
Selesai Pi Yu menceritakan semua-nya, Fang Lin hanya bisa menghela nafas panjang, "Masalah penduduk kota Fang biar aku yang urus nanti, Kau hanya perlu melatih mereka sebisa-mu saja" Ucap Fang Lin dengan nada tenang dan diangguki cepat oleh Pi Yu.
Fang Lin kemudian melirik ke arah yang lain dan bertanya, "Apakah masih ada yang ingin bertanya lagi?" Tanya Fang Lin dengan nada heran.
Mereka semua terdiam ketika mendengar hal itu dan beberapa saat kemudian Bai Hu mengangkat tangan-nya, "Tuan, Apakah anda mengetahui, Siapa yang memilih anda sebagai peserta turnamen semesta?" Tanya Bai Hu dengan penasaran.
Mendengar itu Fang Lin langsung menggelengkan kepala-nya pelan, "Aku juga tidak tau, Tetapi yang pasti orang itu memiliki kekuatan yang berada di luar nalar" Jawab Fang Lin dengan nada tenang.
Fang Lin memang tidak tau siapa yang telah memilih-nya menjadi peserta turnamen semesta, Bahkan saat diri-nya bertanya kepada Yue, Yue sama sekali tidak menjawab pertanyaan-nya.
Mereka semua yang mendengar jawaban Fang Lin hanya bisa diam, Mereka semua juga tau kalau orang yang memilih Fang Lin pasti mempunyai kekuatan di luar nalar.
Sesaat setelah Fang Lin berkata seperti itu, Perwakilan dari penduduk kota Fang dan mantan penghuni hutan terlarang sudah selesai mengumpulkan pertanyaan yang ingin mereka tanyakan.
Fang Lin yang mengetahui hal itu langsung membalik-kan badan-nya dan mempersilahkan masing-masing dari perwakilan mereka mengangkat tangan.
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang di lemparkan ke Fang Lin dan ada juga pertanyaan yang sama dengan apa yang di tanyakan oleh kedua pihak.
......................
Butuh sekitar 30 menit untuk Fang Lin menjawab pertanyaan dari mereka semua. Di saat Fang Lin selesai menjawab pertanyaan mereka semua, Ia langsung membuka mulut-nya dan melanjutkan rapat-nya kembali.
Kali ini Fang Lin menceritakan tentang apa yang di alami Hu Jiazhen sebelum-nya. Tentu cerita tersebut membuat mereka semua terkejut, Terlebih lagi Bai Hu yang mendengar-nya.
Bai Hu begitu terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan tuan-nya, Bagaimana tidak? Dia dan Hu Jiazhen sudah berteman sangat lama, Bahkan sebelum diri-nya bertemu dengan tuan-nya.
Bai Hu ingin menanyakan tentang Hu Jiazhen lebih lanjut, Namun diri-nya menahan mulut-nya untuk tidak berbicara dan membiarkan tuan-nya terus melanjutkan rapat hingga selesai.
Usai memberitahu tentang kejadian yang di alami Hu Jiazhen, Fang Lin langsung mengganti ke topik yang lain.
Fang Lin juga memberitahu kalau dia akan menyiapkan Kolam Suci hari ini, Ia juga membuat peraturan sederhana untuk mereka semua yang ingin memakai Kolam Suci tersebut.
......................
3 Jam Kemudian.
Fang Lin kini telah menyelesaikan rapat yang dia adakan. Mengetahui rapat sudah selesai, Para penduduk kota Fang dan juga para mantan penghuni hutan terlarang langsung izin pamit kepada Fang Lin dan membubarkan diri mereka.
Tak butuh waktu lama, Mereka semua menghilang dari pandangan Fang Lin, Sedangkan Bai Hu yang sedari tadi diam di tempat-nya langsung berjalan pelan ke arah tuan-nya.
Fang Lin yang menyadari kedatangan Bai Hu langsung membalik-kan badan-nya, Ia dapat melihat Bai Hu yang kini sedang berlutut di depan-nya.
"Tuan... Bisakah saya menanyakan sesuatu?" Tanya Bai Hu dengan nada rendah.
Fang Lin yang mendengar itu langsung mengangguk-kan kepala-nya untuk menanggapi pertanyaan Bai Hu, Ia sudah dapat menebak apa yang akan di tanyakan oleh-nya.
Mendengar apa yang di tanyakan oleh Bai Hu membuat Fang Lin menghela nafas-nya, "Keadaan-nya cukup buruk. Beberapa tulang-nya patah dan membuat-nya mengeluarkan banyak darah dari tubuh-nya" Jawab Fang Lin dengan nada tenang. Ia cukup yakin kalau serangan yang di lancarkan orang itu kepada Hu Jiazhen hanya-lah satu serangan, Tetapi kekuatan serangan orang itu dapat membuat tubuh To God level 5 ke atas terluka.
Bai Hu yang mendengar jawaban tuan-nya hanya bisa menahan emosi-nya sambil mengepalkan tangan-nya dengan erat, Ia berjanji pada diri-nya sendiri untuk menyelamatkan Hu Jiazhen jika ada kesempatan.
Fang Lin yang mengetahui Bai Hu marah hanya bisa menghela nafas panjang, Ia juga menyesal karena terlalu lambat untuk menyelamatkan Hu Jiazhen.
Di sisi lain, Bai Hu mencoba meredamkan amarah-nya karena takut tuan-nya tersinggung. Beberapa saat kemudian, Bai Hu menarik nafas cukup dalam dan mengeluarkan-nya secara perlahan, "Terima kasih karena telah menjawab pertanyaan saya tuan, Saya undur diri dulu" Ucap Bai Hu dengan nada hormat sambil menunduk-kan kepala-nya.
Fang Lin yang mendengar-nya hanya mengangguk-kan kepala-nya pelan, Ia lalu melirik ke arah para bawahan-nya yang lain dan berkata dengan nada tenang, "Kalian dapat melakukan tugas kalian sekarang"
Para bawahan langsung mengangguk patuh dan dengan segera melesat ke berbagai arah untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
Melihat para bawahan-nya pergi Fang Lin hanya diam. Kini di tempat-nya hanya tersisa ayah, murid-nya dan juga para calon istri-nya, "Ayo kita kembali, Sudah tidak ada lagi yang dapat kita bicarakan di sini" Ucap Fang Lin lalu menghentak-kan kaki-nya kembali.
Seketika tanah yang Fang Lin pijaki menurun ke bawah dan kembali seperti semua, Ia lalu melirik ke arah para calon istri-nya yang kini sudah berdiri dari kursi es yang dibuat-nya.
~Klik~
Fang Lin menjentik-kan jari-nya dan membuat kursi es mewah yang berada di dekat para istri-nya hancur di tempat menjadi serpihan debu, Ia sebenarnya baru menyadari kalau diri-nya tidak memberikan tempat duduk untuk ayah-nya, "Semoga saja aku tidak dikutuk oleh langit karena durhaka" Batin Fang Lin sambil tertawa hambar.
Fang Lin lalu menatap ayah, murid dan calon istri-nya, "Mari pulang" Ucap Fang Lin pelan dan di angguki oleh mereka semua.
Fang Lin yang melihat anggukan mereka semua langsung melambai-kan tangan-nya ke samping dan dalam sekejap mereka semua menghilang dari sana.
***
Kota Fang, Depan Mansion Fang Qin.
Tiba-tiba Fang Lin dan lain-nya muncul di depan mansion ayah-nya. Fang Lin kemudian menyuruh para calon istri-nya kembali ke mansion karena diri-nya perlu berbicara kepada ayah-nya.
Para calon istri hanya mengangguk patuh ketika mendengar ucapan Fang Lin, Mereka semua langsung berjalan ke arah mansion Fang Lin dan memasuki-nya.
Di sisi lain, Fang Lin yang melihat para calon istri-nya sudah masuk ke dalam mansion langsung menatap ayah-nya kembali, Ia lalu mengulurkan tangan kanan-nya ke arah ayah-nya dan membuat Fang Qin keheranan.
"Cincin apa itu nak?" Tanya Fang Qin dengan heran ketika melihat sebuah cicin hitam polos di telapak tangan anak-nya.
Fang Lin yang mendengar itu langsung tersenyum tipis dan menjelaskan cincin yang berada di tangan-nya ini.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
NOTE: Maaf ya ceritanya agak terburu-buru, Soalnya author lagi agak sibuk. Satu lagi jangan lupa VOTE ya