System Sang Immortal

System Sang Immortal
Pertandingan Antar Tahun Ajaran II


Saat ini, Arthur sedang berada di pinggir danau yang luasnya tidak main-main. Di sekitarnya ada beberapa teman sekelasnya dan murid dari kelas atau tahun ajaran lain.


"Oh, Arthur... Halo."


Seorang perempuan cantik datang menghampiri Arthur, dia adalah Anna, ketua kelas dari kelas 1-D.


"Dia dekat dengan Master akhir-akhir ini, ya?" pikir Arthur, lalu menyapanya balik.


"Ayo kita kumpulkan teman-teman yang ada di sekitar sini." ajak Anna tanpa memudarkan senyumannya.


Arthur terdiam sejenak sambil memasang ekspresi berpikir, sebenarnya ia ingin bergerak seorang diri tetapi yang mengajaknya sekarang adalah ketua kelas apalagi dia dekat dengan Master-nya.


"Baiklah."


Setelah menimbang pilihannya selama beberapa saat, Arthur akhirnya memilih untuk mengikuti ajakan ketua kelasnya.


Mereka berdua kemudian menghampiri orang-orang yang berasal dari kelas sama, lalu mengajak untuk berada di satu kelompok.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua akhirnya berhasil mengumpulkan teman-teman sekelas mereka seperti Amber, Goshu, Ranie, William dan Miguel.


"Emm... Sepertinya sudah tidak ada lagi teman sekelas kita, ya?" Anna mengedarkan pandangannya ketika mengatakan itu, "Kalau begitu, ayo kita kumpulkan poin sekarang."


Anna tersenyum sembari menatap keenam teman sekelasnya.


"Ah, tunggu... Aku tidak akan bergabung ke dalam kelompok ini." Arthur mengangkat tangan kanannya.


"Eh, ada apa?" Anna sedikit memiringkan kepalanya, "Kalau dengan adanya dirimu, kelompok ini bisa menjadi sangat kuat."


"Maafkan aku, tapi aku ingin meningkatkan pengalaman bertarungku dengan melawan monster di pertandingan ini seorang diri." ucap Arthur menjelaskan alasannya.


"Meningkatkan pengalaman bertarung bisa kapan saja, pertandingan ini sangat penting bagi semua tahun ajaran. Lebih baik kita bergerak berkelompok karena itu jauh lebih efesien." William berkata dengan sinis.


Perkataan yang dilontarkan oleh William memang sangat benar, bergerak bersama kelompok adalah hal yang paling efesien dalam pertandingan ini. Namun, Arthur yang sekarang sudah sangatlah kuat, dia mungkin sebanding dengan beberapa Guru di Akademi.


Jadi, bergerak seorang diri adalah hal paling efesien bagi Arthur sebab jikalau dirinya bergerak secara berkelompok, maka kelompok tersebut yang akan menjadi hambatan.


"Kau benar, tapi keputusanku sudah bulat." Arthur tetap menolak untuk bergabung.


"Haaah... Si brengsek ini, haruskah aku menghajarmu agar kau paham?" William tanpa takut berjalan mendekati Arthur, "Kau sepertinya menjadi arogan setelah menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya."


Ketika William berhenti tepat di hadapan Arthur, ia mengeluarkan Niat Membunuh yang cukup kental.


"Lucu sekali, orang sepertimu ingin mendominasiku?" Arthur tertawa kecil sebelum tangan kanannya meraih leher William dan mencengkeramnya dengan sangat kuat.


William melebarkan mata saat tangan Arthur sudah berada di lehernya, ia mengeraskan raut wajahnya dan mencoba untuk melepaskan duri dari cengkraman itu.


"Sialan! Apa-apaan tenaganya ini?!" William begitu terkejut dengan tenaga pemuda di depannya, ia memegang lengan Arthur dan mencoba mematahkannya tetapi dirinya sama sekali tidak bisa melakukan itu, "B-bangsat... Lepaskan aku!"


Anna yang sedari tadi mengamati itu dalam diam langsung mendekati mereka berdua dan berusaha melerainya, "Tolong hentikan ini, Arthur. Kau bisa didiskualifikasi karena berniat membunuh sesama murid..." ucap Anna dengan nada yang terdengar gelisah.


Arthur melirik ke arah Anna sebelum melepaskan cengkramannya pada William, "Kau ini lambat atau memang sengaja, ketua kelas?"


"Apa maksudmu?" Anna sedikit mengerutkan alisnya.


"Lupakan saja, aku cukup yakin kalau kau bukan orang bodoh." ucap Arthur acuh tak acuh, lalu pergi dari sana tanpa mempedulikan mereka lagi.


"Membosankan sekali."


Fang Lin menghela nafas panjang berulang kali sembari memperhatikan jalannya yang dipenuhi dengan semak belukar.


"Tidak ada sesuatu yang bisa menghiburku di tempat ini, haruskah aku pergi?" Fang Lin terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepalanya pelan, "Yah, karena aku masih berstatus murid di sini, aku tidak bisa kabur begitu saja."


Fang Lin tidak mau melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti itu, selama ia masih seorang murid di Akademi Bintang maka dirinya akan terus melakukan apa yang dilakukan sebagai seorang murid pada umumnya.


Fang Lin kemudian membunuh semua monster yang ia temui selama di perjalanan, karena dimensi ini diawasi oleh Guru dan Instruktur, ia tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menarik perhatian mereka seperti mengalahkan para monster itu hanya dengan menggunakan aura.


Setelah beberapa saat berlalu, Fang Lin keluar dari hutan dan menemukan sekelompok orang yang sedang melawan tiga badak raksasa bercula petir.


Fang Lin bisa merasakan kalau ada kelompok lainnya yang bersembunyi dan mengamati pertempuran kelompok tersebut dari kejauhan.


"Hm?" Fang Lin terdiam sejenak sebelum alisnya sedikit terangkat, "Apakah mereka berniat untuk mencuri monster dari kelompok itu ketika sekarat?"


Fang Lin bertanya-tanya karena merasa cukup penasaran, hal ini sedikit menarik minatnya sehingga ia memilih untuk menunggu dan mengamati situasi lebih lanjut.


......................


Sepuluh menit berlalu.


Pada saat ketiga badak bercula petir itu sudah terlihat di ambang kekalahan, kelompok yang sudah mengawasi dari jauh segera muncul dan membentuk formasi lingkaran untuk mengepung mereka.


"Apa-apaan ini, bajingan?"


Seorang pria berbadan besar menatap kelompok yang baru saja datang dengan tatapan tajam.


"Hei, sopan sedikit jika berbicara dengan seniormu. Apakah tahun kedua tidak mempunyai etika sama sekali?"


Seorang pemuda jangkung yang memegang sabit hitam di tangan kanannya terkekeh kecil usai berkata demikian.


"Kalian brengsek, apakah kalian berniat mencuri mangsa kami?"


"Ah, apa sih? Mencuri? Lucu sekali... Tidak ada yang namanya mencuri di pertandingan ini." pemuda jangkung itu memasang senyum lebar, lalu mengangkat sabitnya ke arah tiga badak bercula petir yang berkumpul di satu tempat, "Habisi mereka!"


Ketika pemuda jangkung berteriak seperti itu, semua orang yang datang bersamanya langsung menyerang ketiga monster badak tersebut menggunakan kekuatan penuh.


"Jangan biarkan para brengsek itu membunuh mereka, ayo kita serang juga!" pria berbadan besar juga memberikan arahan, sehingga membuat semua orang dari dua kelompok tersebut menyerang ketiga monster badak bercula petir dari berbagai arah.


Sementara itu, Fang Lin yang sudah mengawasi dari kejauhan langsung tersenyum, ia kemudian mengeluarkan tiga koin emas dari inventory lalu mengalirinya dengan Qi.


Swooosh!


Tanpa banyak bicara lagi, Fang Lin menembakkan ketiga koin emas itu secara bersamaan dan dalam sekejap saja membuat ketiga monster badak bercula petir mati dengan kepala mereka yang ditembus secara sempurna sehingga membentuk bolongan.


Tentu saja kejadian yang menimpa ketiga monster badak itu membuat semua orang dari kedua kelompok terkejut bukan main.


Di kala mereka dilanda kebingungan, Fang Lin langsung pergi dari sana sembari bersenandung. Dia tidak mempunyai alasan khusus bertindak demikian dan hanya murni iseng saja.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.