
PPFC 330 - Kemarahan Fei Chen
Tanpa senyuman dibalik topengnya, Fei Chen bergerak dengan kecepatan tinggi menuju Kota Hinogawa. Tidak butuh waktu lama untuk Fei Chen sampai kesana setelah menggunakan banyak Qi miliknya.
Detak jantung memainkan melodi kemarahan yang luar biasa. Tatapan matanya tajam menatap gerbang kota yang dijaga ketat, terlihat banyaknya tubuh bergelimpangan yang sedang diarak keliling kota.
Fei Chen turun di depan gerbang kota dan dihadang puluhan samurai yang berjaga. Semua orang menatapnya tajam karena Fei Chen memakai sebuah topeng hitam dengan ukuran iblis yang tersenyum menyeringai.
“Hei siapa kau? Untuk apa kau memakai topeng berukiran seperti itu?”
“Apa kau tuli?!”
Fei Chen hanya diam saat dirinya dikepung dan diinterogasi. Namun setelah salah satu dari mereka mengangkat katananya, Fei Chen mengeluarkan api hitam yang langsung membakar tubuh mereka dalam sekejap.
“Argh!”
“Panas! Panas! Tubuhku!”
Dengan menggunakan Hawa Iblis Sejati Fei Chen membunuh para penjaga gerbang kota dalam sekejap. Kejadian ini memicu Fei Chen dihadang anggota Organisasi Sakura Darah yang melihatnya bahkan para penduduk langsung berlarian karena mengetahui Fei Chen membakar para penjaga gerbang kota hidup-hidup.
“Berhenti! Apa kau salah satu dari pasukan pemberontakan? Percuma saja melawan! Di Kota Hinogawa sekarang ada Tuan Budou!”
“Sepertinya dia anggota pasukan-”
Saat beberapa orang bertanya padanya, Fei Chen menggunakan Hawa Iblis Sejati dan menciptakan sepuluh pedang tak kasat mata. Lalu memotong kepala salah satu dari anggota Organisasi Sakura Darah yang mengelilinginya.
“Kau... Apa kau yang memotong kepalanya?”
“Penyusup! Penyusup!”
“Bunuh dia-”
Kepanikan langsung terjadi diantara anggota Organisasi Sakura Darah saat mengetahui rekam mereka terpotong kepalanya. Apa yang terjadi setelahnya adalah penyerangan tidak berarti dari para anggota Organisasi Sakura Darah dan Fei Chen membunuh mereka semua dalam sekejap menggunakan pedang tak kasat mata.
Deshe yang melihat Fei Chen hanya diam. Terlihat jelas jika Fei Chen tidak akan tenang sebelum orang yang membunuh Hirataka mati ditangannya. Dengan langkah yang tenang namun terlihat cepat, Fei Chen berada di alun-alun kota dengan puluhan mayat anggota Organisasi Sakura Darah disepanjang jalan.
Sontak saja para samurai yang sedang mengarak jenazah Hirataka dan para anggota pasukan pemberontakan langsung mengepungnya.
“Topeng Iblis Hitam? Siapa dia?”
"Hati-hati dia telah membunuh banyak anggota kota!”
“Kepung dia dan beri dia pelajaran!”
Semua anggota Organisasi Sakura Darah membentuk formasi pengepungan. Kedatangan Fei Chen membuat Helai dan Shin datang untuk memastikan. Nampak keduanya terkejut karena mengetahui banyak anggota Organisasi Sakura Darah yang mati ditangan Fei Chen.
“Suamiku! Hiks! Hiks!”
“Diam! Wanita sialan! Sudah kukatakan malam ini kau harus melayaniku seperti biasa dan Tuak Budou!”
Fei Chen mendengar suara teriakan perempuan ditengah keributan, dia menoleh kearah sumber suara dan menemukan Ichiba yang dipegang tangannya oleh Shin.
“Biar aku yang melawan topeng sialan itu!” Nampak Helai maju dengan penuh percaya diri menghadapi Fei Chen.
Helai menarik katana yang tersarung rapi dan tersenyum menyeringai. Penuh percaya diri Helai mengeluarkan tenaga yang besar untuk memotong kepala Fei Chen.
“Kau akan mati!”
Satu ayunan bertenaga yang memancarkan cahaya berwarna merah menyentuh leher Fei Chen. Helai tertawa namun suara tawanya berhenti sedetik kemudian saat bilah katana tajam miliknya patah.
“Apa yang terjadi?”
“Bagaimana katana Tuan Helai bisa patah?”
“Orang yang bisa melakukan ini... Jangan bilang dia...”
Shin melepaskan Ichiba dan menangkap Helai, lalu menatap Fei Chen waspada yang sedang dikelilingi anggota Organisasi Sakura Darah.
‘Siapa dia? Ini bahaya!’ Shin ketakutan karena bisa merasakan aura mematikan yang dilepaskan Fei Chen pada Helai.
Fei Chen tidak mengucapkan sepatah katapun saat dirinya diserang dan hanya mengeluarkan Pedang Raja Neraka dalam sekejap alun-alun tengah kota menjadi banjir darah.
Genangan darah memenuhi alun-alun kota saat Fei Chen membunuh anggota Organisasi Sakura Darah. Saat itu juga Pedang Raja Neraka terdengar bersuara ditelinga Fei Chen, darah Fei Chen bergejolak dan tubuhnya tidak berhenti bergerak membunuh seluruh anggota Organisasi Sakura Darah yang berada di alun-alun kota.
Aksi Fei Chen ini membuat Shin dan Helai ketakutan karena melihat Fei Chen dengan mudahnya membunuh. Bahkan dengan tatapan mata tidak berkedip Fei Chen menghabisi satu demi satu anggota Organisasi Sakura Darah yang menyerangnya.
“Selanjutnya kalian berdua...” Fei Chen menatap dingin Helai dan Shin dari balik topengnya.
Sedangkan Ichiba dan beberapa penduduk kota yang terjebak di lokasi kejadian langsung mual melihat kejadian barusan. Beberapa dari mereka pingsan karena ketakutan dan beberapa lainnya berharap bisa keluar dari situasi pekik ini.
“Jangan mendekat atau aku akan membunuh mereka!” Shin tiba-tiba mengancam Fei Chen menggunakan katana dan menebaskan katana miliknya pada para penduduk.
Fei Chen menjentikkan jarinya dan seketika api berwarna merah menyebar mengelilingi tubuh para penduduk dan juga Ichiba. Api merah itu seolah-olah adalah dinding yang akan membakar apa saja yang mencoba menembusnya.
“Kau!” Shin menggigit bibir bawahnya karena mengetahui Fei Chen tidak akan berniat mendengar apapun yang dirinya katakan.
“Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan?! Kau telah mencari masalah dengan Organisasi Sakura Darah!” Shin menatap Fei Chen ketakutan yang kini berjalan diatas tumpukan mayat.
“Apa kau tidak takut dengan Tuan Sun Yelong?! Jika dia mengetahui hal ini kau akan mati! Beliau menyukai orang-orang yang kuat, aku yakin beliau akan menginginkanmu setelah melihat kemampuanmu! Jadi hentikan semua ini!” Shin sudah tidak dapat berpikir jernih saking ketakutannya melihat kemampuan Fei Chen.
“Aku tidak menginginkan apapun sekarang, yang aku inginkan adalah nyawa kalian!” Fei Chen mendekati Shin dan juga Helai.
Saat Fei Chen hendak kembali mengayunkan pedangnya, dia berhenti sejenak saat melihat kedatangan Budou bersama seratus samurai.
“Tuan Budou!” Shin dan Helai tersenyum cerah.
Namun Shin dan Helai bukanlah orang bodoh. Walaupun Budou kuat, namun kemampuan Fei Chen yang sudah mereka lihat tentu lebih kuat dari Budou.
‘Sial! Tuan Budou tidak sebanding dengannya! Siapa dia?! Kenapa dia mengincar kami!’ Helai mengumpat dalam hati dan sebelum bisa menjaga jarak dari Fei Chen tubuhnya tidak dapat digerakkan.
Fei Chen menatap Helai dingin dan menusuk mata pria tersebut menggunakan pedangnya. Sontak saja hal ini membuat Helai menjerit kesakitan bahkan Shin langsung tidak berdaya karena apa yang lihat setelahnya kematian Helai dengan cara paling mematikan.
Menyadari selanjutnya adalah gilirannya, Shin berusaha memberikan perlawanan terakhir namun Budou datang melepaskan tebasan petir yang mematikan.
Fei Chen dengan santai melompat ke belakang dan melihat Budou yang melindungi Shin. Setelah itu seratus samurai mengelilingi dirinya dan bersiap menyerangnya.
“Pastikan dia mati dengan cara paling mengenaskan!” Budou memberikan perintah.
“Baik, Tuan Budou!” Para samurai menjawab serentak dan mulai melancarkan serangan mereka.
Fei Chen dengan tenang mengayunkan pedangnya dan menangkis setiap serangan yang dilepaskan para samurai. Lalu dengan permainan pedangnya yang cepat Fei Chen membunuh seratus samurai hanya dalam kurun waktu lima menit.
Budou tercengang begitu juga dengan Shin. Keduanya melihat Fei Chen mendekat dan melepaskan aura yang sangat mematikan. Mereka berdua tidak mengetahui jika Fei Chen melepaskan Aura Raja Neraka.
“Jadi kalian berdua ingin mati seperti apa?!” Suara yang begitu dingin itu membuat tubuh Budou dan Shin gemetar ketakutan.
Selanjutnya Fei Chen sudah bergerak dan memenggal kepala Shin tanpa Budou dapat ikuti pergerakannya.
Budou yang terkejut langsung mengayunkan katana miliknya yang dipenuhi petir.
‘Aku merupakan orang tercepat di Tiga Perintah Samurai dan aku tidak dapat mengikuti pergerakannya?’ Budou membatin penuh keringat dingin.
Sadar jika dirinya telah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya dia singgung, Budou berdiri dengan gagahnya menghadapi Fei Chen.
“Aku tidak akan lari lagi! Aku sudah yakin suatu saat akan tiba saat-saat seperti ini. Setidaknya aku ingin menjadi seorang samurai sejati yang setia pada Tuanku.” Budou tersenyum menatap Fei Chen yang terlihat tidak peduli sama sekali dengan ucapannya.
“Kalau begitu matilah dengan cara yang paling mengenaskan.”