
Peperangan terus belanjut hingga berbulan-bulan lamanya, Walaupun banyak yang berguguran, Jumlah dari pasukan kedua kubu sepertu tidak berkurang sama sekali.
"Haissh... Apakah peperangan ini akan terus berlanjut hingga tahunan?" Ucap Fang Lin dengan nada kesal, Walaupun dia sudah berada disini selama berbulan-bulan namun jika di tubuh aslinya hanyalah sekilas saja.
Tetapi tetap saja dia sangat malas jika menunggu seperti ini, "Sudahlah, Lebih baik aku keluar dari sini" Ucap Fang Lin dan tiba-tiba saja dia sudah berada di kawah sebelumnya.
Fang Lin lalu menatap Zorva yang masih terbaring lemas kemudian berdiri, "Yue perlukah kubunuh iblis ini?" Tanya Fang Lin meminta saran ke Yue.
[Menurut Yue, Tuan biarkan saja dia tinggal di ruang hampa ini, Karena jika iblis ini dibunuh maka para raja iblis lainnya akan mengetahui lokasi dari raja iblis yang terbunuh]
[Tentu saja mereka akan kesini dalam beberapa jam, Tentu itu akan merepotkan tuan bukan? Dan lagi jika raja iblis menyerang alam ini sekali lagi, Maka bukan hal yang tidak mungkin alam ini musnah]
Fang Lin yang mendengar penjelasan dari Yue hanya menganggukkan kepalanya pelan berkali-kali, "Jika apa yang kau katakan itu benar, Maka aku tidak akan berbuat lebih" Ucap Fang Lin lalu menghilang dari sana.
***
~Swoosshh~
Tiba-tiba Fang Lin muncul di gua, Tempat sebelumnya dia menyerap aura pembunuh dari seruling kematian, "Akhirnya aku kembali" Batin Fang Lin sambil tersenyum, Kemudian melihat ke arah batu yang sebelumnya menjadi tempat untuk menyerap aura pembunuh.
Terlihat sesosok wanita cantik dengan gaun putih yang anggun sedang berkultivasi di batu tersebut, "Mue Lian..." Gumam Fang Lin pelan.
Mue Lian sendiri yang mendengar gumaman itu sedikit terkejut, Lalu membuka matanya secara perlahan, "Fang Gege... Akhirnya kamu kembali" Ucap Mue Lian berdiri dan langsung memeluk Fang Lin yang berada tepat didepannya.
Fang Lin yang mendapatkan pelukannya dari Mue Lian hanya tersenyum lembut, "Maafkan aku, Ada sedikit kejadian yang berada diluar perkiraan ku" Ucap Fang Lin sambil mengelus kepala Mue Lian secara perlahan.
Mue Lian hanya diam dan terus memeluk Fang Lin dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya.
Hingga beberapa saat Fang Lin melepaskan pelukannya, Lalu berkata, "Ayo kita pergi dari sini, Ada beberapa urusan yang belum kuselesaikan" Ucap Fang Lin lalu mengeluarkan jubah biru cerah dari inventorynya, Kemudian memakainya.
Di sisi lain Mue Lian yang melihat Fang Lin tiba-tiba mengganti baju hanya tertunduk malu dan beberapa saat ada yang memegang tangan kirinya.
"Ayo pergi" Ucap Fang Lin sambil melihat Mue Lian dengan tersenyum.
Mue Lian yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya pelan, Dia masih menunduk malu karena masih mengingat Fang Lin saat berganti baju.
Note: Baju doang njir masih pake celana, Jangan travelling otak lu pada.
.....
Fang Lin dan Mue Lian saat melesat di langit sambil berpegangan tangan, Mereka berdua seperti pasangan yang tidak ingin dipisahkan sama sekali.
Saat ini Fang Lin sedang mencari desa di dekat sini, Karena dia ingin beristirahat beberapa hari sebelum pergi ke alam Tanah Monster.
.....
Sebelum Fang Lin dan Mue Lian pergi ke desa tersebut, Dia membeli dua pedang tingkat tinggi di system shop lalu memberikan satunya untuk Mue Lian.
Mue Lian sedikit kebingungan dengan pemberian Fang Lin, Namun dia tidak mempertanyakan hal tersebut dan mengambil pedang yang berada di tangan Fang Lin.
Di sisi lain Fang Lin yang melihat raut wajah Mue Lian yang heran dalam sekilas, Hanya tersenyum tipis, "Kau tidak perlu bingung, Taruh saja pedang yang kuberikan di pinggangmu dan tidak ada seorangpun warga desa yang berani mendekati mu karena mereka akan mengira kau adalah seorang kultivator" Ucap Fang Lin sambil tersenyum kemudian memegang kembali tangan Mue Lian yang lembut, Salah satu alasan dia memilih desa dari pada kota, Karena dia sangat malas jika membunuh manusia lagi.
Mue Lian hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar itu, Walaupun ada satu pertanyaan dibenaknya, Namun dia tidak mempertanyakan itu.
Fang Lin dan Mue Lian akhirnya berjalan memasuki desa tersebut dengan santai. Saat didalam desa, Fang Lin dan Mue Lian langsung menjadi perhatian semua orang, Terlebih laki-laki yang menatap Mue Lian tanpa berkedip sekalipun.
Namun beberapa saat mereka tersadar saat melihat jika pria dan wanita tersebut adalah sepasang kekasih, Terlebih lagi mereka langsung melanjutkan aktivitas mereka masing-masing saat melihat pedang di pinggang pria dan wanita tersebut.
'Seorang kultivator', Itulah apa yang dipikirkan mereka saat melihat pasangan kultivator didekat mereka.
Bagi mereka kultivator adalah sesosok orang-orang yang kejam dan membunuh manusia biasa seperti mereka tanpa ampun, Jadi mereka tidak ingin membuat masalah pada kultivator.
Di sisi lain Fang Lin yang melihat reaksi dari para warga sekitar hanya tersenyum tipis, "ya... Ini adalah cara yang ampuh" Gumam Fang Lin pelan.
.....
Saat ini Fang Lin dan Mue Lian sedang berada di depan rumah bertingkat dua yang cukup tua, "Sepertinya di desa ini hanya ada satu penginapan" Ucap Fang Lin sambil tersenyum kecut, Lalu memasuki penginapan tersebut bersama Mue Lian.
Saat memasuki penginapan tersebut tidak ada siapapun disana kecuali seorang nenek-nenek yang sedang berada di meja resepsionis.
Fang Lin dan Mue Lian langsung menghampiri meja resepsionis tersebut, "Apakah disini hanya ada anda sendiri nek?" Tanya Fang Lin sambil tersenyum ke nenek didepannya.
Nenek tersebut hanya tersenyum, "Benar anak muda, Apakah kau ingin memesan kamar? Tetapi di penginapan ini hanya terdapat satu kamar" Ucap nenek tersebut sambil tersenyum.
Fang Lin yang mendengar itu langsung mengerutkan alisnya, "Bukankah tempat ini terdapat dua lantai, Tetapi kenapa semua kamar kosong?" Tanya Fang Lin dengan sedikit heran.
"Itu... Karena kamar lainnya sedang ditempati oleh para bandit dan para bandit tersebut saat ini sedang keluar" Ucap nenek tersebut dan tetap mempertahankan senyumannya.
Fang Lin yang mendengar itu langsung menaikkan satu alisnya, "Tetapi kenapa nenek tidak ketakutan jika tau mereka adalah bandit?" Tanya Fang Lin dengan heran.
Raut wajah nenek tersebut langsung berubah menjadi sedikit gugup, "Itu... Karena mereka bandit yang baik" Ucap Nenel tersebut dengan nada sedikit ragu.
"Bandit yang baik? Aku baru mendengarnya" Ucap Fang Lin sambil mengeluskan dagunya, Dalam semasa hidupnya dia tidak pernah mendengar yang namanya bandit baik.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.