
PPFC 128 - Chen‘gege
Fei Chen membawa Ma Mingyan menuju Istana Ma yang telah hancur. Pemuda itu mengatakan kepada Ma Mingyan jika sekarang Kekaisaran Ma telah berubah sepenuhnya dan tidak sama seperti era Kaisar Ma terdahulu.
“Chen‘gege... Terimakasih karena telah menyelamatkan hidupku dan masa depanku. Aku berjanji akan mengingatmu seumur hidupku.“ Ma Mingyan tidak berhenti menangis di dekat Fei Chen.
Fei Chen mengelus kepala Ma Mingyan dan tersenyum hangat, “Yanyan, kau membuatku teringat akan Meilan‘er...”
“Meilan‘er... Siapa dia?” Ma Mingyan menyeka air matanya dan menatap wajah Fei Chen yang hangat.
“Dia sama sepertimu seorang Putri Kaisar. Kalian berdua memiliki kehidupan yang mirip. Dibandingkan dengan dirimu yang pendiam dan tenang, dia cerewet dan sedikit menyebalkan...” Fei Chen tersenyum setelah mengatakan itu dan membuat Ma Mingyan semakin merasa hangat.
“Tunggu sebentar disini Yan’er. Tetap bersama mereka. Aku akan melanjutkan perburuan.”
Fei Chen menatap langit malam Ibukota Ma Fei dan melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah yang sangat besar. Selepas itu Fei Chen pergi mencari keberadaan pendekar Aliran Pedang Iblis yang bersembunyi di setiap sudut kota.
Fei Chen terus melanjutkan perburuan hingga matahari terbit dan tidak ada tanda-tanda hawa keberadaan seorang pendekar yang menurutnya menjadi anggota Aliran Pedang Iblis.
Situasi di Ibukota Mafei belum terkendali setelah kematian Ma Zhangsun dan berakhirnya Aliran Pedang Iblis. Para penduduk yang melihat kekejian Fei Chen dalam membunuh Aliran Pedang Iblis merasa ketakutan karena berpikir pemuda itu akan mengambil alih pemerintahan.
Namun tebakan para penduduk ditepis saat beberapa penduduk yang sempat mendengar pembicaraan Fei Chen dengan Ma Zhangsun. Semua orang kembali dikejutkan dengan garis keturunan Fei Chen yang berasal dari keluarga Fei.
Mengetahui latar belakang Fei Chen malah membuat para penduduk membantu membereskan kerusakan akibat pertempuran semalam ataupun menguburkan jenazah.
Fei Chen berniat menghindari keramaian karena melihat rombongan penduduk berdatangan menuju Istana Ma yang telah menjadi reruntuhan.
“Hidup Tuan Muda Fei Chen!”
“Hidup Tuan Muda Fei!”
Alis Fei Chen mengkerut mendengar ini, “Jelas aku masih hidup! Dan kenapa mereka berekspresi bahagia seperti itu?!”
Fei Chen menoleh kearah Su Xiulan yang tertawa cekikikan begitu juga dengan Liu Xianlin, Xhin Li Wei dan Ling Xiyao.
“Suami manisku, sepertinya mereka sangat mengagumimu,” celoteh Su Xiulan sambil menahan tawanya.
Fei Chen menggaruk kepalanya dan memilih untuk menjauh dari kerumunan penduduk. Tindakannya ini membuat para penduduk mengejarnya. Semuanya menginginkan Fei Chen sebagai penguasa baru Kekaisaran Ma.
Kekesalan Fei Chen akhirnya tidak terbendung saat mendengar seruan penduduk Ibukota Mafei. Tatapan mendominasi Fei Chen begitu dingin dan membuat para penduduk perempuan berteriak histeris.
“Ada yang tidak beres dengan otak mereka...” Fei Chen bergumam pelan.
Fei Chen sendiri tidak menyadari jika sikap dinginnya ini sudah mencuri beberapa wanita, mungkin sekarang sudah hampir dua puluh wanita yang menaruh perasaan terpendam padanya.
“Hentikan omonganmu. Kau mempengaruhi Chen‘er.” Liu Xianlin menegur Su Xiulan dan membuat keduanya kembali bersitegang.
Akhirnya Fei Chen berjalan menuju para penduduk sambil menarik lembut tangan Ma Mingyan.
“Chen‘gege?” Ma Mingyan heran karena Fei Chen menarik tangannya. Sebelum berpikir lebih jauh Ma Mingyan menggenggam tangan Fei Chen erat dan mengikuti langkah pemuda itu.
“Semuanya dengarkan aku! Gadis kecil disampingku ini adalah Tuan Putri Ma! Dia adalah Ma Mingyan! Penerus tahta Kekaisaran Ma yang sesungguhnya! Atas nama leluhur keluarga Fei, aku bersumpah akan menjadi pedang dan pelindungnya menggantikan peran mendiang Ayahku untuk melindungi keluarga Kekaisaran!”
Seruan lantang Fei Chen membuat ribuan penduduk Ibukota Mafei terdiam. Bahkan Su Xiulan, Liu Xianlin, Xhin Li Wei dan Ling Xiyao tidak pernah berpikir Fei Chen akan mengatakan itu.
“Panjang umur Kekaisaran Ma! Panjang umur keluarga Ma!”
“Hidup Tuan Muda Fei Chen! Hidup Tuan Putra Ma!”
Fei Chen menghembuskan nafas lega dan menggumam, “Mereka benar-benar merepotkan...”
Melihat itu Ma Mingyan tersenyum dan memeluk hangat tubuh Fei Chen. Tindakan Ma Mingyan ini membuat Su Xiulan dan Liu Xianlin membatin.
‘Aku selalu mendapatkan omongan kasar saat memeluknya tetapi saat gadis kecil itu memeluknya, dia hanya diam. Sepertinya gadis kecil ini berbahaya, dibandingkan gadis kecil yang manis, dia adalah seekor rubah kecil berbahaya...’ Su Xiulan menatap Ma Mingyan penuh kecemburuan sebelum menggerutu.
“Dia memanggilnya Yan‘er? Sulit dipercaya jika dia belum memanggilku Xiu‘er!”
“Aw!”
Su Xiulan menoleh kearah Liu Xianlin yang mencubit lengannya.
“Jangan bohong, kau tidak merasakan sakit bukan?” Liu Xianlin menatap sinis Su Xiulan.
“Aku sungguh tidak percaya kau cemburu pada gadis kecil berumur lima belas tahun...”
Su Xiulan menatap Liu Xianlin lebih sinis. Keduanya kembali berdebat dibelakang Fei Chen dan Ma Mingyan yang sedang berbincang dengan penduduk.
“Jujur saja jika kau juga memiliki perasaan pada suamiku bukan? Seorang janda saja bisa jatuh kepelukannya apalagi dirimu.” Su Xiulan terkekeh mengejek Liu Xianlin yang kehabisan kata-kata.
Liu Xianlin menghentakkan kakinya ke tanah, “Kau benar-benar membuatku kesal!”
Fei Chen yang mendengar ocehan Su Xiulan dan Liu Xianlin memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.
‘Mereka berdua masih memiliki waktu untuk bertengkar disaat seperti ini...’