
"Maafkan aku karena telah berlebihan, pak tua. Apakah tindakanku menarik perhatian Guru atau Instruktur?" tanya Fang Lin penasaran.
"Yah, aku tidak terlalu terkejut mengingat kau ada di tahun ajaran pertama.' Dulhan diam-diam terkekeh pelan, lalu menjawab pertanyaan pemuda itu, " Untuk sejauh ini, tidak ada yang membicarakanmu secara khusus. Tapi, aku tidak akan tau jika seandainya mereka berbicara lewat telepati."
"Begitu, ya." Fang Lin terdiam sejenak, lalu melanjutinya, "Omong-omong, aku akan keluar dari Akademi ini. Bisakah kau mengurusnya?"
"Cepat sekali, apa alasannya?" Dulhan tampak sedikit terkejut, ia memang sudah memperkirakan kalau Fang Lin akan keluar dari Akademi tetapi dirinya tidak akan menyangka kalau secepat ini.
"Aku sudah cukup puas tinggal selama sebulan di Akademi ini, dan aku juga mempunyai mempunyai tujuan lain yang harus diselesaikan." jawab Fang Lin dengan tenang.
"Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan mengurus surat-surat keluarmu dari Akademi..." ucap Dulhan, lalu segera menambahkan, "Kau bisa pergi mulai malam ini ataupun besok, apa aku harus mengantarmu?"
"Tidak perlu, pak tua. Aku bisa sendiri..." sahut Fang Lin, lalu diam-diam sedikit menundukkan kepalanya, "Terima kasih karena kau sudah mengizinkanku untuk tinggal di Akademi."
"Itu tidak masalah, toh, aku sudah berjanji."
Fang Lin tidak mengatakan apapun lagi lalu mengakhiri pembicaraan mereka berdua di sini.
......................
Setelah semua berakhir, seluruh murid langsung kembali ke asrama mereka masing-masing.
Fang Lin juga sama karena dia perlu melakukan sesuatu sebelum pergi dari Akademi ini.
***
"Master, apakah kita akan latihan lebih awal?" tanya Arthur sembari menatap Fang Lin yang berdiri di hadapannya.
"Tidak, mulai hari ini aku akan berhenti melatihmu." ucap Fang Lin dengan tenang.
Arthur melebarkan matanya ketika mendengar itu, jelas sekali kalau dirinya sangat terkejut, "T-tunggu, apa maksudnya, Master!?"
"Bukankah dari awal aku sudah mengatakannya? Aku akan melatihmu hanya sampai satu bulan, dan sekarang adalah waktunya bagiku untuk berhenti."
"T-tapi... Apakah Master tidak bisa lebih lama lagi melatihku?"
"Sayang sekali aku tidak bisa melakukannya, aku mempunyai beberapa tujuan yang belum tercapai jadi aku tidak bisa terus menerus bersamamu."
Arthur terdiam dengan kepala yang menunduk ke lantai, ia jelas sangat sedih karena harus berpisah dengan Master-nya.
Bukan karena Arthur memerlukan Master-nya untuk menjadi tambah kuat, akan tetapi ia sudah menganggap Fang Lin sebagai keluarganya.
"Aku paham dengan perasaanmu, terkadang perpisahan itu menyakitkan." ucap Fang Lin, lalu melanjutinya, "Tapi kau tidak perlu khawatir, sebab ingatanmu tentangku akan dihapus secara permanen."
"Eh, apa maksu-"
Sebelum Arthur bisa menyelesaikan perkataannya, pandangannya langsung berubah menjadi gelap dan hendak jatuh ke lantai.
Namun Fang Lin dengan segera menangkapnya, dan helaan nafas kemudian keluar dari mulutnya, "Maafkan aku, Arthur. Kuharap kau bisa menggunakan kemampuanmu dengan baik."
Fang Lin meletakkan Arthur di atas tempat tidur, lalu menghapus secara permanen seluruh ingatannya tentang dirinya.
Setelah itu berakhir, Fang Lin memandangi sejenak Arthur lalu menghilang dari sana dalam sekejap mata.
***
Kota Patron, adalah kota yang sedikit penduduk tetapi mempunyai luas yang tidak main-main. Karena kota ini berada di pinggir benua Zavarina dan ada beberapa masalah yang tidak bisa diatasi, banyak orang luar yang enggan menetap.
Meskipun begitu, penduduk di kota Patron bisa dibilang sejahtera karena mereka mempunyai pemimpin yang sangat baik. Keluarga bangsawan tingkat empat adalah sosok yang memimpin kota tersebut.
Beberapa saat kemudian, Fang Lin menarik kembali Kesadaran Spiritualnya dan mengangguk beberapa kali.
"Seharusnya ini adalah tempat yang cocok." Fang Lin berguman, lalu melanjutinya, "Kalau begitu, aku akan menjadikan tempat ini sebagai kediaman keluargaku."
"Yue, apakah kamu mendengarku?" Fang Lin menelepati Yue yang berada di Dunia Jiwa-nya.
"Ada apa, sayang?"
Tidak sampai tiga detik, Fang Lin mendapatkan tanggapan dari Istrinya itu.
"Aku akan kembali ke Dunia Jiwa dalam satu jam, tolong kumpulkan semua orang yang ingin pergi ke Dunia ini."
"Ah, baiklah."
"Terima kasih."
"Tentu, sayang."
Setelah telepati mereka berakhir, Fang Lin langsung menghilang dari tempatnya dan kemudian muncul di halaman depan sebuah mansion yang cukup megah.
Tanpa banyak bicara lagi, Fang Lin melepaskan kehadirannya sampai batas tertentu sehingga membuatnya bisa disadari oleh orang-orang yang menempati Mansion tersebut.
Dalam kurun dari satu menit, belasan Penyihir dan Warrior yang mempunyai Mana Circle lima ke atas mengepungnya dari berbagai arah.
"Siapa kau?" seorang pria yang sudah berusia lebih dari 40-an bertanya dengan nada tenang.
"Maafkan aku karena telah mengganggu kedamaianmu, Kepala Keluarga Melric." Fang Lin tersenyum tipis, lalu kembali berkata, "Aku kemari karena mempunyai kesepakatan yang bisa menguntungkan keluargamu atau kota ini."
"Kesepakatan?" pria yang dipanggil Kepala Keluarga Melric langsung mengerutkan alisnya, "Apa maksudmu dengan itu?"
"Pertama-tama, namaku adalah Fang Lin. Bisa dibilang, aku adalah pendatang baru di kota Patron ini." ucap Fang Lin memperkenalkan diri, kemudian tanpa banyak basa-basi langsung mengatakan kesepakatan yang dirinya maksud, "Aku mau kota ini menjadi tempat tinggalku sampai beberapa waktu ke depan. Tentu saja, aku akan mengabulkan permintaanmu sebagai imbalannya."
Suasana hening setelah Fang Lin mengajukan kesepakatannya, tidak ada yang berbicara satu patah katapun karena mereka sedang dalam keadaan terkejut.
"Aku tidak mengerti maksudmu, kalau kau ingin tinggal di kota ini kau hanya perlu membelinya dari seseorang yang menjual rumah. Apa alasanmu sampai bertindak seperti ini?" kepala keluarga Melric sama sekali tidak mengerti.
"Aku tidak tinggal sendiri, ada puluhan orang yang bersamaku." ucap Fang Lin, lalu menambahkan, "Tujuanku melakukan ini karena aku ingin kau membagikan wilayah yang cukup luas untuk beberapa waktu ke depan."
Sebenarnya Fang Lin bisa saja membuat kota sendiri agar bisa menentukan sendiri luas wilayahnya, namun ia ingin anak-anaknya berkomunikasi dengan orang lain seperti saat mereka mengembara di Alam Tanah Kultivator.
Alasannya karena Fang Lin tidak tega melihat mereka selalu mengobrol dengan orang yang sudah dikenal saja, ia merasa seperti ayah yang mengurung anak-anaknya di dalam sumur.
"Apa ini, apa kau seorang utusan dari sebuah kelompok? Apakah kalian berniat melakukan aktivitas jahat di kota ini?" seorang perempuan paruh baya bertanya dengan alis yang mengerut.
"Nyonya Melric, aku sama sekali tidak punya niatan seperti itu. Untuk apa aku melakukannya?" Fang Lin menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjelaskan, "Aku hanya membutuhkan seperempat dari wilayah kota Patron untuk sementara waktu."
Suasana kembali hening sebelum kepala keluarga Melric angkat bicara, "Itu mustahil, meskipun tidak banyak penduduk yang menempati kota ini tetapi seperempat wilayah adalah permintaan yang tidak masuk akal."
"Kau benar, tapi apa kau yakin tidak ingin menghentikan gelombang monster yang menyerbu kota ini setiap tahunnya secara permanen?" tanya Fang Lin penasaran, lalu menambahkan, "Dan kalau tidak salah selama enam bulan terakhir ini, tanah di wilayah ini menjadi tidak subur karena ada sihir jahat yang tidak diketahui asalnya dari mana. Apa kau akan terus membiarkannya begitu saja? Cepat atau lambat kota ini akan mengalami krisis dalam hal pangan, kinerjamu sebagai seorang pemimpin pasti akan dipertanyakan oleh para penduduk."
Tidak ada yang berbicara usai Fang Lin berkata demikian, mereka semua sedikit terkejut karena Fang Lin sebagai pendatang baru mengetahui dua masalah utama di kota Patron ini.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.