Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 142 - Kondisi Feng Lao


OPENING ARC 6 - LAHIRNYA RAJA KEMATIAN


PPFC 142 - Kondisi Feng Lao


Kabar mengenai pergejolakan hebat yang terjadi di Kekaisaran Ma menyebar dengan cepat saat Yin Jinxia menarik mundur pasukan militer Kekaisaran Yin. Berita tersebar melalui mulut ke mulut dari para prajurit Kekaisaran Yin yang telah berkemah di perbatasan antara Kekaisaran Yin dan Kekaisaran Ma selama sebulan lebih.


Ditengah hebohnya berita tersebut yang paling terkejut mendengar ini adalah Luo Rou karena nama Fei Chen tidak asing dan wanita yakin jika tidak ada orang bernama Fei Chen selain bocah yang dulu dia rawat.


“Chen‘er sudah mati dan Li‘er sudah pergi... Jangan terbawa suasana karena berita semata, Rou‘er...”


Terlihat kakek sepuh yang begitu kurus sedang meminum arak dengan sejumlah guci yang berserakan tidak karuan. Kakek sepuh ini tidak lain adalah Feng Lao.


Kondisi Feng Lao sangat memperihatinkan dan itu membuat Luo Rou turut sedih. Luo Rou yang paling mengetahui bagaimana sikap Feng Lao saat kehilangan anaknya yang bernama Feng Xinrui.


“Berhenti mabuk dan coba melihat kenyataan!” Luo Rou sudah menahan diri sejak dulu tetapi melihat betapa rapuhnya Feng Lao selama beberapa tahun terakhir membuat wanita itu terus memarahi Feng Lao dengan harapan kakek tua itu sadar.


Feng Lao mabuk dan tersenyum pahit, “Aku gagal melindungi siapapun... Anakku, kedua muridku bahkan banyak rekanku yang tewas karena mengikuti perintah gilaku...”


Feng Lao tertawa cekikikan sambil mengambil guci lainnya, “Aku pantas mati!” Mengetahui guci yang dia ambil telah habis isinya membuat Feng Lao membantingnya dengan keras.


‘Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Chen‘er... Apa benar orang bernama Fei Chen itu adalah dirimu?’ Luo Rou pergi meninggalkan Feng Lao yang mabuk dan menatap langit.


Ketika Luo Rou pergi keluar untuk melihat suasana Lembah Pedang yang sekarang seperti desa kecil, sejumlah penduduk nampak ramai berada di gerbang sekte karena kedatangan sosok penting yakni Yin Jinxia.


Dengan ditemani Song Bei dan Song Kang, Yin Jinxia datang ke Lembah Pedang karena mengikuti permohonan Fei Chen.


“Tuan Putri, ada apa berkunjung kemari? Mampirlah ke toko kami, kami membuat banyak cemilan manis.”


“Tuan Putri, anda sangat cantik seperti biasanya.”


Yin Jinxia hanya melambaikan tangan mendengar ucapan para penduduk Lembah Pedang. Setelah sampai di sebuah kediaman kuno milik Luo Rou, gadis cantik itu menyuruh Song Bei dan Song Kang agar tidak mengikutinya.


“Tetapi Tuan Putri-” Song Bei nampak ragu dan membuat Yin Jinxia menatap tajam pria tersebut.


“Kalian terlalu mengikuti perintah Ayahanda! Aku ini lebih kuat dari kalian! Lagipula aku bukan bocah manja seperti dulu lagi!” Mendengar ucapan Yin Jinxia membuat Song Bei dan Song Kang menundukkan kepalanya.


Melihat itu Yin Jinxia menghela nafas, “Baguslah jika kalian mengerti. Tetap disini dan jangan melakukan hal aneh saat aku pergi.”


Setelah memberikan peringatan pada Song Bei dan Song Kang, segera Yin Jinxia mengetuk pintu dan tak lama seorang wanita berumur empat puluh tahun dan masih terlihat cantik itu membuka pintu kediaman.


“Siapa yang datang pagi-pagi begini? Ah, ternyata dirimu Tuan Putri Yin?” Wanita yang tidak lain adalah Luo Rou terkejut melihat kedatangan Yin Jinxia.


Yin Jinxia tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya, “Bibi Luo lama tidak berjumpa.”


Setelah itu keduanya duduk di teras penginapan dan memulai obrolan ringan mereka membahas masalah Yin Jinxia yang selalu mencari keberadaan sosok Fei Chen.


“Andai saja Li‘er disini, mungkin kalian berdua akan menjadi rival yang lucu karena memperebutkan Chen‘er.” Luo Rou tiba-tiba tersenyum kecut saat mengingat Jia Li.


Bagaimanapun Jia Li sudah bagaikan anak kandungnya walaupun Luo Rou belum pernah menikah ataupun memiliki seorang anak, begitu juga dengan Fei Chen.


Melihat ekspresi sedih Luo Rou membuat Yin Jinxia sulit untuk memberitahu mengenai kabar Fei Chen. Butuh waktu bagi Yin Jinxia setelah melihat Luo Rou tenang.


Luo Rou menoleh dan menatap Yin Jinxia serius, “Kabar baik? Apa itu?” Bertanya Luo Rou karena penasaran.


“Fei Chen yang bertemu denganku adalah Fei Chen yang selama ini kita kenal. Dia mengatakan padaku bahwa dia sangat senang karena telah dirawat oleh wanita sepertimu. Baginya kau adalah sosok pengganti Ibunya.”


Mendengar itu membuat kedua mata Luo Rou berair, “Tuan Putri, jangan bercanda! Aku akan marah jika kau bercanda!”


“Bibi Luo, apa wajahku ini kelihatan sedang bercanda?” Yin Jinxia menatap serius Luo Rou dan membuat wanita itu menangis.


“Chen‘er...” Luo Rou merasa sangat bahagia karena mengetahui Fei Chen masih hidup.


“Baiklah Bibi Luo, aku ada urusan dan sudah saatnya aku pergi.” Yin Jinxia masih mengingat tugas yang diberikan Fei Chen padanya.


Mungkin karena perasaannya, Yin Jinxia mengikuti permintaan Fei Chen padanya.


“Secepat ini? Sebaiknya kau menginap disini beberapa hari.” Luo Rou memegang pundak Yin Jinxia.


“Tidak Bibi Luo. Sebaiknya kau bersiap menyambut kedatangan Fei Chen. Aku akan pergi menuju Lembah Naga. Ada sesuatu yang harus kupastikan disana.”


“Lembah Naga?” Luo Rou terlihat panik karena bagaimanapun situasai di Lembah Naga bisa dibilang dipenuhi kekacauan karena menjadi medan perang pendekar Lembah Naga dan Lembah Persik.


“Bibi Luo tidak perlu khawatir...” Yin Jinxia tersenyum hangat sebelum menambahkan, “Ada pesan dari Saudara Fei pada Kakek Lao...”


Yin Jinxia membisikkan sesuatu pada Luo Rou sebelum pergi meninggalkan Lembah Pedang. Kemudian Luo Rou kembali mendatangi Feng Lao.


“Apa tadi Tuan Putri datang kemari?” Feng Lao bertanya karena sempat mendengar suara tawa Yin Jinxia dan Luo Rou walaupun hanya sesaat.


“Itu benar dan dia datang membawa pesan dari Chen‘er untukmu-”


Sebelum Luo Rou menyelesaikan perkataannya, Feng Lao membanting guci dan berteriak keras.


“Berisik! Masih saja kau menyebut namanya! Dia sudah pergi! Dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh orang sampah sepertiku!”


Feng Lao sudah putus asa terlebih tubuhnya sudah diambang batas karena titik meridiannya yang lumpuh.


“Pasti itu hanyalah bualannya Tuan Putri! Kau jangan mempercayainya dengan mudah!”


Feng Lao mencengkeram erat lutut kakinya lalu kembali meneguk arak, sedangkan Luo Rou berekspesi sedih.


“Tolong maafkan muridmu yang tidak mengetahui kondisimu dan terimakasih telah mengangkatku sebagai muridmu...” Sebelum pergi Luo Rou menambahkan, “Itu pesan yang Chen‘er sampaikan padamu...”


Setelah pintu ruangannya tertutup rapat, Feng Lao mengambil guci arak saat wajah Fei Chen kecil terbayang didalam ingatannya.


‘Murid tidak akan mengecewakan Guru...’ Sebuah kata-kata terakhir Fei Chen yang terngiang di telinganya itu membuat Feng Lao meneteskan air mata.


Itu adalah kata-kata sebelum Fei Chen pergi meninggalkan Lembah Pedang menuju Lembah Naga untuk mengikuti Turnamen Harimau Yin.


Mulut Feng Lao terbuka lebar namun tidak ada setetes pun arak yang keluar dari guci. Lalu Feng Lao membanting guci arak tersebut sambil mencengkeram erat kedua lututnya.


“Chen‘er... Apa benar kau masih hidup Nak?”