Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 137 - Rencana Fei Chen Dan Yin Jinxia


PPFC 137 - Rencana Fei Chen Dan Yin Jinxia


“Jadi pemuda itu adalah Fei Chen? Aku benar-benar tidak menyangka jika dia memiliki paras yang begitu tampan...” Song Bei berbisik pada Song Kang setelah mengetahui identitas ketiga orang yang datang.


Song Kang sendiri mencoba mengukur kemampuan Fei Chen namun pria itu sama sekali tidak bisa mengukurnya.


“Kakak Bei, bukankah dia satu generasi dengan Han‘er? Kemampuannya tidak bisa kuukur... Aku merasa dirinya itu sangat berbahaya.” Song Kang begitu waspada akan kehadiran Fei Chen yang sedang mengobrol dengan Yin Jinxia.


Akhirnya Yin Jinxia dan Fei Chen pergi menuju hutan berdua disusul oleh Su Xiulan dan San Zhu.


“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, Saudara Fei. Tetapi aku ingin mengatakan hal yang telah kupendam selama beberapa tahun ini...”


Setelah cukup jauh dari lokasi perkemahan pasukan militer Kekaisaran Yin, akhirnya Yin Jinxia memulai obrolan serius dengan Fei Chen.


Su Xiulan dan San Zhu yang cukup jauh mengikuti keduanya bisa mendengar apa yang dikatakan Yin Jinxia. Berbeda dengan San Zhu yang tersenyum sinis, Su Xiulan justru penasaran akan apa yang dikatakan Yin Jinxia selanjutnya.


“Sudah pasti Tuan Putri Yin itu akan mengungkapkan perasaannya. Kasihan sekali dirimu Su Xiulan...” San Zhu tertawa sinis mengejek Su Xiulan.


“Diam, San Zhu. Aku yakin gadis itu akan mengungkapkan perasaannya yang selama ini terpendam. Aku merasa kasihan padanya karena jika Suamiku menerima perasaannya, dia tetap akan menjadi yang kedua, itu saja belum pasti bisa saja dia menjadi yang kesebelas... Hihihu... Dan aku tetap menjadi yang pertama.”


San Zhu mengerutkan keningnya menatap aneh Su Xiulan, “Sebenarnya apa yang kau katakan Su Xiulan? Apa Bocah Fei memiliki kondisi sepertimu...”


Su Xiulan menyuruh San Zhu berhenti berbicara, “Aku akan menjelaskannya padamu...”


Disisi lain Yin Jinxia dan Fei Chen masih mengobrol berdua hingga akhirnya Yin Jinxia mengatakan hal yang selama ini dia pendam.


“Saudara Fei, terimakasih karena telah menyelamatkan diriku. Aku ingin mengatakan ini tetapi saat itu aku merasa kita begitu jauh. Dan setelah mendengar kabar kematianmu, aku menjadi syok seolah-olah kehilangan tujuan dan memiliki penyesalan...”


Yin Jinxia malu saat mengatakan ini namun dia harus menahannya karena kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Selain itu dia merasa Fei Chen akan pergi jauh jika dirinya tidak mengatakan ini sekarang juga.


“Aku menjadikanmu sebagai tujuanku untuk terus bertambah kuat. Aku ingin mengalahkanmu dan melampauimu. Berkat dirimu aku bisa menjadi seperti sekarang. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih padamu Saudara Fei.” Yin Jinxia membungkuk setelah mengatakan semuanya.


Fei Chen tersenyum tipis dan mengetahui kemampuan Yin Jinxia yang meningkat drastis selama beberapa tahun belakangan ini.


Yin Jinxia dikenal sebagai Ratu Es karena kemampuan khususnya dalam mengendalikan unsur es. Selain dingin dan terlihat sulit didekati, Yin Jinxia mengukir namanya sebagai orang pertama dari keluarga Yin yang menjadi pendekar hebat dan diakui dunia persilatan Kekaisaran Yin.


“Tuan Putri, aku akan memberitahu mengenai yang terjadi di Kekaisaran Ma padamu...”


Fei Chen menceritakan kepada Yin Jinxia tentang apa yang terjadi di Kekaisaran Ma. Dimulai dari rencana Ma Zhangsun yang berhasil membantai seluruh keluarga Fei dan menguasai Hutan Berlian sampai rencana untuk menguasai Benua Tujuh Bintang.


“Dan kau menggagalkan rencana yang dibuat Ma Zhangsun selama puluhan tahun dalam semalam?” Yin Jinxia menggelengkan kepalanya tidak percaya.


“Mulai dari sini aku akan memutuskannya. Mungkin terdengar seenaknya karena aku menjadi Kaisar Ma tetapi aku justru berkelana seperti ini. Bagaimanapun aku akan memburu semua anggota Sekte Iblis Buas dan mengakhirinya.”


Fei Chen yang sekarang sudah tidak bisa dijangkau oleh Yin Jinxia. Terlebih perkataan penuh tekad dari pemuda itu membuat Yin Jinxia tergugah hatinya.


“Saudara Fei... Apa kau sudah mendengar kabar tentang Gurumu?” Yin Jinxia baru mengingat jika situasi dunia persilatan Kekaisaran Yin sedang tidak stabil.


“Lembah Pedang sekarang dibawah lindungan Ayahku. Peperangan antara Lembah Naga dan Lembah Persik belum berakhir bahkan mungkin dalam beberapa hari ini adalah puncaknya...” Yin Jinxia terlihat sedih saat mengatakan itu.


“Aku tidak percaya semuanya menjadi seperti ini...” Sambung Yin Jinxia.


Fei Chen tersenyum pahit dan bertanya, “Bagaimana kondisi Guruku?”


Yin Jinxia terlihat sulit untuk menjawab, “Dia dalam kondisi memprihatinkan. Kakek Lao lumpuh, selain itu dia selalu mabuk-mabukan dan membuat Bibi Luo sedih.”


“Dan kau mengenal Tian Zhou bukan? Dia juga berjuang untuk menyelamatkan Ibunya yang menghilang.”


Fei Chen memejamkan matanya dan menyembunyikan tatapan dinginnya dari Yin Jinxia. Sekarang dirinya diselimuti amarah yang luar biasa.


“Kekacauan ini semakin membesar.”


Fei Chen membuka matanya pelan-pelan sebelum menatap Yin Jinxia tajam, “Tuan Putri, aku butuh bantuanmu...”


“Jangan memanggilku Tuan Putri, Saudara Fei. Rasanya aneh selain itu aku akan membantumu sebagai bentuk balas budiku.” Yin Jinxia menjawab sambil mencoba untuk tersenyum hangat.


“Aku tidak pamrih.” Fei Chen menggaruk kepalanya karena mengetahui sifat Yin Jinxia ini.


“Setelah ini aku akan pergi menuju markas Sekte Iblis Buas dan aku ingin kau melakukan sesuatu untukku...”


Fei Chen membisikkan sesuatu pada Yin Jinxia dan membuat mata Yin Jinxia melebar.


“Apa itu benar Saudara Fei? Jika mereka adalah dalang semua ini maka ini akan menjadi berita yang besar dan aku akan memberitahu keadaan Lili padamu...”


Yin Jinxia memberitahu bahwa Jia Li telah berada dalam pengawasan Istana Mawar Biru. Berbeda dengan Yin Jinxia yang mengalami perkembangan pesat di dunia persilatan, Jia Li justru mengurung diri dan terlihat frustasi karena kepergian Fei Chen.


“Aku akan menemui mereka semua...” Fei Chen merasa lega mengetahui Jia Li tidak berada dalam genggaman Sekte Seribu Pedang, “Terimakasih, Tuan Putri karena telah memberitahuku mengenai kondisi Lili...”