
Melihat Gwen yang sudah melompat masuk ke dalam pusaran pasir hisap-- yang lain tidak hanya diam dan mulai mengikutinya satu persatu.
"Apa yang kau lakukan, pemula?" Merlin bertanya sembari menatap Fang Lin dengan tatapan acuh tak acuh.
Di antara semua orang, Merlin adalah sosok yang paling pendiam selama di perjalanan-- bahkan Kevin yang terkenal malasnya lebih banyak berinteraksi daripada pemuda tampan berambut pirang itu.
"Ah, aku berpikir untuk membiarkan para senior lebih dulu masuk." Fang Lin sedikit menggarukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Merlin sedikitpun.
"Masuklah sebelum aku." Merlin tampaknya tidak peduli dengan alasan Fang Lin.
"Baiklah, senior." Fang Lin tidak banyak basa-basi lagi dan melompat masuk ke dalam pusaran pasir penghisap.
Merlin sejenak menatap pusaran pasir hisap sebelum melompat masuk ke dalam sana.
Ketika Fang Lin melompat masuk, ia merasa seperti dipindahkan ke dimensi yang berbeda dan itu sama sekali tidak salah.
Saat ini, Fang Lin dan anggota grup yang lain sudah berada di pintu masuk Dungeon. Ia tidak terlalu banyak bereaksi dan hanya menatap pintu gerbang dungeon.
"Peringatan terakhir dariku, adakah dari kalian yang ingin mundur? Aku ingatkan, keamanan grup memang terjamin dengan adanya aku dan beberapa dari kalian-- tapi aku tidak bisa memastikan keselamatan kita semua ketika berada di labirin."
Suasana hening usai Gwen mengucapkan kata-kata tersebut, sama seperti sebelumnya-- tidak ada orang yang ingin mengajukan keluhan.
Gwen terdiam sejenak dan memandangi satu persatu anggotanya, matanya kemudian terhenti di satu arah dan alisnya sedikit terangkat, "Ada apa? Kau ingin kembali?" Gwen bertanya ketika menemukan Fang Lin mengangkat satu tangannya ke atas.
Semua mata langsung tertuju kepada Fang Lin, tidak terkecuali Merlin yang sebelumnya selalu bertindak acuh tak acuh pada sekitarnya.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya sesuatu." Fang Lin menyahutinya dengan kepala yang menunduk ke bawah.
"Apa?" Gwen menanggapi dengan singkat.
"Kira-kira, berapa lama kita akan berada di dungeon ini?"
"Itu adalah pertanyaan yang sulit, aku tidak bisa menjawabnya secara pasti meskipun itu merujuk ke perkiraan kasar."
"Apa maksud dari perkataanmu?"
"Tidak, aku hanya berbicara pada diriku sendiri." Fang Lin tersenyum tipis, dan dengan segera melanjutinya, "Kalau begitu, ayo pergi."
Gwen terdiam selama beberapa waktu dan tidak berkata lebih jauh lagi, ia kemudian berbalik dan menatap gerbang dungeon sejenak, "Kita pasti bisa menyelesaikannya..." Gwen bergumam, tapi suaranya dapat didengar oleh semua anggota yang ada di sana.
"Hahahaha.... Ayo buat nama grup kita tercatat dalam sejarah!" Tiger menambahkan dengan penuh antusias.
Beberapa anggota hanya tertawa kecil, sedangkan Gwen mulai membuka gerbang raksasa itu menggunakan kedua tangannya.
Ketika gerbang tersebut terbuka, mereka langsung menemukan sebuah jalan lurus yang kiri dan kanannya ditutupi oleh sebuah dinding tinggi.
"Ayo masuk..." Gwen berkata dengan suara pelan dan mulai berjalan memasuki dungeon.
Pada saat Gwen melewati gerbang, siluet yang membentuk angka 1/8 muncul tepat di depan gerbang.
"Oh, cara kerjanya seperti array, ya." Fang Lin menganggukkan kepalanya beberapa kali, angka satu mulai bertambah menjadi dua ketika Tiger melewati gerbang itu.
"Kalau angka itu tidak mencapai delapan dalam waktu tertentu, mereka yang sudah melewati gerbang akan terpental keluar." Colin menjelaskan walaupun Fang Lin tidak menanyakan hal itu.
"Begitu, ya. Apakah mereka yang terpental keluar akan mati?" tanya Fang Lin penasaran.
"Eh, tentu saja tidak. Kenapa kau berpikir semacam itu?" Colin menggeleng cepat, dan bertanya dengan alis yang sedikit mengerut.
"Entahlah... Aku memang suka memikirkan sesuatu yang acak." Fang Lin mengakhiri ucapannya dengan tawa kecil.
Colin hanya menggeleng pelan dan tidak berkata lebih jauh lagi, mereka semua kemudian melewati gerbang dungeon itu.
Bersambung......
LIKE >> VOTE >> RATE >> COMMENT.