
"Siapa yang melakukan ini?! Katakan?!!" Teriak salah satu orang dari kelompok berjubah ungu sambil menunjuk ke arah bongkahan es yang mengeluarkan aura dingin.
"Berhenti berteriak sialan! Kau pikir tempat ini punya kau!" Balas pria kecil dari kelompok berjubah kuning.
Mendengar itu membuat orang yang berada di kelompok berjubah ungu tersinggung, Seketika kedua kelompok tersebut saling mengumpat satu sama lain dan tidak ada dari mereka berdua yang ingin mengalah sedikitpun.
"Ck, Ck, Ck Kalian sudah ber-umur, Namun masih saja bertingkah seperti anak kecil..." Ucap Fang Lin yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kericuhan itu.
Mereka semua sedikit terkejut dengan kemunculan Fang Lin tiba-tiba, Dalam sekejap mereka semua mengarahkan senjata ke arah Fang Lin dan menatap-nya dengan tatapan waspada.
"Siapa kau?" Tanya Pria paruh baya berjubah ungu dengan nada menyelidik.
Fang Lin yang mendengar itu hanya mendengus pelan, Ia memasang tatapan sinis sambil tersenyum tipis, "Untuk apa aku memberitahu identitas-ku kepada seseorang yang sebentar lagi menjadi mayat?" Ucap Fang Lin dengan nada sinis.
Mendengar hal itu spontan membuat semua orang yang ada disana marah, "Bocah seperti-mu memang perlu diajari sopan santun!" Ucap pria paruh baya berjubah ungu lalu melesat cepat ke arah Fang Lin dengan tombak besi-nya.
~Slasshhhhh~
Baru saja pria paruh baya tersebut sampai di dekat Fang Lin pandangan-nya tiba-tiba menjadi kabur dan tentu hal itu membuat-nya terkejut, "J-jangan bilang..." Ucapan pria paruh baya tersebut terhenti ketika melihat tubuh-nya dalam keadaan terbalik.
~Bugghhh~
Kepala pria paruh baya tersebut jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah Fang Lin.
Fang Lin yang melihat kepala tersebut menggelinding ke arah-nya hanya diam dan menginjak-nya ketika sudah berada di dekat kaki-nya, "Maju-lah dan serahkan nyawa kalian" Ucap Fang Lin sambil mengarahkan pedang Qi-nya ke depan.
Semua orang yang berada disana langsung melebarkan mata ketika melihat kematian sekejap pria paruh baya itu, "B-bagaimana mungkin seorang ranah raja bintang 3 bisa mati dengan mudah?" Tanya salah satu dari kelompok berjubah kuning dengan nada tidak percaya.
Mendengar itu membuat suasana disana menjadi tegang, Meskipun mereka berada di ranah raja keatas namun tidak ada satupun dari mereka berani maju untuk menyerang Fang Lin.
Fang Lin yang melihat ketegangan mereka hanya menghela nafas panjang, "Ini sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi-ku" Gumam Fang Lin menggelengkan kepala-nya pelan.
Fang Lin sebelum-nya berekspektasi kalau kelompok-kelompok yang mengelilingi-nya saat ini akan menyerang-nya secara bersamaan, Namun apa daya diri-nya ketika melihat mereka yang hanya berdiam diri di tempat seperti sebuah patung.
"Menyedihkan..." Gumam Fang Lin kembali lalu mengayunkan pedang Qi-nya ke samping.
~Slassshhhh~
Dalam sekejap tubuh semua orang yang ada disana terbelah dua dan membuat darah mereka mengalir deras ke lantai.
Fang Lin yang melihat kematian mereka semua hanya diam, Ia kemudian mengangkat tangan-nya dan berkata dengan nada tenang, "Bangkit-lah..."
~Whoooshhh~
Seketika aura hitam memenuhi ruangan yang Fang Lin tempati dan perlahan aura hitam itu membentuk sebuah bayangan manusia yang ia bunuh sebelum-nya.
~Swoooooshhhh~
Tak butuh waktu lama, Sekelompok bayangan manusia berjumlah 150 orang muncul di hadapan Fang Lin, Para bayangan itu berbaris dengan rapi dan berlutut seperti sekelompok prajurit.
"Kami makhluk rendahan ini siap untuk melayani raja kematian" Ucap mereka serempak dengan intonasi suara yang sama.
"Masuk-lah..." Seketika para bayangan manusia itu mengangguk patuh dan melesat masuk ke dalam bayangan Fang Lin.
Melihat para bayangan-nya sudah masuk, Fang Lin mengalihkan pandangan-nya ke arah tumpukan penjara di belakang-nya, "Sepertinya aku harus melihat salah satu ingatan mereka" Gumam Fang Lin saat melihat para budak menatap ke arah-nya dengan tatapan kosong.
~Whoooshhhh~
Seketika Fang Lin menghilang dari sana dan muncul di depan salah satu penjara besi, Ia langsung membuka paksa penjara yang terkunci itu dengan mudah dan mengeluarkan seorang pria ber-umur sekitar 20 tahun.
Fang Lin langsung menaruh tangan-nya ke kepala pria tersebut dan mengaktifkan mata dewa-nya.
~Swooshhhh~
Seketika pupil mata-nya berubah menjadi emas dan beberapa kilasan ingatan muncul di otak-nya seperti sebuah film
***
Fan Zi adalah seorang pria yang tinggal di desa kecil benua timur, Ia memiliki hobi menempa senjata dan mempunyai cita-cita untuk menjadi penempa yang hebat di seluruh benua.
Namun suatu hari, Sekelompok aliran hitam menyerang desa-nya dan membuat kekacauan di desa-nya. Fan Zi yang mengetahui desa-nya di serang langsung mengambil dua buah pedang yang sudah selesai di tempa-nya.
Fan Zi bermaksud untuk membantu para warga melawan kelompok aliran hitam itu, Namun sayang-nya dia dan para warga desa gagal untuk melawan kelompok aliran hitam itu.
Sebagian dari mereka terbunuh dan sebagian-nya lagi tertangkap dengan keadaan tubuh yang dipenuhi luka.
Para kelompok aliran hitam itu langsung membawa para warga desa yang masih hidup termasuk Fang Zi untuk pergi dari sana, Mereka semua berjalan 2 hari 2 malam tanpa diberi makanan sedikitpun.
Mereka semua baru diberi makan disaat mereka sampai di sebuah warung makan. Setelah selesai makan, Mereka semua langsung digiring oleh salah satu dari kelompok aliran hitam itu ke lorong tangga yang gelap.
Tidak ada satupun dari warga desa yang berani berbicara karena takut orang yang menggiring mereka marah.
Tak butuh waktu lama mereka semua sampai di sebuah tempat yang dipenuhi oleh penjara besi. Orang-orang yang terkurung dipenjara besi menatap para warga desa dengan tatapan kosong seakan pikiran mereka dikunci oleh sesuatu.
Saat sampai disana para warga desa disuruh untuk bebaris lurus dengan rapi, Mereka yang mendengar itu mau tak mau harus melakukan apa yang kultivator itu suruh.
"Apakah hanya ini saja?" Tanya seorang pria tampan yang muncul di belakang kultivator aliran hitam itu.
Kultivator yang mendengar-nya langsung menunduk-kan kepala-nya hingga badan, "Y-ya tuan... Karena sebelum-nya mereka sempat melawan kami dan itu membuat kami harus menbunuh orang-orang yang keras kepala" Jawab kultivator hitam tersebut dengan nada sedikit tergagap.
"Ck, Pergilah" Ucap pria tampan tersebut sambil berdecak kesal.
Kultivator aliran hitam itu langsung mengangguk paham dan pergi dari sana, Ia buru-buru pergi dari sana karena takut orang yang dia panggil 'tuan' melakukan sesuatu pada diri-nya.
Bersambung...
LiKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
Novel Baru, Baca ya...