System Sang Immortal

System Sang Immortal
Puncak Perang


Beberapa menit sebelumnya.


Di Istana Dewa Iblis, saat ini Wang Ling sedang mengawasi peperangan yang terjadi di beberapa wilayah sekitarnya lewat kesadaran spiritual. Ketika sedang fokus, ia tersentak kaget saat mendengar suara gemuruh yang sangat jelas.


Mata Wang Ling perlahan terbuka dan tidak lama setelah itu melebar saat menemukan satu dari tiga pilar batu artefak yang memanggil Iblis Kekacauan sudah hancur berkeping-keping. Fenomena ini tentu saja sangat diketahui oleh Wang Ling, yang artinya-- satu dari tiga Iblis Kekacauan sudah terbunuh oleh musuh.


Wang Ling bangkit berdiri dan aura membunuh dengan segera merembes keluar dari tubuhnya, sesaat setelah itu tujuh Raja Iblis muncul dan langsung berlutut dengan tubuh yang bergetar hebat. Mereka sangat ketakutan ketika merasakan aura membunuh yang dikeluarkan oleh Dewa Iblis, sampai-sampai salah satu dari mereka ada yang kehilangan keseimbangannya.


Wang Ling sendiri menatap tujuh Raja Iblis di depannya, ketika suasana masih dalam keadaan hening-- mata Wang Ling kembali melebar saat melihat dua pilar lainnya hancur berkeping-keping secara bersamaan.


Whooosh!


Aura membunuh yang merembes keluar dari tubuh Dewa Iblis semakin pekat, dengan perasaan marah ia langsung menyatakan puncak perang kepada tujuh Raja Iblis di depannya.


Pernyataan yang dilakukan oleh Dewa Iblis tentu saja membuat tujuh Raja Iblis yang ada di sana merasa terkejut. Namun mereka sama sekali tidak membantah, dan kemudian pergi dari sana untuk memulai persiapan terakhir perang.


***


Di tepi tebing yang menjulang tinggi, Diablo berdiri di sana sembari menatap langit malam yang sunyi. Tidak lama kemudian, ia berbalik dan menemukan tiga perempuan yang tidak lain adalah Mu Lan, Bao En dan Jiao Mian.


Masing-masing dari ketiga perempuan cantik itu memegang sebuah nampan kayu yang di atasnya terdapat Bakpao hangat.


"Setelah ini, aku harap kalian tidak bersikeras untuk balas budi." Diablo berjalan menghampiri mereka bertiga, ia terdiam sejenak sebelum mengambil Bakpao yang dibuat oleh Mu Lan.


Diablo sedikit terkejut karena merasakan Bakpao tersebut cukup enak, setelah menghabiskannya ia langsung memakan dua Bakpao lainnya yang dibuat oleh Bao En dan Jiao Mian.


Hanya dalam waktu kurang dari satu menit saja, Diablo selesai memakan ketiga Bakpao tersebut. Ia kemudian mundur beberapa langkah dan berkata, "Terima kasih dan sampai jumpa lagi."


Karena tidak mau lama-lama di sana, Diablo langsung menghilang dari hadapan mereka bertiga dalam sekejap.


Menghilangnya Diablo secara tiba-tiba membuat mereka bertiga terkejut, ketiganya saling menatap satu sama lain dan menghela nafas panjang secara bersamaan.


"Dia dingin sekali." ucap Jiao Mian dengan suara lemas.


"Kau benar." balas Mu Lan, raut wajahnya terlihat sedih.


"Kakak Lan, Kakak Jiao, kenapa kalian sepertinya tidak rela dia pergi? Kupikir kalian berdua menghela nafas karena merasa lega sudah tidak mempunyai hutang budi dengan pria itu." Bao En merasa ada sesuatu yang janggal.


"Ah, tidak. Aku tidak menyukainya..." jawab Mu Lan cepat, dan diangguki oleh Jiao Mian.


"Aku tidak pernah menuduh kalian menyukai pria itu." Bao En menyipitkan mata dengan penuh kecurigaan, "Apakah kalian ini..."


Wajah Mu Lan dan Jiao Mian memerah, dan keduanya langsung pergi dari sana-- meninggalkan Bao En sendiri.


"Apa-apaan?! Apakah kakak Lan dan kakak Jiao menyukai pria itu?!" Bao En tak habis pikir, ia kemudian menyusul mereka berdua dan berniat untuk menggali informasi lebih jauh.


***


Beberapa hari telah berlalu.


Saat ini Zhou Fan bersama dengan beberapa pilar kepercayaannya sedang melakukan rapat tertutup. Mereka sudah mengetahui kalau Dewa Iblis sedang mengumpulkan kekuatan di beberapa tempat dan berniat untuk melakukan serangan habis-habisan.


"Puncak perang... Dia melakukannya lebih cepat dari yang kita duga." salah satu Pilar berkata dengan raut wajah serius.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia melakukan itu, bukankah mereka tidak akan diuntungkan jika memulai lebih dulu?"


"Entahlah, pasti ada pemicu dibalik semua ini."


"Kita semua harus berhati-hati untuk mengambil langkah selanjutnya, kalau ada kesalahan kecil saja-- kemungkinan Aliansi Istana Iblis akan mengalami kekalahan."


Zhou Fan mendengar semua itu dengan seksama, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan dari mulut, "Untuk sekarang, jangan memikirkan kalah atau menang. Kita berkumpul di sini untuk melakukan beberapa perubahan rencana karena situasi perang yang tidak dapat diprediksi, apakah kalian mempunyai saran?"


"Seperti yang kita tau, Dewa Iblis akan melakukan serangan habis-habisan untuk melawan kubu kita. Bagaimana jika kita memanfaatkan Aliansi Lima Bintang Penjaga untuk menganalisa dan melemahkan kekuatan pasukan musuh?"


"Maksudmu kita akan mengorbankan nyawa mereka begitu?" Mo Fuli, salah satu pilar yang hadir bertanya untuk memastikan.


"Benar. Tentu saja kita tidak akan membiarkan mereka musnah sepenuhnya karena aku tau kalau Kaisar akan menolaknya. Jadi, kita hanya akan mengorbankan nyawa mereka sampai kita tau sebesar apa kekuatan tempur Dewa Iblis."


"Apa kau sudah gila?" tiba-tiba saja Diablo muncul atas udara, dan kemudian terbang turun di tengah meja lingkaran yang memisahkan Zhou Fan serta lainnya, "Jangan korbankan kelompok lain, karena ini adalah perang antara Aliansi Istana Iblis dengan Dewa Iblis. Aliansi Istana Lima Bintang Penjaga hanya membantu perang yang telah kalian mulai, jangan libatkan mereka terlalu jauh..." Diablo berkata dengan nada suara yang terdengar tidak senang.


Pilar yang mengusulkan rencana tersebut langsung bersujud ketakutan setelah mendengar itu, wajahnya langsung dipenuhi dengan keringat dingin dan tubuhnya tidak bisa untuk berhenti bergetar.


"Diablo, tenang saja. Aku juga tidak akan menyetujui rencananya, jadi jangan membunuhnya karena aku masih membutuhkan kekuatan tempur untuk saat ini." ucap Zhou Fan dengan suara tenang. Meskipun terlihat santai dari luar, tetapi saat ini ia cukup panik-- sebab, baru kali ini dirinya melihat Diablo kesal karena sesuatu.


"Kau berpikir terlalu jauh, Zhou Fan. Ini hanyalah masalah sepele, tidak mungkin aku akan membunuhnya." balas Diablo sembari menggeleng pelan, ia lalu turun dari meja tersebut, "Aku mempunyai sebuah rencana, kuharap kalian mau mendengarkannya karena rencana ini adalah sebuah kunci untuk memenangkan perang puncak yang akan kita lakukan nanti."


Zhou Fan terdiam sejenak ketika mendengar itu, begitu dengan yang lainnya. Selang beberapa waktu, ia menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda untuk setuju, dan Diablo sendiri mulai menjelaskan rencananya.


.....


"Apa kau yakin dengan rencana ini? Melawan setengah pasukan dari Dewa Iblis seorang diri?" Zhou Fan bertanya memastikan, walaupun ia tau kalau Diablo sangatlah kuat tetapi dirinya tetap merasa kalau rencana yang diajukan pemuda tampan itu terlalu berlebihan.


Diablo tersenyum tipis dan menjawab dengan santai, "Kau tidak perlu khawatir, di antara bawahan yang Tuan punya-- aku adalah salah satu yang terkuat. Jadi, membantai mahluk lemah yang jumlahnya lebih dari ratusan juta sekalipun-- bukanlah suatu masalah bagiku."


Zhou Fan dan para pilar lainnya hanya bisa menahan nafas ketika mendengar ucapannya, jika orang lain yang mengatakan itu mungkin mereka akan menertawakan sembari mengejeknya-- tetapi semua itu menjadi berbeda kalau Diablo sendiri yang mengatakannya.


Selang beberapa waktu, Zhou Fan menarik nafasnya dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, aku percaya padamu, Diablo. Aku harap kau tidak mengecewakan aku..."


"Tentu saja..." Diablo tersenyum tipis, dan ia melanjutinya, "Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Puncak perang mungkin akan terjadi beberapa hari lagi, jadi dalam kurun waktu itu-- aku akan berusaha membunuh sebanyak mungkin musuh yang kutemui."


Setelah mengatakan itu, Diablo langsung lenyap dari tempatnya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Suasana menjadi hening selama beberapa waktu setelah kepergian Diablo. Pada akhirnya, Zhou Fan membubarkan rapat tersebut karena memang sudah tidak ada lagi yang ingin dibahas.


***


Di ruang pengendali kapal, Zhou Fan duduk di sebuah kursi dan ia menghela nafas panjang. Meskipun baru satu bulan lebih di Alam Iblis, ia merasa kalau dirinya sudah cukup lama berada di sini.


"Ah, apakah gara-gara anakku?" Zhou Fan diam-diam tersenyum tipis, mungkin karena saking tak sabarnya ia ingin bertemu anaknya kembali-- waktu yang ia lewati selama perang berlangsung terasa sangat lama, "Aku penasaran, bagaimana Tuan bisa menghidupkan kembali Liyan'er? Apakah dia mempunyai suatu Artefak yang bisa melakukan itu? Ataukah.... Dia memiliki kenalan seorang Dewa yang bisa menghidupkan kembali makhluk hidup?"


Pikiran Zhou Fan menjadi larut karena pertanyaan-pertanyaan itu, ia sampai tak sadar kalau ada sebuah bayangan hitam yang sedang mengawasinya di pojok ruangan.


***


Saat ini, Diablo sedang melesat dengan kecepatan tinggi di udara. Setiap ada musuh yang terlihat dalam jarak pandangnya, ia tanpa berpikir panjang langsung menghabisi mereka.


"Sebenarnya akan jauh lebih mudah kalau aku langsung meledakkan wilayah-wilayah ini, tapi jika aku melakukannya maka pasukan yang berasal dari kubu Aliansi Istana Iblis akan ikut mati karena masih berada dalam jangkauan seranganku." Diablo bergumam sembari menghela nafas pendek.


Beberapa jam kemudian, alis Diablo sedikit mengerut karena selama beberapa waktu terakhir ia merasa semakin sedikit menemukan makhluk hidup yang berasal dari kubu musuh.


"Apakah mereka sedang berkumpul saat ini? Kenapa aku merasa mereka sangat sedikit sekali..." Diablo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mulai merasa cukup frustasi-- dan pada akhirnya ia menggunakan kesadaran spiritual untuk mencari keberadaan musuh-musuhnya.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.