
PPFC 325 - Frustasi, Depresi Dan Gelap Mata.
Sebelum menyadari apa yang terjadi padanya, pria bernama Matsukawa yang merupakan adik dari tiga pemimpin Gagak Hitam tercekat dengan wajah yang memucat saat mengetahui kedua tangannya putus.
“Kya!” Istri Hirataka yang bernama Ichiba berteriak histeris dan langsung menjauh dari pelukan Matsukawa.
“Siapa yang melakukan ini?! Argh! Aku akan membunuhnya!” Matsukawa berteriak kesakitan dan meronta tidak jelas.
Kosuke dan Hirataka berhenti bertarung. Nampak Kosuke berniat mengejar Ichiba namun Hirataka menghentikannya.
“Langkahi dulu mayatku jika kau ingin menyentuh istriku!” Hirataka menatap Kosuke dengan penuh amarah.
Kosuke tertawa sinis, “Istrimu yang sudah menjadi mainan para petinggi negeri ini bukan? Aku menyukai sosoknya yang masih suci dan saat mengingat dia telah menjadi istrimu, aku ingin menghancurkannya dan membuatnya terhina.”
“Cukup Kosuke! Aku akan memastikan kematianmu tidak mudah!” Hirataka mengeluarkan aura pembunuh dan bergerak dengan kecepatan tinggi menuju Kosuke.
Keduanya terlibat pertukaran seranga. Tebasan pedang tajam Hirataka dan tusukan tombak Kosuke bergantian memberikan serangan. Kosuke menunjukkan permainan tombaknya yang luar biasa dan telah meningkat pesat selama beberapa tahun ini.
Hirataka nampak berusaha menangkis dan tidak terintimidasi. Serangan demi serangan yang dilakukan Kosuke semakin mematikan dan telah memberikan luka pada sekujur tubuh Hirataka.
“Aku terlalu naif!” Hirataka nampak semakin marah dan mengeluarkan aura pembunuh yang lebih besar.
Hirataka dipenuhi perasaan penyesalan dann pengkhianatan. Menyadari betapa menyakitkan apa yang yang dialami Ichiba membuat Hirataka gelap mata dan tidak bisa mengontrol emosinya.
Kosuke memanfaatkan hal ini untuk membuat Hirataka menguras tenaganya. Sementara itu Hirataka terus memainkan pedangnya dengan lincah dan terus memberikan serangan yang mulai membuat pertarungan kembali menjadi seimbang.
“Sebelum aku menawarkan tubuhnya pada pada petinggi, aku menikmatinya dan kau tahu kau membiarkan wanita bertubuh indah layu. Jadi sebagai sahabatmu aku ingin membuatnya mekar menjadi seorang pelacurr!” ejek Kosuke dan diiringi suara tawa.
Hirataka semakin marah dan mulai tidak bisa mengontrol permainan pedangnya. Serangan yang membabi-buta dan tak tentu arah membuat Kosuke dapat melihat pergerakannya dengan jelas.
‘Bagus, aku akan melumpuhkanmu dan menikmati Ichiba dihadapanmu!’ Batin Kosuke tertawa keras saat dirinya mampu mengimbangi permainan pedang Hirataka.
“Kosuke!” Hirataka mengarahkan tebasan yang dipenuhi tenaga pada kepala Kosuke.
Lalu Kosuke yang merasa berhasil memanipulasi perasaan Hirataka segera memutarkan tombaknya menahan tebasan pedang Hirataka.
Trang!!!
Terdengar suara pedang dan tombak yang berbenturan. Kosuke kembali memutarkan tombaknya sebelum menusuk perut Hirataka dengan cepat.
Hirataka menghindari tusukan tombak tersebut, namun pergerakannya sedikit terlambat sehingga perutnya terkena tusukan kecil.
“Hampir saja! Sepertinya aku harus lebih berusaha!” Kosuke tersenyum lebar dan mengincar kepala Hirataka menggunakan tombaknya.
Hirataka menghentikan pendarahan dan langsung memainkan pedangnya kembali. Setelah menghentikan pendarahan, Hirataka menyerang Kosuke dengan agresif dan brutal.
Pertarungan itu berlangsung sengit dan seimbang namun dalam sekejap berubah saat Uzui dan Tenkai datang dan langsung memberikan dua tusukan pisau beracun pada kedua tangan Kosuke.
“Keparat! Uzui, Tenkai, apa yang kalian berdua lakukan?!” Kosuke menatap tajam Uzui dan Tenkai yang sekarang sedang menarik katana mereka.
“Aku akan mengakhiri nyawamu, pengkhianat!” Uzui mengalirkan semacam aura pada katananya dan menyerang Kosuke.
Namun sebelum katana Uzui mengenai leher Kosuke, sebuah pedang lebih dulu memotong wajah Kosuke dan menusuk lehernya.
“Hirataka!” Uzui melihat Hirataka yang dipenuhi kemarahan.
Hirataka tidak berkata apapun selain melampiaskan seluruh kebencian dan kemarahannya pada Kosuke.
‘Apa yang terjadi dengan Hirataka?’ Uzui dan Tenkai menjauh beberapa langkah dari Hirataka yang terlihat frustasi.
Fei Chen datang dan memegang pundak Hirataka lalu berkata, “Berhenti Hirataka. Dia sudah mati.”
Hirataka berhenti memukuk tanah dan menatap serpihan daging yang hancur dan darah yang memenuhi tubuhnya. Pemandangan ini disaksikan langsung oleh Ichiba yang sekarang tertangkap puluhan Organisasi Sakura Darah yang bekerja dibawah arahan pria bernama Matsukawa.
“Pria gila! Diam dan serahkan dirimu pada kami atau kau-”
“Argh!”
“Keparat ini-”
Anggota Organisasi Sakura Darah mati seketika saat Hirataka membunuh mereka semua. Hirataka berdiri dengan tubuh berlumuran darah menatap Ichiba yang histeris.
“Suamiku... Maafkan aku... Hiks... Hiks...” Ichiba merasa begitu kotor dan langsung terjatuh saat melihat betapa depresinya Hirataka.
‘Ichiba, aku yang salah...’ Ingin Hirataka mengatakan itu, namun saat membayangkan penderitaan Ichiba yang dipermainkan membuat emosinya memuncak.
“Aku akan membunuh mereka!”
Melihat Hirataka tidak dapat mengendalikan diri membuat Fei Chen menghentikan tindakan pria tersebut.
“Berhenti Hirataka!“
“Minggir! Atau aku akan membunuhmu!” Hirataka membentak Fei Chen yang berteriak lantang padanya.
Fei Chen mengerutkan keningnya dan seketika menatap Hirataka yang dipenuhi kemarahan.
“Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan?” Fei Chen sama sekali tidak menarik pedangnya saat Hirataka mengayunkan pedang kearah lehernya.
“Kau mengganggu!” Hirataka sudah tidak dapat mengontrol emosinya dan berkeinginan memotong kepala Fei Chen.
Trang!!!
Bukannya kepala Fei Chen yang terpotong melainkan pedang Hirataka yang patah dan hancur berkeping-keping.
Hirataka tercengang saat menyadari perbuatannya. Tatapan dingin Fei Chen membuat tubuh Hirataka tidak dapat bergerak.
“Jadi...” Fei Chen mengeluarkan aura pembunuh dan membunyikan lehernya yang baru ditebas pedang Hirataka, “Kau mau mati dengan cara apa?! ”
Menyadari dirinya melakukan kesalahan besar membuat Hirataka hendak mengatakan sesuatu, namun aura pembunuh yang dilepaskan Fei Chen terlalu besar dan pekat.
“Berhenti!”
Saat Fei Chen semakin mendekati Hirataka, segera Ichiba menghalangi Fei Chen dan menatapnya tajam.
“Jangan bunuh dia!”
Melihat Ichiba yang melindungi Hirataka membuat Fei Chen tersenyum.
“Hirataka, tenangkan dirimu. Jika aku tidak seperti ini, kau tidak sadar dan seperti orang gila.” Setelah mengatakan itu Fei Chen membalikkan badannya.
Tubuh Ichiba yang terkulas lemas terduduk ditanah. Tubuhnya terasa tidak dapat digerakkan karena mengetahui betapa berbahayanya Fei Chen. Dimata Ichiba sosok Fei Chen memiliki aura yang sangat mengerikan dan dirinya langsung mengingat Sun Yelong.
Hirataka langsung bersujud dan meminta maaf kepada Fei Chen. Namun Hirataka tidak bisa menepis fakta jika tidak ada Ichiba maka Fei Chen benar-benar akan membunuhnya.