
Di kekosongan tanpa batas.
Fang Lin yang menyaksikan kemalangan putranya, Fang Hai, hanya bisa diam dan menghela nafas panjang. Ia sebenarnya merasa sangat kasihan pada Fang Hai, tetapi di sisi lain ia juga merasa senang karena anaknya itu mendapatkan pengalaman hidup yang pahit.
"Aku harap kamu menerima kenyataan yang ada, dan mengambil pelajaran dari kejadian ini" Fang Lin bergumam pelan.
***
Fang Hai kemudian menyelamatkan warga desa yang diikat oleh bandit-bandit, dan ia menguburkan mayat-mayat yang ada di desa itu kecuali mereka, para bandit.
Whooosh.
Bola Api keluar dari atas telapak tangan Fang Hai dan ia melemparkannya ke arah delapan mayat bandit yang sudah ditumpuk menjsdi satu.
Bam!
Ledakan kecil terjadi, bola api yang diciptakan oleh Fang Hai kini membakar para mayat bandit sampai menjadi abu.
"Terima kasih, Tuan muda. Kami para warga sepakat untuk memberikan sebagian harta kami pada anda..." seorang pria paruh baya yang memegang sebuah peti kayu yang cukup besar mengulurkan tangannya ke arah Fang Hai, "Tolong terima ini, Tuan muda.
Fang Hai menolak peti kayu yang berisi harta itu, ia menggelengkan kepala dan berkata, "Aku tidak mau menerimanya, kalian bagikan saja harta ini kepada anak-anak desa yang telah kehilangan orang tuanya."
"Tapi Tuan muda... Bagaimana kami harus membalasmu?" tanya pria paruh baya itu dengan raut wajah tak enak hati.
"Kalian tidak perlu memberikan apa-apa, aku menolong kalian bukan untuk mengharapkan imbalan." Fang Hai tersenyum tipis saat mengatakan itu.
Para warga yang diselamatkan oleh Fang Hai terdiam sejenak ketika mendengarnya, salah satu dari mereka kemudian menundukkan badan dan berterima kasih dengan suara lantang-- hal itu tentu saja diikuti oleh warga yang lainnya.
Fang Hai sendiri hanya menanggapi rasa terima kasih mereka dengan senyuman. Setelah itu, ia izin pamit dari sana karena mempunyai sesuatu untuk diurus.
Para warga hanya mengiyakan karena mereka tidak punya hak untuk menahan Fang Hai, mereka melambaikan tangan sambil tersenyum sampai keberadaan anak kecil sudah tidak berada dalam jarak pandang lagi.
Setelah keluar dari desa, Fang Hai langsung mencari keberadaan putri dari paman Wang Yao. Ia yakin sekali kalau pria paruh baya itu menempatkan putrinya tidak jauh dari desa berada.
Selang beberapa waktu, Fang Hai tersenyum senang ketika menemukan anak perempuan itu yang sedang dalam kondisi tertidur besandar di sebuah pohon.
"Dia benar-benar lelap..." Fang Hai bergumam pelan melihat anak perempuan itu, "Aku harus menyembuhkannya."
Fang Hai mengeluarkan sebuah pil berwarna hijau, ia duduk bersila di dekat anak perempuan itu lalu membuatnya menelankan pil yang ada di tangannya.
"Pil penyembuh yang ayah berikan memang bisa menyembuhkan semua luka dan penyakit yang dimiliki makhluk hidup, tapi apakah pil itu bisa menyembuhkan penyakit anak perempuan ini?" Fang Hai bergumam sesaat setelah ia memasukkan pil tersebut, "Aku akan membantunya menyerap esensi itu."
Fang Hai mengalirkan Qi-nya ke anak perempuan di depannya, dan membantunya menyerap esensi dari pil tersebut.
......
"Fuhh...." Fang Hai menghembuskan nafasnya dari mulut setelah menggunakan Qi-nya dalam jumlah yang cukup banyak, "Semoga saja berhasil..."
Fang Hai kemudian memejamkan mata dan ia berniat untuk memulihkan Qi-nya yang telah habis diakibatkan pertempuran.
***
"Tempat ini tidak cukup bagus untuk menjadi tempat untuk bertarung karena aku tidak bisa bergerak leluasa, tetapi di sisi lain laba-laba raksasa itu tidak sangat diuntungkan di tempat ini. Dia hanya bisa maju dan mundur saja karena tubuhnya yang raksasa hampir sebesar ukuran Gua." Fang Li Dao memikirkan semua itu di sela-sela pertarungan.
Fang Li Dao kemudian memegang pedangnya dengan erat, ia mempunyai sebuah rencana yang cukup cemerlang di otaknya.
Pedang di tangan Fang Li Dao mengeluarkan sebuah aura berwarna abu-abu, dan energi spiritual berkumpul di bilah pedang tersebut.
Sword-Qi: Lekungan Energi.
Fang Li Dao mengayunkan pedang ke samping dan lekungan energi muncul lalu melesat di udara dengan sangat cepat.
Bam!
Lekungan energi itu menghancurkan bagian langit-langit Gua dan membuatnya perlahan runtuh, laba-laba raksasa yang menyadari kalau Fang Li Dao ingin menguburnya hidup-hidup langsung meraung marah.
Hawa panas keluar dari laba-laba raksasa tersebut, dan cairan asam keluar dari tubuhnya dan melelehkan batu yang menimpanya.
Fang Li Dao yang menyaksikan itu langsung mengerutkan alisnya, ia tidak tinggal diam saja dan menciptakan lekungan energi yang sama.
Whooosh!
Lekungan energi kembali melesat di udara, kali ini mengarah ke tempat laba-laba raksasa itu berada.
Bam!
Ledakan yang dahsyat terjadi dan sekali lagi menggetarkan Gua. Fang Li Dao hanya diam saat melihat laba-laba raksasa itu perlahan mulai berhenti bergerak setelah mendapatkan luka parah dari serangan keduanya.
"Untung saja aku diuntungkan di sini, jika tidak pertarungan ini akan jauh lebih merepotkan." Fang Li Dao bergumam, ia kemudian melirik sesuatu yang ada di bagian dalam Gua, "Ada telur laba-laba di sana, apakah enak jika aku merebusnya?" Fang Li Dao menelan ludahnya saat memikirkan itu, "Tapi, aku harus melewati mayat laba-laba raksasa yang menjijikan itu jika ingin mengambil telurnya."
Fang Li Dao sebenarnya bisa saja membakar mayat laba-laba raksasa itu, akan tetapi jika ia melakukannya-- ada kemungkinan Gua-nya runtuh karena serangan yang ia lakukan sebelumnya.
"Uakhhh... Menyebalkan! Aku harus bagaimana?!" Fang Li Dao berjalan bolak-balik sambil mengigit ibu jarinya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melewati Gua tersebut karena penasaran dengan rasa dari telur laba-laba.
Fang Li Dao berdiri tepat di hadapan mayat laba-laba itu, ia bisa melihat celah sempit yang bisa dirinya lewati, "Ugh... Demi makanan..."
Fang Li Dao menarik nafasnya dalam-dalam, lalu memasuki celah sempit tersebut yang dipenuhi dengan jaring laba-laba.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit saja bagi Fang Li Dao untuk melewatinya, ia langsung merasa ingin muntah ketika mendapati dirinya dipenuhi dengan jaring laba-laba yang lengket.
"Hueek... Menjijikan sekali!" Fang Li Dao hampir saja muntah, ia kemudian berjalan menuju tempat telur laba-laba itu berada, "Wah~ Ternyata ada empat telur, ya? Kupikir hanya tiga saja." Fang Li Dao menyimpan ketiga telur tersebut ke dalam cincin penyimpanannya, ia mengangkat satu telur yang terisa dan menatapnya dengan tatapan kebingungan.
"Telur warna abu-abu? Perasaan tiga lainnya berwarna putih. Apa yang terjadi?" Fang Li Dao bertanya-tanya dalam hati, ia merasa kalau telur tersebut bukanlah telur laba-laba, "Tapi mana mungkin telur hewan lainnya ada di sini. Sudahlah, selama aku bisa memakannya aku tidak peduli dengan warna telurnya."
Fang Li Dao menyimpan telur abu-abu tersebut ke dalam cincin penyimpanannya, ia kemudian melewati kembali celah sempit yang menjijikan itu lalu keluar dari Gua.
"Aku harus membersihkan diri." Fang Li Dao bergumam, ia menyebarkan kesadaran spiritualnya dan berniat mencari sungai atau danau di sekitaran wilayah ini.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.