Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 185 - Jandanya Kaisar Ma


PPFC 185 - Jandanya Kaisar Ma


Saat membuka pintu, Ning Guang melihat Ma Mingyan yang menguap dan terlihat begitu kantuk. Wanita itu langsung membawa Ma Mingyan masuk kedalam kamar.


“Kenapa Bibi lama sekali membuka pintunya?” Ma Mingyan mengucek matanya dan kembali menguap.


“Itu...” Ning Guang mencari alasan dan melihat Fei Chen yang sedang pura-pura tidur diranjangnya.


“Chen‘gege mu kelelahan karena mengurus dokumen pemerintahan dan dia tertidur dikamarku.”


“Kenapa dia harus tidur dikamar Bibi? Bukankah masih ada kamar yang lain? Tanya Ma Mingyan polos dan tidak menaruh curiga tetapi membuat Ning Guang merasa nyesek dihati karena seperti termakan ucapannya sendiri.


“Sama seperti dirimu yang menganggapku sebagai Ibu pengganti, Chen‘gege mu juga menganggapku seperti itu.“ Ning Guang tersenyum kecut saat mengatakan itu.


“Dasar Chen‘gege... Hihi...” Ma Mingyan tidak curiga dan langsung berlari menuju ranjang besar itu dan melompat ke samping Fei Chen.


“Chen‘gege!”


Fei Chen terus berpura-pura tidur namun siapa sangka dirinya justru tertidur lelap hingga terdengar bunyi dengkuran halus. Fei Chen mengalihkan perasaannya yang sudah diujung puncak dengan berpura-pura tidur namun justru terlelap tidur.


“Bibi! Lihat Bibi! Chen‘gege sepertinya sangat kelelahan...”


“Ssstt... Jangan berisik Yanyan, nanti Chen‘gege mu bangun...” tegur Ning Guang dan ikut tidur disamping Ma Mingyan.


“Sebaiknya kita tidur...” Ning Guang tidur menyamping dan memeluk tubuh Ma Mingyan. Posisi tidur Ma Mingyan yang di tengah membuat Ning Guang merasa lega.


‘Aku merasa kasihan padanya, tetapi aku lega karena jika Yanyan tidak datang pasti kami telah melewati batas...’ Ning Guang tersenyum menatap tubuh bagian bawah Fei Chen sebelum tertidur.


‘Hihi... Sepertinya sudah mengecil...’


____


Mengingat kejadian semalam membuat Fei Chen tidak fokus menjalankan pekerjaannya. Dia duduk di ruangan pribadinya dimana sejumlah dokumen yang menggunung serta beberapa catatan permasalahan menantinya.


Fei Chen menandatangani dokumen dan membaca beberapa catatan mengenai masalah yang terjadi di Kekaisaran Ma.


“Ye‘er dan Mi‘er sedang berkunjung ke Lingdu, sepertinya aku harus menemui mereka.”


Saat Fei Chen melamun, suara pintu tiba-tiba terbuka. Seorang wanita paruh baya datang membawakan cemilan dan teh hangat.


Fei Chen menoleh sesaat sebelum kembali membaca dengan serius beberapa dokumen hingga alisnya terlihat mengerut.


“Istirahat sejenak, Chen‘er,” ucap Ning Guang karena melihat Fei Chen terlihat seperti orang yang kebanyakan pikiran.


Fei Chen pun menaruh beberapa dokumen ke tempatnya dan menghela nafas. Dia menyeruput teh hangat yang dibawa Ning Guang sambil menikmati cemilan.


Fei Chen memejamkan matanya dan memantapkan keputusannya tentang pernikahannya yang akan digelar beberapa hari lagi ini.


“Bibi Ning, ada yang ingin ku bicarakan denganmu...” Fei Chen berdiri dan menghampiri Ning Guang.


“Apa tentang semalam?” Ning Guang gelisah karena dia sendiri tidak bisa menepis perasaannya pada Fei Chen.


“Iya...”


Deg...


Jantung Ning Guang berdetak kencang saat tiba-tiba tangan Fei Chen memegang telapak tangannya dan mengecupnya mesra.


“Guang‘er, aku hanya akan mengatakannya sekali...” Fei Chen menatap Ning Guang dalam.


“Jadilah pendamping hidupku, aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya...”


Tubuh Ning Guang bergetar hebat saat Fei Chen menyatakan perasaannya.


“Tatap mataku...” Fei Chen kembali berkata dan Ning Guang memalingkan wajahnya.


“Tatap mataku Guang‘er...” Kembali Fei Chen berkata. Kali ini Ning Guang menatapnya.


“Apa usia menjadi tolak ukurmu? Sejak pertama bertemu denganmu, aku menganggapmu sebagai wanita bukan sosok pengganti Ibuku.” Fei Chen mendekat dan memegang wajah Ning Guang dengan menggunakan kedua tangannya.


“Apa ada pria lain yang kau cintai? Kenapa saat itu dan kemarin malam kamu tidak menahanku?” Fei Chen dengan lembut mengelus pipi Ning Guang.


Detik itu juga Ning Guang membeku karena tidak menyangka Fei Chen adalah pria idamannya. Tanpa sadar air matanya menetes karena sangat bahagia, sekarang pun dia rela menyerahkan segala yang dia miliki kepada pemuda ini.


“Andai saja pria yang kudambakan seumuran denganku dan bukan pemuda yang lebih pantas menjadi anakku ini. Aku akan langsung memberikan segalanya...”


Fei Chen tersenyum kecut, “Maaf jika aku tidak bisa seperti pria yang kau impikan...” Fei Chen terlihat kecewa seraya membalikkan badannya hendak pergi meninggalkan ruangan pribadinya.


“Tidak tunggu!” Ning Guang merasa bersalah. Dia harus menerima dirinya yang mencintai Fei Chen. Dia harus menerima jati dirinya yang sekarang dan dia harus membalas perasaan tulus Fei Chen.


Ning Guang memeluk tubuh Fei Chen dari belakang dan menangis terisak. Ning Guang terharu karena tidak menyangka Fei Chen memiliki perasaan padanya.


“Bibi Ning... Ada apa?” Fei Chen membalikkan badannya dan menyeka air mata Ning Guang dengan penuh kasih sayang.


Selama ini Ning Guang mengira Fei Chen hanyalah pemuda arogan yang memiliki kekuatan besar dan labil. Sehingga dia berpikir untuk memanfaatkan pemuda itu, namun rasa tanggung jawab Fei Chen saat diberi kepercayaan membuatnya tersanjung.


“Bibi Ning...” Fei Chen terus mengusap air mata yang mengalir di pipi Ning Guang.


“Maaf Chen‘er... Aku menangis bukan karena sedih tetapi aku sangat bahagia...” Ning Guang menyeka air matanya lalu menatap wajah Fei Chen.


‘Aku tidak bisa mundur. Demi pemuda ini aku rela memberikan segalanya. Aku harus menjawab perasannya...’ Ning Guang berjinjit dan mengecup bibir Fei Chen singkat.


“Ini jawabanku untuk perasaanmu itu, Chen‘er...”


Fei Chen tersenyum dan langsung memeluk tubuh Ning Guang erat. Ning Guang membalasnya lebih erat hingga keduanya kembali berciuman sebelum tertawa lirih mengingat kejadian semalam.


“Bibi Ning, aku ingin meresmikan dirimu menjadi Permaisuriku. Aku akan menikahimu dan aku berjanji akan membuatmu bahagia...” Fei Chen menatap penuh makna wajah Ning Guang yang berseri-seri.


“Apa kau bersedia menjadi istriku?”


Ning Guang memeluk Fei Chen dan berkata pelan, “Aku bersedia... Chen‘er...”


“Aku akan menjadi Permaisurimu dan istrimu...”


Ning Guang memejamkan matanya menikmati momen ini sebelum bertanya pada pemuda yang akan menikahi dirinya ini.


“Tetapi apa kau yakin menikahi diriku yang merupakan jandanya Kaisar Ma ini?”


Sengaja Ning Guang menggoda Fei Chen dan membuat pemuda itu mencubit gemas pipinya.


“Jika kau terus menggoda, aku akan melahapmu sekarang juga.”


Ning Guang menantang dan membusungkan dadanya kedepan. Hatinya merasa begitu bahagia melihat Fei Chen menatap dirinya sebagai wanita. Terlebih sekarang Ning Guang merasa dirinya seperti seorang gadis kembali.


“Siapa takut? Coba saja kalau berani...”


Fei Chen hanya mengecup singkat bibir Ning Guang dan berniat pergi ke Lingdu.


“Siapkan dirimu beberapa hari lagi. Aku akan memastikan dirimu tidur di ranjang seharian dan tidak bisa berjalan.” Fei Chen mengatakan itu sebelum membuka segel Portal Teleportasi.


Ning Guang berseri-seri membayangkan bagaimana malam pertamanya dengan Fei Chen.


“Aku menantikannya, sayangku...”