System Sang Immortal

System Sang Immortal
Akademi Bintang II


Ketika Rena dan Fang Lin sudah berada di depan pintu kelas, ia meminta murid barunya itu untuk tetap diam di sana sampai dirinya memanggil.


Fang Lin sendiri hanya mengangguk untuk menanggapi itu.


Rena tidak mengatakan apa-apa lagi dan membuka pintu kelasnya, ia melangkah masuk dan berdiri di belakang podium yang memang disediakan untuk seorang Guru.


Rena menatap semua muridnya yang tenang, dan berkata, "Hari ini ada murid baru, silahkan masuk, Fang Lin."


Fang Lin yang berada di pintu luar kelas langkah melangkah masuk, entah kenapa jantungnya merasa sedikit berdebar.


Ketika Fang Lin masuk, suasana masih tetap hening sampai akhirnya berbagai suara teriakan wanita muncul saat ia sudah berdiri di samping gurunya.


"Kyaaaa~! Tampan sekali!"


"Gila, apa dia seorang manusia?"


"Tampan... Sangat tampan!"


Sebagian besar murid perempuan di kelas tersebut langsung memuji Fang Lin dengan berbagai rangkaian kata indah.


Sementara sebagian besar murid laki-laki langsung menatap dingin Fang Lin karena merasa tidak senang sekaligus iri.


"Dasar anak-anak ini..." Rena menggeleng pelan, kepalanya mulai merasa sakit, "Perkenalkan dirimu, lalu duduk di bangku yang terlihat kosong."


"Aku mengerti." Fang Lin mengangguk pelan, lalu menatap ke depan, "Namaku adalah Fang Lin, salam kenal."


"Uwaaaaagh! Mati sekarangpun aku tidak akan menyesal!"


"Oh, dewa... Anda sungguh memberkati kelas ini."


Fang Lin sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan situasi ini, ia menyapu pandangannya ke seisi kelas dan menemukan Arthur yang memasang raut wajah terkejut sekaligus bingung.


Karena saat terakhir kali mereka bertemu Arthur tidak bisa melihat wajah Fang Lin dengan jelas, dia masih belum yakin kalau murid baru itu adalah Pemburu yang ditemuinya lusa kemarin.


Fang Lin tidak menunjukkan reaksi ketika matanya dengan Arthur bertemu, ia berjalan melewati para murid dan duduk di bangku kosong yang berada di paling belakang dekat jendela.


Hampir semua murid perempuan memperhatikan Fang Lin berjalan sampai dia duduk di bangku, mereka kemudian mengalihkan pandangan ke depan ketika Rena memukul podium.


"Kita akan mempelajari materi tentang Mana, jadi perhatikan baik-baik."


***


Setelah kelas selesai, Rena langsung memanggil ketua kelas untuk datang ke podium. Sementara itu, sebagian besar murid perempuan berdiri secara bersamaan dan menghampiri meja Fang Lin.


"Aku membenci ini."


Ini adalah salah satu alasan Fang Lin tidak suka menunjukkan wajahnya ke sembarangan orang, dikerumuni banyak orang terutama perempuan.


"Halo, namaku Melisa..."


"Murid baru, namaku Ranie!"


Beberapa perempuan mulai memperkenalkan dirinya, tatapan mereka sangat berbinar saat menatap Fang Lin.


"Benar-benar, deh. Aku tidak percaya anak perempuan akan segila itu pada murid baru." seorang pemuda yang memperhatikan dari kejauhan menggelengkan kepalanya pelan.


"Sialan, aku iri. Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh perempuan..." pemuda lainnya yang mempunyai badan besar dan tinggi mencapai dua meter lebih memasang raut wajah kesal.


"Percayalah padaku, Albert. Situasi yang sekarang ini dihadapi oleh murid baru sangat tidak menyenangkan." seorang pemuda tampan berambut putih dengan sepasang mata berwarna merah cerah.


"Aku belum pernah merasakannya, jadi aku tidak akan menyimpulkan hanya dari perkataanmu, Finn." pemuda berbadan besar yang bernama Albert itu mendengus kencang.


Finn tersenyum pahit, ia tidak menanggapi Albert lebih jauh dan bangkit berdiri dari kursinya, "Ayo pulang."


Albert dan satu pemuda lainnya mengangguk, mereka membawa tas masing-masing dan kemudian pergi keluar dari kelas.


Di sisi lain, Rena memberikan kunci asrama pada seorang perempuan cantik berambut coklat dengan sepasang mata berwarna kuning tua.


"Anna, setelah mengajak berkeliling akademi, tolong berikan kunci ini padanya dan antar dia ke asrama."


"Baik, bu. Apa ada lagi?" Anna bertanya, suaranya sangat lembut.


Rena tersenyum sebelum menggelengkan kepalanya, "Sekarang, bawa anak baru itu pergi. Sepertinya dia sedang kesulitan sekarang ini..."


"Aku mengerti, bu." Anna mengangguk pelan, lalu pergi dari sana.


Ketika Rena berkata demikian, banyak murid perempuan yang menggerutu tetapi tidak berani ditunjukkan pada guru mereka.


Fang Lin merasa senang karena satu persatu murid perempuan di kelas ini mulai meninggalkannya, ia kemudian bangkit berdiri dan menemukan seseorang yang dipanggil Anna mendekatinya.


"Halo, namaku adalah Anna. Mohon kerja samanya." Anna sedikit menundukkan kepalanya.


Fang Lin mengangguk pelan, dan kemudian mereka berdua pergi dari sana.


***


Finn, Albert dan satu pemuda lainnya sekarang sedang berjalan menuju asrama Akademi. Mereka bertiga sedang mengobrol untuk mengisi waktu luang yang tersisa.


"Omong-omong, Finn. Murid perempuan yang kau takuti di kelas siapa?" tanya Albert penasaran.


"Hm? Kenapa kau tiba-tiba membicarakan itu?"


"Aku hanya ingin mengetahuinya dari laki-laki populer sepertimu, hahahaha..." Albert mengakhiri kata-katanya dengan tertawa.


"Sayangnya aku tidak bisa memberitahumu tentang itu." Finn menggeleng pelan.


"Eh, kenapa? Kenapa?"


"Membuka rahasia orang lain adalah tindakan yang buruk."


Albert terdiam sejenak sebelum menghela nafas panjang, ia menyerah dan tidak lagi mengejar topik itu.


Finn sendiri perlahan menatap langit, ia sedikit bergidik ngerti ketika membayangkan Anna di dalam pikirannya.


***


Saat ini, Fang Lin dan Anna sedang berjalan mengelilingi Akademi. Mereka berdua sering bertukar kata selama di perjalanan, tetapi Anna adalah orang yang selalu membuka topik pembicaraan.


"Um, apakah kamu tidak senang kalau aku berbicara secara terus-menerus?" Anna bertanya karena merasa dia adalah orang yang selalu mendominasi pembicaraan.


"Hm, tidak tuh. Aku malah sedang mendengarkanmu baik-baik..." jawab Fang Lin santai.


"Begitu, ya? Aku senang mendengarnya..." Anna tersenyum lembut, lalu melanjutinya, "Apa kamu haus? Biarkan aku membelikanmu minum."


"Aku tidak akan menolaknya."


"Hehehe... Tunggu di sini sebentar, ya."


Anna langsung pergi sesaat setelah berkata demikian, sementara Fang Lin mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tersenyum.


"Arthur, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa bersembunyi?" Fang Lin bertanya lewat telepati.


Arthur yang sedang bersembunyi di balik pohon langsung menelan ludahnya ketika mendapatkan telepati tersebut.


"Jangan datang ke tempatku dan kembalilah ke Asrama, aku akan menemuimu."


Ketika Arthur hendak keluar dari tempat persembunyiannya, ia langsung mengurungkan niat saat mendapatkan telepati lainnya.


"Baiklah..."


Karena Arthur tidak bisa membalas telepati dari Fang Lin, ia langsung menjawab dengan suara yang sedikit keras.


Fang Lin tidak mengatakan apapun lagi setelah Arthur pergi dari sana, dan sesaat kemudian Anna kembali sembari membawa dua botol minuman yang terbuat dari plastik.


"Aku membelikan rasa apel untukmu..." Anna memberikan satu botol minuman pada pemuda di dekatnya.


Fang Lin menerima botol minuman tersebut, lalu menatapnya dalam diam.


Anna tentu saja menyadari hal itu dan langsung bertanya, "Apakah kamu tidak pernah melihat minuman instan yang mempunyai rasa?"


Fang Lin sedikit mengerutkan alisnya sebelum menggeleng pelan, "Tidak, ini adalah kali pertama aku melihatnya."


"Ah, itu mungkin wajar saja karena minuman instan seperti ini hanya dijual di kota-kota besar dan beberapa Akademi terkenal." ucap Anna dengan tenang.


Fang Lin mengangguk beberapa kali seolah memahami sesuatu, dan kemudian meminumnya setelah membuka tutup botolnya.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.