System Sang Immortal

System Sang Immortal
Pengganggu Muncul


Vulhan mematung selama beberapa waktu usai membaca ingatan pria tua itu, ia kemudian memandangi Fang Lin dengan tatapan terkejut sekaligus tak percaya.


"Sejak awal kita bertemu aku memang sudah tau kalau kau bukan orang biasa, Pemburu Fang Lin. Tapi, aku tidak menyangka kalau dirimu benar-benar melampaui ekspetasiku." ucap Vulhan, nadanya terdengar begitu kagum.


Perlu diketahui, pria tua ini adalah seorang Penyihir dengan Mana Circle di tingkat sepuluh. Kekuatannya sangat luar biasa, dapat menghancurkan sebuah kota dalam satu malam.


Tetapi Fang Lin dapat membuatnya menciut hanya dengan beberapa tindakan dan juga aura membunuh yang tidak masuk akal itu.


Kalau saja Fang Lin tidak mengeluarkan aura membunuhnya, mungkin Penyihir Hitam itu memilih untuk melawannya daripada menyerah begitu saja.


"Kau terlalu melebih-lebihkan diriku, pak tua. Kekuatanku kemungkinan hanya sebanding dengan Pemburu tingkat Platinum." Fang Ling menggelengkan kepalanya pelan.


Vulhan tentu tidak percaya dengan itu tetapi dia tidak membicarakannya lebih jauh, "Lantas, apa kau ingin membunuhnya?"


"Begitulah... Aku sudah memberikan pilihan padanya." Fang Lin menjawab dengan cepat.


Vulhan tidak bisa keberatan dengan ucapan Fang Lin, karena ia sudah menyerap ingatan milik Penyihir Hitam itu jadi dia sudah tidak dibutuhkan lagi.


Fang Lin memindahkan Penyihir Hitam itu ke dimensi kekosongan miliknya, lalu membunuhnya dalam sekejap menggunakan Qi Dewa.


Setelah itu, Fang Lin mengeluarkan kertas misinya dan menemukan tulisan 'Menyelesaikan'.


"Dengan begini, misiku selesai." Fang Lin bergumam, lalu matanya teralih pada Vulhan, "Kalau begitu, aku pergi dulu, pak tua. Jangan lupakan janjimu..."


"Aku mengerti, pemburu Fang Lin." Vulhan mengangguk pelan.


Fang Lin sendiri keluar dari ruangan tersebut lalu turun ke lantai dasar, ia pergi ke meja resepsionis kemudian menyerahkan kertas misinya yang sudah berhasil diselesaikan.


Pemuda yang berjaga tidak mengatakan apa-apa dan melakukan tugasnya sebagai resepsionis.


Fang Lin menyimpan lima ribu koin emas yang ia dapatkan dari menyelesaikan misi di inventory, lalu berjalan ke tempat papan misi berada.


Di sana ada beberapa orang yang juga sedang melihat misi, kehadiran Fang Lin di antara mereka tidak dihiraukan sama sekali.


"Ada beberapa misi untuk pemburu tingkat Gold, tapi kebanyakan misi remeh." Fang Lin melipat kedua tangannya di depan dada, dan matanya melirik ke pojok kanan atas.


Misi: Membunuh seorang Necromancer yang menguasai Hutan Wantral. Hadiah, sepuluh ribu koin emas.


"Necromancer? Menarik..."


Ketika Fang Lin memegang kertas misi tersebut, ada tangan orang lain sesaat setelah dirinya.


"Apa yang kau lakukan?"


Fang Lin baru menyadari kalau tangan tersebut berasal dari seorang wanita yang ia temui di gerbang kota Heinz beberapa waktu lalu.


"Oh, bukankah ini sebuah kebetulan?" Rosalyn tersenyum manis, lalu menambahkan, "Apakah kamu ingin mengambil misi juga?"


Apa kau buta?


Fang Lin tadinya ingin mengatakan itu tetapi ia mengurungkan niatnya dan menganggukkan kepalanya.


"Wah... Senang sekali! Ayo kita jalankan misi ini bersama?" Rosalyn tampak sangat bahagia.


"Tidak." Fang Lin langsung menolak, kemudian melemahkan tangan Rosalyn yang memegang kertas misi sama dengannya menggunakan Qi.


"Hm?!" Rosalyn begitu terkejut ketika kertas misi tersebut tiba-tiba saja lepas dari genggaman tangannya tanpa dirinya sadari, "H-hei! Aku juga ingin mengambil misi itu!"


Fang Lin tidak menghiraukannya dan berjalan santai menuju ke pintu keluar Serikat Pemburu, tetapi baru beberapa saat ia melangkah-- seorang pemuda muncul di hadapannya dan memberikan tatapan tajam.


"Oh, Cale! Bukankah sudah kubilang untuk tetap diam?" Rosalyn menghampiri mereka berdua dan berdiri di samping Fang Lin, "Aku yang akan mengurusnya."


"Tapi..."


"Baiklah." Cale mematuhinya, dia berbalik dan duduk kembali di kursi yang ia tempati sebelumnya.


Melihat itu, Rosalyn berjalan sedikit ke depan lalu menghadap ke Fang Lin. Ia bisa melihat wajah dari pemuda tampan itu yang sedang memberikannya tatapan dingin.


"Bagaimana kalau kita menyelesaikan misi berdua?" Rosalyn bertanya tanpa memudarkan senyum manisnya.


"Kembalilah ke tempat tinggalmu dan lupakan aku." ucap Fang Lin dengan tenang.


Pupil mata Rosalyn tiba-tiba saja menjadi mati usai mendengar itu, dan beberapa saat kemudian matanya kembali hidup.


"Ah, maafkan aku." Rosalyn memberikan jalan pada Fang Lin, dia berpikir telah menghalangi jalan pemuda itu.


Cale mengerutkan alisnya ketika merasakan ada suatu keanehan, ketika dirinya hendak berdiri-- aura asing menekannya dan membuatnya tidak bisa bangkit dari kursi.


"Kau, juga lupakanlah aku." Fang Lin berkata ketika dirinya berada di samping Cale.


Pupil mata Cale juga berubah menjadi mati, dan kembali hidup setelah dua detik berlalu.


Fang Lin pergi dengan tenang dari sana ketika melihat Rosalyn dan Cale mulai mengobrol satu sama lain, mereka berdua sudah melupakan dirinya dan tidak akan menjadi pengganggu lagi di masa depan nanti.


"Dasar merepotkan." Fang Lin menghela nafas setelah ia berada di luar bangunan Serikat Pemburu.


Fang Lin kemudian melangkahkan kakinya dan alisnya sedikit terangkat saat melihat kelompok Yuna dari kejauhan, penampilan mereka terlihat buruk-- sepertinya baru saja selesai menghadapi pertarungan yang sulit.


"Yuna di mana?" Fang Lin bertanya-tanya ketika dirinya tidak menemukan keberadaan Yuna, "Apa dia mati?"


Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya, dan ketika kelompok tersebut melewatinya-- ia membaca salah satu ingatan dari mereka tanpa diketahui oleh siapapun.


Fang Lin hanya membaca ingatan orang tersebut ketika pagi hari sampai sekarang ini, karena kelompok Yuna baru berangkat pada saat itu.


Di dalam ingatan tersebut, Fang Lin bisa menemukan Yuna bersama kelompok barunya pergi ke sebuah Gua yang jaraknya beberapa belas kilometer dari kota Heinz.


"Apa...?"


Ketika kelompok tersebut masuk ke dalam Gua, Yuna langsung dibuat pingsan oleh salah seorang laki-laki di kelompok tersebut.


Mereka bertujuh kemudian saling mengobrol satu sama lain sembari menatap Yuna yang tergeletak pingsan di tanah.


Jika diperhatikan dari obrolan ketujuh orang itu, sebagian besar dari mereka mempunyai dendam tersendiri pada Yuna dengan alasan yang berbeda-beda.


Tiga laki-laki itu kemudian mengelilingi Yuna dan hendak melakukan tindakan keji terhadapnya. Namun sayangnya, seekor ular raksasa masuk ke dalam Gua tersebut dan mulai menyerang kelompok Yuna.


Kelompok Yuna menghadapi ular raksasa tersebut dengan kondisi terkejut, sepertinya situasi itu tidak berada dalam rencana mereka.


Ular itu kemudian berhasil membuat kelompok Yuna pergi dari Gua tanpa menerima luka serius.


"Sepertinya keberuntungan Yuna sedang bagus."


Menurut Fang Lin, lebih baik Yuna terbunuh oleh sang ular daripada harus diperkosa oleh ketiga laki-laki bejat itu.


"Haruskah aku melihat keadaannya?"


Fang Lin terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan, kalau Yuna masih hidup ia akan menolongnya tetapi jika sebaliknya maka setidaknya dirinya harus menguburkannya dengan layak.


"Dia wanita yang baik, jadi kuharap ular itu sudah kenyang." ucap Fang Lin berharap, lalu pergi menuju ke lorong jalan yang sepi.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.