
PPFC 374 - Akhir Perang
Aura mengerikan yang muncul setelah musnahnya Sun Yelong adalah kehadiran Baju Naga Sesat yang memiliki niat untuk menjadikan Fei Chen sebagai tubuhnya.
“Aku merasa tersanjung jika kau tertarik padaku. Tetapi kau yang telah merenggut nyawa Sun Yelong. Ini akan menggemparkan dunia dan aku rasa kau tidak bisa berbuat lebih jauh.” Fei Chen sendiri sudah mempelajari Segel Langit dan menunggu waktu untuk menggunakannya.
Aura mengerikan itu tiba-tiba mengarah pada Fei Chen dan secara perlahan membentuk wujud Naga yang langsung menelan Fei Chen. Mengira berhasil menaklukkan Fei Chen, Baju Naga Sesat justru dikejutkan dengan aura yang dimiliki Fei Chen.
“Tidak mudah untuk mengambil alih tubuhku. Aku mengenal Dewa Naga dan sampai sekarang aku masih mengingatnya...” Fei Chen tersenyum kecut saat merasakan kemarahan yang luar biasa dari Baju Naga Sesat.
“Aku akan membalaskan perbuatan murid bodohmu itu! Dan aku akan menjaga keseimbangan dunia ini dengan caraku!” Fei Chen melepaskan aura yang lebih besar dari sebelumnya.
Hingga kedua mata Fei Chen mengeluarkan darah dan matanya juga berubah menjadi hitam pekat. Tak lama Fei Chen mengarahkan telapak tangan kanannya pada aura mengerikan yang tidak lain adalah Baju Naga Sesat.
“Segel Langit!” Seketika aura itu seperti terhisap ke dalam telapak tangan Fei Chen dan lenyap.
Namun yang sebenarnya terjadi adalah Fei Chen mengambil semua kemarahan Baju Naga Sesat menjadi bagian dirinya dan berniat menggunakan kekuatan ini.
“Apa dengan ini aku bisa berubah menjadi Naga-” Sebelum Fei Chen menyelesaikan perkataannya, tubuhnya terasa lemah dan tidak bertenaga.
Fei Chen terhempas kebawah dengan kecepatan tinggi. Dengan sia-sia kesadarannya Fei Chen menyadari bahwa Mao Ruyue yang menghisap semua kekuatan Baju Naga Sesat.
“Yue‘er...”
‘Gege... Aku ingin bangkit. Dengan semua Qi milikmu yang telah kau dapatkan dari Baju Naga Sesat, kau dapat membangkitkan diriku...’ jelas Mao Ruyue melalui telepati.
Fei Chen tersenyum dan berkata, “Kalau begitu bangkitlah, Yue‘er...”
Setelah itu Fei Chen tidak sadarkan diri dan tidak melihat apa yang terjadi pada dirinya saat pulau yang bernama Onigawara menghilang dari dunia.
Sebuah portal tercipta dan memperlihatkan dua orang wanita yang menyelamatkan tubuh Fei Chen. Keduanya membawa Fei Chen ke udara dan menyaksikan bagaimana sosok Mao Ruyue yang bangkit dan muncul dihadapan mereka.
“Manusia, apa kau mengenalku?” Sosok cantik dengan tatapan dingin dan keji tersenyum menatap Su Xiulan. Dia adalah Mao Ruyue.
“Kau... Kau adalah Iblis! Apa yang kau lakukan pada tubuh Suamiku?!” Su Xiulan menatap dingin Mao Ruyue dan melepaskan aura kematian dalam jumlah besar.
Mao Ruyue tersenyum dan memegang pundak Su Xiulan hingga aura mengerikan itu lenyap dengan sendirinya.
“Apa yang kau lakukan?” Su Xiulan bertanya.
“Tenang, Xiuxiu. Dia sama sekali tidak memiliki niat jahat.” Ying Xie mengingatkan Su Xiulan.
Mao Ruyue pun menatap Ying Xie dan memperhatikan tubuh wanita itu, “Bocah yang diberkati. Kau memiliki Tubuh Dewi Kematian bukan? Apa kau juga termasuk istrinya Gege?”
“Gege?” Su Xiulan mengerutkan keningnya.
“Tunggu urusan kita belum selesai! Kau sudah membuatku menderita! Lalu apa maksudmu mengatakan Gege?!” Su Xiulan mencekik leher Mao Ruyue dan berniat menghancurkannya.
“Jangan salah paham, roh yang tersesat. Chen‘er adalah muridku.” Ying Xie menjelaskan.
Kemudian Mao Ruyue memegang tangan Su Xiulan dan melepaskannya, “Apa kau berniat membunuhku?”
‘Justru kau yang dapat membunuh kami!’ Su Xiulan mengumpat dalam hati.
“Manusia, aku merasa bersalah atas semua yang terjadi padamu. Tetapi berkat semua itu, kita berdua dituntun pada Gege bukan? Mulai saat ini aku yang akan melindungimu.” Mao Ruyue mengelus kepala Su Xiulan layaknya seorang Ibu kepada anaknya.
“Daripada itu lebih baik kita segera pergi dari sini. Aku sudah menyuruh orang kepercayaanku melakukan sesuatu setelah perang ini berakhir.” Ying Xie berkata sambil memeriksa denyut nadi Fei Chen.
“Bisa kau ceritakan pada kami apa yang terjadi pada Sun Yelong dan Mao Gang?” Lalu Ying Xie menatap Mao Ruyue.
Mao Ruyue mengangguk pelan sebelum mereka bertiga pergi menuju suatu tempat menggunakan portal.