
Satu minggu berlalu semenjak kepergian Li Fan dan Sylvia.
Fang Lin melalui penglihatan boneka bayangannya bisa menemukan kalau mereka berdua sekarang sedang menghadapi masalah serius di sebuah Kerajaan yang mayoritasnya berasal dari bangsa Elf.
Kerajaan tersebut bernama Zivon, yang dipimpin oleh seorang Elf paruh baya bernama Aslan.
Aslan sendiri adalah paman Sylvia sekaligus seseorang yang menyandang gelar White Sage.
Sekarang ini, Sylvia merasakan sakit hati yang luar biasa ketika mengetahui kalau pamannya telah mengkhianati dirinya hanya karena menginginkan tahta kerajaan saja.
Kekacauan terjadi di Kerajaan Zivon, ada banyak pihak yang mendukung Aslan karena dia sudah menduduki Kerajaan lebih dari seratus tahun tetapi ada beberapa juga yang mendukung Sylvia karena sudah sewajarnya kalau pewaris utama menduduki Kerajaan tersebut.
Fang Lin hanya mengawasi peristiwa itu sembari melihat anak-anaknya berlatih, selama nyawa mereka tidak terancam maka boneka bayangannya akan tetap diam.
"Kuharap tidak terjadi sesuatu yang besar." Fang Lin mengharapkan itu dalam hati.
***
Setengah hari berlalu, peristiwa yang menimpa di Kerajaan Zivon saat ini semakin besar, pembunuhan mulai terjadi ketika Aslan menyatakan kalau dia akan membunuh Li Fan dan juga Sylvia.
"Pada akhirnya semua diselesaikan dengan kekerasan." Fang Lin menghela nafas panjang lewat mulut, lalu meminta anak-anaknya untuk kembali ke Mansion.
Karena anak-anaknya cukup manja, Fang Lin meminta bantuan dari beberapa istrinya agar mereka mau berpisah dengannya.
Setelah itu, Fang Lin memberitahukan pada Yue tentang masalah yang dihadapi oleh Li Fan dan Sylvia sekarang ini.
"Bagaimana pendapatmu? Haruskah aku datang untuk meminimalisir kematian?" tanya Fang Lin penasaran.
"Pembantaian di Kerajaan itu tidak akan sampai menarik perhatian Dewa dari Dunia atas, lebih baik kamu mengawasinya saja. Lagipula, tanpa perlu ikut campur Li Fan dan Sylvia pasti sudah bisa mengendalikan diri." jawab Yue dengan tenang.
"Aku paham." Fang Lin memutuskan telepatinya, lalu mengawasi situasi yang terjadi di Kerajaan Zivon.
......................
Selama kurang dari satu jam Fang Lin mengawasi, alisnya perlahan mengerut ketika muncul retakan ruang di langit.
Tidak lama setelah itu, seorang perempuan berambut putih keluar dari retakan tersebut, matanya terpejam dan aura yang aneh keluar dari tubuhnya sehingga membuatnya terlihat bermartabat.
Pada saat itu juga, dua boneka bayangan muncul dan membelakangi Li Fan serta Sylvia, keduanya merasa terkejut melihat makhluk bayangan tuan mereka ada di sini.
Perempuan berambut putih yang memejamkan matanya itu perlahan terbuka dan memperlihatkan sepasang mata berwarna ungu cerah, ekspresinya sedikit berubah ketika menemukan dua makhluk kematian yang mempunyai kekuatan mengerikan.
Fang Lin yang melihat mulut perempuan itu terbuka dan mulai bicara langsung meminjam indra pendengaran dari makhluk bayangannya sehingga ia bisa mendengar apa yang dikatakan olehnya.
"Shiraori, itulah namaku." ucap perempuan itu singkat.
"Siapa kau?" Li Fan bertanya, nadanya terdengar waspada karena perempuan bernama Shiraori ini lebih kuat darinya maupun Sylvia.
"Dewi Serigala Putih."
Tanpa terlihat keberatan sedikitpun, Shiraori memberitahukan identitasnya.
"Jadi, apa yang membuatmu kemari?" Li Fan kembali bertanya.
"Aku mempunyai perjanjian dengan Kerajaan Zivon, yang di mana aku akan melindungi wilayahnya selama seribu tahun." jawab Shiraori tenang.
Sylvia sendiri langsung menahan nafasnya dengan kedua mata yang melebar secara sempurna.
Li Fan tentu menyadari reaksinya itu, dan bertanya, "Ada apa?"
"Dia... Dia sepertinya Guru dari ibuku." ucap Sylvia, lalu kembali berkata dengan nada yang lebih tinggi, "Itu benar, 'kan?!"
Li Fan sedikit mengerutkan alisnya, sementara Shiraori memasang senyum tipis di wajahnya.
"Kamu, sudah besar rupanya."
Di sisi lain, Aslan yang sedari tadi menyaksikan itu dalam diam bersama dengan beberapa penyihir Elf lainnya mulai angkat bicara, "Karena Sylvia telah membuat kekacauan di Kerajaan Zivon, kau mempunyai hak untuk menyingkirkannya. Aku harap kau tidak melibatkan perasaan pribadi dalam masalah ini."
Aslan berkata demikian dengan tenang, meskipun begitu dirinya cukup gelisah karena takut kalau Shiraori berpindah dari pihaknya.
"Sedari awal, kau yang telah membuat kekacauan! Putri Sylvia kemari karena ingin mengambil kembali haknya sebagai pewaris resmi Kerajaan Zivon!" seru salah seorang Elf yang berada di pihak Sylvia.
"Itu benar. Kau hanya seorang pencuri, White Sage." timpali Elf lainnya yang memakai kacamata bulat.
"Aku pencuri? Lucu sekali..." Aslan mengeraskan ekspresinya, lalu berkata dengan nada kuat, "Semenjak Sylvia menghilang aku adalah satu-satunya orang yang mempunyai darah dari Raja sebelumnya, itu artinya aku seorang pewaris resmi yang berhak menjadi raja di Kerajaan Zivon! Apa aku salah?"
"Kau tidak salah, tetapi sekarang Putri Sylvia telah kembali jadi sebagai anak dari Raja sebelumnya, dia berhak mengambil alih posisimu saat ini!" ucap Elf berkacamata.
Aslan tidak menanggapinya dan hanya memasang raut wajah marah, ia memandangi Shiraori yang sedari tadi mengamati lalu berkata, "Aku masilah seorang Raja, dan aku tidak sudi untuk menyerahkan posisi yang sudah kududuki selama seratus tahun padanya! Kau harus berpihak padaku, Shiraori. Meskipun tidak ada kontrak tapi janji tetaplah janji, apa kau mau mengkhianati ucapanmu sendiri?"
Shiraori diam tanpa mengatakan apapun, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Sylvia yang sudah melayang beberapa belas meter di depannya.
"Sepertinya kita bertemu di waktu yang tidak tepat, bukan?" Shiraori tersenyum pahit, "Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menarik kata-kataku."
"Aku mengerti, lagipula aku tidak tertarik dengan Kerajaan ini. Aku hanya mau Paman bisa bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Dia masih raja di Kerajaan ini, Sylvia. Kau tidak bisa meminta pertanggungjawaban karena aku akan melindunginya." Shiraori menggelengkan pelan kepalanya.
"Bibi, bisakah kamu pura-pura tidak melihat ini? Tolong kembalilah dengan tenang..." Sylvia memohon, raut wajahnya tampak sedih.
"Aku sekali lagi minta maaf, Sylvia. Namun, aku bukanlah tipe orang yang bisa menarik janjiku bahkan jika nyawaku terancam sekalipun." Shiraori tetap memegang teguh prinsipnya.
Di sisi lain, Li Fan yang mendengar semua pembicaraan mereka berdua langsung melakukan telepati pada istrinya itu, "Lebih baik kita kembali, Sylvia. Aku akan membicarakan masalah ini dengan guru."
Sylvia termenung selama beberapa waktu sebelum menghembuskan nafasnya dari mulut, "Kalau begitu, aku akan pergi dari sini."
Sesaat setelah Sylvia berkata demikian, kubah penghalang raksasa muncul dan menutupi seluruh Kerajaan Zivon.
"Sayangnya, aku tidak berniat membiarkanmu pergi." Aslan memasang ekspresi dingin, jika dirinya membiarkan Pewaris resmi semacamnya hidup maka setiap waktunya takhta-nya di Kerajaan ini akan terus terancam.
Li Fan langsung kesal ketika mendengarnya, ia berkata, "Dasar bajingan! Kau sudah membuat keputusan yang salah besar!'
"Kesalahan besar? Tidak, ini adalah keputusan yang tepat." Aslan menanggapi, lalu ribuan Golem batu muncul di atas langit dan mengepung Li Fan serta yang lainnya, "Mulai sekarang, aku akan membunuh kalian berdua dan semua orang yang telah mengkhianatiku!"
Ribuan golem itu langsung bergerak maju ke tempat Li Fan, Sylvia dan para Elf yang berada di pihak mereka berdua.
Dua boneka bayangan yang sedari tadi diam langsung menghancurkan ribuan golem tersebut dalam kurun waktu kurang dari lima detik saja.
Aslan yang menyaksikan hal tersebut merasa jantungnya ingin copot, kedua matanya melebar dengan sempurna dan nafasnya tertahan.
Tidak hanya dia yang terkejut tetapi sebagian besar orang di sana juga merasakan hal yang sama.
"Kekuatan dan kecepatan yang sangat luar biasa, aku bahkan hampir tidak bisa mengikutinya." Shiraori berdecak kagum, lalu bertanya pada Sylvia, "Siapa yang memiliki makhluk seperti itu?"
Sylvia sedikit tersentak sebelum menjawab, "Dia adalah Tuanku."
"Tuan?" satu alis Shiraori sedikit terangkat, jelas dirinya tertarik.
Sementara itu, beberapa bulir keringat dingin muncul di dahi Aslan, "Ini gila, bagaimana bisa Sylvia mempunyai makhluk semacam itu bersamanya?"
Ketakutan dan kegelisahan mulai menyelimuti hati Aslan tetapi ia tetap berusaha untuk terlihat tegar, matanya kemudian teralih pada Shiraori dan berkata, "Bantu aku mengalahkan dua makhluk itu!"
Shiraori menyipitkan sedikit matanya, ia sedikit kesal ketika diperintahkan oleh makhluk yang lebih lemah darinya. Namun, dirinya tidak mempermasalahkannya hal tersebut dan mulai membantu Raja Elf itu mengalahkan dua boneka bayangan.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.