
Kemunculan Heng Zhanjin, Leng Jin dan Absolute lainnya yang mengabdi pada Celestial Absolute jelas mengejutkan kesepuluh Malaikat inti.
"Apa-apaan, ada Absolute lainnya?! Kenapa kita tidak menemukan mereka sebelumnya?" Remiel tidak bisa untuk tidak terkejut.
"Jangan ada yang panik, kita berhasil membuat pemimpin mereka tidak bisa bergerak untuk sementara waktu. Sekarang adalah waktunya untuk serangan penghabisan!" seru Ariel melalui telepati.
Para Malaikat inti mengangguk setuju ketika mendengar itu, namun baru saja mereka hendak melakukannya. Teknik yang dieksekusi oleh salah satu Absolute iblis membuat buff milik Anael menghilang dalam sekejap.
Teknik tersebut adalah Asap Iblis, teknik yang bisa menghilangkan secara total kekuatan Cahaya.
Karena buff yang Anael berikan bergantung pada energi cahaya, tekniknya itu secara otomatis terbatal setelah kehilangan sumber energinya.
"Ini... Asap hitam apaan ini!" Anael tidak bisa untuk tidak terkejut, Asap Hitam yang memenuhi area sekitar menghilang energi cahaya dalam tekniknya dan juga dirinya sendiri.
Peristiwa itu tidak hanya menimpa pada Anael seorang, tetapi juga kepada Malaikat inti dan pasukan Malaikat lainnya. Mereka semua sekarang jauh lebih lemah dari sebelumnya karena masing-masing dari mereka bergantung pada energi cahaya.
"Kita tidak bisa menang, ayo kembali." Sariel yang sedari awal mengikuti alur perang mulai angkat suara.
"Tidak boleh, kita sudah kehilangan tujuh pasukan Malaikat! Kembali adalah pilihan yang memalukan!" Jegudiel yang berhasil selamat daru keroyokan Diablo serta lainnya.
"Kalau kami terlambat satu menit saja dalam menyelamatkanmu, kau sudah mati." ucap Suriel dan segera melanjutinya, "Kondisi kita sudah benar-benar sekarat, kalau tetap keras kepala maka hanya ada kematian yang datang kepada kita."
Sesaat setelah Suriel mengatakan itu, Heng Zhanjin beserta yang lainnya tidak memberikan lebih banyak kesempatan bagi lawan untuk mengerti situasi yang terjadi.
Kesepuluh Absolute yang baru datang itu langsung mengeksekusi teknik mereka masing-masing ke arah pasukan Malaikat.
Rencana pertama mereka adalah menghabisi antek-antek dari Malaikat inti terlebih dahulu, itu dilakukan supaya para Malaikat inti tidak menjadikan mereka alat untuk melarikan diri dari wilayah ini.
Kematian dari para pasukan Malaikat tidak bisa dihindari dan jelas membuat Malaikat inti merasa sangat marah melihatnya.
"Bajingan, ini tidak bisa dimaafkan!" Jegudiel mengeluarkan Niat Membunuh dari tubuhnya.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, kita hanya mempunyai energi semesta dan itu tidak akan cukup untuk mengalahkan musuh." Suriel melakukan segel tangan, dan menciptakan teknik kubah yang berada di tingkat Kosmis tahap satu.
"Tidak! Apa yang kau lakukan, Suriel?!" Selaphiel melebarkan matanya ketika mengetahui kalau hanya mereka saja yang dilindungi oleh teknik itu, tetapi tidak dengan pasukan Malaikat yang masih hidup.
"Kalau kita membawa mereka, musuh akan mengikuti dan itu akan merugikan kita semua nantinya." Suriel menjelaskan secara singkat, lalu mengalihkan pandangannya pada Barachiel dan juga Remiel, "Gunakan kemampuan kalian untuk mempercepat lesatan kita, mengerti?'
Kedua Malaikat inti itu saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengangguk paham, pilihan ini memang pilihan yang terbaik untuk mereka semua dalam situasi seperti ini.
"Azrael! Apa kau hanya akan diam saja melihat bawahan kita semua dibunuh satu persatu?!" Jegudiel menghampiri seorang pemuda tampan yang ekspresinya tampak suram.
"Ini sudah kegagalan total kita semua, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Azrael mengalihkan pandangannya ke arah lain, engga berbicara lagi dengan Jegudiel.
Jegudiel jatuh berlutut dengan tatapan mata yang kosong, ia begitu putus asa karena telah kehilangan pasukan Malaikat yang sangat setia.
Di sisi lain, kesepuluh Absolute yang melihat Malaikat inti dilindungi oleh sebuah lapisan pelindung di tingkat Kosmis langsung membisu. Jelas sekali ini di luar perkiraan mereka semua.
Sementara Diablo serta yang lain masih fokus menghabisi pasukan Malaikat yang tersisa, mereka tau kalau Malaikat inti sudah berhasil kabur dari wilayah ini.
Dari kejauhan, Fang Lin mengawasi situasinya melalui Kesadaran Spiritual. Dirinya hanya bisa menghela nafas panjang karena melihat mereka lolos dari wilayah ini, meskipun begitu ia cukup senang karena mereka berhasil memukul mundur Malaikat inti tersebut dengan kerugian besar yang mereka terima.
"Sepertinya para Malaikat itu adalah musuh alami dari setiap pasukan bayangan, mereka mempunyai elemen cahaya yang sangat murni sehingga membuat Absolute bayangan sekalipun tak berkutik sama sekali." ekspresi Fang Lin berubah menjadi serius, ia kemudian menatap luka di tubuhnya yang masih belum pulih dan bergumam, "Aku harus menghabisi mereka sebelum nantinya mereka kembali dengan persiapan yang matang."
Meskipun kemungkinan sangat kecil tetapi itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, karena Fang Lin sama sekali tidak mengetahui isi kepala para Malaikat inti itu.
Fang Lin kemudian membangun rencana di otaknya sembari menunggu bawahannya itu menghabisi pasukan Malaikat yang terisa.
......................
Selama dua hari penuh, pasukan Malaikat telah berhasi dihabisi tanpa disisakan jiwa mereka.
Fang Lin sendiri sudah pulih dari lukanya dan mengumpulkan semua bawahan inti termasuk kedelapan Absolute yang mengabdi pada Celestial Absolute.
Fang Lin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah delapan Absolute yang mengabdi pada Celestial Absolute, "Apa kalian masih ingin membantuku atau tidak?"
"Kami akan membantumu, kami akan usahakan untuk terus membantu sampai Turnamen Semesta berakhir." jawab Yin Rong dengan tenang.
"Aku senang mendengarnya." Fang Lin mengangguk puas, lalu melanjutinya, "Kalau begitu, bubar dan pulihkan diri masing-masing."
***
Setahun setelah pertandingan kedua dimulai, sudah banyak peserta yang berhasil mengumpulkan Mahkota.
Sementara itu, Fang Lin tidak memasuki sepuluh besar karena dia belum bergerak setelah penyerangan yang dilakukan oleh para Malaikat.
Dalam tabel urutan sepuluh besar, Fang Lin bisa menemukan Kirisan yang berada di urutan ketiga, dia telah berhasil mengumpulkan sebelas Mahkota dalam setahun saja.
"Sudah kuduga, dia pasti setidaknya masuk ke dalan urutan sepuluh besar." Fang Lin bergumam melihat nama Kirisan di tabel ketiga, "Kuakui, teknik Don't Touch miliknya memang sangat mengerikan. Kalau saja saat itu aku tidak melapisi tubuhku dengan teknik Cahaya Segel Aurora, mungkin Childe sudah mati."
Fang Lin mengingat peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu, kemudian menghembuskan nafasnya melalui mulut dan berkata sembari tersenyum tipis, "Tapi itu cukup menyenangkan."
Fang Lin kemudian berbalik lalu menatap Leng Jin dan Diablo yang sedang berlutut di udara, "Kurasa dengan mereka berdua sudah cukup untuk menginvasi balik..."
Tentu saja selama setahun ini Fang Lin tidak bersantai sama sekali, setiap harinya ia menghabiskan lautan energinya hanya untuk menyebarkan Kesadaran Spiritualnya sejauh mungkin dan mencari wilayah dari para Malaikat inti.
Karena wilayah setiap peserta tidak bisa pindah tempat, Fang Lin cukup yakin kalau setelah invasi mereka bersembunyi di wilayah masing-masing untuk memulihkan diri.
"Aku sudah menemukan enam wilayah milik para Malaikat itu, tapi masalahnya adalah mereka cukup sering saling mengunjungi wilayah satu sama lain untuk memastikan situasi." Fang Lin bergumam, lalu melanjutinya "Aku sengaja menyiapkan mereka berdua untuk berjaga-jaga dengan situasi tak terduga, tapi yang jadi pertanyaannya apa mereka saja cukup?"
Masih ada kemungkinan kalau nantinya rencana Fang Lin ketahuan dan mereka malah berkumpul di satu tempat untuk menyatukan kekuatan.
Karena sudah setahun semenjak itu terjadi, para Malaikat inti pasti sudah menemukan masalah untuk melawan balik Asap Iblis milik Leng Jin.
Meskipun Fang Lin percaya diri dengan kemampuannya, tapi tidak ada salahnya untuk mengkhawatirkan sesuatu yang tak terduga, bukan?
"Tuan, apa anda mempunyai sesuatu yang dikhawatirkan?" Diablo bertanya dengan tatapan penuh penasaran.
"Ya, ada beberapa yang kukhawatirkan." Fang Lin menjawab jujur sembari mengangguk, lalu melanjutinya, "Tapi kurasa, tidak perlu khawatir secara berlebihan."
"Jangan sungkan untuk mengatakan setiap keraguan dan keluhan anda, Tuan. Saya selalu siap mendengarkan dan akan berusaha mencari solusinya..." ucap Diablo, suaranya terdengar rendah.
"Terima kasih." Fang Lin tersenyum tipis saat mengatakan itu.
Alasan Fang Lin membawa Diablo ke dalam rencana ini karena Iblis Primordial itu sanggup mengendalikan Hukum Elemen Kegelapan tanpa adanya batasan, dengan fakta semacam itu dia bisa menjadi musuh alami bagi para Malaikat inti.
Seandainya saja Diablo mengetahui kalau elemen Kegelapan adalah salah satu kelemahan dari para Malaikat, dia sudah pasti bisa membunuh satu Malaikat inti ketika mengeroyoknya bersama yang lain.
"Omong-omong, apakah kalian berdua sudah siap?" tanya Fang Lin memastikan.
"Kami hanya menunggu perintah anda, Tuan." mereka berdua menjawab secara serempak.
Fang Lin tersenyum tipis, lalu menjentikkan jarinya.
Klik.
Ketika itu terjadi, keberadaan mereka bertiga menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Fang Lin menggunakan skill Absolutenya untuk meminjamkan sihir Stealthnya dalam jangka waktu tertentu pada kedua bawahannya itu, jadi bisa dibilang Stealth mereka bertiga berada di tingkat yang sama untuk sementara waktu.
Setelah itu, mereka bertiga melesat di udara yang dipimpin oleh Fang Lin dan pergi ke wilayah Malaikat inti yang bernama Jegudiel.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.