
"Jangan ganggu dia, Linia. Kenapa juga kau mencurigai orang lemah sepertinya?" Zegion menggelengkan kepalanya pelan saat mengucapkan itu.
Linia menatap tajam rekannya yang barusan berbicara, dan berkata, "Jangan ikut campur, Zegion."
"Semakin lama kau semakin bertingkah, ya. Hanya karena Tuan muda dekat denganmu, bukan berarti derajat kita menjadi berbeda." Zegion langsung membalas, nadanya terdengar sinis.
"Aku berbicara sesuai kehendakku, selama yang memberikan perintah diam bukanlah Tuan muda-- aku mempunyai hak untuk terus berbicara dengannya." Linia menyahutinya, nadanya juga tidak kalah sinis.
Zegion menghela nafasnya ketika mendengar itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena terlalu malas untuk berdebat dengannya.
Linia mendengus pelan sebelum tatapannya teralih kembali ke tempat Fang Lin berada, "Kalau begitu, biarkan aku melihat ingatanmu."
"Huh?" Fang Lin mengangkat alisnya.
Yohan yang sedari tadi diam langsung menatap Linia dengan tatapan tidak senang, "Kau sudah melewati batas, kacamata."
"Apanya yang melewati batas? Kasus yang menimpa Tuan muda sangatlah aneh, kalau kalian bisa diajak bekerja sama-- mungkin saja kita akan menemukan jawabannya."
"Lucu sekali, itu adalah ucapan yang bodoh. Kau hanya ingin memenuhi hasrat kecurigaanmu saja, kau tidak mempunyai bukti apapun sehingga melakukan cara konyol seperti ini." Yuna menjawab sembari menatap tajam Linia, dia merasa sedikit muak karena iblis itu terus berusaha memojokkan Fang Lin.
"Wah... Keributan, nih. Menyenangkan, menyenangkan." pemuda dengan satu mata yang tertutup oleh kain menyeringai lebar, ia menikmati suasana saat ini.
Di sisi lain, Gwen yang melihat situasinya mulai memburuk langsung meminta Merlin untuk melakukan tindakan pencegahan pada bawahannya.
"Linia, berhenti berbicara dengan teman-temanku." ucap Merlin acuh tak acuh usai mendapatkan telepati dari Gwen.
Linia yang mendengar itu terdiam sejenak sebelum berdecak kesal.
"Dasar iblis gila." ucap Yohan mengejek, ia sengaja membesarkan suaranya agar bisa didengar oleh Linia.
"Yohan, jangan memprovokasinya..." Gwen dari kejauhan langsung mengingatkan, tatapannya terlihat sangat tajam.
"Baik, baik." Yohan menjawabnya dengan malas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah langit malam.
***
Dalam waktu kurang dari setengah hari, mereka semua akhirnya sampai di dekat wilayah kota Heinz.
Merlin sendiri kemudian memerintahkan Iblis yang mengendalikan elang raksasa untuk mendarat di kedalaman hutan, karena dirinya membawa belasan Iblis di belakangnya-- ia memutuskan untuk tidak mendarat di dekat gerbang kota.
"Sepertinya kita akan berpisah di sini, ya." ucap Yohan sembari meregangkan badannya yang terasa pegal.
Gwen bersama anggota grup yang tersisa mulai turun dari atas punggung elang raksasa, sementara Merlin hanya mengamati teman-temannya itu dalam diam tanpa bergerak sedikitpun.
"Kapan ingin bertemu?" Merlin bertanya ketika pandangannya teralih pada Gwen.
"Aku belum memikirkannya, aku membutuhkan waktu untuk beristirahat." Gwen menjawab.
"Baiklah, aku mengerti." Merlin mengangguk pelan.
"Omong-omong, apakah grup kita akan bubar hari ini?" Yohan bertanya karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Aku serahkan semuanya pada Gwen." jawab Merlin, lalu menambahkan, "Aku pergi dulu."
Tanpa banyak berbicara lagi, Merlin memerintahkan Iblis yang mengendalikan elang raksasa untuk pergi dari sini.
Kepergian Merlin bersama belasan Iblis yang mengawalnya diamati oleh Fang Lin dan juga lainnya.
Mata Fang Lin dan Linia saling bertemu selama beberapa saat.
"Dia cukup tajam, ya..." Fang Lin diam-diam bergumam, kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Oi, pemula. Mau pergi ke mana kau?" Yohan yang melihat Fang Lin berjalan menjauh langsung bertanya.
Fang Lin menoleh ke belakang dan alisnya sedikit terangkat, "Hm, memangnya mau ke mana lagi selain ke kota Heinz?"
"Ah, sial. Jangan pergi sendiri dong!" Yohan menghampiri Fang Lin dengan cepat, lalu merangkulnya sembari tersenyum.
"Mereka jadi akrab, ya..." Yuna tersenyum tipis, matanya teralih pada wanita cantik di sampingnya, "Gwen? Kenapa melamun?"
"Tidak, aku tidak sedang melamun." Gwen yang sedikit tersentak langsung menjawab, "Ayo kita kembali juga."
Yuna terdiam sejenak melihat tingkah Gwen barusan, ia kemudian menganggukkan kepalanya pelan lalu berjalan bersama dengannya.
***
Fang Lin, Yohan, Yuna dan Gwen mulai berpisah untuk kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Karena Fang Lin dan Yuna menuju ke arah yang sama, mereka berdua berjalan berdampingan.
"Apa maksudmu?" Yuna sedikit mengerutkan alisnya, ia tidak menatap Fang Lin secara langsung karena masih belum terbiasa dengan ketampanannya.
"Perkataan Colin beberapa waktu lalu, apakah kau masih kepikiran soal itu?"
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir."
"Aku mengerti."
Mendengar Yuna langsung menutup topik membuat Fang Lin tidak bertanya lebih jauh lagi.
......
"Ternyata tujuan kita sama, ya."
Fang Lin dan Yuna kini sedang berdiri di depan pintu masuk Serikat Pemburu.
"Kebetulan aku mempunyai beberapa urusan di sini. Jadi jangan salah paham, ya." ucap Yuna menjelaskan.
"Hm?" Fang Lin tidak mengerti dengan perkataan Yuna, namun ia memilih untuk tidak menghiraukannya dan berjalan memasuki Serikat Pemburu.
***
"Kalau begitu, aku akan mengambil Kartu Identitas Pemburu-ku terlebih dahulu."
Fang Lin berkata demikian dan tanpa menunggu jawaban dari Yuna, ia langsung pergi menjauh.
Yuna sejenak mengamati Fang Lin dalam diam, kemudian fokus untuk melakukan urusannya di tempat ini.
Di sisi lain, Fang Lin sampai ke meja resepsionis dan ia menemukan perempuan yang sama seperti sebelumnya.
Dia tampaknya belum menyadari keberadaan Fang Lin.
"Permisi, aku ingin mengambil Kartu Identitas Pemburu-ku."
Setelah Fang Lin berkata demikian, perempuan resepsionis itu mengangkat kepalanya dan nafasnya langsung tertahan ketika menemukan seorang pemuda yang ditemuinya satu minggu lalu.
"A-ah... A-anda..." perempuan resepsionis itu langsung tergagap sebelum berdiri dari tempat duduknya, ia kemudian berbalik dan mulai membongkar isi dari rak yang ada di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, perempuan resepsionis itu menghadap ke arah Fang Lin lalu mengulurkan kedua tangannya yang memegang sebuah kartu berwarna kuning.
"Apa itu milikku?" Fang Lin bertanya untuk memastikan, dan perempuan resepsionis itu langsung mengangguk kuat.
Fang Lin tanpa ragu mengambil kartu kuning tersebut, lalu menatapnya sejenak.
"Terima kasih." Fang Lin sedikit menundukkan kepalanya sebelum menyimpan kartu Identitas tersebut ke dalam inventorynya.
"Um, Tuan Fang Lin?"
Ketika Fang Lin hendak pergi dari sana, perempuan resepsionis itu memanggil namanya.
"Ada apa?" Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya.
"I-itu... M-maukah anda berkencan dengan saya?" tanya perempuan resepsionis dengan raut wajah yang merah seperti tomat.
Fang Lin langsung tersedak nafasnya sendiri ketika mendengar itu, ia terdiam sejenak sebelum menolaknya secara tegas.
"B-begitu, ya... M-maafkan saya karena telah membuang waktu anda." perempuan resepsionis itu menundukkan kepalanya serendah mungkin.
Fang Lin tidak terlalu mempermasalahkannya dan kemudian berjalan pergi ke papan misi yang berada tidak jauh dari meja resepsionis berada.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.