
PPFC 227 - Senior Hua
“Chen, ada apa? Kenapa diam saja?”
“Kau mengerutkan alismu berulang kali.”
“Apa hubunganmu dengan Luo Rou?”
Hua Ying terus bertanya dan membuat Fei Chen mengusap wajahnya secara kasar. Gadis itu mengesampingkan rasa sakitnya dan berpura-pura terlihat baik-baik saja.
“Berhenti bertanya! Apa kau tidak sadar dirimu ini sangat menyebalkan? Jangan lupa jika kau pernah membuatku kesal dimasa lalu!” Fei Chen dengan tegas berkata sambil menatap Hua Ying dingin.
“Aku tidak mengingatnya.” Hua Ying bersiul dan memalingkan wajahnya.
“Berhenti melakukan tindakan bodoh. Racun didalam tubuhmu menyebar dengan cepat. Apa yang akan kau lakukan?”
Hua Ying menjelaskan kepada Fei Chen jika dirinya tidak ingin mati sebelum membalaskan kematian kedua Seniornya yang mati ditangan Mao Gang.
“Sebenarnya banyak yang ingin aku lakukan. Membalaskan kematian Ibu dan Ayahku termasuk dalam keinginanku, tetapi kau sudah melakukannya. Jadi sebelum mati aku ingin mengucapkan terimakasih padamu.”
Hua Ying tersenyum manis namun tubuhnya dipenuhi sejuta ketakutan akan kematian. Tiba-tiba gadis itu lunglai dan ambruk kepelukan Fei Chen.
“Apa kau berpura-pura?” Tanya Fei Chen sambil menahan tubuh Hua Ying.
“Kau tidak percaya padaku sama sekali...” Hua Ying tersenyum lemah karena Fei Chen tetap bersikap dingin padanya.
“Tentu saja tidak,” jawab Fei Chen singkat.
“Apa kau ingin tetap hidup?” Kembali Fei Chen bertanya.
“Apa kau bisa menyembuhkanku seperti dulu?” Hua Ying penuh harap jika Fei Chen dapat menyembuhkan dirinya seperti dulu lagi.
“Ya, aku bisa menyembuhkanmu dan menghancurkanmu sekaligus.” Fei Chen membalas dengan senyuman dingin yang terlihat sekilas.
“Aku berjanji tidak akan menipumu lagi... Chen...” Hua Ying memeluk tubuh Fei Chen dan berbisik pelan, “Jika kau ingin aku menjadi istrimu, aku siap menerimanya Chen. Aku bersedia melakukan apa saja. Lagipula hanya wanita bodoh yang tidak tertarik dengan pria tampan sepertimu... Selain itu kau telah melihat tubuhku dimasa lalu dan kau harus bertanggung jawab.”
“Kenapa diam?” Hua Ying bertanya karena melihat Fei Chen tersenyum tipis dan terdiam.
“Saat darah didalam tubuhku terasa bergejolak, aku bisa memastikan jika kau memiliki perasaan tulus kepadaku. Seperti wanita-wanitaku, aku bisa mengetahuinya melalui itu.” Lalu Fei Chen menjentikkan jarinya hendak menggunakan Portal Teleportasi.
“Apa yang kau lakukan Chen?”
“Tidak ada, lebih baik kau mandi. Aku akan menunggu dikamar yang ada di lantai teratas.” Fei Chen langsung pergi meninggalkan Hua Ying dan menuju kamar yang berada di lantai teratas.
Hua Ying tersenyum tipis dan berniat akan menipu Fei Chen kembali karena menurutnya bocah naif yang dulu dia tipu tidak akan berani melakukan tindakan sejauh itu.
Sementara itu Guan Ai membawa Ji Xiuha dan Ji Ho ke kediamannya. Guan Ai membicarakan masalah serius dengan Ji Xiuha tentang perasaannya kepada Fei Chen.
Wanita paruh baya itu menyadari Fei Chen lebih pantas menjadi anaknya dan status Fei Chen sangat terpandang, namun Guan Ai tidak dapat kabur dari gejolan cinta yang menerpa dirinya.
____
Penginapan Bulan Madu, Kota Huafei, Kekaisaran Yin.
Terlihat seorang gadis bergerak lemah diatas pangkuan seorang pemuda sebelum akhirnya gadis tersebut mengerang hebat dan ambruk menimpa tubuh pemuda dibawahnya.
Tidak pernah sekalipun Hua Ying sangka jika sosok Fei Chen sudahlah berbeda. Bocah naif yang dulu ditipu olehnya menghancurkan semua siasatnya. Memang Hua Ying memiliki perasaan kepada Fei Chen, tetapi gadis itu berniat meninggalkan Fei Chen untuk kedua kalinya.
Namun setelah Fei Chen mengambil mahkotanya yang paling berharga atas izinnya, Hua Ying tidak akan bisa pergi meninggalkan Fei Chen terlebih setelah mengetahui apa saja keuntungan yang dirinya dapatkan dengan melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Fei Chen.
“Apa kau sudah lelah?” Fei Chen bertanya dan membalikkan tubuh Hua Ying sehingga sekarang gadis itu tidur menyamping.
Fei Chen mengangkat salah satu kaki Hua Ying sambil berbisik mesra, “Ying‘er, aku ingin lagi...”
“Chen‘gege... Istirahat sebentar. Kau membuat tubuhku kram.” Hua Ying lemas menjawab dan hanya pasrah saat Fei Chen menggerakkan tubuhnya.
“Emmmm... Aaaah...”
Dominasi Fei Chen membuat Hua Ying hampir pingsan namun gadis itu merasakan energi yang meluap dalam tubuhnya saat Fei Chen melakukan pelepasan didalam.
Saat pagi tiba Fei Chen sudah bersiap pergi menuju Benteng Lembah Pedang. Kepergiannya ini membuat Guan Ai dan Ji Xiuha bertanya-tanya karena Hua Ying masih tertidur pulas didalam kamar.
Fei Chen mengalihkan pembicaraan dan meminta Guan Ai dan Ji Xiuha untuk tidak melakukan tindakan gegabah. Selain itu Fei Chen memberitahu sesuatu kepada mereka berdua tentang rencananya menghancurkan Menteri Song Zhein.
“Ying‘er, aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik dan jangan lupa pelajari semuanya. Mulai saat ini kau adalah wanitaku, aku akan bertanggung jawab...” Fei Chen mengecup kening Hua Ying sebelum pergi meninggalkan Penginapan Bulan Madu.
Sedangkan Hua Ying tersenyum lemas mengingat pergumulan semalam. Saat ini Hua Ying merasakan tulang dalam tubuhnya seperti terlepas dan rasa nyeri serta kram dicelah pahanya begitu terasa.