
PPFC 177 - Teknik Dunia Jiwa Yin Yang III
Banyak perubahan di Wujin walaupun Fei Chen hanya meninggalkannya selama sepuluh hari saja. Terlihat Wujin telah memiliki sebuah taman bunga dan patung dirinya yang didampingi Jia Li dan Liu Xianlin.
“Patung itu menggambarkan seolah-olah mereka berdua adalah istriku...” Fei Chen menghela nafas panjang namun dia merasa senang.
Sekembalinya dari Gunung Menangis, Fei Chen membuat Liu Xianlin menatapnya curiga dan bahkan wanita selalu menjaga jarak darinya. Hingga akhirnya setelah selesai makan siang, Fei Chen bisa mengobrol dengan Liu Xianlin dan Jia Li.
‘Kenapa tengkuk dan leher Lili penuh merah-merah? Aku tidak salah melihat bukan?’ Liu Xianlin sudah curiga jika Jia Li dan Fei Chen melakukan hubungan yang sama dengan dirinya dengan Fei Chen.
Untuk memastikan Liu Xianlin mendekati Jia Li dan memperhatikan leher gadis itu. Wajahnya langsung memerah dan matanya menatap dingin Fei Chen.
“Apa apa Kakak Liu?” Jia Li tidak sadar jika lehernya memiliki banyak bekas tanda kepemilikan Fei Chen.
“Ah... Lili, sepertinya lehermu digigit nyamuk besar sepertiku bukan?” Liu Xianlin justru balik bertanya untuk memastikan. Reaksi Jia Li membuktikan segalanya saat gadis itu tersedak.
“Nya-nyamuk? Ha... Ha... Iya, aku digigit nyamuk besar seperti yang menggigit Kakak Liu...” Saat Jia Li mengatakan itu dirinya juga langsung menatap tajam Fei Chen.
‘Chenchen, ini salahmu!’ Jia Li berteriak dalam hatinya begitu juga dengan Liu Xianlin.
‘Bocah nakal aku membutuhkan penjelasan!’
Disisi lain Fei Chen menikmati hidangan dengan tenang sebelum akhirnya mereka bertiga kembali dengan kesibukan masing-masing.
Mengingat tugasnya di Wujin telah selesai, Fei Chen menemui Wu Hutong dan mengobrol banyak hal dengan kakek sepuh itu. Mendengar Fei akan pergi membuat Wu Hutong dan penduduk Wujin mengucapkan terimakasih dan rasa syukur mereka.
Fei Chen sendiri ingin menghabiskan malam ini dengan meminum arak dan memakan daging bakar bersama para penduduk Wujin, namun dia dihadang Liu Xianlin yang meminta kepastian padanya.
Fei Chen yang bisa melihat jika Liu Xianlin sudah curiga dengan apa yang dirinya lakukan bersama Jia Li memutar otak dan membiarkan wanita itu memarahinya di depan pintu masuk kolam air panas.
Fei Chen merasakan hawa keberadaan Jia Li yang sedang berendam di dalam kolam air panas dan Liu Xianlin tidak mengetahuinya.
“Jelaskan padaku tentang leher Lili? Itu perbuatanmu bukan?” Liu Xianlin menatap tegas Fei Chen dan memarahinya.
Fei Chen sendiri tetap tenang dan menunggu Liu Xianlin selesai berbicara sebelum dirinya menanggapi ucapan Liu Xianlin.
“Lin‘er, pejamkan matamu sebentar.” Fei Chen justru berkata lembut dan menatap Liu Xianlin penuh kasih.
Liu Xianlin menghela nafas secara kasar, “Apa kau sekarang sedang dalam posisi memberi perintah padaku?”
“Cepat lakukan saja.” Fei Chen kembali berkata dan kali ini Liu Xianlin menurutinya.
Setelah Liu Xianlin memejamkan mata, Fei Chen memegang wajahnya dan mengecup keningnya.
“Maaf Lin‘er, sepertinya aku membuatmu cemburu. Tetapi aku mencintai kalian semua, baik itu Xiu‘er, kamu atau Lili. Aku akan menikahimu dan Lili setelah aku meminta restu dari Guruku.”
Hanya dengan kejujurannya seketika Liu Xianlin tidak lagi marah dan terdiam seribu bahasa. Bahkan Liu Xianlin tidak menyadari jika pintu masuk kolam air panas terbuka dan di sana ada Jia Li yang melihat dan mendengar semuanya.
Fei Chen segera memalingkan wajahnya saat Liu Xianlin menoleh ke arah Jia Li. Ekspresi keduanya rumit saat mengetahui masing-masing dari mereka telah menjadi wanitanya Fei Chen.
“Lili, ini tidak seperti yang kau maksud-”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi Kakak Liu! Aku melihat semuanya!”
“Lili!”
“Kakak Liu, kau sudah melakukannya dengan Chenchen bukan?!”
Melihat keduanya merasa saling menyakiti membuat Fei Chen memegang bahu Liu Xianlin dan Jia Li agar keduanya diam.
“Maaf karena diriku kalian menjadi merasa saling menyakiti...” Fei Chen menarik tubuh keduanya dalam pelukannya.
Baik Liu Xianlin ataupun Jia Li tercengang saat Fei Chen bersikap biasa saja memeluk tubuh keduanya, bahkan pemuda itu dengan berani membawa kedua perempuan itu masuk ke dalam kolam air panas.
‘Bukannya ini salahmu yang memaksaku? Kenapa aku tidak bisa menolak setiap keinginannya?’ Liu Xianlin melunak karena perlakuan hangat Fei Chen begitu juga dengan Jia Li.
‘Chenchen, apa yang ingin kau lakukan? Jangan-jangan...’ Jia Li memikirkan permintaan Fei Chen yang intim.
Liu Xianlin dan Jia Li menatap malu saat sama lain saat tubuh keduanya tidak dibalut benang, terlebih Fei Chen secara terang-terangan melepaskan pakaiannya didepan mereka.
“Entah kenapa aku ingin bersama kalian berdua...” Fei Chen menceburkan dirinya ke dalam kolam air panas dengan LiuXianlin dalam pelukan tangan kanannya sedangkan Jia Li ditangan kirinya.
‘Ini sangat memalukan! Bocah nakal ini bisa-bisanya bersikap biasa saja!’ Liu Xianlin merasa ingin menghilang saat itu juga karena tidak menyangka akan terjebak dalam situasi ini.
Namun setiap perlakuan dan perkataan Fei Chen sulit untuk dia tolak saat pemuda itu mulai menceritakan kembali bagaimana ketiganya bertemu di Restoran Harta Alam.
‘Chenchen, berhenti! Kenapa kau meremas nya?!’ Jia Li dalam hati ingin menyuruh Fei Chen berhenti meremas buah dadanya menggunakan tangan kirinya namun itu justru membuatnya mengeluarkan suara indah.
“Aaahh-”
Jia Li memerah wajahnya begitu juga dengan Liu Xianlin. Sedangkan Fei Chen bagaikan singa lapar yang menemukan mangsanya. Mangsa bertubuh indah dan sintal yang akan dia lahap sepuasnya.
Kecurigaan satu sama lain antara Jia Li dan Liu Xianlin menghilang saat mereka berdua merasakan sensasi kenikmatan yang baru bersama Fei Chen. Tidak pernah dalam mimpi terliar mereka jika mereka bertiga akan melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang bersama-sama.
Sebelum kembali ke Istana Ma, Fei Chen mengarungi tubuh indah Liu Xianlin dan Jia Li melewati malam yang panjang penuh akan suara indah yang bersahut-sahutan.
Hingga akhirnya saat matahari hampir terbit, Fei Chen membiarkan dirinya terbaring puas di pinggiran kolam air panas dengan Liu Xianlin dan Jia Li di sampingnya yang memeluk tubuhnya.
“Lin‘er, Lili, terimakasih telah mengikuti keinginan liarku ini...”
Keduanya yang masih bernafas lemah tersenyum lemas karena dibuat kewalahan oleh Fei Chen yang tetap perkasa walaupun Liu Xianlin dan Jia Li sudah bersatu untuk mengalahkannya. Keduanta beristirahat sebelum kembali melayani Fei Chen, namun tetap saja Fei Chen sulit ditaklukkan.
“Chenchen, kau benar-benar tidak pernah puas...”
Liu Xianlin menanggapi ucapan Jia Li antusias, “Sesuai perkataanmu Lili, Gege seperti bocah yang selalu merengek meminta sesuatu kepada Ibunya dan itu sangat menyebalkan jika kita tidak menurutinya maka dia akan terus memaksa hingga kita luluh...”
Akhirnya Liu Xianlin dan Jia Li mengobrol ringan membahas keperkasaan dirinya sebelum tertidur pulas memeluk tubuhnya. Fei Chen tersenyum bahagia dan mengecup kedua kening Liu Xianlin ataupun Jia Li secara bergantian.
“Selamat tidur dan semoga kalian berdua bermimpi indah, Lin‘er, Lili...”
Fei Chen benar-benar merasa bahagia dan beruntung bisa dicintai Liu Xianlin dan Jia Li. Mengingat ucapan Raja Neraka bahwa dirinya kelak akan mendapatkan segalanya mulai dari harta, tahta dan wanita, itu membuat Fei Chen tersenyum sendiri saat mengingatnya.
Sekarang semuanya terbukti, dia tidak pernah mencari harta namun kekayaan datang dengan sendirinya. Dia tidak pernah menginginkan tahta namun tahta Kekaisaran Jia dan tahta Kekaisaran Ma menjadi miliknya bahkan Kekaisaran Chu. Dan wanita datang dengan sendirinya karena parasnya yang membawa masalah.
Fei Chen memejamkan matanya dan menggumam pelan, “Ternyata tidak buruk juga...”
Akhirnya Fei Chen tertidur pulas dipeluk kedua wanita bertubuh indah setelah selesai mengarungi malam yang panjang bersama keduanya.
____
Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?