
Melihat perubahan wujud Diablo membuat Lian Qianchen mundur beberapa langkah, nafasnya bahkan menjadi tidak teratur selama beberapa saat.
"Nama asliku adalah Diablo, bukan Fang Dia. Kalau kau penasaran alasan aku menyamar, itu karena aku tidak mau keberadaanku menarik perhatian Dewa Iblis." ucap Diablo tanpa ekspresi.
Lian Qianchen tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya berusaha untuk menenangkan dirinya di situasi sekarang sembari memikirkan keputusan yang akan ia ambil selanjutnya.
Selang beberapa waktu, Lian Qianchen mulai merasa tenang dan ia akhirnya bisa menatap dengan tatapan campur aduk, "Aku... Aku tidak tau harus berkata apa, tapi jika seandainya aku masih tetap ingin ikut bersamamu tanpa peduli kau siapa-- apa kau mau menerimaku?"
"Tentu saja tidak, kau lemah dan sama sekali tidak membantu." jawab Diablo dengan wajah datar.
"Ugh... Kau! Setidaknya tolak secara halus, dong! Apa kau tidak memikirkan perasaan orang lain?!" Lian Qianchen tidak bisa menahan rasa kesalnya, ia tidak peduli lagi mau Diablo itu Iblis sekalipun.
"Untuk apa aku memikirkan perasaan orang lain, tidak ada untungnya bagiku." sahut Diablo acuh tak acuh, dan ia kemudian berjalan menuju mulut Gua, "Kita akan berpisah di sini, jadi jaga dirimu baik-baik-- mungkin ini pertemuan kita terak- Hey! Apa-apaan ini?" Diablo hampir saja mengumpat ketika perempuan bergaun merah itu memeluknya dengan sangat erat.
"Aku mau ikut, tolong bawa aku!" Lian Qianchen tidak menerima begitu saja kalau dirinya ditolak secara mentah-mentah.
"Kau ini beban, bodoh. Kenapa kau sangat memaksa?!" Diablo mulai merasa kesal, dalam seumur hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan wanita segila Lian Qianchen.
"Tidak mau, tidak mau! Pokoknya aku harus ikut!" Lian Qianchen mengigit kepala Diablo, ia bersumpah tidak akan melepaskannya sampai pemuda itu mau mengajaknya.
Diablo yang mengetahui itu menjadi tidak habis pikir, sebenarnya ia bisa saja melepaskan diri dari jeratan wanita gila yang memeluknya-- tetapi entah kenapa ia tidak mau melakukannya.
"Ayolah, Diablo. Bawa aku, bawa aku! Aku mohon." Lian Qianchen semakin erat memeluk Diablo, tanpa peduli kalau pemuda itu menjadi sulit bergerak karenanya.
Diablo terdiam mendengarnya, ia tidak tau harus berkata apa dan memutuskan untuk menghubungi Bai Hu-- temannya yang paling pintar dalam mencari solusi.
"Oh! Diablo, tumben sekali kau menghubungiku... Kudengar kau diberikan tugas yang sangat menyenangkan, ya?"
"Uh, sekarang tidak waktu untuk basa-basi. Aku menghubungimu karena ingin meminta solusi atas permasalahanku..."
"Kau dapat masalah? Ceritakan, aku akan membantumu sebisa mungkin."
"Jadi begini..." Diablo mulai menceritakan masalahnya pada Bai Hu, awalnya ia cukup ragu tetapi untuk sekarang dirinya tidak punya pilihan lain lagi.
.....
"Hahahahahaha~ Apa-apaan itu? Ternyata kau punya cerita konyol juga, ya." Bai Hu tidak bisa berhenti tertawa setelah mendengar cerita Diablo, ia berhenti disaat iblis itu memintanya untuk memberikan solusi secepat mungkin.
"Ehem, kalau kau memang merasa tidak ingin meninggalkannya-- lebih baik kau membawanya, daripada nanti kau terus kepikiran tentangnya."
"Tunggu, apakah kau berpikir aku menyukainya?"
"Tidak juga, aku hanya berpikir kau tidak mau meninggalkannya karena mempunyai beberapa kenangan?"
"Uhh... Kenangan macam apa? Aku saja baru bertemu dengannya selama beberapa kali."
"Siapa yang tau itu, Diablo? Kenangan bisa didapat kapan saja dan di mana saja, mau sesingkat apapun pertemuan kalian-- kalau kau mengingatnya di dalam otakmu, itu sudah termasuk ke dalam kenangan."
Suasana menjadi hening setelah Bai Hu menyelesaikan kata-katanya. Beberapa saat kemudian, Diablo menghela nafas panjang dan berkata, "Terima kasih solusimu yang tidak berguna, Bai Hu."
"Apa kau bil-?! Ah, sial. Dia memutuskan telepatinya." Bai Hu berdecak kesal, namun sesaat setelah itu ia tertawa lantang, "Hehehe... Mungkin kalau aku menceritakan hal ini kepada orang-orang akan membuat situasi menjadi heboh, apalagi jika terdengar sampai ke telinga Tuan." Bai Hu tertawa jahat saat memikirkan itu.
***
"Tidak~! Aku tidak mau, Diablo! Jangan paksa aku!" Lian Qianchen menggelengkan kepalanya, ia semakin erat memeluk iblis itu.
"Sedari tadi kau yang memaksaku, wanita gila!" kepala Diablo mulai terasa sakit, "Baiklah, aku akan membawamu. Jadi, lepaskan aku!"
"Bohong! Aku lebih percaya kalau gajah bisa terbang daripada ucapanmu itu!" Lian Qianchen mendengus kesal usai mengatakan itu.
Plak!
"Aku tidak berbohong cewek gila!" Diablo menjitak Lian Qianchen, dan membuat perempuan bergaun merah itu terjatuh kesakitan.
"Aw~! Kau... Diablo! Kenapa kau tega sekali memukul perempuan?!" Lian Qianchen menatap Iblis di depannya dengan raut wajah kesal.
"Aku berpihak pada kesetaraan gender, meskipun kau itu perempuan-- aku sama sekali tidak peduli." sahut Diablo dingin.
Lian Qianchen menggertakkan gigi karena kesal, ia bangkit berdiri dan ketika hendak memeluk Diablo kembali-- energi Qi menahannya.
"Diablo! Kau sudah berjanji akan membawaku, lantas kenapa kau menahan pergerakanku?!" Lian Qianchen berteriak kesal, "Apa kau ini seorang pembohong?!"
"Aku membawamu, tapi tidak berada di sampingku..." Diablo mendengus dingin, dan ia menghilang dari sana dalam sekejap bersama Lian Qianchen.
***
Selama di perjalanan, Diablo berulang kali menghela nafas panjang, keputusannya membawa Lian Qianchen mungkin adalah kesalahan terbesar baginya.
"Diablo, ayo ceritakan lagi tentang hidupmu! Aku masih penasaran!" Lian Qianchen yang dikurung di dalam sebuah penjara Qi berkata dengan suara antusias.
"Sudah kubilang, aku tidak mau. Dan lebih baik kau diam saja, apakah mulutmu tidak bisa berhenti selama beberapa waktu?"
"Kita kan sepasang kekas-" suara Lian Qianchen tiba-tiba saja menghilang, itu dikarenakan Diablo membuat penjara Qi tersebut menjadi kedap suara.
Tentu saja Lian Qianchen yang mengetahui itu langsung marah, ia duduk bersila di sana dan menatap Diablo sembari memasang ekspresi cemberut.
"Hari yang benar-benar gila, kalau tau begini-- aku tidak akan menyelamatkannya dari serangan itu." Diablo menggelengkan kepalanya pelan dan berharap kalau waktu bisa diputar kembali.
***
Beberapa hari yang lalu.
Di ruang pengendali kapal terbang, Zhou Fan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Ia saat ini sedang memikirkan sesuatu sembari memejamkan mata, tanpa disadari olehnya-- bayangan hitam yang tadinya ada di pojok ruangan perlahan mendekatinya.
Ketika bayangan hitam tersebut sudah berada tepat di belakang punggung kursi Zhou Fan, Kaisar Iblis itu baru menyadari ada fluktuasi energi asing di belakangnya-- ia langsung membuka mata dan pada saat dirinya ingin bertindak lebih lanjut, tiba-tiba saja pandangan menjadi gelap gulita.
Bruk.
Zhou Fan tergeletak di lantai, tetapi tidak lama setelah itu ia bangkit berdiri dengan mata yang masih terpejam. Ketika matanya terbuka secara perlahan, terlihat dua bola matanya berubah menjadi berwarna hitam pekat-- namun hal itu hanya berlangsung selama beberapa saat saja sebelum matanya kembali normal seperti biasanya.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> LIKE >> COMMENT.