
Setelah menghabisi seluruh kadal api di area itu, ratusan kadal api lainnya mulai bermunculan. Anggota kelompok yang hendak beristirahat langsung mengurungkan niat mereka ketika hal tersebut terjadi.
Pertempuran antara kadal api dan kelompok Keisha kembali terjadi, di sisi lain Fang Lin menonton kejadian itu dengan tenang.
"Sudah sepuluh menit..." Fang Lin bergumam, lalu melanjutinya, "Kalau Arthur menggunakan kekuatan penuhnya mungkin kelompok dia sudah selesai dari tadi, kelompok lainnya mungkin hampir menyelesaikan dungeon masing-masing."
......................
Lima menit berlalu, Keisha dan yang lainnya akhirnya berhasil menghabiskan ratusan monster kadal api. Mereka langsung terjatuh ke tanah karena merasa cukup kelelahan, sementara itu Albert datang menghampiri Fang Lin dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.
"Dasar brengsek, kenapa kau tidak membantu kami melawan monster kadal api itu?!" Albert bertanya, nadanya terdengar berat karena saking kesalnya.
Fang Lin yang mendengar itu langsung mendongakkan kepalanya ke atas untuk bisa melihat wajah Albert, "Setelah menghabisi monster Cyclops itu, aku sangat kelelahan. Karena aku tidak suka ambil resiko, jadi aku mengamati kalian dari kejauhan..."
"Banyak alasan kau!"
Albert mengepalkan tangan kanannya dan meninju ke arah wajah Fang Lin, tetapi hal yang mengejutkan terjadi selanjutnya.
Bugh!
Tinjunya tersebut ditahan dengan mudah oleh telapak tangan kiri Fang Lin, matanya menyipit dan bertanya, "Sepertinya kau tidak suka padaku, ya? Apakah sejak aku menghajar temanmu?"
"Brengsek..." Albert menggertakkan giginya, ia mencoba untuk menarik tangan kanannya itu tetapi Fang Lin memperkuat genggamannya.
"Dengar, ya. Aku menghajar temanmu itu karena dia mempunyai niat jahat pada diriku semenjak aku memperlihatkan kekasihku." ucap Fang Lin dengan suara pelan, tapi tatapannya sangat mendominasi, "Kalau waktu itu bukan berada di akademi, aku tidak akan segan-segan melenyapkannya."
Fang Lin sedikit mengeluarkan niat membunuhnya sehingga membuat Albert berlutut di hadapannya karena ketakutan.
Keisha dan tiga orang lainnya langsung mendekati mereka berdua ketika pertikaian hendak terjadi.
Pada saat mereka berempat hampir sampai, mereka begitu terkejut melihat Albert berlutut di hadapan Fang Lin sembari memasang ekspresi ketakutan.
"A-apa yang terjadi?"
Andrew tidak bisa menahan diri untuk bertanya, Goshu dan yang lainnya juga mempunyai pertanyaan sama.
Fang Lin sendiri melepaskan tinju Albert dan berjalan ke arah Keisha, "Aku akan kembali lebih dulu."
Setelah berkata demikian, Fang Lin dengan santai berjalan pergi dari sana menuju ke portal saat memasuki dungeon buatan ini.
Keisha dan yang lain memandangi punggung Fang Lin dalam diam, ketika dia sudah tidak terlihat lagi-- Albert bangkit berdiri dan pergi dari sana dengan ekspresi muram.
"Apa... Ini? Apa yang anak baru lakukan sampai membuat Albert diam seperti itu?" Amber bertanya-tanya.
"Entahlah, lebih baik kita juga kembali." Goshu juga tidak mengetahuinya, dan ia memberikan saran supaya mereka bisa beristirahat di tempat yang layak.
Mereka terdiam sejenak sebelum memutuskan untuk keluar dari dungeon ini.
***
Setelah keluar dari dungeon buatan tersebut, Fang Lin bisa menemukan kelompok satu dan dua sudah berada di luar.
Sebagian dari mereka tampak kelelahan, sedangkan sisanya terlihat biasa saja.
Melihat Fang Lin sudah keluar dari pintu portal membuat perhatian orang-orang teralih padanya, mereka sepertinya bingung kenapa dirinya hanya keluar seorang diri.
"Sepertinya kelompok enam dapat peringkat ketiga, ya?" Fang Lin bergumam, lalu menyebarkan Kesadaran Spiritualnya, "Mereka berdua terlihat tertarik denganku."
Fang Lin bisa melihat Instruktur Argon dan Zamyan sedang menatapnya dengan tatapan serius, meskipun begitu mereka berdua tidak menatapnya secara terang-terangan.
Ketika Fang Lin duduk di lantai yang di sekitarnya tidak ada orang, Albert keluar dari portal dungeon dan tidak lama setelah itu Keisha bersama yang lain juga keluar dari sana.
***
Lima belas menit berlalu.
Kelompok empat adalah kelompok terakhir yang keluar dari Dungeon, mereka tampaknya sangat terkejut ketika mengetahui kalau kelompok mereka adalah yang terakhir.
Instruktur Argon kemudian meminta mereka untuk berkumpul di satu tempat.
Ketika Instruktur Argon menepuk tangannya, murid yang lain juga mulai mengikutinya dan membuat suasana di ruang latihan menjadi meriah.
Setelah itu, Instruktur Argon juga memberitahu kelompok yang berhasil menduduki peringkat kedua sampai peringkat yang terakhir.
Selesai mengumumkannya, Instruktur Argon berkata kalau pertandingan ini akan mempengaruhi peringkat murid di masa depan nanti.
***
"Uwaaaah... Melelahkan sekali."
Setelah sampai di kelas, Instruktur Argon keluar dari sana karena sekarang adalah waktunya untuk seluruh murid akademi untuk beristirahat.
Fang Lin sendiri sebenarnya ingin keluar dari kelas dan mencari makanan yang dijual di kantin Akademi, tetapi dirinya mengurungkan niat karena tau kalau hal itu akan merepotkannya.
"Haruskah aku menggunakan kecepatanku?" Fang Lin mencoba mencari solusi.
Kecepatannya sekarang ini melampaui kecepatan cahaya, bagi orang biasa waktu seolah akan berhenti ketika Fang Lin menggunakan kecepatan itu.
Namun, Fang Lin adalah orang yang selalu memikirkan variabel tidak terduga, dirinya tidak mau mengambil resiko hanya karena ingin memanjakan lidahnya saja.
Seandainya Fang Lin menggunakan kecepatan yang melampaui cahaya, waktu memang seakan berhenti bagi orang biasa tetapi berbeda jika ada entitas tak terduga.
Mungkin saja ada sesosok Dewa atau makhluk lainnya yang menyamar jadi murid di cabang Akademi ini tanpa dirinya ketahui, memang itu terdengar tidak masuk akal tetapi ada pepatah lama mengatakan kalau tidak ada sesuatu yang mustahil.
Fang Lin menghela nafas berulang kali karena merasa kesal harus menyembunyikan keberadaannya dari para Dewa di Alam Semesta ini.
"Hei, Fang Lin..."
Seseorang dengan suara lembut memanggil Fang Lin, sehingga membuat pemuda tampan itu menoleh ke samping.
"Ada apa?" sahut Fang Lin seraya menatap wajah Anna.
"Aku cukup yakin kalau kamu tidak mau ke kantin karena jgu akan menarik perhatian banyak gadis di sekolah ini. Jadi intinya, apa kamu mau aku belikan sesuatu?" Anna bertanya sembari memasang senyum lembut.
"Ah, kau mau melakukannya untukku?" Fang Lin sedikit terkejut mendengarnya.
"Tentu saja..." Anna menganggup pelan untuk menanggapi itu.
"Kalau begitu, aku ingin minuman instan dan beberapa makanan ringan." ucap Fang Lin sembari mengeluarkan lima keping emas, "Apa ini cukup?"
"Ah, aku hanya membutuhkan dua keping saja."
"Anggap saja itu sebagai uang tip."
"Aku tidak bisa menerimanya, aku tulus membantumu." ucap Anna dengan mata yang kuat.
Fang Lin terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan, "Kalau begitu, aku tidak akan memaksamu."
Setelah Fang Lin berkata demikian, Anna tersenyum lalu mengambil dua keping emas di tangan kanan pemuda tampan itu. Dia kemudian pergi dari sana usai mengucapkan kata selamat tinggal.
Percakapan yang mereka berdua lakukan tentu saja menarik perhatian sebagian besar murid yang masih berada di dalam kelas, para perempuan menatap Anna yang sedang berjalan keluar kelas dengan tatapan iri sekaligus kesal.
Fang Lin tentu menyadari tingkah para murid perempuan itu, mereka sepertinya membicarakan dirinya sebelum pergi keluar dari kelas secara bersamaan.
Karena Fang Lin tidak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan, ia sudah menutup jangkauan pendengarnya hanya sampai dua meter saja.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
NOTE: Karena sudah kehabisan ide, Author bakal percepat arc Dunia Evangellion. Jadi, kurang dari dua puluh chapter selanjutnya Mc udah pindah Alam Semesta.
Author akan mindahin MC ke Alam Semesta yang temanya murni Fantasi Timur. Dan, di chapter² yang lalu udah ada cukup banyak plot hole, jadi Author bakal usahain nutupinnya selama masih bisa nyambung alur cerita ke depannya.
Untuk pembaca novel Terjebak Di Dunia Kultivator, mungkin Author akan update hari ini atau besok. Bersabar dulu, susah banget kalau bikin cerita pas cuaca panas hahahaha...