Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 350 - Peta Menuju Negeri Air


PPFC 350 - Peta Menuju Negeri Air


Fei Chen melihat seorang wanita yang tengah duduk sambil menikmati teh hangat dan cemilan. Seperti yang diketahui wanita adalah Emi Kagura yang merupakan mantan anak dari Daimyo Negeri Api.


Setelah suaminya dibunuh Shogun Raido, Emi Kagura hidup seorang diri dan menjadi janda. Berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya untuk bertahan hidup. Sementara itu Hinatsuru merupakan gadis yang sangat dia sayangi dan sudah Emi Kagura rawat sejak kecil.


“Tuan Putri, tamu kita sudah datang. Beliau adalah Tuan Onigari.” Takamura memberitahu kedatangan Fei Chen dan Ichiba.


“Masuk dan duduklah. Apa yang ingin kau bahas denganku Tuan Onigari?” Emi tidak ingin berbasa-basi.


“Aku sendiri memiliki urusan untuk mencari anakku. Seharian ini dia kemana? Membuatku khawatir saja.” Emi menggerutu sendiri tepat setelah Fei Chen duduk.


Ichiba sendiri tidak menyangka jika Emi masih hidup. Dahulu Ichiba pernah bekerja sebagai pelayan istana dan berulang kali melihat Emi. Namun semenjak invasi yang dilakukan Sun Yelong, Ichiba mendengar kabar bahwa semua anggota keluarga Kagura telah dibunuh.


“Aku tidak menyangka Tuan Putri masih hidup...” Ichiba tanpa sadar berkata demikian.


Emi mengerutkan keningnya terlihat tidak suka terhadap ucapan Ichiba barusan. Namun setelah melihat raut wajah Ichiba yang tidak asing, seketika Emi mengingat bahwa dahulu ada seorang pelayan yang sering bermain dengannya dan umurnya dua tahun lebih tua darinya.


Sementara Ichiba berumur tiga puluh sembilan tahun, Emi berumur tiga puluh tujuh tahun. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain sebelum akhirnya Emi ingat akan sosok Ichiba.


“Ichiba? Kamu Ichiba bukan?” Emi nampak tersenyum cerah setelah mengingat jelas sosok Ichiba.


Ichiba pun ikut tersenyum sebelum akhirnya Emi memeluk dirinya. Kerinduan yang selama ini keduanya pendam akhirnya tersalurkan. Walaupun Emi seorang majikan dan Ichiba seorang pelayan, keduanya sudah berteman.


“Tuan Putri, aku tidak menyangka kau masih hidup. Selama ini kau kemana saja? Aku tidak mendengar kabar apapun darimu sebelum akhirnya bocah ini memberitahuku.” Ichiba menyeka air matanya dan menatap Fei Chen sekilas.


Emi membatin mendengar ucapan Ichiba barusan, ‘Bocah? Dia adalah Onigari bukan? Apa hubungan mereka berdua adalah suami istri?’


“Ichiba... Ichiba... Apa dia suamimu?” Tiba-tiba pertanyaan dari Emi ini membuat Ichiba terdiam, sedangkan Fei Chen merasa keberadaan dirinya sama sekali tidak ada karena kedua wanita berumur itu asyik menikmati reuni mereka.


Ichiba sekilas menatap topeng Fei Chen. Wajahnya bersemu merah dan langsung menggelengkan kepalanya, “Dia bukan suamiku, Tuan Putei.”


“Kalau begitu dia adalah kekasihmu.” Emi membalas.


“Itu...” Ichiba merasa percuma menjelaskan kepada Emi.


Melihat Ichiba yang merasa terganggu dan berpikir Fei Chen juga merasa terganggu, akhirnya Takamura menjelaskan kepada Emi bahwa Ichiba adalah kekasih Fei Chen.


“Hah?!” Ichiba nampak tidak setuju sedangkan Fei Chen hanya diam.


Merasa dirinya terlalu bersemangat membahas hubungan Ichiba dengan Fei Chen karena penasaran, Emi akhirnya mengalihkan pembicaraan.


“Syukurlah jika kau memiliki seorang pendamping yang dapat menjagamu Ichiba.” Emi terlihat lega, “Bisa aku pinjam sebentar kekasihmu ini Ichiba? Aku sudah mendengar bahwa kalian membentuk pasukan pemberontakan. Jadi aku ingin berbicara empat mata dengan dia.”


Ichiba tidak keberatan, “Silahkan, Tuan Putri.”


“Kau tidak cemburu?” Emi bertanya.


Ichiba menggelengkan kepalanya, “Tentu saja tidak. Untuk apa aku cemburu?”


Justru sikap Ichiba yang seperti ini membuat Emi semakin yakin jika Ichiba sedang cemburu. Segera Emi memberi tanda pada Fei Chen untuk memasuki ruangannya.


Fei Chen mengikuti Emi dari belakang sebelum akhirnya pintu ruangan ditutup Emi. Nampak Emi menatap tajam Fei Chen yang terlihat sedang memandang ruangannya.


“Aku dengar kau ingin memastikan jika diriku ini adalah pewaris sah keluarga Kagura bukan? Kau bisa membuktikannya dengan melakukan hubungan istimewa denganku atau melihat tanda bawah perutku...” Emi hendak melepaskan pakaian yang dia kenakan namun ditahan Fei Chen.


“Aku sendiri akan tetap melanjutkan rencanaku. Aku ingin bertanya padamu tentang rute menuju Negeri Es. Lebih tepatnya aku ingin pergi ke kediaman Klan Fuyumi.” Kembali Fei Chen menambahkan.


Ekspresi Emi yang sekilas terkejut membuat Fei Chen mengambil kesimpulan bahwa Emi pernah berkunjung ke kediaman keluarga Fuyumi.


“Aku bisa memberitahumu rute menuju Negeri Es tetapi tidak dengan kediaman keluarga Fuyumi. Aku sendiri belum berkunjung kesana.” Fei Chen mengetahui Emi berbohong.


Dengan perlahan Fei Chen melepaskan topengnya dan menunjukkan wajahnya pada Emi. Nampak Emi terkejut melihat paras Fei Chen yang muda.


Emi mengira Fei Chen memiliki paras yang tua, tetapi semua tidak sesuai yang dia bayangkan. Emi menatap Fei Chen tajam begitu juga sebaliknya.


“Aku rasa kau sudah mendengarnya Nyonya. Aku membutuhkan kepercayaan. Aku rasa kau mengetahui sesuatu tentang keluarga Fuyumi.” Fei Chen menajamkan tatapannya dan membuat Emi menghela nafas.


“Baiklah, aku mengerti. Rupanya kau pemaksa Tuan Onigari. Tetapi wajahmu itu seperti bukan wajah orang Kai...” Emi berdiri sambil memperhatikan dalam dan penuh makna wajah Fei Chen.


“Nyonya Emi, apa kau ingin mengetahuinya? Aku bisa memberitahumu sebagai tanda kepercayaan diantara kita berdua. Tetapi kau harus tahu, jika ada sesuatu yang seharusnya lebih baik tidak kau ketahui.” Mendengar ucapan Fei Chen yang tajam membuat Emi tersenyum.


“Aku tidak ingin mengetahuinya. Setidaknya untuk sekarang, mungkin suatu saat aku berubah pikiran.” Emi menjawab dan mengambil sebuah peta lalu memberikannya kepada Fei Chen.


“Suatu hari ya? Kita tidak tahu sampai kapan kita hidup Nyonya Emi.” Fei Chen tersenyum tipis saat melihat Emi terlihat kesal.


“Dengar Tuan Onigari. Aku sangat berharap padamu, tidak kalian semua. Aku berharap bisa melihat negeri ini bebas. Aku ingin memastikan setidaknya di sisa umurku tidak ada lagi orang yang menderita dan kelaparan di negeri ini.” Emi menaruh sebuah peta di meja sambil menggebraknnya.


Tatapan mata Emi tajam kearah Fei Chen yang terlihat tenang.


‘Mimpi yang sama denganku saat aku menjadi Kaisar Ma. Sebuah negeri dimana orang-orangnya tidak merasakan kelaparan ya? Aku menjadi menemukan alasan besar untuk memenangkan pertempuran ini.’ Fei Chen membatin dan tersenyum tipis karena tidak menyangka ada seseorang yang memiliki tujuan yang sama dengannya.


“Tuan Onigari, kembalilah dalam keadaan hidup dan menangkan pertempuran ini. Jika kau berhasil, aku akan menjodohkanmu dengan anakku Hinatsuru.” Sebuah tawaran dari Emi ini membuat Fei Chen ingin tertawa.


“Nyonya Emi, aku ikuti kemauanmu. Kau harus tahu jika aku memiliki dua puluh... Emm... Tunggu berapa ya?” Fei Chen tiba-tiba lupa akan jumlah istrinya dan itu membuat Emi terkekeh.


“Kau tidak perlu membohongiku Tuan Onigari. Ambillah ini.” Emi memberikan sebuah peta pada Fei Chen lalu meminta Fei Chen untuk meninggalkan Ichiba bersamanya.


“Tuan Onigari, bisakah kau meninggalkan Ichiba bersamaku? Aku ingin mengobrol banyak hal dengannya.” Ichiba meminta izin.


“Kenapa kau meminta izin padaku?” Fei Chen mengerutkan keningnya dan berdiri.


Saat Fei Chen berjalan hendak membuka pintu, Emi mengejarnya dan tersandung. Fei Chen menangkap tubuh Emi dan pintu pun terbuka memperlihatkan Fei Chen yang memeluk tubuh Emi dengan erat.


“Tuan Putri!” Takamura dan Ichiba terkejut.


Selang beberapa detik pintu terbuka memperlihatkan Ameko dan Hinatsuru.


“Ibu, aku pulang-” Hinatsuru tercengang saat melihat Onigari tertindih tubuh matang Ibunya.


Begitu juga dengan Ameko. Pria yang dicari Ameko sekarang tertindih tubuh wanita lain. Untuk pertama kalinya Ameko merasakan cemburu.


Sedangkan Fei Chen hendak membenarkan topengnya justru tangannya tidak sengaja menyenggol buah dada Emi.


“Kau!” Mata Emi mendelik menatap tajam Fei Chen.


“Maaf, aku tidak sengaja Nyonya.” Fei Chen melanjutkan membenarkan topengnya dan melihat tatapan Emi yang semakin tajam.


Ameko yang sudah cemburu pun berdeham, “Ehem! Sampai kapan Tuan Putri Kagura bermesraan dengan Tuan Onigari?”