
PPFC 113 - Su Xiulan
“Aku tidak menanyakan namamu. Yang aku tanyakan adalah sosok dirimu itu?” Kang Situ melepaskan tebasan dari kejauhan sambil mengamati pergerakan tenang Fei Chen yang tetap melayang diudara sambil menangkis serangannya.
“Apakah itu penting sekarang?” Fei Chen sendiri sudah hampir kehabisan aura tubuhnya. Sekarang dia menunggu kesempatan untuk membunuh keduanya.
‘Dalam kondisi saat ini aku hanya bisa menggunakan dua jurus Pedang Raja Neraka dan serangan itu harus membunuh keduanya atau aku yang akan mati...’
Fei Chen terus menangkis serangan Kang Situ dari kejauhan sebelum keduanya mempersingkat jarak dan melakukan pertukaran serangan hebat. Berbeda dengan Situ Kang yang memberikan perlawanan sengit, Wu Zhuge terlihat memberikan perlawanan seadanya mengingat serangan terbesarnya dimentahkan Fei Chen secara cuma-cuma.
Tentu saja hal yang dilakukan Fei Chen memengaruhi pertarungan walaupun sebenarnya pertarungan itu dapat dimenangkan Wu Zhuge dan Kang Situ.
Kang Situ berpikir dua kali untuk menggunakan serangan terkuatnya karena mengetahui Fei Chen dapat menyerap serangan terkuat Wu Zhuge.
“Ada apa? Seranganmu lebih lemah dari sebelumnya!” Fei Chen mempercepat permainan pedangnya dan membuat Kang Situ kewalahan.
Fei Chen menggunakan kesempatan tersebut untuk melayangkan serangan penghabisan pada Kang Situ. Keduanya masih bertukar serangan dengan hebat sebelum akhirnya Fei Chen dapat menahan kedua serangan yang datang dari Kang Situ dan Wu Zhuge.
“Saudara Wu! Jangan sia-siakan kesempatan untuk melaporkan kejadian ini pada Tuan Mao!” Kang Situ melepaskan Qi yang tersisa dalam tubuhnya.
“Cih!” Fei Chen sempat berpikir jika keduanya akan bertindak demikian, tetapi dia tidak menyangka benar-benar akan terjadi mengingat stamina keduanya lebih unggul darinya.
“Aku tidak akan membiarkan!”
“Tebasan Beruntun Gemuruh Kilat Halilintar!”
Kang Situ menghadang Fei Chen dan melakukan serangan habis-habisan.
“Saudara Wu!”
Wu Zhuge terkejut dengan tindakan Kang Situ. Melihat Kang Situ bertindak sedemikian rupa membuat Wu Zhuge mengambil kesimpulan jika Fei Chen adalah salah satu dari sembilan orang yang memiliki kemampuan Sembilan Kekacauan Surgawi.
“Jika benar tebakanku maka dia adalah salah satu dari sembilan orang yang memiliki kemampuan Sembilan Kekacauan Surgawi! Kau harus memberitahu hal ini pada Tuan Mao!” Kang Situ berseru lantang sebelum memberikan perlawanan sengit kepada Fei Chen.
“Semoga keberuntungan berada dipihakmu, Saudara Kang-”
Baik Fei Chen ataupun Kang Situ sama-sama terkejut saat melihat kepala Wu Zhuge terlilit selendang berwarna hitam dan hancur.
“Saudara Wu!”
Kang Situ merasakan hawa keberadaan yang pernah dia rasakan dan terasa sangat mengerikan. Sedangkan Fei Chen menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Kang Situ.
“Jurus Pertama Pedang Raja Neraka...”
“Tarian Api Neraka!”
Kang Situ menangkis tebasan Fei Chen walaupun tidak sepenuhnya. Dampak serangan Fei Chen membuat dadanya terbakar di penuhi luka tebasan.
Kembali Fei Chen melayangkan serangan penghabisan untuk mengakhiri nyawa Kang Situ.
“Jurus Ketiga Pedang Raja Neraka...”
“Pemangsa Kehidupan!”
Fei Chen memotong kepala Kang Situ dan mengakhiri pertarungan dengan kemenangan tidak terduga, namun sekarang dirinya benar-benar diambang batas kehabisan aura tubuh dan tenaga dalam.
Fei Chen kembali mengeluarkan Pil Embun Bening dan menelannya. Dia menatap keatas sambil menyerap khasiat Pil Embun Bening.
‘Aku tidak memiliki sisa kekuatan untuk bertarung melawan orang yang membunuh pria itu! Sial! Ini benar-benar kejadian terburuk!’ Fei Chen menoleh melihat selendang berwarna hitam yang melilit tubuh Wu Zhuge dan meremas tubuh pria paruh baya itu hingga hancur tercerai-berai.
Suara seorang wanita terdengar bersamaan dengan terbelah nya awan demi awan diatas Fei Chen. Disana terlihat sosok wanita cantik berambut putih.
“Perjanjianku dengan Burung Beo kurang ajar saat itu membuatku menjadi seperti ini! Dibandingkan dengan orang-orang kasar dan buruk rupa yang memiliki kekuatan Sembilan Kekacauan Surgawi, kau terlihat sangat tampan, kucing manisku.” Wanita itu sekarang sudah berada di hadapan Fei Chen.
‘Siapa dia? Aku sama sekali tidak merasakan hawa keberadaannya walaupun sekarang dia berada dihadapanku.’ Untuk pertama kalinya Fei Chen berkeringat dingin saat pipinya disentuh wanita itu.
Fei Chen kembali kehilangan keberadaan wanita itu dan sekarang wanita itu berada dibelakangnya memeluk tubuhnya. Gigitan kecil bersarang ditelinganya.
“Kucing manisku, kenapa kau diam saja?”
“Tunggu! Siapa kau?!” Fei Chen memutar tubuhnya dan menebas wanita itu hingga tubuhnya terpotong menjadi dua bagian.
Namun beberapa detik kemudian potongan tubuh wanita itu berubah menjadi selendang yang hancur.
“Hihi... Kau sangat kasar!” Wanita itu memukul kepala Fei Chen dan membuat tubuh Fei Chen tidak dapat bergerak.
“Dengar, mulai sekarang kau adalah suamiku. Aku tidak peduli dengan pendapatmu.” Wanita itu menyentuh pipi Fei Chen lalu mencium bibir Fei Chen dan melepaskan Qi serta aura hitam pekat yang mematikan.
Awan menjadi gelap dan suara petir tiba-tiba saling bersahut-sahutan. Yang paling mengejutkan adalah terbelahnya langit menjadi dua bagian.
“Mmmm...” Wanita itu tersenyum manis dan mengecup singkat bibir Fei Chen sebelum melepaskannya cepat, “Kau benar-benar takdirku.”
Fei Chen merasa dirinya tidak akan bisa menang melawan ini bahkan wanita itu adalah orang terkuat yang pernah dia temui.
“Aku akan menjelaskan secara singkat padamu, suami manisku...” Wanita itu kembali tersenyum manis dengan jari telunjuk yang menyentuh bibir Fei Chen.
“Namaku... Su Xiulan. Aku terkena Kutukan Cinta Abadi akibat perjanjian konyolku dengan Burung Beo yang mengaku sebagai Dewi Kematian. Burung Beo itu telah mati karena menyelamatkan diriku dan sekarang aku adalah istrimu.”
“Hah?” Fei Chen mencoba menggerakkan tubuhnya namun dirinya sekarang tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
“Jangan seenaknya memutuskan! Kau istriku? Aku suamimu? Aku tidak akan menerimanya!”
Wanita berambut putih bernama Su Xiulan itu berhenti tersenyum manis lalu menatap dingin Fei Chen.
“Kau tidak berhak memberikan pendapat! Kau cukup menerima takdirmu sebagai suamiku dan melakukan hubungan suami istri denganku agar kutukanku ini terpatahkan. Setelah itu aku bisa bunuh diri dan mati dengan damai agar bisa bertemu Burung Beo sialan itu...”
Su Xiulan menyentuh perut Fei Chen dan turun kebawah lalu meremas sesuatu dengan erat membuat Fei Chen meringis.
“Kutukan? Burung Beo?” Fei Chen hampir tidak percaya dengan perkataan Su Xiulan tetapi takdir wanita berambut putih itu sama seperti dirinya.
“Lepaskan tanganmu darisana! Aku akan menerima tawaranmu tetapi kau harus menerima syarat dariku ini!” Fei Chen mengatakan itu agar Su Xiulan berhenti meremas tubuh bagian bawahnya.
‘Wanita ini berbahaya... Dan mengapa aku selalu terlibat dengan wanita berbahaya?’ Fei Chen menghela nafas panjang dan memikirkan sesuatu.
“Aku ingin kau mengajariku menggunakan Qi dan aku ingin menunda hubungan kita melakukan itu sampai aku membalaskan dendamku.”
Su Xiulan menganggukkan kepalanya mendengar syarat Fei Chen.
“Baiklah, lagipula jika kau berniat melarikan dariku. Tubuhmu akan meledak.” Su Xiulan berbohong saat mengatakan itu dan parahnya Fei Chen justru mempercayainya.
[Su Xiulan, Tubuh Dewi Kematian, Umur 122 Tahun karena Kutukan Cinta Abadi saat berusia 22 Tahun]
[Sumber : Pinterest]