepiting buatan wanita berumur tiga puluh lima tahun, disana juga terlihat Luo Rou yang sedang menikmati hidangan yang sama dengan Jia Li.


“Seperti biasa masakanmu selalu enak. Bisa aku minta resepnya Saudari Zi Ran?” Luo Rou selalu dibuat terkejut oleh masakan Ibu beranak satu itu.


Wanita bernama Hong Zi Ran dan merupakan ibu dari Tian Zhou menganggukkan kepalanya penuh kelembutan.


“Aku sudah mencatat resep Sup Kepiting dan Rebusan Daging Sapi. Dan seperti biasa kau juga pandai memasak Saudari Rou.” Hong Zi Ran memberikan resep dua hidangan masakannya itu kepada Luo Rou.


“Terimakasih, Saudari Zi Ran.”


Saat Luo Rou dan Hong Zi Ran mengobrol, terlihat Tian Zhou datang membawa Fei Chen.


“Ibu, aku pulang.” Tian Zhou pulang luka lebam diwajahnya.


“Zhou‘er, apa yang terjadi pada wajahmu Nak?” Panik Hong Zi Ran melihat pipi kanan dan kiri membiru.


“Ibu, tenang. Aku terjatuh, ya aku hanya terjatuh dari atas pohon saat melakukan meditasi,” ujar Tian Zhou berbohong.


“Sungguh?” Terlihat Hong Zi Ran ragu dengan jawaban Tian Zhou.


“Mandilah, setelah itu ajak temanmu ini makan malam bersama kita,” perintah Hong Zi Ran kepada Tian Zhou.


“Baik Ibu.” Tian Zhou masuk kedalam rumah.


“Chenchen, tumben kau keluar?” Jia Li melambaikan tangannya kearah Fei Chen, “Sini Chenchen.”


“Fei Chen?” Mendengar nama Fei Chen membuat Hong Zi Ran mengangkat alisnya karena Luo Rou sering menceritakan sosok Fei Chen kepada dirinya. Entah mengapa Fei Chen membuat Luo Rou teringat akan Feng Xinrui kecil.


Fei Chen mendekati Jia Li dan duduk disampingnya.


“Kau belum memperkenalkan dirimu pada Bibi Hong.” Jia Li justru mencubit Fei Chen tepat setelah Fei Chen duduk disebelahnya.


“Tidak perlu Li‘er, Saudari Rou sering menceritakan tentang dirimu, Chen‘er. Aku dengar kau memiliki bakat yang hebat.” Hong Zi Ran tersenyum ramah sebelum masuk kedalam rumah.


“Tunggu sebentar, aku akan memanaskan Rebusan Daging Sapi dan Sup Kepiting.”


“Tunggu, aku akan membantu.” Luo Rou berdiri dan ikut Hong Zi Ran masuk kedalam rumah.


“Chenchen, apa yang membawamu keluar?” Jia Li bertanya karena tindakan Fei Chen membuatnya penasaran.


“Hmmm...” Jia Li bergumam sebelum menanyakan, “Jadi bagaimana kau bisa mengenal Saudara Tian?”


“Itu...” Fei Chen menceritakan jika dirinya kebetulan menolong Tian Zhou yang ditindas oleh Qie Laoji, setelah itu keduanya saling berkenalan dan Tian Zhou mengajaknya mendatangi Paviliun Pedang Matahari.


“Kau terlibat sesuatu yang merepotkan!” Jia Li menepuk keningnya dan menganggap ini masalah serius.


“Orang itu sangat licik dan aku sangat tidak menyukainya. Memiliki ilmu tinggi dan pamer pada para gadis, dasar laki-laki rendahan.” Jia Li terlihat sangat kesal dan tidak menyukai Qie Laoji.


Sementara itu didapur terlihat Luo Rou membantu Hong Zi Ran memanaskan Rebusan Daging Sapi dan Sup Kepiting.


“Ranran, bisa kau rahasiakan tingkat kemampuan Chen‘er. Ini adalah rahasia Patriark,” ucap Luo Rou dengan nada memohon.


“Tenang saja, Rourou. Aku akan merahasiakannya,” jawab Hong Zi Ran sambil tersenyum hangat.


“Janji?” Luo Rou belum yakin.


Hong Zi Ran menghela nafas dan kembali tersenyum, “Janji. Aku tidak akan mengingkarinya.”


Setelah itu Luo Rou dan Hong Zi Ran membawa dua hidangan yang telah dipanaskan ke ruang makan.


Luo Rou memanggil Fei Chen dan Jia Li, sementara itu Hong Zi Ran memanggil Tian Zhou.


Pertama kalinya Fei Chen menyantap Rebusan Daging Sapi sehingga dia memakan hidangan itu dengan lahap. Masakan Hong Zi Ran kurang lebih mirip dengan Luo Rou. Merasakan masakan buatan Luo Rou dan Hong Zi Ran membuat Fei Chen teringat akan mendiang Ibunya.


Setelah menikmati Rebusan Daging Sapi, Fei Chen ditawarkan Sup Kepiting oleh Hong Zi Ran.


“Chenchen, daging kepiting ini dihaluskan dan tekstur rasanya yang lembut akan memenuhi mulutmu.” Jia Li tersenyum pada Fei Chen sebelum menikamati hidangan tersebut.


Tian Zhou memperhatikan kedekatan Fei Chen dan Jia Li. Mungkin ini pertama kalinya Tian Zhou melihat sikap Jia Li yang begitu berbeda dari apa yang pernah dia lihat sebelumnya.


‘Mungkin dia penyebanya? Kau sangat misterius, Saudara Fei...’ Tian Zhou membatin sambil menikmati masakan buatan Ibunya.


Sedangkan Fei Chen sudah mencoba Sup Kepiting dan memang benar sesuai perkataan Jia Li tekstur daging kepiting yang dihancurkan penuh kelembutan memenuhi setiap rongga mulutnya.


Setelah makan malam bersama dengan Tian Zhou dan Hong Zi Ran, akhirnya Fei Chen kembali ke Paviliun Pedang Langit bersama Jia Li dan Luo Rou.


Sementara itu di Paviliun Pedang Bulan terlihat Qie Laoji mematahkan tangan kanannya sendiri.


“Sial! Aku akan membuat sampah itu membayarnya!” Qie Laoji tersenyum licik dan menatap Pil Embun Bening milik Ayahnya, Qie Xumao.