Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 209 - Sudah Tidak Perawan


PPFC 209 - Sudah Tidak Perawan


Sementara itu...


BANG


Suara dentuman teramat keras terdengar memecahkan matahari terbenam. Terlihat Jia Li dan Yin Jinxia tengah dihadang beberapa pendekar Lentera Iblis Tunggal yang mengetahui keberadaan mereka berdua.


“Jangan bunuh kedua gadis itu! Aku yakin tubuh mereka sangat istimewa! Kakakku sedang fokus melakukan penerobosan dan tugas kita adalah menangkap para tikus betina ini!” Terlihat pria yang memegang dua pedang menatap Jia Li dan Yin Jinxia tajam.


Pria itu bernama Sun Zhuo dan merupakan adik dari pemimpin Lentera Iblis Tunggal bernama Sun Ma.


“Jika mereka masih perawan. Maka orang yang mendapat kesuciannya akan mendapatkan banyak keuntungan...” Sun Zhuo mengalirkan tenaga dalam pada kedua bilah pedangnya dan hendak bergerak namun tiba-tiba dia mendengar Jia Li tertawa terbahak-bahak.


“Maaf saja tetapi kami berdua sudah tidak perawan!” ujar Jia Li tanpa rasa malu.


Yin Jinxia menggelengkan kepalanya dan langsung terbang menuju para pendekar yang hendak menyerang Momo.


“Hendak menyerang Momo? Tidak semudah itu! Aku akan membunuh kalian!” Yin Jinxia saat ini terlihat seperti Fei Chen versi wanita. Dimana gadis itu tiba-tiba menyerang dengan agresif dan lincah bahkan kedua matanya tidak berkedip saat membunuh.


“Gadis ini gila!”


“Bukankah dia itu Tuan Putri Yin?! Kenapa bisa sekuat ini? Seharusnya Tuan Putri itu lemah!”


“Sial! Dia seperti julukannya! Ratu Es!”


Para pendekar yang masih terkejut dengan kemampuan Yin Jinxia dibunuh oleh Jia Li. Terlihat Jia Li merasa kesal dengan anggapan para pendekar tersebut.


“Kalian melupakan diriku! Aku juga merupakan Tuan Putri dari Kekaisaran Jia!” Jia Li mengibaskan pedangnya lalu menatap tajam pendekar yang menjaga jarak.


Melihat bagaimana kedua gadis itu bertarung membuat Sun Zhuo tersenyum lebar. Pria itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Jia Li ataupun Yin Jinxia sebelum melepaskan dua tebasan yang dipenuhi petir dan api.


“Lili!” Yin Jinxia berteriak saat merasakan Qi dari tebasan yang dilepaskan Sun Zhuo.


Serpihan es langsung melindungi tubuh Jia Li yang mendapatkan serangan telak dari Sun Zhuo. Ledakan besar itu menciptakan asap yang mencangkup luas lokasi pertempuran mereka.


“Hampir saja... Terimakasih Xiaxia,” ucap Jia Li sambil mengibaskan pedangnya dan melepaskan Qi berjumlah besar.


“Apa kau tidak menyadarinya? Jangan gegabah Lili!” tegur Yin Jinxia mengingat kemampuan Sun Zhuo terlihat berbeda dari pendekar Lentera Iblis Tunggal yang selama ini dia temui.


Jia Li juga menyadari jika Sun Zhuo mengeluarkan Qi dari tubuhnya dan berkata “Xiaxia, maafkan aku. Aku tidak akan gegabah lagi.”


Terlihat Jia Li memejamkan matanya dan menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


‘Sepertinya dia sudah menyadarinya...’ Yin Jinxia membatin sebelum menciptakan beberapa tombak es.


“Kalian juga bisa menggunakan Qi. Sepertinya memang benar jika Kaisar Ma itu adalah sosok baru yang dimaksud beliau.” Sun Zhuo tersenyum lebar lalu menyambut tombak es yang Yin Jinxia ciptakan.


Yin Jinxia maju begitu juga dengan Sun Zhuo. Kali ini Yin Jinxia berinisiatif menyerang secara langsung dan berniat mengetahui sejauh mana kekuatan Sun Zhuo.


Yin Jinxia dan Sun Zhuo melakukan pertukaran serangan dalam waktu singkat sebelum Jia Li datang melepaskan satu tebasan yang mematikan.


“Benar-benar pengganggu!” Sun Zhuo melihat dadanya tertebas namun anehnya tidak ada darah yang keluar dari tubuhnya. Hanya asap berwarna emas semacam aura tubuh.


“Aku sangat yakin sudah menebas dadanya.” Jia Li mengibaskan pedangnya dan menatap tajam Sun Zhuo yang terlihat menatap dirinya penuh amarah.


“Ya, aku juga sudah melihatnya dengan jelas.” Yin Jinxia bisa merasakan energi kehidupan dari tubuh Sun Zhuo. Untuk sesaat Yin Jinxia berpikir jika Sun Zhuo di hadapannya adalah tubuh bayangan.


“Beraninya kalian melukai tubuh yang diciptakan kakakku!” Sun Zhuo berteriak keras dan suaranya seperti auman hewan buas.


Jia Li dan Yin Jinxia mendapatkan serangan cepat dari Sun Zhuo. Kedua gadis itu terkapar ditanah dalam seketika saat tubuh Sun Zhuo dipenuhi petir.


‘Aku sudah menangkisnya tetapi serangannya membuatku terkapar seperti ini...’ Yin Jinxia membatin dan langsung mengambil kuda-kuda saat Sun Zhuo mendekat.


Segera Yin Jinxia menyambut serangan Sun Zhuo dan terus menggunakan Nadi Es untuk menekan Sun Zhuo.


Walaupun kaki dan tangannya dibekukan, tetapi kecepatan Sun Zhuo melebihi Yin Jinxia. Selain itu Sun Zhuo menggunakan dua elemen yakni api dan petir.


Hanya dalam hitungan detik, Yin Jinxia terdesak. Pertarungan itu membuat Yin Jinxia memaksa menggunakan Qi lebih besar dari sebelumnya.


Mata Yin Jinxia melirik kearah Jia Li yang sedang bersiap melancarkan serangan dadakan. Namun tak lama suara tawa Sun Zhuo menggelegar.


“Sekuat apapun dirimu, aku tetap bisa membunuhmu!” Jia Li tersenyum tipis dan membuat Sun Zhuo merasakan firasat buruk saat tubuh Jia Li dipenuhi Qi yang langsung memenuhi pedangnya.


“Ilmu Dewi Pedang...”


Mata Sun Zhuo melebar saat mengetahui Yin Jinxia melakukan hal yang tidak terduga. Kedua tangannya dan kedua kakinya membeku, Sun Zhuo merasakan dirinya di cengkeraman sangat erat hingga membuatnya memekik.


“Keparat! Aku tidak akan membiarkan kalian mengakhiri diriku!”


Yin Jinxia tersenyum tipis, “Nadi Es — Cengkeraman Naga Es!”


Sementara Yin Jinxia berhasil membuat Sun Zhuo tidak dapat menggerakkan tubuhnya, Jia Li sudah melepaskan satu tebasan mematikan.


“Teknik Hasrat Kematian — Kelembutan Surgawi!”


Jia Li mengayunkan pedangnya memotong tubuh Sun Zhuo menjadi dua bagian. Sama sekali tidak ada darah yang keluar dari tubuh Sun Zhuo saat tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.


“Aku bersumpah akan membunuhmu! Kau tidak akan bisa membunuhku! Lihat saja yang terakhir tertawa adalah aku!”


Jia Li tersentak kaget begitu juga dengan Yin Jinxia saat tubuh Sun Zhuo terhempas kebawah namun secara tiba-tiba kedua tubuhnya menyatu kembali secara perlahan.


Jia Li yang merasa jijik memotong leher Sun Zhuo dan seketika tubuh Sun Zhuo langsung lenyap tak berbekas.


Hanya asap berwarna emas yang langsung terbang ke udara dan menuju ke suatu tempat. Kematian Sun Zhuo ini jelas menimbulkan sejuta pertanyaan dibenak Jia Li dan Yin Jinxia.


“Ini aneh, sama sekali tidak ada darah dan asap berwarna emas itu adalah aura tubuh yang mengandung energi kehidupan.” ujar Jia Li lalu menghela nafas panjang karena merasa ada kejanggalan.


“Xiaxia, apa menurutmu yang mereka panggil beliau adalah Gao Lu Ma?” Jia Li bertanya kepada Yin Jinxia yang sedang merasakan hawa keberadaan orang di sekitar mereka.


“Aku tidak mengetahuinya secara pasti, tetapi aku merasa khawatir dengan ucapannya.” Yin Jinxia menghela nafas panjang karena kematian Sun Zhuo menimbulkan sejumlah pertanyaan.


“Dia menyinggung tentang Chen‘gege...” Yin Jinxia melanjutkan.


"Lili, jika kita terus berjalan, maka kita akan bertemu dengan Chen‘gege. Lebih baik kita menanyakan hal ini padanya.” Yin Jinxia sudah menganggap Fei Chen sebagai tujuan hidupnya semenjak bertemu di Lembah Naga.


Mengetahui Fei Chen berpengetahuan luas membuat Yin Jinxia ingin mengetahui banyak hal dari pemuda itu.


Jia Li melompat ke punggung Xixi disusul Yin Jinxia yang melompat ke punggung Momo. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Lembah Sunyi.


Yin Jinxia ataupun Jia Li tidak mengetahui jika malam ini Fei Chen sedang berada di Gunung Menangis dan akan melakukan ritual penyembuhan terhadap Murong Liuyu.


“Selamat datang Yang Mulia...” Dua dayang menyambut kedatangan Fei Chen. Terlihat keduanya telah merias diri menjadi lebih cantik karena teringat akan perkataan Fei Chen.


“Kalian berdua bantu istriku ini untuk mandi dan merias diri. Dia sedang sakit, jadi aku ingin kalian membantunya,” ujar Fei Chen pada kedua dayang.


“Gunakan air yang telah aku ramu dikamar yang biasa digunakan Xiu‘er.” Fei Chen melanjutkan.


“Xiu‘er?” Kedua dayang terlihat bingung.


“Istri pertamaku.”


Mendengar jawaban Fei Chen membuat kedua dayang mengerti.


“Oh, Nyonya Su.”


“Istri? Bocah sialan-” Mulut Murong Liuyu disentuh jari telunjuk Fei Chen sebelum gadis itu berteriak lebih jauh.


“Diam. Saat ini kau turuti saja perkataanku. Semua ini demi kebaikanmu.” Fei Chen terlihat tidak sedang bercanda dan Murong Liuyu hanya pasrah saat dirinya dituntun kedua dayang untuk membersihkan diri.


“Yang Mulia, apa yang akan anda lakukan bersama istri anda?” Salah satu dayang bertanya.


Fei Chen menoleh dengan tatapan biasanya yang terlihat tidak peduli dan terkesan dingin.


“Untuk apa bertanya? Bukankah sudah jelas, kami akan melakukan malam pertama.”


Dayang tersebut terdiam mendengar jawaban Fei Chen, sementara itu Fei Chen sudah melepaskan pakaian atasnya dan berjalan menuju Kolam Siksa Petir.


“Ada empat wanita yang seharusnya bisa menerima darah dan kekuatanku. Senior Murong, kau salah satunya,” ucap Fei Chen sambil tersenyum tipis memasuki Kolam Siksa Petir.