Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 193 - Kelakuan Fei Chen


PPFC 193 - Kelakuan Fei Chen


Fei Chen membiarkan Ning Guang untuk mengambil nafas. Kondisi tubuhnya sekarang semakin segar bugar karena telah merenggut kesucian Tubuh Langit Surgawi. Fei Chen bisa merasakan bahwa tenaga berjumlah besar mengalir dalam tubuhnya.


“Ada apa Chen‘gege?” Ning Guang bertanya karena melihat Fei Chen tersenyum sendiri.


“Terimakasih karena telah menjadi istriku dan menjaga kesucianmu untukku. Sulit mempercayai jika diriku baru saja mengambil mahkota seorang wanita berumur empat puluh tahun...” Fei Chen menggoda Ning Guang sambil meremas lembut gundukan kembarnya.


“Bagaimana rasanya mengambil mahkkota wanita berumur sepertiku?” Ning Guang menggoyangkan pinggulnya dan membuat Fei Chen menelan ludah.


“Melebihi ekspetasiku sayang...” Fei Chen mendesis sambil mengecup belakang kepala Ning Guang.


“Mmmmmssss...” Ning Guang memerah wajahnya. Dia mengetahui Fei Chen sudah mendapatkan beberapa gambaran Segel Langit.


“Teknik Dunia Jiwa Yin Yang masih berlanjut sayang...” Fei Chen berbisik dan membuat Ning Guang tidur miring sambil mengangkat satu kakinya.


“Eughh... Pelan-pelan akh.” Ning Guang melenguh saat tubuhnya terasa kembali penuh. Fei Chen hanya tersenyum dan terus menikmati keindahan itu.


“Haakksss...” Walaupun sudah terbiasa, tetap saja Ning Guang merasakan nyeri dipangkal pahanya. Melihat Fei Chen tidak berniat mengendorkan gerakannya membuat Ning Guang menoleh dan mencium bibir pemuda itu.


“Mmmmppphhh..” Keduanya benar-benar menikmati malam yang panjang itu. Fei Chen tersenyum penuh gairah saat mengetahui keistimewaan pemilik Tubuh Langit Surgawi.


Walaupun bukan seorang pendekar namun Ning Guang dapat bertahan mengikuti kemauannya untuk terus mengarungi Teknik Dunia Jiwa Yin Yang. Sudah tengah malam terlewati dan Ning Guang bergerak lemas dipangkuan Fei Chen sebelum suara erangannya melengking dan ambruk menindih tubuh Fei Chen.


“Haaah... Haaah... Chen‘gege. Aku lelah.” Akhirnya Ning Guang dibuat tidak berdaya oleh Fei Chen.


Pemuda yang menjadi suaminya itu membelai wajahnya dan berulang kali mengecup keningnya.


“Semoga saja dirimu dan Lin‘er hamil bersamaan...” Fei Chen lirih mengatakan itu.


Ning Guang menatap wajah Fei Chen dan mengetahui jika pemuda itu masih ingin mengarungi tubuhnya. Mengingat Fei Chen sudah membuatnya menjadi wanita seutuhnya, Ning Guang ingin memberikan kepuasan batin pada suami mudanya.


“Chen‘gege, istirahat sebentar ya?” Ning Guang menawarkan kembali dan membuat Fei Chen tersenyum.


“Istirahatlah sayang, kau sudah kelelahan.” Senang Fei Chen mendapatkan tawaran itu. Tetapi dia yakin besok wanita paruh baya ini akan kesulitan berjalan dan rebahan seharian diranjang.


“Apa ada yang bisa kulakukan untukmu?” Ning Guang melirik inti Fei Chen yang masih tegak berdiri tak mengenal lelah.


“Kalau begitu...” Fei Chen membisikkan sesuatu ditelinga Ning Guang dan membuat wanita paruh baya itu merangkak keatas tubuh Fei Chen.


Tangan Ning Guang meremas inti Fei Chen dan menatap ekspresi pemuda itu yang terlihat menikmati sentuhannya. Dengan ragu Ning Guang membenamkan kepalanya disana seraya mengecup ujungnya dan mulai memanjakannya secara kaku dan lugu.


‘Hanya ujungnya saja? Mmmm... Chen‘gege terlihat kenikmatan.’ Ning Guang membatin dan merasa bangga karena melakukan tugasnya sebagai istri Fei Chen.


Ning Guang diam sejenak lalu kembali memulainya. Tak lama Ning Guang tersedak berulang kali karena besarnya inti Fei Chen yang tidak mampu tertelan mulutnya.


“Sayang, sssshhhh...” Mendengar Fei Chen mendesis Ning Guang semakin bersemangat. Terlebih saat pemuda itu menekan kepalanya dan membelai rambutnya.


“Mmmmppphh... Uuuuhkkk...” Mata Ning Guang mendelik saat Fei Chen menekan kepalanya lebih dalam. Namun saat mendengar erangan Fei Chen membuat Ning Guang menghisap kuat.


“Arrrrgg... Guang‘er!”


“Uhuk... Huek... Uhuk...”


Ning Guang langsung batuk-batuk dan tersedak. Nafasnya tidak beraturan dan pipinya belepotan. Wajahnya bersemu merah karena melihat Fei Chen tersenyum puas.


Keduanya saling menatap satu sama lain sebelum Fei Chen tertawa layaknya anak kecil karena melihat Ning Guang mencoba bangkit sambil muntah-muntah, nakun wanita itu justru terjatuh karena dibuat tidak bisa berjalan olehnya.


Akhirnya Ning Guang menyuruh Fei Chen mengambil kain dan terpaksa menelannya. Fei Chen memeluk erat tubuh Ning Guang membiarkan wanitanya tertidur.


Saat pagi tiba Ning Guang merengek karena kesulitan berdiri dan berjalan. Wanita itu menggerutu karena Fei Chen membuatnya lemas tidak berdaya. Bahkan setelah mengetahui dirinya seperti ini, Fei Chen kembali melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang.


“Apa seorang pendekar sepertimu tidak pernah puas?” Ning Guang lemas saat tubuhnya diarungi Fei Chen di pagi hari.


“Apa kau tidak mengetahui jika darah dan tubuhku ini mewarisi darah Raja Naga?” Fei Chen justru merasa bersyukur karena telah bertemu dengan Dewa Naga dan Raja Neraka. Berkat keduanya dia bisa menikmati kehidupan ini.


Ning Guang hanya mengerang dan menggelengkan kepalanya. Suaranya lemah dan tubuhnya tergolek pasrah saat dirinya kembali mencapai pelepasan. Mengetahui Fei Chen belum menggapai puncak dipagi hari, Ning Guang akhirnya memohon agar Fei Chen berhenti.


Ning Guang merasa benar-benar lelah dan inti nya terasa mati rasa akibat besarnya keperkasaan Fei Chen yang memiliki urat Naga menerobos masuk dan menghantamnya semalam.


Fei Chen mengerti dan dia memanjakan istrinya ini seharian sebagai bentuk tanggung jawabnya. Saat hari menjelang sore, Ning Guang tidur bersama Su Xiulan.


Kedua wanita itu mengobrol antusias membahas keperkasaan Fei Chen. Su Xiulan dan Ning Guang menyuruh Fei Chen untuk pergi karena takut pemuda itu akan menerkam tubuh mereka.


Fei Chen sendiri bergerak menuju kamar Yin Jinxia setelah mengarungi malam pertama dengan Ning Guang.


Saat Fei Chen membuka pintu, dirinya disambut dengan lekukan tubuh Yin Jinxia yang hanya dibalut kain putih.


“Ah, Chen‘gege...” Yin Jinxia menyapa seraya mengeringkan rambutnya karena sehabis mandi.


“Xia‘er. Sepertinya kau sudah siap?” Fei Chen menutup pintu dan tersenyum sambil mendekati lekuk tubuh menggoda Yin Jinxia.