Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 182 - Nadi Es


PPFC 182 - Nadi Es


Angin bertiup dengan kencang saat ayunan pedang menghembuskan dedaunan. Hawa dingin selalu keluar dari setiap ayunan tebasan seorang gadis yang sedang berlatih itu.


Fei Chen duduk di bangku taman sambil memperhatikan sang gadis yang terlihat anggun dan indah saat memainkan pedangnya. Ekspresi dingin dan ambisius tergambar dalam pahatan wajah cantik itu.


Namun saat gadis itu melihat dirinya, seketika ekspresi dinginnya menghilang berganti dengan rona merah yang muncul diwajahnya karena malu diperhatikan.


“Saudara Fei?” Yin Jinxia berhenti berlatih dan menghampiri Fei Chen. Gadis itu duduk disamping Fei Chen yang terlihat serius menonton latihannya.


“Tuan Putri, bisa ceritakan padaku mengenai kondisi tubuhmu itu?” Fei Chen yakin Yin Jinxia memiliki kondisi tubuh khusus yang kemungkinan besar berkaitan dengan Tujuh Permata Bintang.


Yin Jinxia menceritakan kepada Fei Chen jika dirinya memiliki nadi khusus yaitu Nadi Es. Yin Jinxia tidak bisa mengendalikan dirinya yang mengeluarkan hawa dingin karena penempaan tubuhnya terbilang lemah.


“Nadi Es?” Fei Chen menoleh begitu juga Yin Jinxia. Keduanya saling menatap sebelum Fei Chen memegang telapak tangan Yin Jinxia.


“Permisi Tuan Putri, aku ingin memeriksa kondisi tubuhmu...” Fei Chen memejamkan mata saat Yin Jinxia mengangguk.


Alangkah terkejutnya Fei Chen saat mengetahui Yin Jinxia memiliki tiga kondisi tubuh khusus. Gadis cantik yang duduk disampingnya ini memiliki Nadi Es dan dua sisanya Fei Chen tidak mengetahuinya.


Setelah diberitahu Fei Chen, ekspresi Yin Jinxia seolah-olah tidak terkejut karena dia menyadari bahwa pernah mengalami gejala yang sama dengan Jia Li.


“Tuan Muda Fei, bisa ajari aku? Kau barusan mengatakan mengajarkan Lili hal yang sama bukan?” Suara lembut dan sopan Yin Jinxia padanya membuat Fei Chen tersenyum hangat.


Fei Chen mengulurkan tangannya dan membuat Yin Jinxia kebingungan. Melihat Yin Jinxia kebingungan membuat Fei Chen mengambil inisiatif menarik lembut tangan gadis cantik itu dan membuka Portal Teleportasi menuju Gunung Menangis.


Yin Jinxia tersipu malu saat dirinya dipeluk Fei Chen singkat. Mata gadis cantik itu menyapu setiap keindahan alam di Gunung Menangis dan terkesima melihatnya.


“Dengan banyaknya sumber daya disini, kau bisa membentuk sekte bahkan Kekaisaran sendiri Saudara Fei.”


“Aku sudah menjadi Patriark dan Kaisar, Tuan Putri.” Fei Chen tersenyum saat Yin Jinxia mengatakan itu.


“Benar juga.” Yin Jinxia terdiam karena malu.


Sebelum memulai lebih jauh Fei Chen menjelaskan kepada Yin Jinxia metode penempaan tubuh di Kolam Siksa Petir. Sembari melakukan metode penempaan tubuh, Yin Jinxia juga akan melewati Penyiksaan Petir yang membantu proses pembentukan tulang, pemurnian darah, meningkatkan kualitas otot dan masih banyak lagi.


Mengetahui keuntungan yang didapat dirinya sangat banyak membuat Yin Jinxia merasa berhutang budi. Reaksi Yin Jinxia membuat pemuda itu mencubit gemas pipinya tanpa sadar.


“Tuan Putri, ini belum seberapa dengan yang kau berikan padaku nanti,” ujar Fei Chen pada Yin Jinxia. Dia mengira Yin Jinxia akan memprotes karena harus bertelanjang saat melakukan metode penempaan tubuh namun dia justru merasa tidak enak dan berhutang budi kepada Fei Chen.


“Ibunda pernah mengatakan padaku jika perempuan tidak boleh membuat lelakinya kesusahan...” Yin Jinxia mengatakan itu dengan ekspresi tenang.


“Dan aku merasa telah menyusahkanmu dan merepotkanmu.” Yin Jinxia menambahkan.


“Kalau begitu lelaki tidak akan membiarkannya wanitanya hidup kesusahan.” Fei Chen menanggapi ucapan Yin Jinxia sambil mengelus kepala gadis cantik itu.


“Tuan Putri, aku tidak merasa direpotkan justru aku merasa bahagia karena memiliki wanita sepertimu,” sambung Fei Chen. Pandangan keduanya bertemu cukup lama sebelum akhirnya Yin Jinxia memalingkan wajahnya yang memerah.


Beberapa saat keduanya langsung menuju Kolam Siksa Petir untuk memulai metode penempaan tubuh. Yin Jinxia terlihat tidak ragu saat melepaskan gaun cantik yang dikenakannya.


“Saudara Fei, kenapa berpaling? Apa kau malu?” Yin Jinxia mengetahui jika Fei Chen malu melihat tubuhnya.


“Ternyata kau mempunyai sisi yang lucu.” Tawa Jia Li membuat Fei Chen menghela nafas dan berjalan mendekat.


Bagaimanapun Yin Jinxia berada di tepi Kolam Siksa Petir dan Fei Chen melihat pahatan indah yang tercetak dalam tubuh Yin Jinxia dengan jelas. Tanpa benang yang menutupi, Yin Jinxia langsung menutupi mahkotanya begitu juga dengan gundukan kenyal indahnya.


‘Aku sudah melihatnya, Tuan Putri...’ Dalam hati Fei Chen tersenyum bangga karena mengingat jelas bentuk tubuh Yin Jinxia.


“Bentuk tubuhmu bagus, Saudara Fei.” Saat Fei Chen hendak memulai metode penempaan tubuh, dia ternganga saat melihat Yin Jinxia menatap badannya.


“Hentikan, Tuan Putri. Aku pria normal dan bisa saja aku melahapmu disini.” Fei Chen tersenyum sinis dan dibalas dengan tatapan dingin Yin Jinxia.


“Siapa takut? Maju jika kau berani, Saudara Fei.” Yin Jinxia tertantang. Obsesinya pada Fei Chen semenjak Turnamen Harimau Yin membuat sisi wanitanya ingin mengalahkan Fei Chen dengan cara lain.


Fei Chen belum menjawab saat tangan Yin Jinxia tidak lagi menutupi buah dadanya. Suara ludah tertelan terdengar saat mata Fei Chen melihat jelas bagaimana bentuk kepadatan yang ranum dan kenyal itu. Ujungnya yang berwarna merah muda juga nampak lucu dan menggairahkan untuk dilahap.


“Apa kau sudah siap Tuan Putri? Ini akan sangat menyakitkan...” Ucapan Fei Chen membuyarkan lamunan Yin Jinxia yang juga mengagumi bentuk tubuh Fei Chen.


“Eh? Tunggu- Tunggu sebentar Saudara Fei!” Yin Jinxia panik karena mengira Fei Chen akan benar-benar termakan tantangannya, “Apa kita akan melakukannya?”


“Ya, apa kau ragu?” Fei Chen bingung karena tiba-tiba ekspresi Yin Jinxia berubah.


“Mundurlah jika kau ragu...” Fei Chen berjalan mendekati air disusul Yin Jinxia yang berkata pelan.


“Aku tidak ragu, tetapi aku tidak memiliki pengalaman apapun. Jadi mohon bimbingannya, Chen‘gege...”


“Chen‘gege. Baguslah, aku menyukai panggilan itu Xia‘er.”


“Mari. Semuanya akan baik-baik saja. Kau adalah wanitaku. Aku menyukai pembawaanmu yang ambisi dan dingin.” Fei Chen menarik tubuh Yin Jinxia kedalam Kolam Siksa Petir bersamaan dengan munculnya energi besar dari dalam Kolam Siksa Petir.


Aura berwarna ungu kehitaman memenuhi kolam dan saat itu juga Yin Jinxia menyesal karena salah mengartikan ucapan Fei Chen.


“Aaaahhh!” Jeritan Yin Jinxia menyanyat hati Fei Chen. Kedua insan manusia yang sebaya ini saling memeluk satu sama lain.


Fei Chen membisikkan kata-kata hangat dan penyemangat sedangkan Yin Jinxia berusaha menahan semua rasa sakit dari penempaan tubuh dan Penyiksaan Petir.


Hingga akhirnya suara dentuman tulang patah yang gemertak serta cairan hitam yang keluar dari pori-pori tubuh Yin Jinxia mulai terdengar dan terlihat.


Proses ini berlangsung selama tiga hari penuh hingga Yin Jinxia memiliki kualitas Tulang Naga Perak.


“Selamat Xia‘er.” Fei Chen mengecup kening Yin Jinxia saat gadis itu memeluk tubuhnya dari depan dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Fei Chen.


“Chen‘gege, bisa balikkan badanmu. Aku malu.”


“Eh.”


Fei Chen melihat wajah Yin Jinxia merah padam. Saat Fei Chen memejamkan mata, segera Yin Jinxia melepaskan pelukannya dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam air hingga leher hanya menyisakan kepalanya saja.