
Dua hari telah berlalu.
Tidak ada banyak terjadi pada Fang Lin selama pertandingan berlangsung, waktu yang tersisa bagi para murid kini sudah kurang dari sehari.
Fang Lin mengangkat pergelangan tangan kanannya, lalu memeriksa poin yang telah berhasil diperoleh tahun ajaran pertama.
"17.420.000 ya... Itu jumlah yang banyak, apa aku terlalu berlebihan, ya?" Fang Lin bertanya-tanya, "Meskipun kebanyakan monster yang kubunuh adalah monster level satu sampai tiga tetapi jumlahnya sudah mencapai angka ribuan."
Perlu diketahui, setiap membunuh monster level satu akan mendapatkan 50 poin, monster level dua adalah 150 poin, monster level tiga adalah 300 poin, monster level empat adalah 650 poin, monster level lima adalah 1.500 poin, dan monster level enam adalah 5.000 poin.
"Ya, sudahlah. Lagipula kalau tahun ajaran pertama yang menang itu akan menguntungkan orang-orang di kelasku." Fang Lin tidak berniat memikirkannya lebih jauh.
Omong-omong, bagi tahun ajaran yang menang di pertandingan ini akan mendapatkan akses selama satu minggu penuh untuk masuk ke dalam duplikat Perpustakaan Dunia.
Perpustakaan Dunia adalah sebuah tempat yang mencakup semua informasi tentang Dunia Evangellion, mau itu tentang hal kelam yang disembunyikan oleh suatu Kerajaan atau sihir hitam yang dapat menghidupkan kembali orang mati.
Intinya, Perpustakaan Dunia adalah sebuah tempat yang sangat diidam-idamkan bagi para Warrior maupun Penyihir.
Namun, karena Perpustakaan Dunia yang nantinya akan dimasuki hanyalah duplikat semata, jadi tidak akan ada buku sihir yang bisa berpotensi untuk menjadi bencana.
"Omong-omong, apakah Dulhan memperkirakan ini?"
Setelah terdiam sejenak, Fang Lin entah kenapa kepikiran dengan pak tua itu.
"Udah kali, ya? Tapi kalau udah, kenapa dia tidak memperingatkanku untuk menahan diri?"
Fang Lin memikirkan itu selama beberapa waktu sebelum menggelengkan kepalanya pelan, "Untuk apa aku memikirkannya, itu tidak penting."
Fang Lin menepis pemikirannya itu, kemudian turun dari atas batang pohon dan kembali berjalan tanpa tujuan.
***
Pertandingan akhirnya berakhir tanpa adanya kejadian yang menghebohkan, semua murid sekarang telah kembali ke arena dan berada di tempat sebelumnya. Jumlah murid banyak yang berkurang jika dibandingkan pada saat pertandingan belum dimulai.
Fang Lin sendiri melirik ke arah kiri dan dirinya tidak menemukan keberadaan William, sementara itu Finn yang berada di sebelah kanannya sedang dalam keadaan terluka.
"Kau tampak tidak baik-baik saja." ucap Fang Lin membuka topik.
Finn sedikit tersentak sebelum menoleh ke sebelahnya, "Ah, kelompok kami cukup kesulitan ketika melawan monster level enam." ucap Finn dengan nada yang sedikit rendah.
Fang Lin hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk menanggapi itu, ia menatap ke tengah lapangan arena yang sudah ada Dulhan beserta Guru dan juga Instruktur.
Finn melihat pemuda di sampingnya dari atas sampai bawah, "Sepertinya kau baik-baik saja."
"Hahaha... Begitulah, aku tidak terlalu aktif membunuh monster." balas Fang Lin berbohong.
"Begitu, ya..." Finn sama sekali tidak mempermasalahkannya meskipun mendengar Fang Lin tidak banyak berkontribusi untuk tahun ajaran pertama.
"Omong-omong, William didiskualifikasi, ya?" Fang Lin kembali membuka topik obrolan, "Dari yang kudengar, dia mencoba membunuh Arthur secara diam-diam."
Finn yang mendengar itu langsung tersenyum pahit, "Aku sendiri tidak menyangka kalau dia akan bertindak seperti itu, padahal William yang kukenal selalu baik pada orang lain."
Untung saja Arthur bisa menghindari serangan diam-diam yang dilancarkan oleh William, meskipun dia langsung terluka ketika mendapatkan serangan lain dari monster level lima yang dilawannya tetapi itu jauh lebih baik.
"Kalau saja seorang guru tidak datang setelah kejadian itu, mungkin William sudah mati." ucap Fang Lin dengan nada datar.
Finn yang mendengarnya langsung mengerut alis, "Apa maksudmu?"
"Hm, kau seharusnya tidak bodoh, bukan?" Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya, lalu menambahkan, "Jika ada orang yang berniat membunuhmu, apa kau akan diam dan memaafkannya begitu saja?"
Finn mematung sejenak ketika mendengar itu, kalau ia berada di posisi korban maka dirinya akan berusaha membela dirinya.
"Tapi, kalau yang melakukannya adalah teman sekelasku, aku tidak akan berusaha membalasnya melainkan menanyakan alasan mengapa dia melakukan itu." ucap Finn dengan raut wajah serius.
"Kau benar. Jika tidak ada guru yang datang, mungkin Arthur akan bertanya-tanya mengenai alasan William berusaha membunuhnya ." Fang Lin tidak berusaha menyangkal perkataan Finn, lalu melanjutinya "Namun orang seperti William tidak akan membunuh seseorang hanya karena iseng saja, pasti ada alasan dibalik itu sehingga membuat Arthur berpikir untuk membalasnya."
Dunia Evangellion sangat mirip dengan Dunia tempat Fang Lin berasal, hukum rimba berlaku di sini. Semisalnya ada orang yang berusaha memangsa Fang Lin, maka dia akan memangsa orang itu terlebih dahulu.
Finn tidak mengatakan apapun usai mendengar perkataannya.
"Kau memang orang yang beradab dan baik, Finn. Tetapi aku yakin kalau kau bukanlah orang naif sehingga mengharuskanku memberi contoh untukmu agar bisa mengerti." ucap Fang Lin menambahkan.
Finn menghela nafas panjang sebelum menganggukkan kepalanya, "Ya, aku mengerti maksudmu."
Fang Lin tersenyum tipis dan tidak mengejar topik itu lebih jauh lagi, ia kembali memperhatikan Dulhan yang kini mulai berbicara.
"Aku senang karena kalian semua telah berhasil bertahan hidup di tempat itu selama tiga hari penuh, dan mengumpulkan poin dengan sekuat tenaga kalian." ucap Dulhan sembari tersenyum, "Meskipun hanya ada satu pemenang di pertandingan ini, aku harap kalian tidak merasa sedih dan mulai mengevaluasi kekuarangan diri sendiri agar bisa memaksimalkan potensi kalian di pertandingan selanjutnya nanti."
Sebelum mengumumkan tahun ajaran mana yang akan memenangkan pertandingan ini, Dulhan melakukan beberapa pidato yang menyemangati mereka.
Kemudian, suasana menjadi hening setelah Dulhan terdiam selama satu menit.
"Selamat untuk tahun ajaran pertama, kalian adalah pemenang di pertandingan ini!" ucap Dulhan dengan lantang.
Seketika, sorakan senang yang datang dari berbagai arah langsung memenuhi arena, tentu saja itu berasal dari semua murid tahun ajaran pertama.
"Aku tak menyangka kalau kita akan menang." Finn merasa cukup terkejut sesaat setelah Dulhan berkata demikian.
Sementara Fang Lin hanya tersenyum, hasil akhir dari pertandingan ini tidak mengejutkan dirinya. Bukan karena ia telah memprediksinya, tetapi mau menang ataupun kalah dirinya tidak akan peduli sama sekali.
Raut wajah para murid dari tahun ajaran kedua maupun ketiga langsung muram setelah mengetahui kalau mereka kalah, tetapi di sisi lain mereka juga terkejut karena tahun ajaran pertama yang menjadi pemenangnya.
"Tahun ajaran pertama yang sekarang mungkin akan sedikit spesial." Guru Arnold tersenyum tipis.
Beberapa guru lainnya juga berpikiran sama, sedangkan Dulhan tidak berpikir demikian dan matanya teralih ke tempat Fang Lin berada.
Pandangan mereka berdua bertemu, dan Fang Lin tersenyum tipis lalu mulai melakukan telepati untuk mengobrol dengannya.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.