Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 192 - Hamili Aku


PPFC 192 - Hamili Aku


“Apa kau ingin menghukumku?” Ning Guang menatap Fei Chen berani. Wanita paruh baya ini bertingkah layaknya gadis dua puluhan tahun dan membuat gairah Fei Chen meledak.


Fei Chen tidak menjawab melainkan mengecup intens bibir Ning Guang dan berbisik mesra.


“Aku akan menghukummu sampai pagi...” Fei Chen memeluk tubuh Ning Guang penuh rasa sayang dan menggigit kecil daun telinganya, “Kuharap kau mampu mengimbangiku sayang.”


“Mmmssss...” Ning Guang bisa merasakan Fei Chen sangat mengagumi tubuh indahnya sehingga dia berbisik manja.


“Tubuhku ini milikmmu sepenuhnya Suamiku...”


Fei Chen berhenti dan menatap wajah Ning Guang. Keduanya terbakar gairah dan saling melilit satu sama lain dengan kedua tangan yang saling meraba. Ning Guang bergerak secara nalurinya sebagai seorang wanita dan Fei Chen bergerak sesuai pengalamannya dengan Su Xiulan, Liu Xianlin dan Jia Li.


“Mmmmppphhh... Emmmm... Mmmmssss.” Suara mulut yang beradu dan melepas rindu memenuhi ruangan. Fei Chen menundukkan tubuh Ning Guang ditepi ranjang. Keduanya mundur secara perlahan dengan Fei Chen yang merangkak dan mengukung tubuh Ning Guang sepenuhnya.


Pakaian atas Ning Guang terlepas dan memperlihatkan gundukan sintal dan besar. Fei Chen tersenyum dan menghisap leher Ning Guang sambil meremas gundukan besar yang indah tersebut. Hal itu membuat gairah Ning Guang memuncak, nafasnya mulai terdengar berat dan berulang kali mendesah hebat.


“Mmm... Sungguh indah tubuhmu sayang.” Fei Chen menggumam di sela-sela bibirnya yang menyusuri leher dan telinga Ning Guang.


Setelah puas Fei Chen menatap ujung gundukan yang menantang tegak itu. Kedua tangannya meremas kuat dan membuat Ning Guang memekik. Lalu menamparnya dan membuat Ning Guang mendelik menatapnya.


“Hukumanmu masih berlanjut sayang...” ujar Fei Chen seraya bibirnya mulai menyusuri pegunungan kembar yang menantang itu.


“Pelan, Chen‘er- Aaaahhh,” ucap Ning Guang.


“Sssshhhh... Chen‘er!” lanjut Ning Guang saat melihat Fei Chen menggigit ujungnya.


Fei Chen menyeringai, “Chen‘er katamu? Apa aku hanyalah seorang anak kecil dimatamu? Aku adalah istrimu! Tidak peduli jarak umur diantara kita berdua, kau adalah istriku!” Seraya melepaskan seluruh pakaiannya, Fei Chen langsung mengukung tubuh Ning Guang.


Mulut Fei Chen membungkam erangan Ning Guang, sedangkan tangannya memijat gunung kembarnya. Ning Guang memberontak namun dalam hitungan detik akhirnya dia pasrah karena ini adalah malam pertama mereka berdua.


Ning Guang semakin hanyut saat tubuhnya tidak ditutupi sehelai benang pun terlebih saat tangan Fei Chen bermain di intinya.


“Chen‘er... Oooh. Aku... Ngghh.”


Fei Chen tersenyum saat tangan Ning Guang memegang kepalanya gemetaran. Dia berdiri memperlihatkan jarinya pada Ning Guang dan membuat wajah wanita paruh baya itu memerah.


“Sekarang giliranku. Puaskan suamimu ini, sayang.” Fei Chen berdiri diatas ranjang dan menatap Ning Guang tajam.


“Haaah... Haaah... Chen‘er-”


Melihat tatapan Fei Chen membuat Ning Guang menelan ludah lalu menyebut mesra nama suami mudanya itu.


“Chen‘gege... Apa yang harus aku lakukan?” Ning Guang masih kaku karena ini pengalaman pertamanya melayani pria.


Ning Guang duduk dan mengalihkan pandangannya karena keperkasaan Fei Chen mengenai pipinya dan seketika ujung pegunungan kembarnya mengeras dan dibawah semakin basah hanya karena melihat gagahnya inti Fei Chen itu.


Fei Chen tersenyum dan memeluk tubuh Ning Guang sambil membisikan sesuatu yang mana membuat Ning Guang memerah wajahnya. Lalu Fei Chen kembali berdiri di hadapan Ning Guang yang sekarang menatap kearah dirinya.


“Aku belum siap Chen‘er...” Ning Guang menelan ludah lalu menggelengkan kepalanya, “Aku merasa mual...”


“Jika sudah siap, aku akan menagihnya.” Fei Chen langsung menindih tubuh Ning Guang.


Sementara Fei Chen menindihnya, Ning Guang membuka kedua kakinya lebar sambil memeluk tubuh Fei Chen. Keduanya saling memeluk dan membelai dengan bibir yang menyatu.


“Hmmmppp.” Ning Guang semakin terbuai saat intinya yang sempit bertemu dengan milik Fei Chen.


Fei Chen melepas ciumannya dan meminta Ning Guang untuk melebarkan kedua pahanya. Ning Guang menuruti permintaan pemuda itu dan menatap kebawah tubuhnya dan alangkah terkejutnya karena mengetahui miliknya terlalu kecil untuk keperkasaan Fei Chen.


‘Milik Chen‘gege terlalu besar...’ Ning Guang dalam hati bertanya bagaimana Su Xiulan, Liu Xianlin dan Jia Li mampu menjalankan tugasnya sebagai istri Fei Chen.


“Apa kau ragu sayang?” Fei Chen menenangkan Ning Guang walaupun dirinya ingin langsung menyusuri kesempitan lembah perawan itu.


“Ini terlalu besar, Chen‘gege... Apa bisa masuk?” Kembali Fei Chen tersenyum melihat ekspresi gelisah dan khawatir Ning Guang.


Fei Chen mengecup singkat bibir Ning Guang lalu mengusap tubuhnya pelan, “Tahan sebentar Guang‘er, aku akan membuatmu menjadi wanita seutuhnya...”


Ning Guang menggelengkan kepalanya saat melihat milik Fei Chen mulai membelah intinya dan matanya memejam. Debaran jantung Ning Guang terdengar kencang seiring tangannya yang mencoba menahan tekanan badan Fei Chen.


“Pelan... Chen‘gege...”


Walaupun Fei Chen sudah melakukan penyatuan dengan lembut tetap saja teriakan Ning Guang terdengar. Tubuh Ning Guang bergetar dan kedua tangannya meremas apa saja yang ada di ranjang.


“Rileks sayang...” Fei Chen mendesis karena menahan nikmat saat intinya diremas kuat. Melihat Ning Guang menangis membuat Fei Chen mendiamkannya sejenak.


Penuh kelembutan Fei Chen mengecup pipi Ning Guang dan mengusap wajah cantik itu. Dia tidak ingin Ning Guang mendapatkan kepahitan di malam pertamanya.


“Apa aku menyakitimu sayang?” Tatapan teduh Fei Chen membuat Ning Guang berhenti menangis. Dia tahu pemuda itu sudah menahan gairahnya dan lebih mementingkan dirinya.


Mengingat dirinya menolak permintaan Fei Chen membuat Ning Guang memeluk tubuh pemuda itu.


“Chen‘gege... Buat aku jadi wanitamu.”


Fei Chen menggerakkan tubuhnya pelan dan membuat Ning Guang kembali merintih, “Akh sakit, sayang!”


Fei Chen melihat kesucian Ning Guang terenggut olehnya. Dia mengukung tubuh wanita paruh baya itu dan menggunakan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang sebelum melakukan gerakan lembut diatas tubuh Ning Guang lalu menghujam lebih dalam.


“Aaaahhh... Sakit!” Kembali Ning Guang merintih. Fei Chen tetap melanjutkan gerakannya sambil mengelus wajah Ning Guang dan sesekali mengecup bibirnya.


“Aduh... Aaaahhh...”


Fei Chen menatap Ning Guang yang masih merasa kesakitan dan tidak berniat berhenti bergerak.


“Perih, sayang... Sssshhhh...” kata Ning Guang sambil menatap Fei Chen.


“Tahan sebentar, sayang...” Fei Chen mengukung tubuh Ning Guang dan mulai mempercepat tempo hentakannya, “Terimakasih telah memberikan keperawananmu untukku... Ugh.“


Ning Guang menggigit leher Fei Chen untuk meredam rintihannya sedangkan Fei Chen menghujam tubuhnya dalam dan kuat pada inti Ning Guang yang sangat sempit itu.


Tubuh Ning Guang mulai terbiasa menerima hujamam Fei Chen. Walaupun tidak mampu menelan sepenuhnya, cengkeraman kuat dinding gua sempit itu membuat Fei Chen melenguh hebat.


Keduanya terus melakukan pergumulan hebat diatas ranjang. Ning Guang benar-benar dibuat lemas oleh Fei Chen yang mendominasi pergumulan. Erangan Ning Guang mulai berat dan tubuhnya bergetar hebat.


Fei Chen hanya tersenyum dan mendiamkan miliknya menikmati jepitan dinding sempit. Kemudian dia meminta Ning Guang berbalik. Wanita paruh baya itu menurut saja.


“Uuugghhh...” Pekik Ning Guang saat Fei Chen kembali melakukan penyatuan.


Fei Chen meremas bongkahan padat dan besar itu sambil menggerakkan tubuhnya dalam dan kuat sesekali dia menamparnya menimbulkan bekas kemerahan menggoda disana. Melihat punggung mulus Ning Guang dan mendengar rintihan wanita paruh baya itu membuat Fei Chen menarik kedua tangannya lalu menghentakkan tubuhnya cepat.


“Aduh... Aaaahhh... Ah.”


Sementara Ning Guang mendesah, Fei Chen terus memacu tubuhnya. Ning Guang terkulai lemas di bawahnya. Fei Chen mengerang hebat dan segera memeluk erat tubuh Ning Guang dari belakang.


“Chen‘gege! Sekarang aku- Aaaahhhsss.” Telat Ning Guang mengatakan pada Fei Chen bahwa dirinya sedang dalam masa subur.


Fei Chen masih bergerak pelan sambil menciumi punggung, tengkuk dan pipi Ning Guang. Keduanya mengatur nafas lalu merebahkan tubuh.


“Chen‘gege...” ucap Ning Guang lemah.


Fei Chen menoleh dan bergumam pelan. Ning Guang merasakan pelukan hangat Fei Chen dan belaian pemuda itu dikepalanya.


“Hamili aku. Aku ingin mengandung anakmu.”


Seketika suasana kamar hening. Ning Guang merasakan sesuatu yang tiba-tiba semakin besar dan keras menyentuh bokongnya.


“Istirahat sebentar sayang. Malam masih panjang. Aku juga ingin kau hamil anakku, Guang‘er.” Fei Chen berdiri mengambil minuman yang merupakan penambah stamina dan daya tahan tubuh lalu memberikannya kepada Ning Guang.


Ning Guang tersenyum karena diperlakukan begitu hangat oleh Fei Chen. Tak henti-hentinya Fei Chen membelai kepala Ning Guang dan mengecup pipinya.


‘Dimatanya aku adalah seorang wanita... Sementara aku menganggapnya sebagai anakku. Tetapi sekarang dia adalah suamiku dan aku ingin memiliki anak dengannya...’ Hati Ning Guang semakin yakin jika dirinya ingin memberikan anak kepada Fei Chen.