
Pertarungan terjadi di langit Kerajaan Zivon, penyihir Elf dari kedua kubu mulai menjauh karena pertarungan itu benar-benar di luar kemampuan mereka.
Di sisi lain, para penduduk yang berada di Kerajaan Zivon begitu terkejut ketika melihat berbagai sihir dan ledakan terjadi di atas langit.
Penduduk mulai berhamburan dalam keadaan sangat panik, teriakan dari anak kecil sampai orang dewasa mulai terdengar.
Sylvia yang melihat itu tidak tinggal diam saja, ia menciptakan sihir penghalang yang melindungi daratan dari dampak serangan di atas langit.
Setelah itu, Li Fan dan Sylvia sedikit menjauh lalu menyaksikan pertempuran itu dalam diam.
"Apa yang harus kita lakukan?" Sylvia bertanya sembari menoleh pada suaminya.
"Hm, untuk sekarang kita akan melihat situasi terlebih dahulu. Karena boneka bayangan tidak mungkin kalah, ini mungkin akan menjadi kesempatan bagi kita untuk membalas perbuatan orang tua itu." jawab Li Fan dengan tenang.
Sylvia terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya setuju, kemudian ia menyaksikan pertempuran yang sedang terjadi dan menemukan pamannya berada dalam kondisi terpojok.
"Bibi masih bisa tenang, aku yakin dia cukup sebanding dengan Khatz." ucap Sylvia mencoba mengukur kemampuan perempuan cantik itu.
Li Fan tidak mengatakan apapun, ekspresinya terlihat cukup serius.
Sementara itu, Fang Lin yang mengawasi dari sudut pandang boneka bayangan menghela nafas panjang. Bisa-bisa Kerajaan Zivon hancur akibat dampak dari pertarungan mereka, meski sekalipun Sylvia sudah berusaha melindunginya.
Fang Lin memutuskan untuk membantu mereka, tetapi untuk sekarang ia akan melihat situasinya sampai beberapa waktu ke depan.
......................
Waktu berlalu begitu cepat.
Berita tentang Kerajaan Zivon yang ditutupi oleh Kubah Mana langsung menyebar dengan sangat cepat di Benua Waraghon.
Kondisi di dalam Kerajaan tersebut bisa dibilang tidak baik, sebab dampak pertarungan mereka hampir menghancurkan penghalang Sylvia yang sudah dibantu oleh Li Fan.
Para penyihir Elf yang berusaha bertahan dari dampak pertarungan itu juga mulai kelelahan, walaupun tidak ikut serta ke dalam pertarungan tersebut tetapi Mana mereka selalu dipakai untuk menciptakan lapisan pelindung yang melindungi diri sendiri.
Di sisi lain, Aslan sudah kehabisan sebagai besar Mana-nya dalam kurun waktu kurang dari setengah jam. Nafasnya kini terengah-engah ketika berusaha bertahan dari serangan fisik yang dilancarkan oleh boneka bayangan, "Bajingan! Bagaimana aku, seorang White Sage, kalah?!"
Meskipun Aslan sendiri benci berpikir demikian, ia tetap bertanya-tanya.
Aslan tentu saja tidak bisa menerima situasi sekarang ini karena dia adalah seorang Penyihir jenius yang menyandang Gelar dari sembilan Sage, bahkan di antara para Sage lainnya dia adalah yang terkuat nomor tiga.
Sedangkan Shiraori hanya diam dan fokus dalam pertarungannya, ia tidak berada dalam posisi kalah tetapi bukan dalam posisi menang juga.
"Meskipun hanya menggunakan kekuatan fisik saja dan serangan dasar dari Mana tetapi aku dibuat sampai seperti ini." Shiraori sebenarnya terkejut bukan main, namun ia memilih untuk tidak mengekspresikannya, "Kalau aku harus melawan dua makhluk ini, terpaksa aku harus menggunakan sihir area meskipun nantinya akan memberikan kerusakan serius pada Kerajaan Zivon dan wilayah di sekitarnya.
Ketika sedang memikirkan bagaimana cara dirinya menang, Shiraori sedikit terkejut ketika merasakan kehadiran orang lain yang baru saja muncul entah dari mana.
Shiraori mengawasi sekitarnya menggunakan Kesadaran Mana dan menemukan seorang pemuda tampan yang berada di hadapan Sylvia serta pasangannya.
"Siapa dia?" Shiraori bertanya dalam hati, ia tidak merasakan hawa keberadaan yang kuat dari pemuda tersebut tetapi nampaknya Sylvia dan Li Fan menunjukkan rasa hormat padanya, "Apakah dia 'Tuan' yang dimaksud oleh Sylvia sebelumnya?"
Shiraori yang memikirkan itu langsung terkejut saat melihat boneka bayangan di hadapannya berhenti menyerang dan mundur menjauh.
Hal yang sama terjadi pada Aslan, dan itu juga membuatnya terkejut.
"A-apa?" Aslan mengikuti ke mana boneka bayangan itu pergi, alisnya mengerut ketika makhluk tersebut melebur menjadi aura hitam lalu masuk ke dalam telapak kaki seorang pemuda tampan berambut putih, "Siapa... Dia?"
"Keugh!" Aslan begitu terkejut ketika mendapati dirinya berpindah tempat, dan kini dicengkram oleh seorang pemuda asing itu, "A-apa-apaan ini...?!"
Sementara itu, Shiraori langsung mengeluarkan sebilah pedang putih dari udara kosong lalu melesat dengan cepat ke arah pemuda itu untuk menolong Aslan.
Namun, ketika Shiraori sudah berjarak beberapa puluh meter saja pergerakannya tiba-tiba saja membeku karena ada aura asing yang menimpanya.
Whooosh!
Kedua mata Shiraori melebar secara sempurna sesaat setelah pergerakannya dihentikan secara paksa hanya dengan aura.
Shiraori berusaha menggunakan auranya sendiri untuk melawan balik, tetapi itu percuma. Setiap auranya hampir bisa merembes keluar, aura asing itu semakin kuat sehinggan menelan auranya dengan mudah.
"B-bagaimana..."
Sudah lama sekali Shiraori tidak seterkejut ini, matanya yang melebar teralih pada pemuda itu dan menemukan dia sedang menatap dirinya.
"Namamu Shiraori, bukan? Kenapa kau tidak kembali ke tempat asalmu?" Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya, karena perempuan itu adalah seorang Dewi maka dirinya tidak akan bertindak gegabah.
"Aku tidak suka melanggar janjiku sendiri." sahut Shiraori sambil berusaha membebaskan diri.
Karena Fang Lin sudah mengetahuinya, ia tidak terkejut sama sekali dan pandangannya kini teralih pada Aslan, "Sepertinya aku harus membunuhmu agar masalah ini selesai."
Raut wajah Aslan menjadi ketakutan dan mula pucat pasi, "Bajingan... Aku... Tidak salah... Kenapa aku yang harus dibunuh?!"
"Kesalahanmu adalah terlalu serakah, karena hal itu kau malah membawa malapetaka bagi dirimu sendiri." ucap Fang Lin dengan tenang, lalu melanjutinya, "Sylvia memang tidak berhak mengambil takhta-mu tetapi kau harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dirimu lakukan padanya."
Fang Lin kemudian mengalihkan pandangannya pada Sylvia, lalu bertanya, "Jadi, hukuman apa yang ingin kau berikan padanya?"
"Aku mau dia melepaskan jabatannya sebagai Raja di Kerajaan ini dan mendapatkan pengasingan di kekosongan selama seribu tahun." Sylvia langsung menjawab tanpa ragu.
"Hm, lalu siapa pemimpin di Kerajaan ini selanjutnya? Apakah kamu mau menjadi seorang Ratu?" tanya Fang Lin penasaran.
"Aku tidak akan melakukannya, tapi aku akan mencari orang lain yang layak menjadi pemimpin di Kerajaan ini." Sylvia kembali menjawab.
"Tunggu, Putri! Itu tidak bisa! Anda adalah anak dari Raja sebelumnya, jadi tidak ada yang bisa menjadi seorang pemimpin di Kerajaan Zivon selain anda!"
Salah seorang Elf yang berpihak pada Sylvia langsung berkata dengan keras ketika dirinya mendengarkan percakapan di antara mereka dari kejauhan.
Para Elf lainnya ikut mendukung perkataan Elf barusan, mereka juga tidak setuju jika pemimpin yang menggantikan Aslan bukan berasal dari darah Raja sebelumnya.
Sylvia langsung menoleh ke arah para Elf itu, lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Sayang sekali, tempatku sudah bukan di sini lagi. Aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak, dan aku tidak berniat meninggalkan Tuan-ku hanya untuk mendapatkan Takhta di Kerajaan ini."
Para Elf yang mendengar itu langsung terkejut, tidak terkecuali Aslan dan Shiraori.
"Anda... Sudah berkeluarga?" seorang Elf bertanya dengan raut wajah tak percaya.
"Ya, pernikahanku sudah berlangsung selama dua puluh tahun." ucap Sylvia tenang.
Mereka semua terkejut sehingga membuat suasana menjadi hening.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.